Ponselnya bergetar di atas tumpukan fotokopi pada pukul sebelas malam waktu Amsterdam (berarti di Leppangeng sekitar pukul 5 subuh WITA), ketika Rais sedang memutuskan apakah akan tidur atau membaca satu bab lagi tentang yurisdiksi ekstrateritorial yang mungkin tidak akan ia ingat besok pagi.
Suasana kamar yang temaram membuatnya malas bergerak dari tempat tidur. Kamar di Celebesstraat itu tidak pernah benar-benar bersih dan tidak pernah benar-benar kotor, suatu keadaan yang selalu berada di antara keduanya, persis seperti penghuninya yang selalu berniat merapikan tapi selalu ada sesuatu yang lebih mendesak.
Di luar jendela, dahan pohon mengetuk kaca. Angin datang dari utara membawa pesan: besok lebih dingin. Ia sudah belajar membaca cuaca dari bunyi dahan itu, sebagaimana dulu di Leppangeng ia membacanya dari langit.
Satu pesan. Dari nomor yang tidak tersimpan, tapi dari foto profilnya ia kenal pengirimnya, Hasdar, teman SD-nya, yang sekarang punya bengkel motor di dekat pasar dan sudah punya tiga anak. Rais tersenyum samar mengenang Hasdar yang buru-buru menikah setelah tamat SMA karena takut kehilangan Erni, istrinya sekarang.
Rais membukanya.
Pesan itu hanya sebuah foto. Tanpa kata pengantar. Tanpa basa-basi.
Pagar seng. Berdiri kaku mengelilingi tanah yang ia kenal seketika meski sudutnya berbeda dari yang pernah ia lihat. (Tubuh selalu mengenali tempat yang pernah memberi pelajaran). Seng yang masih baru, belum berkarat, dengan satu sisi yang belum selesai dipasang. Di belakang pagar, di tanah berumput itu. Pohon asam tua yang dahannya makin tinggi. Dan di atas seng, sebuah spanduk yang sebagian terlipat ditiup angin sehingga tulisannya tidak terbaca utuh, hanya dua kata yang sempat tertangkap kamera: … SEMBADA DESA.
Beberapa saat kemudian. Sebuah pesan menyusul di bawah foto, Hasdar akhirnya menulis satu baris:
Hasdar · 23:02 Ndi, lapangan ta’. Dipagar aparat kemarin.
Rais menatap layar itu lebih lama dari yang diperlukan untuk membaca enam kata.
Lapangan ta’. Lapangan kita. Bukan lapangan itu, bukan lapangan desa, tetapi lapangan kita, dengan kepemilikan yang tidak ada hubungannya dengan sertifikat, jenis kepemilikan yang hanya dimengerti oleh orang yang pernah membawa pulang debu dan potongan rumputnya yang menempel di betis mereka.
Ia tidak segera membalas.
Tangannya menggulir, mencari sebuah grup percakapan yang sudah lama tertimbun di tumpukan arsip.
Namanya “ANAK LEPPANGENG”, ditulis dengan huruf besar semua oleh entah siapa bertahun-tahun lalu, dengan emoji bola dan emoji api yang sudah lama terasa berlebihan. Rais ada di dalamnya sejak grup itu dibuat. Tapi ia sudah lama tidak membukanya, berbulan-bulan, mungkin lebih. Notifikasinya ia bisukan di suatu waktu yang tidak ia ingat, dengan alasan yang waktu itu masuk akal: terlalu ramai, terlalu banyak stiker, terlalu banyak percakapan tentang orang-orang yang sudah tidak ia kenal dan acara-acara yang tidak bisa ia hadiri.
Alasan sebenarnya, terlalu jauh, meski ia tidak pernah merumuskannya begitu. Membaca grup itu terasa seperti menonton rumah sendiri lewat lubang kunci dari seberang lautan, dari Amsterdam, cukup untuk merindukan, tetapi tidak cukup untuk pulang.
Sekarang ia menggulir ke atas. Dan ke atas. Dan terus ke atas. Ternyata mereka sudah membicarakannya sejak berminggu-minggu lalu.
Bukan sejak kemarin, ketika pagar berdiri. Berminggu-minggu sebelumnya. Ada ratusan pesan yang mengambang di sana selama ini, di saku celananya, di ponsel yang ia bawa ke kampus dan ke perpustakaan dan ke pertemuan-pertemuan tentang keadilan untuk orang-orang yang tidak ia kenal, sementara di layar yang sama, teman-teman masa kecilnya sedang kehilangan satu-satunya tanah yang pernah jadi milik mereka bersama, tetapi tidak terbaca olehnya.
Ia membaca dari yang paling lama. Pesan itu terkirim sejak dua bulan lalu.
Hasdar · Eh katanya ada gerai koperasi yang mau dibangun di lapangan?
Anca · Dari mana ki dengar?
Hasdar · Dari pamanku di kecamatan. Program pusat katanya. Sembada Desa.
Udin Gondrong · Masa’ di lapangan? Tidak ada tempat lain?
Anca · Katanya harus tanah desa. Lapangan itu tanah desa.
Udin Gondrong · Terus, anak-anak main di mana?
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Udin. Rais menggulir terus dan pertanyaan itu hanya tergantung di sana, tidak terjawab, seperti memang tidak ada yang punya jawabannya. Terus anak-anak main di mana?
Dan percakapan bergeser ke hal lain, ke siapa yang sudah tanya ke kantor desa (sudah, katanya, tidak dapat jawaban yang jelas), ke apakah bisa menolak (bisa apa, ini dari atas), ke kekecewaan yang perlahan-lahan, sepanjang gulungan pesan itu, berubah nada dari marah menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah.
Rais mengenali nada itu. Ia tumbuh besar di dalam nada itu. Mau bagaimana lagi? Tiga kata yang dulu ia hitung berapa kali diucapkan orang dewasa di sekitarnya dalam satu minggu. Tiga kata yang sekarang, di layar ponselnya, sedang diucapkan oleh teman-teman seusianya — yang dulu berlari di tanah lapang yang sama, yang sekarang sudah cukup dewasa untuk mewarisi keletihan orang tua mereka.
Yang paling menyengat bukan pagarnya. Bukan spanduknya. Bahkan bukan keletihan teman-temannya.
Yang paling menyengat adalah semua ini sudah berlangsung berminggu-minggu dan ia tidak ada di dalamnya. Bukan tidak ada secara fisik; itu sudah lama dan sudah ia terima. Tapi tidak ada di percakapannya. Mereka berdiskusi, bertanya, marah, lelah, lalu pelan-pelan menyerah, dan seluruh hidup kecil itu berputar penuh dari awal sampai hampir habis tanpa dirinya, di ruangan yang dulu selalu ada tempatnya, sekalipun tempat yang tersisa.
Hasdar masih di sana. Anca masih di sana. Udin masih bertanya pertanyaan yang tidak dijawab siapa-siapa. Mereka tetap menjadi “anak lapangan”, masih berunding tentang tanah yang sama. Hanya Rais yang sudah menjadi sebuah nama yang diam di daftar anggota — ada, tapi tidak hadir; terdaftar, tapi sudah lama tidak bersuara.
Ia meletakkan ponsel di dadanya dan menatap langit-langit, pikirannya menerawang ke Leppangeng. Ke lapangan yang sebentar lagi menjadi tempat berdirinya Gerai Sembada Desa. Lapangan itu adalah tanah lapang berumput yang licin sehabis hujan dan retak-retak di musim kemarau. Kadang potongan rumput yang tercerabut saat anak-anak main bola menempel ke betis.
Setiap sore lapangan itu menjadi ajang pembuktian dua tim sepak bola yang tidak permanen. Dua tim yang dipimpin oleh dua orang terhebat di antara anak-anak Leppangeng. Keduanya otomatis menjadi kapten dan keduanya bertugas memimpin timnya.
Anggota tim dipilih oleh kapten melalui adu suit kertas, gunting, batu setiap kali pertandingan mau dimulai. Kapten yang menang suit memilih satu orang anggota timnya, yang kalah memilih sesudahnya, sampai kedua tim berbagi jumlah pemain yang sama. Pemain yang bagus selalu cepat terpilih. Tidak pernah ada yang protes kenapa kapten A, misalnya, memilih si C, karena memang dia berhak memilih setelah memenangkan suit.
Saat kedua tim sudah berbagi anggota tim yang sama, mereka mulai mengatur posisi. Sang kapten biasanya selalu menjadi striker. Dua pasang batu diletakkan dengan jarak tiga sampai empat langkah sebagai pengganti gawang. Kadang mereka harus berdebat sengit kalau tendangan melayang di atas batu yang menjadi tanda dan masing-masing tim melihatnya dengan cara yang berbeda. Tim yang menendang bilang goal, sementara lawannya pasti bilang tidak goal.
Ia berusia tujuh tahun ketika pertama kali diizinkan ikut. Sebenarnya bukan diizinkan. Tidak ada yang mengizinkan. Seorang anggota tim yang sedang bermain tidak bisa lanjut bermain karena cedera. Dengan jumlah tim yang tidak seimbang, maka seseorang harus mengisi posisi itu.
Rais yang saat itu sudah berdiri cukup lama di pinggir, ditunjuk oleh kapten yang kehilangan personil. Awalnya Rais kaget dan tidak menyangka menjadi pilihan. Ia sudah cukup sering berdiri di pinggir lapangan, sampai anak-anak yang lebih besar berhenti menganggapnya sesuatu yang perlu diusir.
Masuklah dia menggantikan pemain cedera itu, seperti air yang menemukan jalan bukan karena dipersilakan tapi karena ia ada di sana terus, dan batu pada akhirnya lebih mudah membiarkannya lewat daripada menahannya.
Meskipun usianya baru tujuh tahun, tetapi Rais ternyata cukup lincah. Sehingga di permainan-permainan berikutnya ia mulai menjadi pilihan. Istilahnya starting line out. Dan di suatu sore, Rais berhasil mencetak gol. Bola masuk di antara dua batu — masuk dengan jelas, dengan cara yang tidak bisa diperdebatkan oleh siapa pun yang melihatnya.
“Tidak sah,” kata Borahima.
“Kenapa tidak sah?”
“Kamu sudah offside.”
Tidak ada garis. Tidak ada tanda apa pun selain dua pasang batu di kedua ujungnya di lapangan itu. Semua anak tahu tidak ada garis. Tapi tidak ada satu pun yang berkata apa-apa, termasuk kaptennya sendiri. Karena Borahima yang paling besar dan karena besok masih ada sore lagi dan tidak ada yang mau jadi anak yang tidak diajak besok.
Rais tidak protes. Ia berdiri di lapangan itu dan menatap Borahima, dan yang ia rasakan bukan marah — atau bukan hanya marah. Sesuatu yang lebih dingin. Ia melihat bahwa Borahima sendiri tidak percaya pada perkataannya. Itulah yang membuatnya berbeda dari kalah biasa. Borahima tahu gol itu sah. Semua orang tahu. Dan justru karena semua tahu dan tetap diam, kebenaran menjadi tidak penting. Yang penting adalah siapa yang boleh memutuskan.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. Ketegangan mengendur. Dan ia terus bermain, karena besok masih ada sore lagi. Ia sudah paham, bahkan saat itu, bahwa memahami sebuah ketidakadilan dan bisa melakukan sesuatu terhadapnya adalah dua hal yang dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh.
Rais membuka matanya. Langit-langit kamar di Amsterdam membeku di atasnya. Dahan mengetuk kaca. Pukul setengah dua belas malam, dan tidur sudah jadi sesuatu yang tidak relevan.
Ia bangkit, menyalakan laptopnya, dan mulai mencari.
Bukan dengan rencana. Dengan sesuatu yang lebih mendesak dari rencana — kebutuhan untuk menguraikan, untuk mengubah sebuah foto pagar seng menjadi sesuatu yang bisa ia pahami bentuknya. Ia mengetik di mesin pencari, dalam bahasa Indonesia, lalu dalam bahasa Inggris ketika yang Indonesia tidak cukup. Gerai Sembada Desa. Program koperasi desa. Tanah desa atau tanah pemerintah harus dialokasikan untuk gerai. Ia membuka tab demi tab — siaran pers pemerintah dengan kalimat-kalimat yang optimistis dengan cara tulisan resmi selalu optimistis, berita daring yang menyalin siaran pers itu hampir kata per kata, satu dua artikel yang sedikit lebih kritis tapi berhenti tepat sebelum menyebut sesuatu yang konkret.
Ia membaca dengan cara yang belum ada yang mengajarinya secara formal — dari kesimpulan ke premis, dari yang diklaim ke yang sebenarnya bisa dibuktikan. Hukum belum mengajarinya itu di ruang kuliah. Tapi pengalaman masa kecil — pengalaman dituduh dan tidak punya cara untuk meminta pemeriksaan ulang — sudah mengajarinya bertahun-tahun lalu. Bahwa jangan percaya sesuatu itu beres hanya karena ia terdengar beres. Tetapi tanyakan bagaimana beresnya. Siapa yang membereskan. Dan dengan timbangan apa dianggap beres.
Program itu sendiri terdengar baik di atas kertas, sebagaimana hampir semua hal yang mengambil sesuatu terdengar baik di atas kertas. Koperasi desa. Kemandirian ekonomi. Gerai dan gudang untuk memutus rantai tengkulak. Tanah desa atau tanah pemerintah daerah bisa dialokasikan; lahan minimal sekian ratus meter persegi; lokasi harus strategis. Dan Lapangan Leppangeng pilihan satu-satunya.
Rais menyadari kebuntuan itu. Dia hafal situasi desanya. Lapangan itu terletak di tengah-tengah desa. Milik desa, dan sangat strategis. Di atas kertas, lapangan itu adalah satu-satunya pilihan, terlepas dari sejarah bahwa ia adalah tempat tiga generasi belajar berlari. Di atas kertas ia hanya sebidang tanah yang memenuhi syarat.
Ia hampir menutup laptopnya di titik itu. Marah, lelah, dengan rasa tak berdaya yang sudah ia kenal sejak ia masih berusia tujuh tahun, mau bagaimana lagi, versi dewasanya, versi berpendidikan hukumnya yang tidak membuatnya kurang tak berdaya.
Lalu ia menemukan satu paragraf, di sebuah berita daerah yang kecil, dari koran yang ia bahkan tidak yakin masih cetak. Satu paragraf yang membuatnya berhenti.
Berita itu memuji kelancaran program. Memuji kecepatan pelaksanaannya di beberapa desa. Dan menjelaskan, dengan nada bangga yang sama sekali tidak menyadari apa yang sedang ia ungkapkan, bahwa pembangunan gerai dipercepat berkat keterlibatan satuan teritorial setempat yang membantu “penyiapan lahan” dan “pengamanan pelaksanaan” — karena, tulis berita itu, satuan-satuan tersebut memiliki struktur komando yang efisien dan jangkauan sampai ke tingkat desa.
Rais membaca kalimat itu tiga kali.
Penyiapan lahan. Pengamanan pelaksanaan. Struktur komando yang efisien. Ia tahu, dengan tepat dan dingin, apa arti kata-kata itu ketika diterjemahkan dari bahasa siaran pers ke bahasa manusia: bukan pemerintah desa yang datang ke lapangan dengan surat dan notulen rapat. Bukan kontraktor yang memasang pagar setelah musyawarah. Yang datang adalah orang-orang berseragam dengan struktur komando yang tidak mengenal kata musyawarah, ke sebuah kampung yang tidak pernah meminta apa pun selain dibiarkan, untuk “mengamankan” pengambilalihan satu-satunya tanah yang pernah jadi milik bersama orang-orang di sana.
Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada sosialisasi. Tidak ada rapat desa. Hal-hal seperti itu tidak punya kolom dalam formulir alokasi lahan, dan struktur komando yang efisien tidak dirancang untuk mengisi kolom yang tidak ada.
Di luar jendela, dahan mengetuk kaca. Angin masih dari utara.
Rais tidak menutup laptopnya. Ia membuka dokumen kosong, dan untuk pertama kali sejak pesan Hasdar masuk satu jam lalu, tangannya tahu harus melakukan apa — meski kepalanya belum tahu ini akan membawanya ke mana. Ia mulai menulis. Bukan esai. Bukan tugas kuliah. Hanya nama-nama, tanggal, kalimat-kalimat dari berita itu yang ia salin sebelum mereka sempat dihapus atau diralat. Menguraikan. Menyimpan apa yang bisa disimpan, sebelum versi resmi mengeras menjadi satu-satunya versi yang tertinggal.
Ia pergi sejauh Amsterdam untuk belajar bahasa hukum — bahasa yang memaksa orang menguraikan, yang tidak menerima “sudah, tidak usah dibesar-besarkan” sebagai jawaban. Dan pada malam ia tahu lapangannya diambil, ia menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi dari dapur tempat ia berusia tujuh tahun, menunggu seseorang mengakui bahwa ia benar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!