Hanyo

0 dibaca

A

Di tempat yang tak terjangkau peta mana pun, di dimensi yang tersembunyi di balik lipatan realitas, tinggal seorang sosok yang bernama Hanyo. Ia bukan manusia biasa, ia adalah perwujudan nyata dari segala akibat perbuatan yang dilakukan manusia di bumi. Setiap langkah yang diambil, setiap kata yang diucap, setiap niat yang tumbuh di hati, semuanya tercatat dan tercermin di dunia tempat Hanyo tinggal. Ia mengenakan gaun bergaya Victoria yang anggun dan mencolok, kain beludru ungu tua yang menyatu dengan lapisan kain hitam yang tebal namun lembut, dihiasi renda-renda halus berwarna perak yang berkilauan samar, serta kerah tinggi yang menegaskan wibawanya. Wajahnya selalu ceria, matanya berbinar hangat, dan senyumnya mudah merekah saat melihat kebaikan tumbuh di mana saja.

Namun belakangan ini, senyum itu semakin jarang terlihat. Hanyo sering berdiri di tepi dimensinya, menatap ke bawah, ke arah permukaan bumi, dan keningnya berkerut kesal.

“Sudah cukup, sudah terlalu banyak,” gumamnya pelan namun tegas, “Di mana-mana orang hanya berpikir tentang keberuntungan semu. Uang yang didapat tanpa bekerja, yang datang lalu hilang seketika.”

Ia melihat dengan jelas, dari sudut kota yang ramai hingga pelosok desa yang sunyi, tangan-tangan manusia sibuk memegang kartu, melempar dadu, menaruh taruhan di meja, dan kini, semakin sering menatap layar ponsel dan komputer. Teknologi yang seharusnya memajukan kehidupan justru dijadikan sarana untuk berjudi tanpa henti. Di mana-mana kerugian menumpuk, keluarga hancur, dan harapan dipertaruhkan hanya demi ilusi kekayaan instan.

Namun di sisi lain, hatinya menghangat melihat mereka yang bangun pagi untuk membantu tetangga, yang membagi makanan dengan yang lapar, yang merawat orang sakit tanpa pamrih. Orang-orang sederhana itu, yang bekerja jujur setiap hari, adalah alasan mengapa bumi masih layak dihuni.

“Aku tidak bisa hanya diam menonton mereka merusak diri sendiri,” ucap Hanyo, melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku harus turun. Bukan untuk menghukum, tapi untuk mengajarkan.”

Ia melangkah maju, mengulurkan tangannya, dan di udara terbukalah sebuah gerbang yang berkilauan, pintu menuju dunia manusia. Angin segar dari bumi menyapanya, dan Hanyo melangkah masuk.

Di Klub Gelap

Tempat pertama yang ia tuju adalah sebuah klub tersembunyi di tengah kota. Di balik pintu berat, asap mengepul tebal, suara tawa kasar dan benturan kartu terdengar memekakkan telinga. Hanyo berjalan masuk, gaun ungu-hitamnya mengalir di lantai, menarik perhatian semua orang di ruangan itu.

“Siapa anak kecil ini?” tanya salah satu pria yang duduk di meja terbesar, suaranya serak karena asap, “Pergilah, Nak! Ini bukan tempat untuk anak-anak! Pulanglah!”

Hanyo berhenti di tengah ruangan, menatap mereka satu per satu dengan senyum yang masih tersisa namun mulai mendingin. “Aku bukan anak kecil. Namaku Hanyo. Aku datang untuk memperingatkan kalian. Berhentilah melakukan hal ini. Taruhan yang kalian mainkan bukan hanya uang, melainkan masa depan kalian sendiri.”

Pria itu tertawa keras. “Dengar, dia memberi nasihat! Pergi sana sebelum aku marah!”

Hanyo diam saja, namun tatapannya berubah. Matanya melotot tajam, menyala dengan cahaya yang tak bisa dijelaskan. Tiba-tiba, seluruh lampu di padam. Ruangan itu gelap gulita. Terjadi keheningan sesaat sebelum kepanikan meletus.

“Hei! Apa yang terjadi?”

“Siapa yang mematikan lampu?”

“Buka lampunya!”

