Tiga hari kemudian, pada Selasa malam, Rais mengayuh sepedanya ke apartemen Yusuf dengan map plastik bening terselip di dalam tas, basah di satu sudut karena hujan yang turun-berhenti-turun sepanjang sore seperti orang yang tidak bisa memutuskan.
Map itu berisi cetakan dari malam ketika pesan Hasdar datang. Berita-berita yang ia salin sebelum sempat diralat. Tangkapan layar percakapan grup. Satu halaman berisi nama-nama dan tanggal yang ia susun sendiri — garis waktu kasar tentang bagaimana sebuah lapangan berumput di tepi Danau Tempe berpindah, di atas kertas, dari milik bersama menjadi lokasi yang memenuhi syarat. Ia tidak tahu untuk apa map itu ia bawa. Tapi membawanya terasa lebih benar daripada meninggalkannya di kamar.
Sepedanya masih tanpa lampu depan. Sudah dua bulan ia berniat membeli yang baru, tapi selalu ada yang lebih perlu dibayar. Ia mengayuh menyusuri tepi kanal yang lampunya memantul di air hitam, melewati orang-orang yang pulang dari tempat kerja dengan punggung membungkuk melawan angin, dan ia memikirkan — seperti hampir setiap kali ia bersepeda di kota ini — betapa Amsterdam punya cara membuat seseorang merasa aman dan asing pada saat yang sama. Kota yang rapi. Kota yang tidak menanyakan dari mana kau berasal selama kau mengayuh di jalur yang benar.
Pertemuan itu diadakan di ruang tamu Yusuf, di lantai dua sebuah gedung tua di Indische Buurt — kawasan yang nama-nama jalannya diambil dari pulau-pulau yang pernah diklaim oleh orang-orang yang sudah lama mati. Sumatrastraat. Balistraat. Borneostraat. Rais setiap kali melewatinya merasakan hal yang sama: ada yang ganjil tentang memperjuangkan keadilan untuk tanah air di jalan-jalan yang dinamai dengan nama tanah air itu oleh tangan yang dulu merampasnya.
Sudah ada delapan orang ketika Rais tiba, dan akan jadi sekitar lima belas sebelum malam habis. Selalu begitu — datang menetes, bukan mengalir.
Ia mengenali ruangan itu sekarang dengan cara orang mengenali tempat yang sudah ia datangi cukup sering untuk berhenti memperhatikannya. Sofa coklat yang per-nya sudah turun di sisi kanan, sehingga siapa pun yang duduk di situ sedikit miring ke arah tetangganya. Meja kopi yang penuh: termos, gelas-gelas yang tidak seragam, sepiring pisang goreng yang dibawa seseorang dan yang akan habis sebelum pertemuan benar-benar mulai. Dan di dinding, peta Indonesia yang ditempel dengan selotip — sudah menguning di tepinya, dengan titik-titik kecil bertanda spidol di berbagai pulau, masing-masing titik sebuah kasus, masing-masing kasus dulunya sebuah malam Selasa seperti ini.
Rais tahu sekarang cara membaca peta itu. Tiga bulan duduk di ruangan ini membuatnya hafal titik-titiknya, walau ia selalu menganggapnya sebagai hafalan tentang urusan orang lain.
Ada titik di Jawa Tengah: seorang dosen yang menulis sesuatu yang benar pada waktu yang salah, lalu mendapati dirinya dijerat pasal yang karetnya bisa ditarik sampai menutupi apa saja — menghina, menghasut, menyebarkan kebencian; tuduhan yang bentuknya bisa diubah sesuai kebutuhan, seperti air yang mengambil bentuk wadah penuntutnya. Ada titik di Kalimantan: kampung yang diminta pindah demi sesuatu yang katanya untuk kepentingan umum, walau yang umum tidak pernah terlihat dan yang berkepentingan terlihat sangat jelas. Ada titik tentang ribuan orang yang puluhan tahun bekerja sebagai tenaga honorer — guru, penyuluh, perawat di puskesmas terpencil — yang pada suatu pengumuman administratif tiba-tiba menjadi tidak terakomodasi, sebuah kata yang dirancang untuk terdengar lebih halus daripada dibuang.
Yang membuat titik-titik itu bukan abstraksi adalah bahwa di ruangan ini, setiap titik punya seseorang yang memegangnya. Dian punya sepupu yang termasuk yang tidak terakomodasi itu — dua puluh dua tahun mengajar, lalu sebuah surat. Farid mengikuti kasus dosen itu karena ia pernah jadi mahasiswanya. Ruangan ini bukan tempat orang membahas berita; ini tempat orang menjaga luka yang masing-masing mereka bawa supaya luka itu tidak hilang begitu saja ke dalam keheningan yang nyaman.
Pertemuan itu tidak dibuka secara resmi. Ketika sebagian besar peserta yang biasa berkumpul sudah hadir dan kopi di teko makin menyusut, Yusuf akan segera duduk di sebuah kursi. Kursi yang dia tempati laksana singgasana yang memberinya otoritas memimpin kelompok itu.
Ia memandang berkeliling, lalu memberi isyarat, mengangguk kecil kepada siapapun yang siap untuk bercerita.
Dian membuka laptopnya, “Padma Insani meminta kita menelusuri kasus tambang di Kalimantan,” kata Dian, membuka laptopnya. “Mereka mau mengajukan laporan khusus ke DPD. Mereka butuh komentar dari pemerhati lingkungan Internasional yang sudah diterjemahkan, bukan ringkasan kita.”
Yayasan Padma Insani. Rais sudah cukup sering mendengar namanya di ruangan ini untuk tahu bentuk kasarnya: sebuah lembaga kecil di Jakarta — sebagian pengacara, sebagian pengarsip, semuanya kekurangan dana — yang mendampingi orang-orang yang kasusnya terlalu kecil untuk media nasional dan terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Padma, teratai yang akarnya di lumpur tapi bunganya bersih di permukaan. Insani, kemanusiaan. Nama yang dipilih untuk bisa menampung siapa saja — orang Bugis, orang Jawa, orang Dayak, orang Sumbawa — karena lumpur yang mereka lawan tidak pernah memilih-milih suku korbannya. Sebuah nama yang cukup besar untuk tidak menjadi milik satu daerah, dan cukup sederhana untuk diingat oleh orang yang sedang ketakutan dan butuh menyebut satu nama yang bisa ia hubungi.
Mereka yang di Amsterdam adalah salah satu simpul di luar negeri: mengumpulkan kesaksian dari diaspora yang punya keluarga di kampung-kampung itu, menerjemahkannya ke bahasa Inggris dan Belanda, meneruskannya ke Padma Insani yang lalu membawanya ke jalur-jalur yang tidak bisa dijangkau dari dalam negeri — pelapor khusus, organisasi pemantau, sidang-sidang yang diadakan di kota seperti ini. Rantai yang panjang dan rapuh. Tapi rantai yang nyata.
“Siapa yang pegang kontak Padma Insani sekarang?” tanya seseorang.
“Masih Bu Indah,” kata Yusuf. Semua orang di ruangan itu tahu bahwa lembaga seperti Padma Insani hidup atau mati bukan karena anggarannya, tapi karena ada atau tidaknya satu-dua orang yang berani menaruh namanya di paling depan.
Mira datang terlambat malam itu, langsung dari kerja, masih membawa bau hujan dan kelelahan di bahunya. Ia duduk di sebelah Rais di sofa yang miring, sehingga keduanya sedikit condong ke arah satu sama lain dengan cara yang tidak mereka pilih.
Mira Kartowirjo. Nama belakang yang terdengar seperti seharusnya bisa berbahasa Indonesia tapi tidak — kakek buyutnya dibawa ke Suriname oleh kapal yang tidak ia pilih, lebih dari seratus tahun lalu, dan keluarganya kemudian berpindah lagi ke Belanda mengikuti gelombang lain yang juga tidak sepenuhnya mereka pilih. Mira berbahasa Belanda sebagai bahasa pertama, Inggris kedua, dan bahasa Indonesia hanya beberapa patah kata yang ia ucapkan dengan hati-hati, seperti memegang benda yang bukan miliknya tapi yang ingin sekali ia rawat.
Dialah yang pertama mengajak Rais, tiga bulan lalu. Mereka satu kelas dalam mata kuliah pilihan tentang hukum dan memori, dan suatu hari, setelah Rais bicara di kelas tentang sesuatu yang sekarang tidak ia ingat, Mira menghampirinya dan berkata, dalam bahasa Inggris: “Kita punya komunitas yang membantu orang-orang yang kehilangan karena kebijakan negara. Pertemuan setiap hari Selasa malam.”
Pernah, pada Selasa kesekian, Rais bertanya kepadanya — dengan kehati-hatian orang yang takut pertanyaannya terdengar seperti tuduhan — mengapa ia peduli. Mengapa perempuan yang lahir di Den Haag, yang belum pernah menginjak Indonesia, yang bahasa neneknya pun sudah hilang dari memorinya, mau menghabiskan Selasa malamnya mengurus tanah-tanah di pulau yang tak pernah ia lihat.
Mira tidak menjawab dengan kata seperti negara, atau bangsa, atau akar. Ia tidak memakai kata-kata besar itu — mungkin karena kata-kata besar adalah kemewahan orang yang tidak pernah kehilangan dasarnya.
Ia bercerita tentang satu kata. Kakek buyutnya — yang dibawa ke Suriname untuk memotong tebu di tanah yang juga bukan tanahnya — mewariskan sangat sedikit kepada keturunannya. Tidak ada tanah. Tidak ada rumah. Hampir tidak ada cerita, karena ia termasuk orang yang menyimpan masa lalunya seperti orang menyimpan luka: dengan tidak menyentuhnya. Tapi ada satu kata yang ia ucapkan setiap kali ada yang lahir di keluarga itu, kata yang diturunkan dari ayah ke anak ke cucu sampai ke Mira, yang mengucapkannya tanpa tahu persis artinya — hanya tahu bahwa kata itu diucapkan dengan tangan diletakkan di kepala bayi, dengan nada yang ia kenal sebagai nada harapan.
“Bejo,” kata Mira, mengucapkannya hati-hati. “Entah saya mengucapkannya dengan benar atau tidak. Itu satu-satunya kata yang menyeberangi semua lautan itu dan sampai ke saya. Empat generasi. Dari semua yang dimiliki kakek buyut saya, hanya satu kata yang selamat.”
Yusuf, yang kebetulan mendengar malam itu, yang ada di ujung lain meja, berkata pelan: “Beruntung. Artinya beruntung — mujur, dapat nasib baik. Semoga kamu beruntung.”
Mira menoleh kepadanya dengan ekspresi yang Rais tidak akan pernah lupa — ekspresi seseorang yang baru saja diberi tahu arti dari kata yang sudah ia ucapkan seumur hidup tanpa mengerti. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk, beberapa kali, seperti sedang menyimpan kata itu kembali ke tempatnya — kali ini dengan maknanya.
“Beruntung,” ulang Mira pelan, seolah menimbangnya. “Bukan selamat. Bukan sejahtera. Bukan diberkati.” Sudut bibirnya bergerak — bukan senyum, sesuatu yang lebih pahit dari senyum. “Seorang yang dibawa paksa menyeberangi separuh dunia untuk memotong tebu orang lain, yang seluruh hidupnya ditentukan oleh nasib buruk yang tidak ia pilih — dan kata yang ia wariskan kepada anak cucunya adalah semoga kamu beruntung. Bukan semoga kamu diberkati. Bukan semoga kamu kaya. Hanya: semoga nasibmu lebih baik dari nasibku.”
Ia menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat, hampir marah pada dirinya sendiri.
“Saya tidak peduli pada Indonesia, Rais. Saya tidak kenal Indonesia. Tapi saya mengerti kata itu sekarang. Kakek buyut saya tahu sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah mana pun: bahwa untuk orang seperti dia — orang kecil, orang yang bisa dipindahkan — keadilan bukan sesuatu yang bisa diandalkan. Yang bisa kamu harapkan untuk anakmu hanyalah keberuntungan. Semoga kebetulan kamu tidak berada di tanah yang diincar. Semoga kebetulan kamu tidak lahir terlalu kecil untuk dilindungi.”
Ia menunjuk peta di dinding dengan dagunya. “Dan itu — itu yang sedang terjadi di titik-titik itu. Orang-orang yang seluruh perlindungannya hanya keberuntungan, dan yang keberuntungannya baru saja habis. Bentuknya sama dengan yang dulu. Saya kenal bentuknya. Bentuk itu yang merampok keluarga saya sebelum saya lahir — yang membuat doa kami menyusut jadi satu kata: semoga untung.”
Ia diam sebentar.
“Saya tidak berjuang untuk negara,” katanya. “Saya berjuang melawan satu hal yang sudah menang atas keluarga saya sekali, dan yang tidak mau saya biarkan menang lagi tanpa dilawan. Di mana pun ia muncul.”
Itu beberapa minggu lalu. Malam ini Mira hanya melirik tas Rais — ke map yang ujungnya basah — dan berkata, “Kamu bawa sesuatu.” Bukan pertanyaan.
“Nanti,” kata Rais. “Kalau sempat.”
Mira menatapnya sebentar lebih lama dari yang perlu, lalu mengangguk dan tidak mendesak. Ia tahu kapan sebuah “nanti” sebenarnya berarti “aku belum berani,” dan ia tidak pernah memaksa keberanian orang lain keluar sebelum waktunya.
Yusuf datang dari dapur membawa teko, dan ruangan — tanpa aba-aba — mulai menenangkan diri. Itu hal pertama yang Rais perhatikan tentangnya, dulu: orang-orang menjadi lebih tenang ketika Yusuf masuk, bukan lebih tegang. Ada pemimpin yang kehadirannya menuntut — orang duduk lebih tegak, bicara lebih hati-hati, seolah sedang dinilai. Yusuf bukan jenis itu. Kehadirannya justru seperti memberi izin: izin untuk berhenti berpura-pura kuat, izin untuk mengakui lelah, izin untuk mengatakan hal bodoh tanpa takut ditertawakan.
Yusuf Tanribali. Sekitar tiga puluh lima, umur yang susah ditebak karena ada bagian wajahnya yang tampak lebih tua dan ada yang tampak jauh lebih muda. Hampir sepuluh tahun di Belanda. Datang untuk kuliah, tinggal untuk alasan yang tidak pernah sepenuhnya ia jelaskan dan yang tidak ada yang merasa berhak menanyakan. Bekerja menerjemahkan dokumen — yang membuatnya, kata orang, punya cara membaca yang berbeda: ia mendengar apa yang tidak dikatakan sebuah kalimat, karena pekerjaannya memindahkan makna tanpa kehilangan apa yang bersembunyi di sela-selanya.
“Rais,” kata Yusuf, menarik kursi sehingga ia duduk bukan di depan ruangan tapi di antara orang-orang. “Makan dulu. Pisang gorengnya hampir habis dan kamu selalu datang setelah itu habis.”
“Saya tidak lapar.”
“Tidak ada yang tanya kamu lapar.” Yusuf mendorong piring itu dengan dua jari. “Di kampung saya, menolak makanan itu menghina tuan rumah. Kamu mau menghina saya di rumah saya sendiri?” Wajahnya serius, ditahan tepat di ambang senyum — cara bercanda orang yang tidak perlu tertawa untuk menunjukkan ia bercanda.
Rais mengambil pisang goreng itu. Yusuf mengangguk, puas, seolah baru menyelesaikan negosiasi penting.
Malam itu yang memulai Hamzah — lelaki besar dari Sumbawa yang bekerja di galangan, yang tangannya selalu tampak terlalu besar untuk gelas kopi kecil yang ia pegang. Biasanya ia di antara yang paling jarang bicara; maka ketika ia berdehem, ruangan menoleh.
“Tanah sekolah kami diambil,” katanya. Pelan, untuk orang sebesar itu. Ia bercerita dengan cara orang yang tidak terbiasa bercerita — berhenti di tempat yang salah, mengulang yang tidak penting, melompati yang penting lalu kembali lagi. Sekolah dasar di kampungnya punya sebidang tanah di belakang: tempat upacara, tempat anak-anak olahraga, tempat orang berkumpul kalau ada hajatan. Lalu datang surat. Tanah itu, ternyata, terdaftar sebagai aset pemerintah daerah, bukan aset sekolah — perbedaan yang tidak pernah dipikirkan siapa pun selama puluhan tahun sampai perbedaan itu tiba-tiba menjadi penting.
“Sekarang dipagar. Katanya mau dibikin gudang. Koperasi. Sembada apa, begitu namanya.”
Rais merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
“Gerai Sembada Desa,” katanya. Suaranya keluar lebih cepat dari keputusannya untuk bicara.
Hamzah menoleh. “Kamu tahu?”
“Kampung saya juga,” kata Rais. “Minggu lalu.”
Ruangan diam sebentar dengan jenis diam yang berbeda — bukan canggung, tapi diam ketika beberapa orang menyadari pada saat yang sama bahwa hal yang mereka kira nasib masing-masing ternyata punya bentuk yang sama. Bentuk itu, Rais teringat kata Mira. Ia kenal bentuknya.
“Ini yang keempat,” kata Mira pelan, dalam bahasa Inggris. “Program yang sama. Empat kampung, empat pulau, satu bulan.”
“Bukan kebetulan kalau empat,” kata Yusuf. “Kebetulan itu satu. Dua itu pola yang belum kelihatan. Empat itu pola yang sudah tidak malu-malu lagi.”
“Tadi kamu bilang punya sesuatu,” kata Mira, dan kali ini ia tidak menunggu Rais menjawab “nanti.”
Rais memandang map basah di tasnya. Tiga bulan ia duduk di ruangan ini sebagai penonton. Ia bisa berkata “nanti” sekali lagi; tidak ada yang akan memaksanya. Itu yang paling memudahkan untuk diam — tidak ada yang pernah memaksamu untuk tidak diam.
Ia membuka tasnya dan mengeluarkan map itu.
“Namanya Leppangeng. Di tepi Danau Tempe. Penduduknya mungkin tidak sampai dua ribu.” Ia membuka map tapi tidak melihat isinya; ia sudah hafal. “Ada satu lapangan. Satu-satunya tanah datar yang cukup luas untuk dipakai ramai-ramai. Tempat anak-anak main bola tiap sore. Tempat orang shalat Id. Tempat pasar malam kalau ada acara. Satu lapangan untuk semua yang butuh tempat berkumpul.”
Ia berhenti. Ruangan menunggu. Bahkan Dian menunggu.
“Minggu lalu dipagar. Tanpa rapat desa, tanpa pemberitahuan. Yang datang memasang pagar bukan dari kabupaten, bukan kontraktor — tapi aparat, satuan yang punya komando sampai ke desa. Mereka menyebutnya penyiapan lahan.” Ia mendengar suaranya sendiri mengeras, dan tidak menahannya. “Saya tahu lapangan itu. Saya belajar berdiri di tanah itu. Saya tahu persis berapa langkah dari ujung ke ujung, karena saya pernah menghitungnya waktu kecil untuk tahu seberapa jauh saya harus lari.”
Ia menatap peta di dinding — titik-titik yang selama ini terasa seperti urusan orang lain. “Selama tiga bulan saya duduk di sini dan mendengar kalian, dan saya pikir — saya akui saja — ini urusan kalian. Bukan urusan saya. Saya datang karena Mira mengajak, karena kopinya enak, karena lebih baik daripada sendirian di kamar.” Beberapa orang tersenyum kecil. “Tapi sekarang salah satu titik di peta itu adalah tempat saya belajar berdiri. Dan saya tidak tahu lagi cara mendengarkan ini sebagai urusan orang lain.”
Hening sebentar.
“Kamu mau apa?” tanya Yusuf. Bukan menantang — sungguh-sungguh bertanya, seperti jawabannya akan ia perlakukan dengan serius.
Dan di situ Rais berhenti. Karena ia tidak tahu. Ia punya map, ia punya kemarahan, ia punya lapangan yang dulu mengajarinya berlari. Tapi mau apa — itu pertanyaan yang ia belum punya jawabannya, dan ia cukup jujur, bahkan dalam panas saat itu, untuk tidak berpura-pura punya.
“Saya belum tahu,” katanya. “Saya cuma tahu saya tidak bisa diam.”
Yusuf mengangguk pelan — dan untuk pertama kali malam itu, ia tersenyum penuh, bukan yang ditahan di ambang. “Itu,” katanya, “selalu jawaban pertama yang benar. Orang yang mengaku tahu harus melakukan apa sejak awal biasanya belum benar-benar mengerti masalahnya.” Ia menuang kopi ke gelas Rais tanpa ditanya. “Yang tahu bahwa mereka belum tahu — itu yang biasanya bertahan paling lama.”
Tiga bulan ia datang ke ruang yang dipinjam itu — ruang tamu pinjaman, di jalan bernama pinjaman, di kota yang bukan kotanya — dan merasa seperti tamu. Malam itu, untuk pertama kali, ia berbicara seperti orang yang ruangan itu juga miliknya. Ia belum tahu bahwa keberanian pertama selalu yang termurah; bahwa antara berkata “saya tidak bisa diam” dan benar-benar tidak diam, masih ada satu jarak lagi yang harus ia seberangi — dan harganya jauh lebih mahal daripada bicara di ruangan yang hangat oleh kopi dan orang-orang yang sependapat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!