Saat Istari menemani Bapak dan kakak laki-lakinya ke ladang, ia celinguk kanan dan kiri untuk mencari tahu tanaman seperti yang ia temukan di pawon. Tadinya, ibu meminta Istari membantu beliau menumbuk rimpang temulawak untuk dijadikan obat, namun ia memilih kabur bersama Janitra ke hutan. Berbeda dari kebanyakan orang yang memiliki kebun luas di belakang rumah mereka, Bapak membuka lahan seorang diri di tengah hutan, dekat dengan percabangan sungai Cemorotirto yang berhulu di air terjun Sendang Sewu. Disebut Sendang Sewu, sebab ada banyak sekali air terjun dari ukuran paling kecil hingga besar yang dialirkan dari puncak Hargo Putri. Gunung Hargokusumo memiliki tiga puncak, yang pertama Hargo Putro, sekaligus puncak paling rendah meski memiliki ketinggian 2589 mdpl. Puncak kedua, yaitu Hargo Putri berada di tengah-tengah pada 2941 mdpl. Yang ketiga, yaitu Hargo Pangeran, terletak di 3782 mdpl, sekaligus gunung tertinggi di seluruh wilayah Kerajaan Bawonomandala.
“Istari! Jalan lihat depan,” terdengar hardikan Bapak kala beliau menyadari putrinya lebih banyak melamun dan pandangannya tidak fokus. “Nyari apa, kamu?”
“Mboten, Pak,” jawab Istari.
Janitra yang berjalan di sisinya mendorong Istari agar maju dua langkah, sehingga kini posisi mereka secara berurutan adalah; Bapak, Istari, dan Janitra. Usia Istari dan Janitra sangat dekat, hanya terpaut sebelas sasi, jika dibandingkan jarak kelahiran antara Janitra dan Manika, atau Istari dan Danastri, si bungsu. Oleh sebab itulah dari seluruh anak Bapak dan Ibu, Istari paling akrab dengan Janitra. Selain itu, persamaan mereka adalah sama-sama tidak mendapat pendidikan formal di sekolah. Alasan Bapak dan Ibu tidak menyekolahkan Janitra sampai tamat. sebab mereka ingin Janitra belajar langsung dari orang tuanya mengenai bertani dan cara mengolah lahan. Mungkin, jika Istari ingin menemukan jawaban dari suatu hal yang mengganjal pikirannya, Janitra bisa jadi tempat bertanya yang tepat. Maka, dari balik lipatan bajunya, Istari mengeluarkan selembar daun yang mulai menguning tersebut lalu menyodorkan pada pemuda di belakangnya.
“Mas, ini daun apa?” tanyanya. Janitra menerima daun tersebut, kemudian mengamati dengan jelas di bawah secercah cahaya matahari yang bisa ia dapatkan dari sela-sela rerimbunan hutan yang kian rapat seiring kaki mereka melangkah. Bahkan ia menerawang daun tersebut di atas kepalanya, seolah-olah menilai keaslian mata uang, alih-alih meneliti tanaman.
“Kowe dapat ini dari mana?” tanya Janitra. Istari memutar otak, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada sang kakak? Ia mengurungkan rencana tersebut pada saat-saat terakhir.
“Jadi … kemarin aku dihadang sama Gita,” Istari tidak berbohong soal ini. Sudah rahasia umum jika ia sering dirisak oleh pemuda tersebut, dan kejadian kemarin bisa Istari pastikan bukan yang terakhir kali dilakukan oleh Gita. “Dari sela-sela bajunya keluar daun ini. Jadi …”
“Istari! Janitra! Jangan sambil ngobrol!” terdengar kembali terguran dari Bapak.
“Nggih, Pak,” jawab Istari dan Janitra secara bersamaan. Jalan setapak yang mereka lalui, semakin lama kian menanjak. Meski Istari memakai bawahan celana di balik lipatan jarik, tetap saja langkah kakinya tak bisa seleluasa Janitra atau Bapak. Pundak Istari dicolek dari belakang, Janitra berbisik sejurus kemudian.
“Maksudnya Gita nyimeng?”
“Emangnya sudah pasti kalau itu tanaman …” Istari melirik ke arah Bapak kemudian menambahkan dalam suara berbisik. “Sejenis tanaman rekreasional?”
Istari mengedikkan bahu. Lagi pula ia berdusta, jadi sebaiknya Istari tidak menambahkan detail terlalu banyak pada kebohongannya. Namun, ketika ia beranjak besar, Istari juga mempelajari jika tidak semua tanaman memiliki fungsi yang terbelah menjadi dua; menyembuhkan atau mematikan. Ada fungsi ketiga dari tumbuh-tumbuhan yang tabu untuk dibicarakan; yaitu untuk rekreasional. Beberapa buah dan biji-bijian difermentasi menjadi minuman yang memabukkan. Sebagian daun-daunan, yang jika dikeringkan, dilinting, kemudian dibakar lalu asapnya diisap, memberikan dampak lain berupa candu.
Terdengar suara helaan napas beberapa kali dari arah belakang, kemudian Janitra kembali berbisik, “Nggak wangi, tuh.”
“Apanya?” balas Istari.
“Kalau dipakai nyimeng harusnya berbau wangi.”
Oh, tentu saja bukan, sebab tidak mungkin Ibu menyimpan tanaman semacam itu di rumah, meski Istari dengar sebagian jenis tanaman itu bisa digunakan sebagai obat dalam dosis kecil. Namun, di balik rute ini telah terhampar baris demi baris pohon jagung yang siap dipanen dan sepetak padi yang sudah menguning, sehingga diskusi hari itu harus berhenti. Di pinggiran ladang Bapak ditanami pohon singkong dan ubi secara bergantian. Jika musim ini sudah singkong, maka musim berikutnya ubi. Tidak seperti warga lain yang menanam tanaman itu-itu saja di sepanjang tahun, Bapak, sebagaimana pengajaran dari orang-orang pendahulu beliau di keluarga, selalu mengupayakan agar tanaman mereka beragam waktu ke waktu.
Bapak langsung mengeluarkan sabit dan parang, lalu mulai menggarap ladang. Ada satu kelebihan dari tidak terlahir sesuai kelompok bunga sewajarnya, yakni Istari bisa melakukan pekerjaan pria dan perempuan sekaligus. Sebab ia tidak bisa bersekolah, jadi hari-hari pengasuhan Istari ditanggung oleh Bapak dan Ibu secara bergantian. Ia belajar ilmu obat-obatan tradisional secara tidak resmi dari Ibu, ia juga belajar bertani dari Bapak. Istari membantu Janitra mengambil jagung yang telah masak lalu menyimpan ke dalam karung-karung. Sesekali pandangan Istari tertuju pada bunga-bunga dan perdu yang tumbuh liar di pinggiran sungai Cemorotirto, mungkin saja ada satu di antara tumbuhan tersebut yang memiliki ciri kemiripan dengan daun miliknya.
“Masih penasaran?” tanya Janitra saat menyadari arah pandangan Istari. Ia menyodorkan air minum untuk adiknya yang langsung ditenggak hingga tandas. Janitra mengeluarkan daun pemberian Istari dari kantong bawahannya, lalu kembali mengamati dari dekat. Bagian pinggirnya sedikit gelap, seperti bekas terbakar. Istari berani menjamin jika ketika ia mencabut daun tersebut dari pawon, bentuknya masih utuh. Meski begitu, masih terlihat jelas bentuk tepinya yang sedikit bergerigi serta teraba seperti ada duri-duri halus. Barulah ketika tercium aroma sangit, Janitra melemparkan daun dalam genggamannya, lalu sembari melayang di udara, api tiba-tiba memantik dari bagian tengah dan membakar seluruhnya daun tersebut sebelum sempat menyentuh tanah.
“Janitra! Istari! Sudah cukup istirahatnya!” terdengar seruan Bapak kembali dari tengah-tengah pematang. Dengan napas memburu, dua bersaudara itu saling bertukar pandangan penuh tanya.
Apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka?
“Janitra! Istari!”
“Dalem, Pak,” jawab Janitra dan Istari secara bersamaan.
Mereka menghambur menghampiri Bapak dan membantu memanen jagung serta sebagian padi yang siap dipetik. Tidak ada waktu untuk berdiskusi lagi sebab banyak sekali yang harus mereka kerjakan hingga petang menjelang. Bapak beranak tersebut menuruni jalan setapak dengan bawaan masing-masing yang lumayan berat sebelum matahari benar-benar terbenam. Pada saat ini, daun misterius tersebut mungkin telah sepenuhnya terlupakan oleh Janitra sebab ia membawa empat karung gabah seorang diri dengan pikulan sementara Bapak dan Istari menjunjung masing-masing satu karung jagung. Masih ada hasil ladang yang belum dipanen, tetapi sebagian besar sudah mereka bawa pulang.
Ibu menyambut dengan dua gelas teh hangat untuk Istari dan Janitra, serta satu kopi panas untuk Bapak. Di meja makan sudah tersaji sebakul nasi panas yang baru selesai diaron, sayur asem dengan 17 macam bahan-bahan yang wajib ada, dan lauk tempe goreng. Ibu bahkan tidak memarahi Istari karena kabur 6 memiliki banyak kebebasan untuk belajar apapun yang ia ingin ketahui.
Menjelang malam, ketika orang-orang telah terlelap, sayup-sayup Istari dengar suara gorden pembatas kamarnya dengan kamar Janitra dibuka. Wajah kakaknya muncul di sana, dengan penerangan temaram dari oblik yang nyaris padam. Malas-malasan, Istari membuka mata lebih lebar sebab Janitra menyodorkan sebuah buku tepat ke bawah hidungnya.
“Dendrobium,” bisik Janitra. “Nama daunnya, dendrobium. Sekarang mengaku, kamu dapat itu dari mana, karena daun dendrobium beracun jika dimakan manusia atau binatang ternak.”
Istari membelalak lebih lebar lagi. Ia mungkin tidak diajari membaca secara resmi, tetapi Bapak dan Ibu selalu memastikan dia setidaknya tak buta huruf. Lebih menakjubkan lagi, Istari pikir selama ini dendrobium sudah punah dan hanya ada di buku, tetapi ia tidak menyangka jika tanaman itu telah dipegangnya kurang dari sehari yang lalu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!