Suara-suara itu terputus satu per satu. Hanyo bergerak dalam kegelapan, tak terlihat namun terasa kehadirannya. Satu per satu, para penjudi dan pelayan yang ada di sana lenyap dari tempat duduk mereka, tersedot masuk ke dalam cahaya ungu yang samar, dibawa pergi tanpa sempat berteriak panjang.

Di Desa yang Tak Jera

Keesokan harinya, Hanyo muncul di sebuah desa terpencil yang dikenal warga sekitar sebagai tempat yang menyulitkan petugas hukum. Penduduknya kerap terjerat perjudian, dipenjara, namun begitu bebas, mereka kembali melakukan kebiasaan buruk itu. Polisi sudah kehabisan akal.

Hanyo berdiri di depan rumah yang dijadikan tempat perjudian. Ia membuka portal di belakangnya, cahayanya memancar lembut.

“Dengarkan aku!” suaranya terdengar hingga ke dalam, “Aku datang untuk memperingatkan kalian. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan biarkan kebiasaan ini menghancurkan keluarga kalian. Bertobatlah sekarang sebelum terlambat!”

Seorang pria kekar dengan wajah garang keluar membawa golok tajam. Ia mengacungkan senjatanya ke arah Hanyo. “Siapa kau? Urus saja urusanmu! Jangan ikut campur hidup kami! Pergi atau aku akan memastikan kau menyesal pernah datang ke sini!”

Hanyo menatapnya tenang, lalu perlahan melotot lebar. Tanpa berkata apa-apa, ia membuka mulutnya, dan di hadapan mata semua orang yang terpaku melihatnya, ia memakan golok tajam itu seolah itu hanyalah keripik kentang yang renyah dan gurih. Bunyi renyah terdengar samar, lalu golok itu lenyap begitu saja.

Pria itu mundur gemetar, wajahnya pucat pasi. Semua orang yang keluar bersiap menyerang kini terpaku ketakutan.

“Siapa dia?” bisik seseorang.

Hanyo tidak menjawab. Ia kembali melotot, dan seketika itu juga pintu-pintu serta jendela rumah itu tertutup rapat sendiri, menyegel semua yang ada di dalamnya. Kegelapan turun kembali. Tak ada yang bisa melarikan diri. Satu per satu mereka ikut tersedot masuk ke dimensi Hanyo, tak tersisa seorang pun.

Di Pinggir Jalan Kota.

Hanyo kemudian pergi ke tepian jalanan kota yang sibuk. Di sana, berkerumun sekelompok pemuda yang duduk melingkar, mata mereka terpaku pada layar ponsel yang menyala. Mereka berjudi lewat gawai itu, tertawa saat menang, mengumpat saat kalah.

“Berhentilah,” kata Hanyo mendekat, suaranya lembut namun tegas, “Perjudian yang kalian lakukan lewat layar ini sama merugikannya. Ia tidak akan memberi kalian kebahagiaan, hanya kerugian yang tak bertepi. Bertobatlah selagi bisa.”

Salah satu pemuda mendongak, menatapnya sinis. “Hei, siapa kau ini? Diamlah! Pulang sana beli susu, urusan kami bukan urusanmu!”

Semua orang tertawa mengejek. Hanyo berdiri diam, menatap mereka tanpa marah, namun kesedihan mulai bercampur dengan ketegasan di wajahnya. Tiba-tiba, salah satu pemuda yang paling berani mendekat, menamparnya, lalu menyumpal mulutnya dengan tisu bekas yang kotor.

“Diam kau!” katanya kasar.

Hanyo tidak bergerak. Ia hanya melotot lebar, matanya memancarkan cahaya yang dalam. Saat mereka kembali menunduk menatap layar ponsel, tak sadar apa yang terjadi, satu per satu tubuh mereka tersedot masuk ke dalam layar itu, seperti karet yang dipaksa masuk ke tabung kecil. Tangan, kepala, tubuh, perlahan lenyap, ditarik masuk ke dunia di balik kaca bercahaya itu.

Hanyo berdiri sendirian, tersenyum tipis namun sedih. “Inilah pembalasan... bukan untuk menyakiti, melainkan untuk mendidik.”

Lalu ia pun menghilang, kembali ke dimensinya.

Di Dimensi Hanyo.

Ketiga kelompok itu kini berkumpul di tempat yang asing dan menakjubkan sekaligus mengerikan. Mereka semua telah berubah wujud, menjadi dadu-dadu yang halus, kokoh, dan di setiap sisi permukaannya terdapat wajah mereka sendiri. Wajah yang cemas, takut, bingung, semuanya terlihat jelas di setiap titik angka itu.

Hanyo berdiri di hadapan mereka, gaunnya berkibar pelan tanpa angin. Ia mengangkat tangan, dan dadu-dadu itu melayang turun ke telapak tangannya. Ia memegang mereka seolah benda kecil yang tak berdaya.

“Kalian ingin bermain?” suaranya bergema di udara yang tak diketahui arahnya, “Baiklah, mari kita main.”

Ia membawa mereka ke sebuah ember besar yang berisi air mendidih. Satu per satu, ia melemparkan mereka ke dalamnya, lalu mengocoknya tanpa ampun. Mereka terguling, terbentur dinding ember, terasa panas menjalar ke seluruh permukaan tubuh dadu mereka, berteriak namun suaranya tertelan di dalam air.

“Panas... sungguh panas!” rintih salah satu wajah.

Namun belum selesai. Hanyo menuangkan mereka ke lantai yang dilapisi madu kental dan lengket. Perlahan, sekawanan lebah raksasa muncul, sayap mereka berdengung keras. Mereka mendekat, dan dengan sengat yang tajam, mereka melukai setiap titik di wajah para penjudi itu hingga penuh memar dan perih.

“Kami menyesal! Ampun!” rintih mereka.

Hanyo mengambil mereka kembali, wajah mereka kembali utuh, namun rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya. Kali ini ia melemparkan mereka ke papan permainan dart yang permukaannya memancarkan panas, di balik lapisannya mengalir cairan lava yang mendidih. Mereka menempel di sana, merasakan kulit seakan terbakar, berteriak kesakitan. Hanyo lalu membalikkan papan itu dan menginjaknya hingga mereka terlepas dan terguling ke bawah, retak dan hancur, namun seketika utuh kembali.

Belum selesai. Sebuah ponsel raksasa muncul, layarnya menyilaukan mata. Tangan besar milik ponsel itu menangkap mereka satu per satu dan memasukkan ke dalamnya, mengocok mereka di balik layar hingga mereka pusing dan tak tahu arah. Lalu mereka dikeluarkan kembali, kali ini ke dalam gelas-gelas emas besar yang masing-masing berisi satu orang. Gelas-gelas itu diletakkan di atas piring yang berputar tanpa henti, semakin cepat, semakin memusingkan. Di atas mereka, air panas tumpah membanjiri tubuh mereka, melelehkan wujud mereka, lalu mengembalikannya utuh, meleleh lagi, utuh lagi, berulang-ulang tanpa henti.

Hanyo akhirnya mendekat, suaranya tenang namun terdengar di setiap sudut tempat itu.

“Sekarang... katakan padaku. Apakah kalian masih ingin bermain judi lagi?”

“Kami tidak mau!” jawab mereka serentak.

“Katakan sekali lagi,” perintah Hanyo.

“Tidak mau! Kami kapok!”

“Sekali lagi, agar hatimu yakin,” kata Hanyo lembut.

“Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi! Kami ingin bertobat!” jawab mereka dengan suara yang mantap dan tulus.

Hanyo tersenyum, kali ini senyumnya tulus dan hangat. “Baiklah. Pelajaran sudah selesai. Kembalilah ke tempat asalmu, dan ingatlah rasa ini.”

Cahaya menyelimuti mereka, dan saat mereka membuka mata, mereka sudah kembali ke tempat masing-masing, pusing, lemas, namun sadar sepenuhnya. Tak ada yang terluka, namun tak ada yang bisa melupakan apa yang mereka alami.

Hanyo kembali ke dimensinya, berdiri di tepi gerbang, menatap bumi yang berputar di kejauhan.

“Aku tidak akan pergi,” bisiknya, “Siapa pun yang masih memilih jalan yang salah... aku akan datang lagi.”

Dan di sana ia menunggu, siap untuk turun kapan saja, menjaga keseimbangan antara perbuatan dan akibatnya, antara kejatuhan dan kesempatan untuk bangkit kembali.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk