Di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi tanaman bunga matahari yang selalu menengok ke arah cahaya matahari, tinggallah seorang gadis berusia tujuh belas tahun bernama Suci. Rambutnya panjang, lurus, dan berwarna putih bersih bagai benang sutra yang paling halus, bukan karena usia, melainkan sejak lahir begitulah ia diciptakan. Wajahnya lembut, matanya teduh, dan yang paling menonjol darinya adalah senyum. Setiap pagi, saat matahari baru saja mengintip dari balik bukit, Suci sudah tersenyum, kepada ibunya yang sedang menyeduh teh, kepada ayahnya yang sedang merapikan pagar, kepada neneknya yang duduk di kursi goyang sambil memintal benang, bahkan kepada kucing-kucing liar yang lewat di depan halaman. Senyum itu tampak sederhana, namun di baliknya tersimpan kekuatan yang tak banyak orang pahami.
“Suci, kau tersenyum lagi,” kata ibunya sambil mencium kening putrinya, “Seolah tak ada beban di pundakmu.”
Suci menatap ibunya, senyumnya tak luntur sedikit pun. “Beban ada, Bu. Tapi kalau aku tersenyum, beban itu terasa lebih ringan dibawa.”
Ingatan Suci melayang kembali ke masa silam, saat usianya baru empat tahun. Waktu itu ia belumlah seperti sekarang. Ia adalah anak kecil yang lincah namun juga keras kepala dan mudah marah. Suatu sore, melihat sepasang kekasih duduk berdua di pinggir lapangan, ia tiba-tiba mengambil batu tajam dan melemparkannya ke arah mereka. Ayahnya melihat kejadian itu, wajahnya merah padam karena marah.
“Suci!” bentak ayahnya, langkahnya panjang mendekati putrinya, “Apa yang kau lakukan?!”
Suci menunduk, menggumam tak berani menatap mata ayahnya. “Aku... aku hanya iseng, Yah...”
“Iseng?” Ayahnya mengangkat tubuh mungil itu perlahan, suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan, “Itu bisa melukai orang lain, Suci. Bagaimana kalau batu itu mengenai mata mereka?”
Belum cukup pelajaran itu. Beberapa hari kemudian, ia hampir melempar batu lagi, kali ini ke arah anak tetangga yang sempat berdebat dengannya. Batu itu melesat dan hampir menyentuh pipi anak itu hingga berdarah. Ayahnya berlari, menahan tangan putrinya tepat waktu. Kali ini kemarahan ayahnya sungguh meluap. Ia menggandeng Suci menuju tempat pemandian umum yang sunyi dan agak gelap di ujung desa.
“Kau ingin melukai orang?” tanya ayahnya, suaranya berat, “Kalau begitu, biarkan wajahmu yang masuk ke air ini agar kau sadar betapa berbahayanya keinginanmu.”
Suci gemetar ketakutan, air mata menetes deras di pipinya yang mungil. “Yah... jangan... aku takut...”
Ayahnya berhenti, menatap putrinya yang gemetar. Ia tidak benar-benar mencelupkannya, namun ia membiarkan ketakutan itu mengendap sejenak di hati Suci.
“Janjilah padaku, Suci,” kata ayahnya pelan namun tegas, mengusap air mata di pipi putrinya, “Mulai hari ini, kau akan berusaha baik kepada semua orang. Tak ada lagi batu, tak ada lagi niat menyakiti. Jadilah anak yang menyejukkan hati siapa pun yang melihatmu.”
Suci mengangguk kuat, tangannya mencengkeram lengan ayahnya. “Aku janji, Yah... aku akan baik. Aku tidak akan menyakiti siapa pun lagi. Aku akan tersenyum kepada semua orang.”
Sejak hari itu, janji itu menjadi pengingat yang tak pernah ia lupakan. Di mana pun ia berada, kepada siapa pun ia berhadapan, senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya, bukan karena semuanya baik-baik saja, melainkan karena ia memegang janji itu erat-erat.
Tahun-tahun berlalu, Suci tumbuh dan masuk ke sekolah dasar. Di sana, kesulitan pertama datang menyapa. Matematika menjadi pelajaran yang paling sulit dipahaminya. Angka-angka menari-nari di papan tulis, dan jawaban yang ia tulis hampir selalu keliru. Teman-temannya mulai mencela.
“Hei, Suci! Bodoh sekali kau!”
“Sudah belajar dari kemarin pun tidak bisa!”
“Memang tidak punya bakat!”
Suci mendengar semua itu, hatinya perih, namun bibirnya tetap tersenyum. Ia tidak membalas, tidak mengeluh, hanya menunduk sejenak lalu mengangkat wajah kembali dengan senyum yang sama.
Guru kelasnya, seorang wanita yang sabar dan baik hati, selalu membantunya. “Tidak apa-apa, Suci. Pelan-pelan saja. Aku yakin kau bisa.”
Suci merasa bersyukur sekali. Namun kebaikan itu tak berlangsung lama. Seorang murid laki-laki yang jahat dan iri hati mengarang cerita kepada guru itu. “Bu... Suci bilang Ibu itu seperti ikan lele. Wajahnya bulat dan licin katanya.”
Guru itu terdiam, wajahnya berubah masam. Ia memanggil Suci ke depan kelas. “Benarkah kau berkata begitu?”
Suci terkejut, matanya berkaca-kaca. “Tidak, Bu... aku tidak pernah berkata begitu...”
“Sudahlah,” potong guru itu dingin, “Aku tidak menyangka kau anak yang pandai bicara di belakang seperti itu.”
Sejak hari itu, sikap guru itu berubah. Ia tak lagi memanggil Suci untuk maju ke depan, tak lagi tersenyum padanya. Namun setiap kali bertemu, Suci tetap tersenyum, meski hatinya menangis dalam-dalam. Ia ingin sekali menjelaskan, namun ia memilih diam dan tetap tersenyum. Biar waktu yang membuktikan, pikirnya.
Namun cemoohan teman-temannya justru semakin menjadi-jadi. Suatu hari, saat pulang sekolah, beberapa anak laki-laki mengeroyoknya. Mereka memukulnya hingga tubuhnya memar dan lebam. Suci jatuh ke tanah, menahan sakit yang luar biasa, namun saat mereka pergi, ia bangkit perlahan, membersihkan pakaiannya, dan tersenyum, meski senyum itu terasa getir di bibirnya.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya seorang teman yang melihatnya dari kejauhan, “Mereka menyakitimu!”
Suci mengusap sudut matanya yang lembap. “Karena aku berjanji kepada Ayah untuk tetap baik. Dan tersenyum adalah caraku tetap baik.”
Belum cukup itu. Di dekat tempat ibadah, seorang anak laki-laki menindihnya ke tanah, memukulnya berkali-kali. Suci tidak melawan, hanya menangkis sebisanya, lalu saat anak itu pergi, ia berdiri, merapikan jilbabnya yang berantakan, dan tersenyum kembali, meski kakinya gemetar menahan rasa sakit.
Masuk ke Sekolah Menengah Pertama, suasana tak berubah lebih baik. Ia dijadikan sasaran candaan yang menyakitkan. Teman-teman sekelasnya menyembunyikan buku pelajarannya, menulis kata-kata menyakitkan di papan tulis dengan namanya, dan memisahkan diri darinya. Suci tetap tersenyum, bukan karena bahagia, bukan karena tak merasa sakit, melainkan karena janji itu masih tertanam kuat di hatinya.
Suatu hari, seorang anak laki-laki yang jahat menarik-narik jempolnya dengan kasar hingga terdengar bunyi nyeri yang mengerikan. Jempolnya bengkak dan hampir patah. Suci menahan tangisnya, menahan rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya, namun ia tetap tersenyum kepada siapa pun yang melihatnya.
“Sampai kapan semua ini akan berakhir?” bisiknya pelan di dalam hati, saat duduk sendirian di sudut ruangan, “Sampai kapan aku harus tersenyum seperti ini?”
Di sela-sela kesedihannya, ia menemukan tempat pelarian yang damai, perpustakaan sekolah. Di antara rak-rak buku yang wangi kertasnya menenangkan, Suci mulai membaca. Ia membaca kisah-kisah tentang kesabaran, tentang ketabahan, tentang orang-orang yang tetap berbuat baik meski diperlakukan buruk. Di sinilah senyumnya mulai tumbuh tulus kembali, bukan sekadar menahan luka, melainkan karena ia menemukan cahaya di dalam dirinya sendiri.
“Terima kasih,” gumamnya kepada buku-buku yang ia baca, “Kalian mengajarkanku bahwa aku tidak sendirian.”
Masa SMA datang membawa tantangan yang berbeda. Suci diterima menjadi anggota OSIS, namun ketua OSIS-nya adalah seorang pemuda yang sombong dan suka mencela. Setiap kali rapat, ia selalu memandang Suci dengan pandangan meremehkan.
“Kau diam saja sana, Suci. Pendapatmu belum tentu benar,” katanya suatu hari.
Suci tersenyum manis. “Baik, Kak. Tapi kalau boleh aku sampaikan...”
“Diamlah!” potong pemuda itu.
Suci menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah kembali dengan senyum yang sama. Ia tidak membalas kesombongan itu dengan kesombongan lain. Ia tetap melakukan tugasnya sebaik mungkin. Dan perlahan, kemampuannya berbicara dalam bahasa asing membuat semua orang kagum. Ia mendapat nilai tertinggi di sekolah. Teman-teman mulai menghormatinya. Ketua OSIS itu pun akhirnya malu sendiri dan mulai bersikap baik. Suci tetap tersenyum kepadanya, tanpa menyimpan dendam sedikit pun.
Di bangku kuliah, cobaan datang dari arah yang tak disangkanya. Teman-teman sekelasnya mengeprankannya lewat media sosial, membuat akun palsu atas namanya, menuliskan hal-hal yang menghinanya secara terbuka. Ketika orang-orang membicarakannya, Suci hanya tersenyum, meski di dalam hatinya ia merasa kecewa sekali.
“Kenapa mereka melakukan ini padaku?” tanyanya dalam hati, “Aku tidak pernah menyakiti mereka.”
Namun yang paling menyakitkan adalah sahabatnya sendiri, gadis yang selalu mengantarnya pulang, yang selalu mendengarkan ceritanya, yang mengaku sangat menyayanginya. Di depan Suci ia baik, namun di media sosial dan di hadapan teman-teman lain, ia justru menghina Suci, menceritakan keburukan yang tak pernah ada, dan tertawa melihat Suci dibenci orang-orang.
Suci mengetahuinya. Ia duduk sendirian di bangku taman kampus, air mata menetes pelan, lalu ia mengusapnya, tersenyum kembali. “Tidak apa-apa,” katanya pelan, “Ia punya alasannya sendiri. Aku tetap akan berbuat baik padanya.”
Tahun-tahun berlalu hingga Suci bertemu dengan pemuda yang dicintainya, seorang pemuda sederhana yang tulus menyayanginya apa adanya. Mereka berencana menikah. Namun kabar itu tidak disetujui oleh orang tuanya.
“Kau tidak boleh menikah dengannya!” bentak ayahnya, “Dia belum punya apa-apa! Kau akan susah hidup dengannya!”
“Ayah, Ibu...” mohon Suci, matanya berkaca-kaca, “Kami saling mencintai. Kami akan bekerja keras. Tolong restui kami.”
“Tidak!” jawab ibunya tegas, “Kalau kau tetap bersikeras, keluarlah dari rumah ini!”
Suci tidak membatalkan pilihannya. Dengan tangan yang saling menggenggam erat, ia dan kekasihnya pergi dari rumah. Tidur di mana saja, di tempat teman, di bangku stasiun, di gubuk sewa yang sempit. Orang tuanya tak menyambutnya kembali. Tetangga-tetangganya berbisik-bisik. Suci tetap tersenyum, tersenyum sambil menangis di pelukan kekasihnya, tersenyum saat melewati rumahnya sendiri, tersenyum meski suara knalpot kendaraan yang bising seakan mengejek kesendiriannya.
“Semua orang seakan tidak menganggapku ada,” bisiknya suatu malam, menatap langit yang gelap, “Hanya suara bising yang menemani...”
Namun ia tidak menyerah. Waktu terus berjalan, dan perlahan sikap orang tuanya melunak. Mereka melihat keteguhan hati putrinya, melihat kesungguhan pemuda itu bekerja, dan akhirnya mereka merestui.
Hari pernikahan itu tiba. Suci berdiri di pelaminan, mengenakan gaun sederhana namun indah, dan tersenyum bahagia, senyum yang paling tulus, paling indah, yang pernah ia tampilkan seumur hidupnya.
Tahun-tahun berlalu, Suci hidup bahagia bersama suaminya. Namun suatu hari, kabar buruk datang. Gempa bumi mengguncang kampung halamannya. Rumah-rumah rubuh, sawah-sawah retak, dan tempat-tempat yang ia kenal sejak kecil berubah menjadi puing-puing.
Suci pulang ke sana. Ia berjalan di antara reruntuhan, melihat tempat ia dulu bermain, tempat ia dulu dipeluk ayahnya, tempat ia dulu bersembunyi di perpustakaan. Semuanya telah berubah. Air mata menetes di pipinya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia menangis sejadi-jadinya, bukan karena disakiti orang lain, melainkan karena melihat tempat yang ia cintai kini hancur.
Namun di tengah kesedihan itu, ia menoleh ke samping. Suaminya berdiri di sana, menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ia tersenyum, senyum yang penuh makna, yang memuat segala luka, segala kesabaran, segala harapan yang tak pernah padam. Ia mendekat, memeluk suaminya, dan tersenyum.
“Terima kasih,” bisiknya, “Segala yang terjadi, baik maupun buruk, semuanya mengajarkanku sesuatu. Kesabaran tidak pernah sia-sia. Nikmat Tuhan datang setelah kita mampu melewati ujian-Nya.”
Suci menatap ke arah langit yang perlahan cerah kembali, lalu ke arah puing-puing yang kelak akan tumbuh menjadi bangunan baru. Ia tersenyum, senyum yang damai, senyum yang penuh syukur.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!