Vampire On The Giant Raflessia Flower : Begin

0 dibaca

A

Janji di Hutan Ciseueur

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, di mana lampu-lampu kendaraan menyala seperti sungai bercahaya di malam hari, suara deru mesin motor terdengar menggelegar membelah udara. Di antara puluhan pengendara yang melesat di jalanan kota, ada satu sosok yang paling dielu-elukan oleh kawan-kawannya,Tehdy Wahyu. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu bertubuh tegap, rambutnya sedikit panjang berantakan tertiup angin, dan matanya menyala penuh percaya diri saat memegang setang motornya. Bagi Tehdy, jalan raya adalah lintasan balap, dan setiap tikungan adalah tantangan yang harus ia taklukkan. Ia dikenal sebagai pembalap tercepat di geng motornya, dan gelar itu adalah kebanggaan terbesarnya.

Namun kebanggaan itu sering kali disertai kekhawatiran yang tak berkesudahan. Selalu ada sosok yang menunggunya pulang dengan dada sesak, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, kekasihnya, Tenia. Tenia gadis yang cantik dan lembut, hatinya tulus, dan ia sangat menyayangi Tehdy, namun ia tidak pernah tenang setiap kali Tehdy memacu motornya melesat tanpa rasa takut.

Suatu malam, Tehdy baru saja pulang dari balapan liar di jalan tol yang sepi. Ia melepas helmnya yang bergores, tersenyum bangga, namun Tenia menyambutnya dengan wajah pucat.

“Tehdy...” panggil Tenia pelan namun tegas, “Kau tahu betapa takutnya aku setiap kali kau pergi balapan seperti itu. Suatu hari nanti... aku takut kau tidak akan pulang lagi.”

Tehdy tertawa ringan, merangkul bahu kekasihnya. “Jangan terlalu berlebihan, Sayang. Aku sudah terbiasa. Aku paling cepat di antara mereka semua. Tidak ada yang bisa menandingiku.”

“Tapi cepat bukan berarti aman, Tehdy!” suara Tenia sedikit meninggi, matanya berkaca-kaca, “Jalanan bukan milikmu saja. Ada kendaraan lain, ada jalanan yang licin, ada hal-hal yang tidak bisa kau duga!”

“Aku tahu, aku tahu...” Tehdy mengusap pipi Tenia, “Tapi ini bukan sekadar balapan, Tenia. Ini soal nama, soal harga diri. Kalau aku berhenti sekarang, mereka akan bilang aku pengecut. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

“Bagiku, keselamatanmu jauh lebih berharga daripada semua pujian mereka,” gumam Tenia menunduk, menahan tangis, “Aku hanya ingin kau ada di sini, bersamaku. Bukan jadi pahlawan di jalanan.”

Tehdy terdiam sejenak, namun egonya masih terlalu kuat untuk menyerah. Ia mencium kening Tenia. “Jangan cemas, aku selalu berhati-hati. Percayalah padaku.”

Tenia menghela napas panjang, menyadari bahwa kata-katanya belum mampu mengubah tekad kekasihnya yang keras kepala.

Beberapa hari kemudian, kabar menyebar di kalangan geng motor Tehdy. Akan ada konvoi panjang menuju daerah yang jauh dari kota, melewati hutan lebat di kawasan Ciseueur. Tujuannya sekadar menguji keberanian dan ketangguhan motor, menembus jalanan yang sepi dan berkelok-kelok. Tehdy merasa ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuannya.

Ia segera menemui Tenia. “Sayang, ikutlah bersamaku. Kita akan berangkat pagi-pagi sekali, menikmati pemandangan di luar kota. Kau pasti akan suka.”

Tenia mengerutkan kening. “Ciseueur? Aku pernah mendengar tempat itu. Katanya jalannya rusak, sepi, dan hutan di sana belum tersentuh banyak orang. Itu berbahaya, Tehdy.”

“Justru itu serunya!” seru Tehdy bersemangat, “Aku akan melindungimu. Kita berangkat bersama kawan-kawan, tidak sendirian. Akan ada lima orang lain juga. Tidak akan ada yang terjadi.”

“Namaku takut...” Tenia menggigit bibir bawahnya, “Kalau terjadi sesuatu di tempat yang jauh itu...”

“Sudahlah, jangan pikirkan yang tidak-tidak,” Tehdy menggenggam tangan kekasihnya erat, “Temanilah aku, Tenia. Aku ingin kau melihatku berkendara di jalan yang indah. Tolonglah...”

Melihat wajah Tehdy yang penuh harap, keteguhan hati Tenia perlahan luluh. Ia tidak tega membiarkan kekasihnya pergi sendirian ke tempat yang jauh sekalipun hatinya dipenuhi kegelisahan. “Baiklah... aku ikut. Tapi berjanjilah padaku, Tehdy, kau akan berhati-hati di sana.”

“Berjanji!” Tehdy tersenyum lebar, mencium punggung tangan Tenia.

Pagi harinya, mereka berangkat. Enam motor melesat beriringan meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta, membelah jalanan yang semakin lama semakin sepi. Udara terasa semakin sejuk, pepohonan di pinggir jalan semakin rapat dan rimbun. Namun perjalanan ternyata lebih panjang dari yang dibayangkan. Siang berganti sore, sore berganti malam, dan mereka belum sampai di tempat tujuan. Matahari terbenam sepenuhnya, menyisakan kegelapan yang pekat di antara pepohonan tinggi.

“Tehdy...” panggil salah satu kawannya, “Kita sudah kelelahan. Mataku sudah terasa berat. Sebaiknya kita berhenti dulu di sini.”

Tehdy mengangguk, meski ia sendiri pun merasa mengantuk luar biasa. “Baiklah, kita pasang tenda di area terbuka itu.”

Mereka menepikan motor, mendirikan tiga buah tenda sederhana di tanah yang tertutup dedaunan kering. Langit di atas mereka tampak gelap gulita, tanpa cahaya bulan yang terlihat, dan angin malam berhembus dingin menembus pakaian tipis mereka. Mereka makan seadanya, lalu masuk ke tenda masing-masing, berharap dapat beristirahat dengan nyenyak sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi.

Namun tidur mereka belum lama terlelap. Sekitar tengah malam, terdengar suara aneh dari luar — bunyi benturan keras yang berulang-ulang, seakan ada benda berat dipukulkan ke tanah: dung... dung... dung...

Tenia terbangun lebih dulu. Ia menyentuh lengan Tehdy. “Tehdy... bangun. Ada suara di luar.”

Tehdy menguap malas. “Mungkin saja hewan hutan. Tidurlah lagi.”

Namun suara itu terdengar semakin dekat dan nyata. Akhirnya, Tehdy dan kawan-kawannya keluar dari tenda dengan wajah mengantuk dan kesal. Di sana, di bawah cahaya redup lampu senter, berdiri sesosok kakek tua yang rambut dan janggutnya memutih, mengenakan pakaian sederhana dari kulit kayu. Di tangannya, sebuah batu besar ia pukulkan perlahan ke tanah.

“Siapa kau?” tanya Tehdy dengan nada tidak ramah.

Kakek itu menatap mereka satu per satu, matanya tajam namun penuh kekhawatiran. Namanya Koryah.

“Dengarkan aku, anak-anak...” suaranya berat dan serak, bergema di udara yang hening, “Kalian harus segera pergi dari tempat ini. Pindahkan tenda kalian, tinggalkan tanah ini sekarang juga.”

“Kenapa?” tanya salah satu kawan Tehdy, menguap kembali, “Kami sudah lelah, Kakek. Biarkan kami tidur.”

“Tanah ini bukan tempat untuk beristirahat,” Kakek Koryah melangkah mendekat, “Di sini, di bawah tanah ini, sesuatu sedang tumbuh. Sesuatu yang tidak boleh diganggu. Kalau kalian tidak pergi sekarang, bunga raksasa itu akan bangun dan memakan kalian hidup-hidup.”

Tehdy tertawa sinis. “Bunga raksasa? Kakek ini sudah tua dan berkhayal, ya? Kami tidak punya waktu untuk mendengar omong kosong seperti itu.”

“Aku tidak berbohong!” seru Kakek Koryah, suaranya meninggi, “Raflesia raksasa itu tidak seperti bunga biasa. Ia membawa kelaparan dan kegelapan. Pergilah, sebelum terlambat!”

“Sudah, sudah, pergi saja dari sini!” Tehdy mengusir kakek itu dengan gerakan tangan kasar, “Kami tidak mau diganggu orang gila sepertimu!”

Tenia menarik lengan Tehdy. “Tehdy... jangan begitu. Dengarkan dia, siapa tahu...”

Tehdy menepis tangan Tenia. “Kau juga ikut-ikutan? Tidak ada yang akan terjadi di sini. Orang tua itu hanya ingin menakuti-nakuti kita.”

Kakek Koryah menatap mereka dengan tatapan sedih yang mendalam. “Aku sudah memperingatkan kalian. Jika kalian tetap di sini, jangan salahkan siapa pun kecuali diri kalian sendiri.”

Perlahan, kakek tua itu menghilang ke dalam kegelapan hutan. Tenia berdiri diam, menatap ke arah kepergian kakek itu, hatinya terasa semakin gelisah. Tehdy menariknya masuk ke tenda.

“Masuklah, dingin di luar. Tidurlah, besok kita lanjut perjalanan.”

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Belum lama mereka berbaring, tanah di bawah tenda tiba-tiba bergetar pelan, lalu semakin kuat. Mereka terbangun karena tubuh mereka terguncang-guncang.

“Apa ini? Gempa?” teriak salah satu kawan Tehdy.

Belum sempat mereka keluar, dari celah tanah yang retak muncul sulur-sulur hitam yang panjang dan licin, bergerak hidup seperti ular. Sulur itu melesat masuk ke dalam tenda, melilit tubuh Tehdy dan keempat kawannya dengan kekuatan yang luar biasa.

“Aduh! Lepaskan! Sakit!” Tehdy meronta sekuat tenaga, namun semakin ia bergerak, semakin erat sulur itu melilitnya. Napasnya terasa sesak, wajahnya memerah menahan rasa sakit.

Namun anehnya, sulur-sulur itu sama sekali tidak menyentuh Tenia. Ia berdiri di tengah kekacauan itu, bebas namun gemetar ketakutan melihat kekasihnya menderita.

Dari tanah yang terbuka lebar itu, muncul sesuatu yang besar dan mengerikan, kuntum bunga raksasa yang mekar perlahan, mengeluarkan suara gemuruh yang bising, dan bau busuk yang menyengat memenuhi udara. Di tengah kelopak bunga yang menganga seperti mulut raksasa, muncul sesosok wanita dengan wajah pucat, mata merah menyala, rambut panjang berantakan, dan mengenakan kimono yang sudah lusuh. Ia tertawa lebar, suaranya mengerikan.

“Hahahaha... Sudah lama sekali aku tidak merasakan daging manusia segar...”

Tenia melangkah maju, berusaha menenangkan sosok itu. “Siapa kau? Tolong... lepaskan kekasihku dan kawan-kawanku. Mereka tidak bermaksud mengganggu siapa pun.”

Wanita itu tersenyum sinis. Namanya Rahs. “Aku Rahs. Dan mereka yang tidak mendengarkan nasihat Kakek Koryah harus menerima akibatnya. Tanah ini adalah tempat tidur bunga raksasa Raflesia. Mereka memilih untuk tidak peduli, jadi mereka harus menjadi makanannya.”

Tenia mengeratkan genggamannya, meski kakinya gemetar hebat. “Aku mendengarkannya! Aku memohon kepada mereka untuk pergi, tapi mereka tidak mau mendengarkan aku. Kalau kau harus menghukum seseorang, hukullah mereka yang tidak mendengar, tapi Tehdy... ia sebenarnya baik hati, hanya saja ia keras kepala.”

Rahs menatap Tenia lekat-lekat, seakan mencari kebenaran di mata gadis itu. Perlahan, wajahnya yang tadinya garang sedikit melunak. “Kau mendengarkan nasihat orang bijak... dan kau berusaha menyelamatkan mereka meski mereka tidak mendengarkanmu. Kesetiaanmu patut dihormati.”

Rahs mengangkat tangannya yang pucat. Sulur-sulur hitam perlahan melepaskan ikatannya. Bunga raksasa itu mulai menutup, menyusut kembali ke dalam tanah, dan Rahs perlahan menghilang bersama bau busuk yang perlahan lenyap.

Tehdy jatuh ke tanah, terbatuk-batuk, napasnya tersengal-sengal. Ia memegang dadanya, menatap Tenia dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merangkak mendekat, memeluk kaki kekasihnya, lalu menangis sejadi-jadinya.

“Aku minta maaf... Tenia, aku minta maaf...” isaknya, “Kau benar. Kau selalu benar. Aku terlalu sombong, terlalu keras kepala. Aku hampir kehilanganmu... aku hampir kehilangan semuanya.”

Tenia berjongkok, memeluk Tehdy erat-erat, membiarkan kekasihnya meluapkan segala rasa takut dan penyesalan yang ia tahan selama ini. “Sudahlah... kau sudah aman. Semuanya sudah berlalu.”

Tehdy mengangkat wajahnya, menatap Tenia dengan tekad yang membara. “Berjanjilah padaku, Tenia, mulai hari ini aku akan mendengarkanmu. Aku tidak akan lagi memacu motor dengan sembarangan. Aku tidak akan ikut balapan liar lagi. Aku ingin hidup... aku ingin hidup bersamamu, bukan untuk pujian kawan-kawanku, tapi untuk kita.”

Tenia tersenyum di antara air matanya, mencium kening Tehdy. “Aku percaya padamu, Tehdy.”

Keesokan paginya, saat cahaya matahari menembus dedaunan, mereka meninggalkan hutan Ciseueur dengan perasaan yang berbeda. Tehdy mengendarai motornya perlahan, tenang, dan penuh kesadaran. Ia tidak lagi mengejar gelar tercepat di jalanan yang berbahaya, karena ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan untuk pulang ke rumahnya, ke pelukan orang yang dicintainya, setiap hari.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk