4. Surat dari Suryomenggolo

0 dibaca

A

Malam itu, selepas Istari selesai memipil semua jagungnya dibantu oleh Danastri, adik bungsunya sepulang dari sekolah, ada seorang utusan yang memakai ageman dengan emblem Kadipaten Kusumaloka tersemat di dada kirinya, datang ke rumah mereka. Jika dilihat dari perawakan, dia seperti bukan penduduk lokal desa Aren Wangi ini. Meski begitu, pria tersebut tidak tampak kebingungan dalam menemukan rumah Istari.

“Mana yang bernama Manika Srawana di antara kalian?” tanyanya tanpa mengucap permisi atau salam terlebih dahulu. Istari dan Danastri saling menatap satu dengan lain, namun belum sempat mereka menjawab, pria tersebut menepuk dahinya pelan lalu kepada Istari ia menyerahkan satu bundel surat. Tentu saja, tidak ada laki-laki dewasa waras yang akan meminang anak-anak. Tentu saja yang paling besar dari keduanya yang sudah cukup usia menikah. “Ini ada titipan dari Gusti Suryomenggolo untuk Manika Srawana.”

Istari menatapnya dengan alis bertaut, kemudian menunjuk diri sendiri, “Saya, maksudnya? Saya bukan Manika.”

“Yang benar? Mana buktinya?”

Pria tersebut beringsut mendekat. Kini, di bawah pencahayaan lampu teplok yang mulai redup karena kehabisan minyak, Istari bisa melihat jika pengantar surat ini bukanlah pria-pria tua yang sudah menjadi abdi dalem seumur hidup mereka pada keluarga keraton, melainkan laki-laki muda sepantaran dengan Manika. Ia kini menatap Istari lekat-lekat, seolah dengan demikian ia bisa menebak kiranya seseorang sedang berbohong atau tidak.

“Mohon maaf, tapi biasanya yang diminta bukti itu kalau mengaku menjadi seseorang, bukan tidak mengaku,” gumam Istari lirih. Baru kali ini ia dicurigai karena mengatakan hal yang sebenarnya.

“Saya yang bernama Manika,” terdengar suara Manika dari arah pintu depan. Sudah seminggu ini ia pulang ke rumah lebih dari sekali, dan hari ini adalah salah satunya. Mungkin Ibu mengirimkan kabar melalui Nyi Romlah bahwa surat-surat untuk Manika sudah menumpuk kembali di rumah, menunggu disortir. Ia mungkin keluar rumah sebab mendengar percakapan antara adiknya dengan pria utusan dari kadipaten ini. Dengan keberadaan kakaknya, utusan tersebut bergeming di tempat. Manika memang selalu memiliki kemampuan untuk membuat pria-pria di sekitarnya patuh pada segala yang ia perintahkan, mungkin ini merupakan salah satu pesona dari menjadi Wijoyokusuman. Manika mengulurkan tangan untuk menerima sebundel dokumen tersebut, kemudian balas menatap utusan ini dengan tidak kalah tajam. “Terima kasih sudah mengantarkan surat ini. Kapan kiranya balasan saya semestinya dikirim kembali?”

Setelah menguasai dirinya dari keterkejutan bahwa di rumah ini terdapat tiga orang anak perempuan, di mana salah satunya seorang Wijoyokusuman, pria ini berdeham kemudian menjawab, “Saya akan kembali dalam dua minggu untuk mengambil balasannya. Tidak perlu menyuruh orang lain untuk mengantar ke sana.”

“Baik,” jawab Manika singkat. “Terima kasih.”

“Kalau begitu, saya pamit undur diri,” ucap pria tersebut sambil membalikkan badan, lalu menghilang dalam kelam malam. Tidak seperti Istari yang membutuhkan lampu meski berjalan dari rumah menuju kamar mandi, sepertinya pria tersebut tidak butuh penerangan untuk menemukan jalan pulang. Mungkin dia seseorang yang dilahirkan oleh para Mlathi. Konon, anak-anak laki-laki dari para Mlathi diberkahi dengan banyak kemampuan fisik yang melebihi orang normal, seperti penglihatan tajam, kemampuan bernapas lebih lama di bawah air, serta refleks yang cepat. Tidak mengherankan jika orang-orang seperti mereka bisa dengan mudah naik pangkat sebab terlihat lebih unggul dari teman-teman satu pasukan yang lain.

“Gusti Suryomenggolo? Dari Suryomenggolo sungguhan?” tanya Istari setelah memastikan utusan tadi telah benar-benar jauh.

Suryomenggolo adalah wilayah yang terletak di pusat Kadipaten Kusumaloka, posisinya persis di daerah paling strategis, sebab rute ke sana tidak terlalu terjal dan jalanannya masih beraspal mulus. Dari Suryomenggolo menuju Kartasura, pusat kerajaan Bawonomandala, diperlukan waktu sekitar dua hari perjalanan darat dengan mengendarai kereta. Dari sekian desa di Kusumaloka, hanya Suryomenggolo yang masih dilintasi oleh rel kereta meski hanya ada satu jadwal kereta melintas dari dan menuju ke sana setiap harinya.

Kerajaan Bawonomandala sendiri terdiri dari empat kadipaten dan satu ibukota; Karambalang yang memiliki wilayah paling luas dan terletak dekat Segara Indranila, Daksinalaya berada di wilayah dataran rendah yang berbatasan langsung dengan Kartasura dan memiliki banyak taman-taman indah di dalamnya, Panglila merupakan satu-satunya kadipaten yang tidak tersentuh kekacauan besar akibat peristiwa perubahan iklim drastis disertai badai matahari beribu-ribu tahun silam di mana di sana masih memiliki aliran listrik dan gedung-gedung tinggi bertingkat dengan fasilitas terbaik di kerajaan ini, dan yang terakhir adalah Kusumaloka. Meski begitu, hanya di Kusumaloka saja bayi-bayi perempuan terlahir dengan bunga perlambang sebagai penanda status sosial mereka ketika dewasa. Tidak ada penjelasan lebih masuk akal selain potensi radiasi badai matahari dan peristiwa besar yang orang-orang dulu menyebutnya kiamat menjadi penyebab segala kejadian janggal di seluruh bagian kerajaan ini, khususnya Kusumaloka.

Mendengar pertanyaan Istari, Manika membuka lipatan sebundel surat tersebut lalu membaca sekilas nama pengirimnya. Wajah Manika selalu terlihat datar dalam segala kondisi, sehingga Istari selalu merasa jika ada jarak antara dia dan kakak sulungnya sebab Manika tak pernah menunjukkan perasaannya dengan gamblang.

“Kalau kamu berharap pengirimnya Raden Abiroma, kamu salah besar karena ini dari Tumenggung Utungga.”

Sepasang alis Manika mengernyit seakan merasa jijik saat menyebutkan nama itu. Tumenggung Utungga adalah penguasa di Kusumaloka. Beliau masih memiliki kekerabatan dengan Kanjeng Raja Bawonomandala karena mereka terlahir dari bapak yang sama, yaitu Kanjeng Raja Bawonomandala sebelumnya, meski berbeda ibu. Oleh karena itu, beliau terlalu lanjut usia untuk meminang gadis belia yang sebentar lagi akan merekah seperti Manika. Tumenggung Utungga bahkan lebih tua dari bapak mereka. Namun, putra bungsu beliau—satu-satunya anak laki-laki dari Tumenggung Utungga dari pernikahan yang entah ke sekian kali sebab beliau terobsesi untuk memiliki putra—terkenal di kalangan gadis remaja seluruh Kusumaloka sebagai pemuda paling tampan di sini. Meski Istari tak tertarik dengan bursa perebutan Raden Mas Abiroma sebab sadar diri jika dirinya hanya anomali, tetapi ia cukup tahu mengapa beliau dijadikan standar pria idaman.

Biasanya, setiap surat lamaran yang masuk ke Manika selalu ia simpan rapat-rapat sehingga tidak ada orang di rumah ini tahu pemuda mana saja yang menaruh hati padanya. Namun, kali ini Manika tidak segan-segan membongkar hal tersebut. Mungkin, dari sekian surat masuk, hanya ini yang langsung mendapat penolakan darinya.

“Bisa jadi, Tumenggung Utungga melamar Mbak Manika untuk Raden Abiroma,” ucap Danastri. Kemudian ia menatap Istari. “Boleh kan kayak gitu? Mbak Citrahayu dulu juga dilamar oleh Raja Bawonomandala untuk dinikahkan dengan Gusti Garjito.”

“Ada juga yang seperti itu,” gumam Manika lirih. “Biasanya, mereka sudah cukup tahu diri dan tidak lagi mengejar keduniawian untuk dirinya sendiri. Tapi sepertinya ini benar-benar dari Tumenggung Utungga.” tersadar jika malam sudah semakin gelap, Manika menatap kedua adiknya dingin. “Cepat bereskan jagungnya lalu makan. Kata ibu, makan malamnya sudah siap.”

Istari dan Danastri mengangkat karung jagung itu berdua menuju lumbung, lalu berjalan masuk ke rumah dari samping, melewati pawon. Seketika, rasa penasaran Istari tentang Puspata Geni kembali tersulut. Sebagaimana daun tersebut yang sekonyong-konyong terbakar saat terkena sinar matahari. Ia ingin masuk pawon lagi dan melihat apakah sulur dendrobium tersebut masih ada di sana. Dalam pikiran remaja Istari, ia mencoba memaklumi mengapa tanaman tersebut tumbuh di pawon ibu yang gelap dan lembab, sebab letaknya jauh dari jangkauan sinar matahari. Namun, yang ia masih belum pahami, mengapa hanya pawon ibu yang punya? Sebab Bu Sri bilang tidak semestinya Puspata Geni tumbuh di wilayah Kusumaloka, jadi tanaman tersebut tidak berasal dari sini dan tidak mungkin tumbuh di sini.

“Astri, kamu ke dalam duluan,” ucap Istari pada adiknya. “Aku mau buang hajat, udah mules banget.”

Danastri refleks mengerutkan hidung padahal sejak tadi tidak ada aroma-aroma kurang mengenakkan yang tercium di sekitar mereka, dan Istari tidak benar-benar ingin pergi ke jamban. Ini hanya alasan yang dibuat-buat agar ia bisa menuntaskan rasa keingintahuan yang kian membuncah tersebut.

“Jorok!” hardik Danastri. “Sana ke jamban, jangan balik rumah kalau belum beres.”

Lalu mereka berpisah jalan, Istari berbalik arah menuju kamar mandi di samping pawon, sedangkan Danastri masuk dalam rumah. Terdengar suara ibu dan bapak berbicara dalam waktu hampir bersamaan saat melihat putri bungsu mereka kembali seorang diri ke dalam rumah. Mungkin menanyakan keberadaan Istari, atau malah menyuruh agar cepat makan sebelum nasinya dingin. Istari menyelinap masuk ke dalam pawon kembali, namun kali ini ia harus menelan rasa kecewa sebab dinding di dekat tungku telah benar-benar bersih dari dendrobium. Bahkan sulurnya yang merambat agak tinggi beberapa hari lalu, kini telah sirna.

Ke mana perginya mereka? Istari meraba dinding dingin berlumut tersebut untuk memastikan kembali. Ada serabut kasar menyeruak dari sela-sela susunan bata, teraba seperti akar tanaman yang baru tumbuh. Ia tidak bermimpi beberapa hari lalu, dendrobium tampaknya memang pernah tumbuh di sana. Namun, keburu dihancurkan oleh ibu, apapun alasannya. Dalam benak Istari jadi timbul pertanyaan baru, apakah bapak tahu rahasia ibu yang ini?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk