3. Puspata Geni

0 dibaca

A

“Ndak ikut ke ladang hari ini?” tawar Bapak pagi itu ketika melihat Istari sibuk menjemur gabah dengan Ibu di teras rumah sebelum digiling ke tempat selep padi di dekat lokasi berjualan Pasar Wage. Istari menggeleng pelan.

“Nggak Pak, capek,” kilahnya. “Besok lagi aja.”

Bapak dan Janitra langsung beranjak menuju ladang tanpa menghiraukannya lagi. Bapak memang sedikit bicara, tetapi sekalinya mengobrol, beliau hanya mengatakan hal yang penting saja tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. Meski begitu, Istari lebih suka bapak yang demikian ketimbang Pak Suparman, ketua RT di desa mereka yang gemar bicara banyak dan menanyai hal tidak perlu pada semua orang, termasuk dirinya.

“Kamu mau bantu ibu aja di rumah?” tanya Ibu.

Seraya menyeringai, Istari balik menanyai, “Disuruh deplok rimpang nggak?”

Ibu mencibir lalu berdiri sambil melipat karung bekas penyimpanan hasil panen. Istari menguntit beliau dari belakang, menuju lumbung yang terletak di samping rumah tempat penyimpanan hasil panen. Di bawah pencahayaan matahari yang menerobos masuk lewat atap sirap berlubang karena tergerus badai beliung beberapa tahun lalu dan belum sempat diperbaiki sebab ketiadaan biaya untuk memanggil jasa tukang bangunan, Istari bisa melihat dinding lumbung yang lembab dan ditumbuhi lumut. Dengan ujung jari, ia raba sepanjang bata demi bata tersebut seraya berdesis lirih.

“Tanaman apa yang tumbuh merambat di dinding?” gumamnya, lebih pada diri sendiri. Dendrobium yang semalam ia baca dari buku pertanian usang milik Janitra, adalah sejenis benalu yang melekat pada pohon inang. Tumbuhan ini dianggap beracun karena sari pati makanan dari tubuh inang diubah menjadi zat toksin yang lama-kelamaan akan membuat tubuh Inang mengering, lalu mati. Hal tersebut jadi membantahkan penemuan Istari yang mendapati tanaman bersulur itu melekat pada dinding pawon. Sebab, tidak mungkin ia melekat di tempat-tempat selain batang pohon berkayu.

“Hmm?” sahut Ibu. “Kamu bilang apa barusan?”

Sadar jika isi pikirannya tak sengaja disuarakan dan  terdengar oleh Ibu, Istari buru-buru menggelengkan kepala.

“Mboten, Bu,” balas Istari. “Cuma … nyanyi, kok.”

Ibu mengernyitkan kening, “Kayak bisa nyanyi aja,” ucap beliau seraya menyerahkan satu karung jagung ke Istari, lalu memberikan satu karung kosong yang tadi beliau lipat. Kemudian beliau mengisyaratkan agar ia berbalik badan. “Pilah jagung yang kering sama masih basah, terus pipil yang sudah kering, yang basah dijemur sebelahnya gabah. Bonggolnya jangan dibuang, nanti Ibu pakai buat bahan bakar tungku.”

“Dipipil, Bu?” ulang Istari. “Semua?”

“Masih ada tiga karung lagi kalau kamu mau kerjakan juga.”

“Bukan gitu—”

“Atau mau nguleg jahe sama kunyit putih?” potong beliau cepat. Istari buru-buru kabur sambil membawa jagungnya.

“Jagung aja, Bu!” teriaknya setelah sampai luar lumbung.

Istari menyambar topi caping miliknya yang tergantung dekat kandang ayam, lalu menggotong jagung tersebut menuju halaman depan. Ia menuang seluruh isi karung ke bagian teras yang sudah diplester, lalu mulai memilah. Kini setelah mengamati dari dekat, Istari menyadari jika bapaknya memanen jagung melewati masa tanamnya, sehingga jagung-jagung ini sebagian besar sudah menyusut dan kering. Jagung-jagung itu mungkin sudah tidak bisa lagi diolah menjadi sayur atau lauk, misalnya perkedel jagung, tetapi jagung kering yang telah ditumbuk bisa ditanak bersamaan dengan nasi menjadi nasi jagung, dan memberi efek lebih mengenyangkan ketimbang nasi biasa. Lagi pula, jagung kering seperti ini bisa disimpan lama sampai bersasi-sasi tanpa takut menjadi rusak, kecuali jika dimakan tikus, itupun populasi mereka sudah semakin jarang selama lima tahun belakangan. Entah karena peningkatan jumlah predator, atau mereka memang menghilang sebab kepunahan. Yang jelas, selama Istari mengikuti Bapak dan Ibu ke hutan untuk tujuan masing-masing, mereka ia hampir tidak pernah berpapasan dengan binatang ganas.

Meski kedua tangan Istari bergerak dengan cekatan memipil jagung, namun pikirannya terus-menerus tertuju pada dendrobium yang semalam ia baca dari buku pertanian lawas milik Janitra. Tadinya ia ingin membantah, daun kanabis juga beracun karena memiliki efek adiktif jika dikonsumsi secara berlebihan. Tetapi, pada halaman berikutnya dari buku tersebut menyatakan jika efek dendrobium bisa saja mematikan pada beberapa orang, terutama jika mereka memiliki reaksi alergi pada serbuk sari bunganya. Jika tanaman tersebut begitu membahayakan, mengapa Ibu menanamnya di dapur? Sebab dendrobium, seperti yang Istari baru saja ketahui, tidak bisa tumbuh secara liar.

“Mbak Istari!” terdengar sapaan dari seorang anak perempuan yang melintas di depan rumahnya.

“Nggih! Monggo, monggo,” jawab Istari sambil mengangkat kepala.

Bu Sri, mantan guru bagi para Wijoyokusuman yang sudah berhenti mengajar karena sudah lanjut usia, lewat sambil menggiring cucu-cucunya yang masih kecil. Satu di antara mereka adalah seorang Mlathi, itu sebabnya keluarga beliau benar-benar menjaga anak tersebut karena kelak dia yang akan mengangkat derajat keluarga.

“Panen apa bapakmu? Jagung?”

“Nggih, Bu,” jawab Istari. Meski Bu Sri bukan gurunya, tetapi beliau sempat jadi guru pengasuh Manika saat ia masih baru dikenalkan dengan lingkungan sekolah. Itu sebabnya, keluarga Istari sangat menghormati beliau karena merasa berutang budi.

“Orang-orang lagi pada panen kedelai sama kacang tanah, kok kalian sendiri yang panen jagung?”

Istari hanya menyeringai ditanya begitu, sebab Bapak pun tidak pernah menjelaskan mengapa beliau menanam komoditas yang berbeda dari kebanyakan orang di desa. Yang jelas, meski sawah Bapak hampir setengah kali lebih kecil dari sawah penduduk lain, hasil panen beliau tak kalah berlimpah, sehingga keluarga mereka tiada kekurangan pangan.

“Saya sendiri juga kurang tahu …” cicit Istari lirih. Mendengar balasan yang setengah hati tersebut, Bu Sri melanjutkan perjalanan menuju kediaman beliau yang berjarak lima rumah dari tempat tinggal keluarganya. Mungkin beliau merasa sia-sia saja mencoba membuat keluarga ini paham dengan dinamika pertanian di desa ini jika menegurnya lewat anak ke-tiga mereka yang dianggap ‘cacat’ oleh sebagian besar penduduk desa.

Tersadar sesuatu, Istari buru-buru berlari meninggalkan jagungnya di teras lalu menyusul Bu Sri yang sudah lumayan jauh. Terengah-engah, Istari memanggil nama Bu Sri agar beliau berhenti. Jika ada orang lain yang paham dengan semua ragam keilmuan dan bisa dijadikan tempat bertanya, Bu Sri adalah orang yang tepat. Keluarganya juga cukup akrab, sehingga Istari bisa mengobrol dengan lebih leluasa pada beliau.

“Bu, Bu, ngapunten. Tunggu sebentar.”

Bu Sri yang sedang mengobrol dengan cucunya, menghentikan langkah beliau demi menoleh ke belakang. Istari tampak tersengal menghampirinya, meski jarak mereka tidak begitu jauh.

“Ada apa, Istari?” cuping hidung Bu Sri mengerut melihat penampilan anak remaja itu yang sangat tidak elegan menurut pandangannya. Rambut pendek Istari terburai dari cepol kecil di belakang kepala, jariknya yang sejak awal tidak mencapai mata kaki, kini diangkat hingga betis agar ia bisa bergerak dengan leluasa. Dibandingkan Manika yang lemah lembut, perangai Istari tampak sangat bertolak belakang.

“Bu, mau tanya,” ucap Istari. “Apa daun dendrobium bisa terbakar jika terkena panas?”

Bu Sri menatap Istari dengan mata membelalak. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak bisa diduga oleh beliau; meski ini bukan kali pertama Istari bertanya soal beberapa pengetahuan umum padanya.

“Kamu dapat dari mana tanaman itu?” Bu Sri menjulurkan lengan untuk menjewer telinga Istari. Meski dia tidak pernah jadi muridnya, tetapi hasrat pengajar dalam diri Bu Sri untuk mengayomi semua anak-anak tidak lantas hilang dengan mudah. “Itu tanaman bahaya, Istari.”

“A-a-a, maaf Bu,” Istari mengaduh kesakitan. “Sa-saya dapat dari hutan.”

“Bohong!” hardik Bu Sri. “Dendrobium tidak tumbuh liar di hutan.”

“M-maksud saya, dia melekat di batang pohon yang sudah mati di hutan,” Istari kembali berdusta untuk ke-sekian kali sejak ia menemukan tanaman aneh di pawon Ibu. “Di dekat ladang Bapak ada pohon jati yang sudah tumbang dan mati,” ia tidak berbohong soal ini, sebab ia harus melangkahi pohon sebesar dua pelukan orang dewasa selama dua kali; saat berangkat dan pulang setiap kali ia ikut Bapak ke ladang.

“Kamu nggak pegang, kan?” telinga Istari yang sudah memanas terlepas dari jeweran Bu Sri, tetapi kini kedua tangannya ditarik paksa oleh beliau, lalu diamati dengan baik-baik. “Kalau ada ruam putih yang pinggirnya merah dan terasa gatal, minta bobok daun jarak ke ibumu.”

“E-enggak Bu,” dusta Istari. “Sama Mas Janitra, tanamannya ditebas pakai arit lalu dibuang,” ia kembali berdusta. Dalam kepala Istari, ia berpikir jika Bu Sri bukan tipikal orang yang suka mengadu atau menyebar kabar burung, jadi sepertinya mereka berdua akan aman dari apa pun yang akan terjadi nantinya jika kabar tentang dendrobium ini tersebar.

“Dibuangnya ke mana? Itu harus dikubur—”

“Cuma dilempar gitu aja, Bu,” potong Istari cepat. Sebab, sayup-sayup ia bisa mendengar suara Ibu yang memanggil-manggil namanya. Ia harus segera kembali, tetapi tidak sebelum Istari menuntaskan dahaganya akan tanaman misterius tersebut. “Tapi, Bu, begitu kena panas, tanamannya langsung terbakar sendiri.”

“Gusti Pangeran!” seru Bu Sri seraya memegang kedua dadanya dengan satu tangan. “Berarti itu Puspata Geni! Kok bisa tanaman seperti itu tumbuh di Kusumaloka?”

Istari menelan ludah. Seumur hidupnya yang sederhana dan jauh dari kata istimewa, mungkin baru kali ini ia menemukan sebuah fenomena yang memantik rasa keingintahuannya dengan begitu besar.

“Istari!”

Suara Ibu makin mendekat, pertanda beliau sudah keluar dari pekarangan rumah dan sedang berjalan menuju kemari. Istari genggam erat jari-jemari Bu Sri lalu mencium punggung tangan beliau.

“Saya pulang dulu Bu. Tolong jangan ceritakan siapa-siapa ya, kalau saya bertanya soal ini.” Tanpa menunggu reaksi Bu Sri lebih jauh lagi, Istari segera berlari pulang ke rumah. Benar saja, ibunya sudah berdiri di depan pekarangan sambil menengok ke kanan dan kiri.

“Ke mana aja kamu!” hardik Ibu. “Jagungnya jangan ditinggal, nanti dimakan hewan.”

Istari hanya menyeringai jahil, kemudian pasrah menerima omelan ibunya bertubi-tubi. Kata-kata Bu Sri terus diulang-ulang dalam hati agar tidak lupa. Puspata geni, puspata geni, puspata ….

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk