Istari meraba sekantong biji jagung yang ia sisihkan dari lumbung tadi pagi di dalam tas jinjingnya, lalu dengan langkah ringan berjalan mengikuti bapak ke Pasar Wage. Dari sekian hari pasaran, hari Wage merupakan yang paling istimewa, karena tidak hanya seluruh pedagang dari dusun lain di penjuru Kusumaloka yang berkumpul di area sekitar alun-alun Suryomenggolo, tetapi juga pedagang dari desa bahkan kadipaten lain yang menguji peruntungan mereka dengan berniaga di sini.
Tujuan lain para saudagar tersebut adalah mencari istri, sebab hanya perempuan Kusumaloka yang memiliki tingkatan derajat berdasarkan bunga perlambang. Bahkan, para Gapyukan pun masih lebih diminati ketimbang perempuan dari kadipaten lain yang tidak memiliki perlambang bunga. Sebab alasan itulah, tadinya Ibu Istari dituduh berselingkuh dengan saudagar dari kadipaten di luar Kusumaloka karena proses kelahirannya yang berbeda. Namun, tuduhan tersebut seketika terbantahkan melihat betapa miripnya paras Istari dengan bapak, serta kesamaan sifat antara keduanya yang tidak terelakkan.
Bapak dan Istari, serta Janitra berangkat saat lingsir wengi dengan menumpang pedati milik tetangga mereka, Pak Darmoko. Tadinya, mereka ingin berjalan kaki saja, toh biasanya diperlukan waktu mulai dari sirep bocah hingga wayah saput lemah jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga jika mereka berangkat malam hari, akan tiba di sana menjelang ufuk terbit. Tetapi, melihat adanya anak perempuan di rombongan tersebut, membuat Pak Darmoko berbelas kasih dan memberikan tumpangan. Bapak membawa dua karung jagung yang telah Istari pipil selama beberapa hari silam secara berturut-turut, sementara Janitra membawa hasil kerajinan yang ia anyam dari pohon bambu tua di belakang pekarangan.
Dengan terkantuk-kantuk, Istari menyandarkan kepala di pundak Janitra saat mereka duduk berimpitan di bagian belakang pedati dekat beberapa ikat rumput segar yang tampaknya baru diarit kemarin untuk makanan sapi. Bapak duduk depan, berdampingan dengan Pak Darmoko sambil mengobrol serta sesekali mengisap sigaret kretek yang dilinting sendiri. Jika ada ibu, tentu bapak tidak akan berani merokok seperti ini. Saat mereka nanti kembali ke rumah, Istari bisa membayangkan jika bapak akan menyalahkan Pak Darmoko yang merokok di dekatnya sehingga beliau berbau asap tembakau.
“Sampai di sana kamu mau apa?” tanya Janitra. Sepertinya ia tidak ingin Istari tidur dalam perjalanan ini dan dia terjaga sendirian.
Istari menepuk kantong jagungnya yang sudah disiapkan sejak lama. Hanya di Pasar Wage terdapat jasa pembuat berondong yang bisa mengolah segala macam biji-bijian menjadi makanan ringan. Jagung adalah bahan yang paling tepat, disusul dengan beras dan sorgum, lalu biji lain yang kurang familier bagi Istari seperti gandum, jelai, dan biji bayam meski yang terakhir menurut Istari bulirannya terlalu kecil. Pemilik jasa ini biasanya paling ramai dikerubungi anak-anak, sebab mereka paling menanti-nanti saat tutup meriam dicongkel lalu terdengar suara letupan dari dalam sana. Waktu kecil, Istari betah duduk di hadapan pembuat berondong dari pagi sampai siang setiap kali bapak atau ibu membawanya ke Pasar Wage. Bapak pikir, kesukaan Istari dan rasa ingin tahunya yang tinggi itu akan berkurang semakin ia bertambah besar, namun betapa kelirunya pernyataan tersebut, sebab semakin ia beranjak remaja, Istari semakin kesulitan membendung dirinya sendiri sebelum ia terkena masalah gara-gara sikapnya.
“Bawa segitu aja?” gerutu Janitra. “Kurang banyak! Nanti habis dimakan Danastri seorang.”
Sambil melirik ke arah bapak dan Pak Darmoko yang sibuk membicarakan tentang sulitnya mencari pupuk dan cara membuat pestisida alami dari bahan yang mudah didapat di sekitar rumah, Istari berbisik.
“Kita bisa ambil jagung punya Bapak kalau nggak habis dijual.”
Walau dialog antara kedua pria paruh baya tersebut diucapkan dengan santai, tetapi topik ini sudah menjadi keresahan bagi banyak orang selama berminggu-minggu. Istari juga sudah mendengar dari obrolan beberapa orang yang berpapasan dengan ibunya mengenai hama yang belakangan ini menyerang tanaman mereka berupa bercak-bercak putih di daun yang membuat tanaman mati secara perlahan. Untuk ladang yang tidak terlalu luas, secara mengejutkan hasil panen bapak kali ini lumayan banyak, terutama jika untuk dimakan sekeluarga saja, sehingga beliau memutuskan menjual sebagian kecil untuk tambahan uang resepsi jika kelak Manika menikah dengan pria pilihannya.
Janitra mencibir, “Sepertinya nggak akan sisa banyak, sebab kudengar cuma Bapak yang punya jagung seantero Kusumaloka, dan orang-orang bilang jagung hasil kebun Bapak paling tahan segala musim dan perubahan iklim.”
Istari menyodok rusuk Janitra, “Jangan bilang begitu. Mungkin cuma di Aren Wangi saja jagung Bapak bisa tumbuh subur.”
Meski begitu, ia tidak bisa memungkiri jika bapak mereka telah belajar bertani sejak usia beliau masih kanak-kanak dari ibunya yang seorang Jepunan, sehingga rasanya beliau sudah lebih ahli dalam bercocok tanam dibandingkan penduduk lain di desa. Dari mendiang ibunya juga, Bapak belajar jika membuka lahan di dekat aliran sungai agar tanaman bisa mendapat aliran air pegunungan, alih-alih air tanah dari dalam sumur seperti orang-orang yang lain. Orang tua bapak dulu hampir terpilih menjadi Wedana Aren Wangi, hanya saja kakek Istari mengundurkan diri di tahap pencalonan dengan alasan yang tidak diketahui hingga akhir hayat beliau dan rahasia tersebut dibawanya sampai ke liang lahat. Mungkin sebab itu, bapak memiliki lebih banyak pengetahuan dibanding penduduk lain pada umumnya.
“Nggak percaya ya sudah,” cibir Janitra. Ia melubangi bagian atas karung bapak dengan jarinya lalu mengeluarkan sekitar dua genggam biji jagung yang ditampung dalam lipatan bajunya. Dengan jari yang sama, ia merapikan kembali bekas lubang tersebut agar tidak bocor jika nanti diangkat, lalu meminta Istari membuka kantongnya dan mencampurkan biji-biji jagung tersebut menjadi satu.
Matahari sudah mulai tinggi di ufuk timur ketika pedati yang mereka tumpangi tiba di alun-alun Kencono Asri yang kini telah riuh dengan kerumunan orang. Janitra melompat terlebih dahulu, lalu ia menopang Istari. Ia langsung membantu bapak dan Pak Darmoko menurunkan barang-barang sementara Istari berkeliling alun-alun. Ia melihat pedagang pernak-pernik tembaga dan perak bakar dari Daksinalaya, lalu perhiasan mutiara khas Karambalang. Pembuat berondong yang diincarnya baru saja menata lapak, sehingga Istari harus bersabar menunggu mereka siap sebab butuh waktu untuk memanaskan arang pembakar dan tabung meriam untuk memekarkan biji-bijian dalam suhu bertekanan tinggi.
Namun, dari semua penjaja di sana, yang paling menarik perhatian Istari berikutnya adalah lapak buku bekas. Lapak tersebut berada di paling ujung area alun-alun, dekat punden Gusti Suryomenggolo yang pertama—dari sanalah nama daerah ini berasal—yang tertutup untuk umum pada hari-hari seperti ini, dan terlihat lengang. Bahkan penjualnya saja pun tidak ada. Mungkin sedang mengeluarkan barang dagangan yang lain atau mencari sarapan sepagi ini. Istari berjongkok melihat-lihat buku di sana, kemudian pandangannya tertuju pada satu judul yang menarik perhatian; Puspata Geni: Bunga Keramat di Bawonomandala. Sesuatu yang sudah berhari-hari ini menghantui pikiran dan membuat rasa penasarannya kian menjadi-jadi. Istari menjulurkan tangan untuk menyentuh permukaan sampul buku tersebut dengan sedikit bergetar dan penuh antisipasi.
“Selamat datang, Nona! Silakan dilihat-lih—”
Istari menengok ke belakang lalu menatap lurus ke arah Gita yang berdiri di sana, kedua tangan membawa segelas kopi yang asapnya masih mengepul, sementara tangan lain menggenggam sepotong gorengan yang baru digigit setengah. Seperti halnya Istari, Gita pun terlihat terkejut mendapati dirinya di sana. Istari menatap lapak ini kembali dan mendapati nama tokonya adalah Pustaka Gita. Ia tidak tahu jika Gita yang selama ini menjadi beban satu desa Aren Wangi karena ia memprovokasi pemuda-pemuda di sana untuk tidak bekerja di ladang demi berpesta miras dengannya, ternyata memiliki banyak koleksi buku. Istari buru-buru menegakkan tubuh lalu beranjak dari sana, sejauh kakinya bisa berlari.
“Hei! Hei! Gagal! Ngapain lihat-lihat buku?” ledek Gita. Sepertinya dia tidak sendiri di sana, beberapa orang temannya yang juga turut pernah merisak Istari hadir di belakang Gita, bermunculan dengan cepat selayaknya jamur pada musim hujan.
“Produk Gagal bisa baca buku?” goda yang lain. “Kukira buta huruf.”
Istari menghampiri Janitra yang sedang menunggu antrean di depan pembuat berondong lalu menyembunyikan diri di balik punggung kakaknya. Janitra menodongkan tangan untuk meminta kantong jagung Istari, namun tidak kunjung diberikan oleh adiknya.
“Sebentar lagi sudah bisa, kata pakliknya,” ucap Janitra. “Ayo sini, aku lapar.”
Istari menyerahkan kantong jagungnya dengan setengah hati. Dengan wajah masih tersembunyi di balik tubuh jangkung Janitra, Istari mengadu, “Tadi kulihat Gita jual buku di sana.”
“Di mana?”
“Dekat punden.”
“Buku apa? Emang kamu ada uang?” Janitra maju selangkah. Ia menyerahkan kantong jagung Istari pada penjual jasa berondong. “Sedoyo, Pak,” katanya.
Istari menggeleng di balik punggung Janitra. “Nggak ada sih, tapi di sana ada buku tentang puspata geni.”
Janitra memiringkan kepalanya ke arah Istari, “Apa itu?”
“Kata Bu Sri, jenis dendrobium yang terbakar kalau kena panas matahari namanya puspata geni.”
Janitra kini benar-benar membalikkan tubuh untuk menatap adiknya lekat-lekat. “Kamu sampai tanya Bu Sri segala? Gimana kalau Bu Sri bilang ke Ibu soal kamu?” ulangnya. Sedikit kesal, Istari meninggikan suaranya sebab Janitra tampak tak kunjung paham betapa penting informasi ini baginya.
“Habis, kalau bukan Bu Sri, aku harus tanya siapa lagi soal Puspata Geni?”
Ucapannya itu membuat beberapa orang di sekitar mereka, termasuk bapak penjual berondong sampai mematung saking terkejutnya. Tersadar jika ia sepertinya baru saja mengucapkan kata pantangan, Istari buru-buru menyingkir dari sana, membiarkan Janitra menunggu berondo
ng mereka matang seorang diri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!