Hanyo 2

0 dibaca

A

Setelah menuntun para penjudi menyadari kesalahan mereka dan kembali ke jalan yang benar, Hanyo kembali berdiri di tepi dimensinya, menatap ke bawah, ke arah dunia manusia yang terus berputar di bawah sinar matahari dan remang cahaya bulan. Wajahnya yang selalu ceria tampak tenang, namun matanya tak lelah memantau setiap jengkal bumi, mencari mereka yang tersesat, yang lupa, atau yang belum menyadari betapa berharganya apa yang telah mereka miliki.

Di sudut lain hatinya, Hanyo selalu berharap tak perlu ada yang dipertemukan dengan pelajaran keras itu. Namun kenyataan berkata lain. Di antara ribuan wajah yang terlihat di bawah sana, ada sepasang mata yang menatap cermin dengan pandangan yang tidak seharusnya, penuh ketidakpuasan, keinginan yang tak tenang, dan penolakan terhadap diri sendiri.

Itulah Yutar, seorang gadis muda yang duduk di tepi tempat tidurnya, menatap pantulan dirinya di kaca yang digosok bersih. Di sebelahnya terbuka sebuah ponsel, menampilkan foto-foto artis wanita dari negeri jauh, wajah mereka halus, bentuk mata dan hidung tampak sempurna menurut pandangan banyak orang. Yutar menghela napas panjang, jari-jarinya menyentuh pipinya sendiri, lalu menurunkan tangan dengan perasaan kecewa.

“Kenapa aku tidak seperti mereka?” gumamnya pelan, namun penuh penekanan, “Kalau saja hidungku lebih mancung, mataku lebih sipit, wajahku pasti cantik dan disukai semua orang... Kalau aku bisa seperti mereka, hidupku pasti lebih indah.”

Ia sudah memikirkan hal ini berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Yutar tahu ada jalan untuk mengubahnya, operasi plastik, merombak wajah agar tampak persis seperti idola-idolanya. Namun setiap kali menghitung biayanya, ia hanya bisa menunduk. Uang yang ia miliki jauh dari cukup, dan keluarganya hidup sederhana, tak mungkin ia meminta biaya sebesar itu kepada ibunya yang bekerja keras setiap hari.

Namun keinginan itu tak pernah padam, justru semakin membara setiap kali ia melihat wajahnya sendiri. Ia merasa ciptaan yang ada di cermin ini belum cukup baik, belum cukup indah, belum layak untuk disukai.

Suatu sore, saat Yutar sedang duduk termenung di tepi jendela, memandang jalanan tanpa benar-benar melihatnya, udara di ruang itu perlahan berubah. Sebuah cahaya lembut berwarna ungu dan hitam perlahan terbentuk di depannya, dan dari dalamnya melangkah keluar sosok yang mengenakan gaun bergaya Victoria yang anggun, Hanyo.

Yutar terkejut, mundur sedikit, namun tidak merasa takut. Cahaya itu terasa hangat, meski ia tidak mengerti dari mana sosok ini datang.

“Siapa kau?” tanyanya pelan.

“Nama aku Hanyo,” jawab sosok itu dengan suara lembut namun terdengar jelas di setiap sudut ruangan, “Aku datang melihatmu, Yutar. Aku melihat apa yang kau lihat di cermin, dan aku melihat apa yang kau inginkan di dalam hatimu.”

Wajah Yutar memerah. Ia menunduk, lalu mengangkat wajah kembali dengan perasaan malu sekaligus berani. “Aku tahu... aku seharusnya bersyukur. Tapi sungguh, Hanyo... aku tidak menyukai wajahku sendiri. Aku ingin seperti mereka... seperti artis-artis itu. Aku ingin dihargai, disukai, dilihat dengan kagum. Kalau saja wajahku bisa berubah menjadi seperti mereka, aku pasti akan bahagia.”

Hanyo mendekat sedikit, menatapnya dengan pandangan yang tidak menghakimi, namun penuh perhatian. “Kau ingin mengubah apa yang sudah ada sejak kau lahir, Yutar. Kau ingin merombak apa yang Tuhan berikan, menukarnya dengan rupa milik orang lain yang kau anggap lebih sempurna. Kau yakin itu akan membuatmu lebih bahagia?”

“Ya!” jawab Yutar mantap, matanya berbinar penuh harap, “Aku yakin! Aku akan melakukan apa saja! Sayangnya aku tidak punya uang untuk ke rumah sakit... tapi kalau bisa, aku akan melakukannya sekarang juga.”

Hanyo tersenyum tipis, senyum yang terasa sedih sekaligus penuh kasih sayang. “Kalau begitu, ikutlah denganku. Di tempatku, keinginanmu bisa terwujud tanpa biaya. Namun ingat, setiap perubahan ada harganya. Kau akan belajar sesuatu yang penting, Yutar. Apakah kau siap?”

“Aku siap!” seru Yutar tanpa ragu.

Mereka melangkah bersama masuk ke dalam cahaya ungu itu. Seketika itu juga, ruangan berubah menjadi tempat yang luas dan indah, dikelilingi kabut lembut yang berkilauan samar. Di sini, udara terasa sejuk dan tenang, seakan waktu berjalan lebih lambat.

“Selamat datang di duniaku, Yutar,” kata Hanyo, “Sebelum wajahmu diubah, pilihlah rupa yang kau inginkan.”

Sebuah layar besar muncul di udara, menampilkan wajah-wajah cantik yang dikenal banyak orang. Yutar menatapnya lekat-lekat, jantungnya berdebar kencang. Ia menelusuri satu per satu, lalu jarinya menunjuk ke sebuah wajah yang paling ia kagumi — Yeon Ji.

“Itu dia,” ucapnya pelan namun tegas, “Aku ingin persis seperti dia.”

Hanyo mengangguk. “Baiklah. Masuklah ke ruangan itu. Tunggu sebentar, dan saat kau keluar, keinginanmu akan terwujud.”

Yutar melangkah masuk ke ruangan yang terang dan wangi itu. Ia tidak merasakan sakit, tidak ada pisau atau perban. Hanya rasa hangat yang menyelimuti wajahnya, seakan disentuh tangan yang lembut. Satu jam berlalu, dan ketika cermin besar di ruangan itu menampakkan bayangannya, Yutar menahan napas.

Ia bukan lagi dirinya. Wajahnya persis seperti Yeon Ji — bentuk mata, hidung, bibir, hingga garis rahangnya sama persis. Ia tampak cantik, sangat cantik, persis seperti idola yang ia kagumi selama ini.

“Sempurna...” bisiknya dengan senyum lebar yang tak bisa ditahan, “Aku akhirnya cantik.”

Yutar berlari keluar, berterima kasih kepada Hanyo, lalu kembali ke dunia nyata dengan perasaan gembira yang meluap-luap. Ia tak sabar memperlihatkan wajah barunya kepada ibunya, membayangkan betapa bangganya ibunya, betapa semua orang akan mengaguminya.

Sesampainya di rumah, ia mengetuk pintu dengan semangat. Ibunya membuka pintu, namun senyum di wajah ibunya perlahan hilang, digantikan keraguan.

“Siapa kau?” tanya ibunya, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, “Aku tidak mengenalimu. Rumah ini bukan tempatmu. Pergilah.”

Yutar terkejut, tersenyum canggung. “Ibu... ini aku, Yutar! Lihatlah, aku hanya merubah wajahku sedikit, tapi aku tetap anak Ibu!”

Ibunya menggeleng tegas, wajahnya tampak kecewa sekaligus dingin. “Yutarku memiliki wajah yang berbeda. Aku mengenal anakku bukan dari kecantikannya, tapi dari wajah yang aku lihat setiap hari sejak ia kecil. Kau bukan Yutar. Pergilah dari sini, jangan menipuku.”

Pintu tertutup pelan namun tegas di hadapannya. Yutar berdiri sendirian di halaman, air mata mulai menetes. “Ibu... ini aku...” bisiknya, namun tak ada jawaban.

Dengan hati yang hancur, Yutar berjalan menyusuri jalanan kota, berharap orang lain akan mengenalinya, atau setidaknya menerima wajah barunya. Di awal, beberapa orang menoleh, tampak kagum melihat wajahnya yang menyerupai artis terkenal. Namun saat ia mencoba menyapa, saat ia ingin mereka melihat siapa dirinya di balik wajah itu, mereka semua berhenti tersenyum, menatapnya aneh, lalu perlahan menjauh.

“Itu bukan dia,” bisik seseorang, “Dia hanya meniru.”

“Kelihatannya sama, tapi rasanya kosong,” kata yang lain.

Tak ada yang melihat Yutar. Yang mereka lihat hanyalah tiruan.

Ia berjalan terus, air mata membasahi wajahnya yang seharusnya sempurna. Di persimpangan jalan, seorang pemuda melihatnya, tersenyum, lalu tertawa sinis. Ia melemparkan selembar uang ke arah Yutar.

“Cantik, ya. Tapi kau tidak seberapa kalau hanya meniru orang lain,” katanya lalu pergi.

Yutar berdiri terpaku, uang itu jatuh di tanah tanpa ia pedulikan. Ia duduk di tepi trotoar, menangis sejadi-jadinya. Semua yang ia bayangkan ternyata terbalik. Kecantikan yang ia dambakan justru memisahkannya dari semua orang yang ia sayangi. Ia menjadi asing di mata ibunya, menjadi orang asing di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya.

Di tengah kesedihannya, sebuah suara lembut terdengar. “Bagaimana, Yutar? Apakah kau senang setelah wajahmu berubah?”

Yutar mendongak. Hanyo berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan yang tidak menghakimi, melainkan penuh belas kasih.

“Tidak...” jawab Yutar di antara isak tangisnya, menunduk dalam, “Semuanya menjadi lebih buruk, Hanyo. Ibu tidak mengenaliku... tidak ada yang mengenaliku. Aku merasa sendirian, seakan aku bukan siapa-siapa.”

Hanyo duduk di sampingnya, membiarkan gadis itu menumpahkan segala kesedihannya. “Dengarkan aku, Yutar,” ucapnya pelan namun tegas, “Kau mengira mengubah wajah akan mengubah pandangan orang kepadamu. Kau mengira kecantikan yang terlihat dari luar akan membuatmu lebih berharga. Padahal, yang membuatmu dicintai ibumu bukanlah bentuk hidung atau matamu. Itu adalah Yutar, anak yang tumbuh di hadapannya, yang memiliki tawa, tangis, dan kebaikan yang khas milikmu sendiri.”

Yutar mendengarkan, setiap kata menembus hatinya.

“Kita sering lupa,” lanjut Hanyo, “Bahwa apa yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah kebetulan. Wajahmu, tubuhmu, keadaanmu, semuanya sudah diatur dengan sebaik-baiknya. Mengubahnya karena hanya mengikuti apa yang dilihat mata, tanpa mensyukuri apa yang ada, tidak akan membawa kebahagiaan. Karena yang berubah hanyalah cangkangnya, bukan hati dan jiwamu di dalamnya.”

“Aku menyesal...” isak Yutar, “Aku sungguh menyesal. Aku tidak seharusnya malu dengan diriku sendiri. Aku ingin kembali... aku ingin menjadi Yutar yang dikenal ibuku.”

Hanyo tersenyum lembut, lalu mengulurkan sebuah cermin yang indah bingkainya. “Lihatlah, Yutar.”

Yutar mengangkat cermin itu perlahan. Di sana, bukan wajah Yeon Ji yang ia lihat. Wajahnya sendiri kembali, wajah yang dulu ia anggap kurang sempurna, namun kini terlihat begitu berharga, begitu hangat, begitu miliknya. Ia tersenyum di pantulan kaca itu, air mata bahagia bercampur haru menetes di pipinya.

“Terima kasih, Hanyo,” ucapnya pelan, menyerahkan cermin itu kembali, matanya berbinar cerah, “Aku mengerti sekarang. Tidak ada yang lebih indah daripada menjadi diri sendiri.”

Ia berlari pulang secepat kakinya mampu melangkah. Saat ibunya membuka pintu, Yutar langsung memeluknya erat.

“Ibu... ini aku, Yutar!” serunya sambil memeluk ibunya.

Ibunya menatapnya, lalu air mata bahagia mengalir di pipi keriputnya. Ia memeluk anaknya kembali, memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. “Yutar... anakku... kau pulang...”

Malam itu, Yutar tidur dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia bangun pagi-pagi, tersenyum melihat wajahnya sendiri di cermin, dan bersyukur, sungguh bersyukur, atas segala hal yang ada padanya.

Dan di tempat yang jauh, di dimensinya yang tenang, Hanyo tersenyum melihatnya. Tugasnya selesai untuk saat ini. Ia kembali berdiri di tepi dunianya, menatap bumi yang luas, menunggu siapa lagi yang perlu diingatkan, disadarkan, dan dibimbing kembali ke jalan mensyukuri nikmat yang tak ternilai harganya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk