Yang Tidak Tertulis di Selebaran

3 dibaca

A

Dua hari setelah pertemuan Selasa malam itu, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk di ponsel Rais. Singkat dan tanpa basa-basi: Sebuah ajakan bertemu di sebuah kafe kecil di Oost yang Rais belum pernah dengar. Pilihan waktunya cukup ganjil, pikir Rais.

Pemilik nomor itu mengaku bernama Sinta. Katanya diminta oleh Yusuf karena ada sesuatu yang perlu dibicarakan empat mata. Belakangan Rais sadar pemilihan jam itu bukan kebetulan. Tidak ada yang kebetulan kalau itu tentang Sinta. Awalnya Rais heran, mengapa bukan Yusuf yang menghubunginya. Orang seperti Yusuf tidak datang sendiri untuk menakar pendatang baru. Itu pekerjaan orang lain — pekerjaan yang justru terlalu penting untuk diserahkan kepada orang yang paling ramah.

Ia sudah duduk di meja paling jauh dari jendela, menghadap pintu, dengan punggung ke dinding ketika Rais tiba. Sinta adalah seorang perempuan muda, mungkin dua puluh lima, dengan rambut diikat asal dan kacamata yang membuatnya tampak seperti mahasiswa teknik yang belum tidur. Di depannya sebuah laptop dengan stiker menutupi kameranya dan sebuah ponsel yang ia letakkan menelungkup. Ada cangkir teh yang sudah dingin, yang tampaknya ia pesan hanya supaya punya alasan menduduki meja itu.

“Rais,” katanya. Bukan pertanyaan. Ia sudah tahu wajah Rais sebelum Rais masuk. “Duduklah.”

Rais duduk. Ia sempat memandang ke sekeliling ruangan, dan menyadari bahwa inilah makna jam aneh yang dirasakannya sejak awal. Di pukul tiga sore kafe kosong dan tidak ada yang cukup dekat untuk mendengar.  Sinta menatapnya beberapa saat dengan cara yang tidak sopan dan tidak berusaha sopan. Cara orang yang pekerjaannya menilai, dan yang sudah lama berhenti berpura-pura tidak sedang menilai.

Rais gelisah.

“Kamu tahu kenapa saya yang menemui kamu?”

“Tidak.”

“Bagus. Orang yang langsung mengarang alasan biasanya yang paling perlu saya curigai.” Ia menutup laptopnya. “Saya yang memutuskan siapa yang boleh dekat dan siapa yang dijauhkan. Yusuf yang menghangatkan ruangan. Saya yang menjaga supaya ruangan itu tidak kemasukan hal yang salah. Dua pekerjaan berbeda. Kalau saya melakukan pekerjaan saya dengan benar, kamu tidak akan pernah merasa sedang dijaga.”

“Saya akan jujur sama kamu,” kata Sinta, “karena berbohong butuh energi dan saya tidak punya energi untuk orang yang belum tentu bertahan sebulan. Kebanyakan yang datang tidak bertahan. Mereka pikir ini tempat untuk merasa berani. Begitu sadar ini tempat untuk berhati-hati, mereka bosan.”

“Saya tidak datang untuk merasa berani.”

“Semua orang bilang begitu.” Ia menyesap tehnya yang dingin tanpa ekspresi. “Coba saya tebak apa yang kamu pikirkan tentang kami. Kamu pikir kami sekelompok mahasiswa dan pekerja yang berkumpul tiap Selasa, baca nama orang, bikin spanduk, lalu pulang merasa sudah melakukan sesuatu. Kamu pikir kami romantis dan agak sia-sia. Iya, kan? Jujur saja.”

Rais tidak menjawab, tetapi diamnya adalah jawaban terang benderang.

“Itu yang kami mau kamu kira,” kata Sinta. “Itu yang kami mau semua orang kira. Karena selebaran yang kami bagi, spanduk yang kami bentangkan — itu bukan pekerjaan kami yang sebenarnya. Itu sampulnya. Pekerjaan yang sebenarnya tidak pernah kelihatan di alun-alun.”

Ia membuka ponselnya, mengetik kata sandi yang panjang, dan memutar layar itu ke arah Rais — tidak menyerahkannya, hanya memperlihatkan. Sebuah dokumen. Berbahasa Inggris. Di kepalanya ada lambang yang bahkan Rais, yang tidak mengikuti urusan internasional sedekat itu, mengenalinya: lambang yang biasa ia lihat di buku teks hukum internasionalnya.

“Kesaksian yang kami kumpulkan di sini — dari diaspora yang keluarganya di kampung-kampung itu — tidak berhenti di Padma Insani, atau di yayasan lainnya” kata Sinta. “Padma Insani kecil. Kamu sudah dengar itu, dan itu benar. Tapi Padma Insani adalah pintu. Di belakang pintu itu ada hal yang lebih besar. Kesaksian yang sudah kami verifikasi — diperiksa silang, diterjemahkan, dipastikan bukan bohong — masuk ke laporan khusus. Naik ke Dewan, di Jenewa. Dan dari sana, hal yang paling membuat mereka di Jakarta tidak bisa tidur: ia masuk ke penilaian.”

“Penilaian apa?”

“Lembaga donor. Lembaga keuangan. Yang memberi pinjaman ke negara, yang memberi peringkat, yang menentukan dengan bunga berapa sebuah negara boleh berutang dan dengan siapa ia boleh berdagang.” Sinta mengunci ponselnya, meletakkannya menelungkup lagi. “Mereka pakai indikator. Tata kelola. Hak asasi. Kepastian hukum.”

“Dan indikator itu, sebagiannya, diisi oleh laporan-laporan yang sumbernya — di suatu titik di hulu — adalah kesaksian seperti yang kami kumpulkan di ruang tamu Yusuf sambil makan pisang goreng.”

Rais mulai mengerti, dan rasa mengerti itu membuat sesuatu di tengkuknya dingin.

“Satu kesaksian tentang petani yang tanahnya diambil di kampung yang namanya tidak pernah kamu dengar,” kata Sinta, “kalau ia masuk ke jalur yang benar, bisa muncul lagi delapan bulan kemudian sebagai satu baris dalam penilaian yang membuat sebuah pinjaman jadi lebih mahal beberapa basis poin. Atau membuat sebuah perjanjian dagang tertunda. Atau membuat seorang pejabat harus menjelaskan, di sebuah ruangan ber-AC di Jakarta, kepada atasannya, kenapa namanya disebut dalam sebuah laporan yang dibaca orang-orang yang ia tidak bisa kendalikan.”

“Kami tidak menggetarkan mereka dengan spanduk,” katanya. “Kami menggetarkan mereka karena kami hulu sungai. Dan air dari hulu ini bermuara persis di tempat-tempat yang paling mereka jaga: uang, dan nama baik di mata orang yang memberi uang.”

“Dan kami bukan hanya memasok Padma Insani,” Sinta melanjutkan, karena ia tampaknya sudah memutuskan untuk memberi Rais gambaran penuh — atau cukup penuh untuk menguji apa yang Rais lakukan dengan gambaran itu.

“Padma Insani hanya satu simpul. Ada yang lain. Ada lembaga di Jakarta yang khusus mengurus sengketa agraria. Ada yang fokus ke kebebasan pers, yang mendampingi jurnalis-jurnalis daerah seperti yang namanya ada di daftar kita. Ada koalisi mahasiswa, ada serikat yang mengurus buruh dan honorer. Masing-masing kecil. Masing-masing kalau berdiri sendiri gampang dipatahkan. Tapi mereka tidak berdiri sendiri — mereka berbagi data, berbagi bukti, berbagi jaringan luar negeri. Dan beberapa dari aliran data itu lewat sini. Lewat Amsterdam. Lewat ruang tamu yang kamu kira cuma tempat minum kopi.”

Ia menyandarkan punggung ke dinding.

“Kamu mengerti apa artinya itu? Artinya kalau seseorang mau melumpuhkan banyak gerakan sekaligus tanpa harus menyentuh semuanya satu per satu, ia tidak perlu menyerang semua simpul. Ia cukup menyerang simpul yang menyuplai. Atau — lebih murah lagi — ia cukup membuat satu contoh. Menangkap satu orang dari simpul yang terlihat, dengan tuduhan yang cukup menakutkan, supaya semua simpul yang lain mengerti pesannya tanpa perlu disentuh.”

Sinta mengatakannya dengan datar, sebagai penjelasan tentang cara kerja sebuah sistem — bukan sebagai ramalan. Sinta sudah tahu bentuknya. Bentuk yang selalu sama, yang dikenali oleh orang-orang yang sudah cukup lama memperhatikannya.

“Sekarang bagian kamu,” kata Sinta, dan untuk pertama kali sejak Rais duduk, ia mencondongkan tubuh ke depan. “Saya tidak peduli kamu pintar. Banyak orang pintar yang berbahaya buat kami. Saya peduli pada tiga hal. Boleh saya tanya?”

“Silakan.” Jawab Rais, nyaris tak terdengar.

“Satu. Kalau besok kamu sadar bahwa ikut kami tidak akan membuat kamu terkenal, tidak akan ada yang memuji kamu, tidak akan ada foto kamu di mana-mana sebagai pemuda pemberani — malah sebaliknya, kamu harus berhati-hati seumur hidup soal apa yang kamu unggah, ke mana kamu pulang, siapa yang kamu percaya — apakah kamu masih mau?”

Rais memikirkan tujuh nama yang belum ia baca saat itu, yang baru akan ia baca esok hari. Ia belum tahu angka tujuh. Tapi ia sudah tahu, dari cara Sinta bertanya, bahwa jawaban yang benar bukan “ya” yang cepat.

“Saya belum tahu,” katanya. “Saya pikir saya mau. Tapi saya belum diuji, jadi saya tidak mau menjanjikan sesuatu yang saya belum tahu bisa saya tepati.”

Sesuatu bergerak di wajah Sinta — bukan senyum, tapi pelonggaran kecil, seperti orang yang mencentang sesuatu di dalam kepalanya. “Jawaban yang benar. Orang yang menjanjikan semuanya di awal biasanya yang pertama hilang ketika takut.”

“Dua,” ia lanjut. “Kampungmu. Lapangan itu. Yusuf bilang kamu mau namanya dibacakan. Saya mau tahu — kamu mau lapangan itu jadi alat buat kamu, atau kamu mau jadi alat buat lapangan itu? Pikir dulu sebelum jawab. Bedanya tipis tapi semuanya ada di situ.”

Rais diam lebih lama kali ini. Ia tahu jawaban yang terdengar bagus. Ia juga tahu Sinta akan mencium jawaban yang terdengar bagus dari jarak satu meja.

“Saya tidak tahu cara memisahkan keduanya dengan bersih,” katanya akhirnya. “Kalau saya bilang saya cuma mau jadi alat buat lapangan itu, saya bohong — karena ada bagian dari saya yang marah, dan marah itu soal saya, bukan soal lapangan. Tapi saya tahu satu hal: kalau besok lapangan itu selamat tanpa nama saya disebut sama sekali, saya akan lega, bukan kecewa. Mungkin itu ukurannya. Mungkin itu beda antara alat dan panggung — apakah kamu lega atau kecewa kalau berhasil tanpa kamu kelihatan.”

Sinta menatapnya cukup lama. Lalu, untuk pertama kali, ia menarik ponselnya, membaliknya menghadap atas, dan tidak buru-buru menelungkupkannya lagi — sebuah isyarat kecil yang baru akan Rais pahami artinya berbulan-bulan kemudian: Sinta berhenti memperlakukannya sebagai ancaman.

“Pertanyaan ketiga tidak jadi,” katanya. “Akiu sudah tahu jawabannya.”

Mereka lalu terdiam. Cukup panjang untuk Rais mengenali bunyi dengusan perempuan itu saat sedang bersemangat. Sebelum mereka berpisah, Sinta memberinya bukan sambutan, melainkan daftar.

Cara mengatur ponsel. Apa yang tidak boleh ditulis di pesan, bahkan ke orang yang dipercaya. Kenapa ia tidak boleh memberi tahu orang tuanya secara rinci apa yang ia kerjakan — bukan karena tidak percaya, tapi karena pengetahuan adalah beban, dan ada beban yang lebih aman tidak ditaruh di pundak orang yang kamu cintai, supaya kalau suatu hari ada yang bertanya kepada mereka, ketidaktahuan mereka tulus dan terlihat tulus.

“Kalau kamu ikut hari Selasa,” katanya, “kamu sudah resmi terlihat. Sebelum Selasa, kamu masih bisa mundur dan tidak ada yang akan tahu kamu pernah hampir terlibat. Sesudah Selasa, kamu ada di foto, di rekaman, di laporan seseorang. Saya tidak mengatakan ini untuk menakuti kamu. Saya mengatakannya karena kamu berhak tahu di mana garisnya sebelum kamu melewatinya. Kebanyakan orang baru diberi tahu garis itu setelah mereka sudah terlanjur di seberangnya.”

“Kenapa kamu memberitahu saya garisnya?”

“Karena orang yang diberi tahu garisnya dan tetap memilih menyeberang — itu orang yang bertahan. Orang yang diseret menyeberang tanpa diberi tahu, itu yang patah pertama, dan biasanya menyeret orang lain ikut patah.” Ia memasukkan laptop ke tasnya. “Saya tidak menyuruh kamu ikut. Saya cuma memastikan kalau kamu ikut, kamu ikut dengan mata terbuka.”

Ia berdiri, meninggalkan uang receh di meja untuk teh yang nyaris tidak ia minum, dan berhenti sebentar di samping kursi Rais.

“Satu lagi. Yusuf percaya pada orang terlalu cepat. Itu kekuatannya — itu yang membuat orang mau mati-matian untuk dia. Tapi itu juga satu-satunya cara dia bisa dilukai.” Ia mengatakannya seperti menyampaikan fakta teknis, bukan peringatan. “Kalau kamu pernah, suatu hari, ada di posisi yang bisa melukai dia lewat kepercayaannya — saya harap kamu ingat percakapan ini.”

Lalu ia pergi, keluar lewat pintu yang sejak tadi ia hadapi, dan Rais duduk sendiri di kafe kosong itu dengan teh yang juga tidak ia sentuh, memikirkan betapa berbeda rasa perkumpulan itu sekarang — bukan lagi ruang tamu yang hangat oleh kopi, tapi sesuatu yang punya kedalaman yang tidak ia duga, dengan arus di bawah permukaan yang cukup kuat untuk menyeret kursi-kursi di Jakarta.


Rais menelpon Hasdar. Pasti masih pagi di Wajo, pikirnya. Ia awali dengan berbasa basi tentang anak-anak Hasdar yang katanya sedang tumbuh dengan gemilang. Tetapi terancam kehilangan tempat bermain yang memadai karena Pembangunan Gerai Sembada Desa yang tiba-tiba ada. Rais tahu, ketika Hasdar mengirimkan pesan, itu artinya, mereka di sana sudah hampir sampai di titik keputusasaan.

Hanya Rais yang bisa membela mereka. Barangkali karena Rais sedang kuliah hukum, di Belanda lagi, bisa menyelamatkan Lapangan Desa mereka. Pendek kata, hanya Rais harapan satu-satunya.  Kalau Rais pun sampai gagal, maka selesai sudah.

Rais merasakan pundaknya memberat. Ia mengakhiri panggilan telepon itu dan berjanji akan mengupayakan yang terbaik. Hasdar merespons antusias. Rais memang selalu bisa diandalkan, katanya. Setelah panggilan ditutup, ada beberapa saat di mana Rais menatap ponselnya tanpa benar-benar melihatnya. Sebagian kepalanya tahu — secara logika, secara dingin — bahwa Sinta baru saja menjelaskan ada banyak simpul, banyak hilir, banyak orang yang melawan bentuk yang sama. Bahwa ia bukan satu-satunya. Bahwa Hasdar, dari bengkelnya di Wajo yang tidak pernah bersinggungan dengan kosakata seperti pelapor khusus atau penilaian donor, tentu saja akan menaruh harapan pada satu nama yang ia kenal — dan satu nama itu kebetulan dirinya. Itu tidak akurat secara struktural. Itu beban yang sebenarnya tidak ia tanggung sendirian.

Tapi pengetahuan struktural dan rasa di tubuh adalah dua hal yang berbeda. Dan tubuhnya — yang tahu suara Hasdar, yang tahu bunyi bengkel di latar, yang tahu nada anak dipanggil ibunya untuk yang kesekian kali — tubuhnya tidak peduli pada peta simpul. Tubuhnya merasakan, dengan keras kepala dan tanpa minta izin pada bagian dirinya yang sudah belajar hukum, bahwa kalau ia tidak melakukan apa-apa, tidak ada yang akan. Mungkin itu salah. Mungkin itu kerentanan yang nanti akan menjadi masalah. Tapi malam itu, di kamar Amsterdam dengan dahan mengetuk kaca, ia tidak punya cara untuk merasakannya berbeda.

Tiga hari berikutnya Rais habiskan dengan menimbang, dengan cara orang yang sudah diberi tahu bobot sebenarnya dari yang ia timbang.

Hari pertama ia membaca — dokumen yang dikirim Padma Insani untuk diterjemahkan, empat puluh tiga nama dengan kolom status di sebelahnya. Tujuh di antaranya bertuliskan, dalam bahasa yang sengaja dibuat datar, ditemukan tidak bernyawa. Ia menghitungnya dua kali, bukan karena meragukan, tapi karena angka punya cara berbeda untuk masuk ke kepala kalau kamu sudah menghitungnya sendiri. Ia berhenti pada nama ketiga — jurnalis perempuan di kota kecil di Sulawesi, luka yang catatannya berbunyi tidak konsisten dengan jatuh — karena ia sadar ia sudah mulai menghafalnya tanpa berusaha, dan ia tidak ingin menghafal tujuh.

Hari kedua ia mencari apakah polanya miliknya sendiri, dan menemukan bahwa bukan. Jurnalis di Filipina, pegiat di Honduras, mahasiswa Kamboja yang dipulangkan paksa, blogger Mesir yang dijemput dari apartemennya — dari Berlin, bukan dari Kairo. Itu yang terakhir membuatnya berhenti. Diaspora pun bukan jaminan. Pengetahuan yang tidak ia miliki kemarin pagi, dan yang tidak bisa ia kembalikan.


Yang ia rasakan bukan tekad — tekad terlalu bersih untuk ini. Yang ia rasakan adalah runtuhnya sebuah pembedaan yang selama ini ia jaga: antara kasus dan kampung. Kasus adalah empat puluh tiga nama dengan kolom status, hal yang punya analisis. Kampung adalah suara Hasdar dengan bengkel di latar, anak Pak Daming yang hampir kena motor. Pembedaan itu yang memungkinkannya membaca tujuh nama dan tetap tidur. Sekarang lapangannya sudah jadi kasus, dan kampungnya akan menyusul — dan pembedaan itu tidak bertahan.

Ia juga teringat Sinta. Pertanyaan kedua: alat atau panggung. Lega atau kecewa kalau berhasil tanpa namanya kelihatan. Ia sudah tahu jawabannya, dan jawaban itu tidak berubah dalam tiga hari.

Ia membuka pesan kepada Yusuf pada Jumat malam.

Rais  ·  21:14 Aku ikut. Selasa.

Ia menatap tiga kata itu cukup lama sebelum mengirimnya. Lalu ia kirim.

Jawaban Yusuf datang dalam dua menit — satu emoji, sebuah tangan yang membuka, telapak menghadap ke atas. Tidak bertanya kenapa. Tidak menyambut dengan kata-kata yang membuat keputusan ini terdengar lebih besar dari yang sudah dirasakan Rais. Hanya isyarat: saya menerima ini.

Hampir bersamaan, masuk pesan kedua. Dari nomor yang tidak tersimpan, yang baru ia kenal tiga hari lalu di kafe kosong di Oost. Hanya satu baris, tanpa salam:

+31 6 ········Mata terbuka. — S

Rais menyimpan nomor itu dengan satu huruf: S. Lalu ia berdiri, menyalakan ketel, dan membuat teh yang tidak benar-benar ia inginkan — hanya untuk memberi tangannya sesuatu untuk dikerjakan, sementara di luar jendela dahan mengetuk kaca dan angin, seperti tiga hari lalu, masih datang dari utara.

Ia memilih dengan mata terbuka — itu yang Sinta berikan kepadanya, dan itu yang membedakannya dari anak tujuh tahun yang dulu menyerahkan kunci tanpa tahu bahwa dunia sudah memutuskan untuk tidak mempercayainya. Kali ini ia tahu garisnya. Kali ini ia tahu apa yang ada di seberang. Dan ia menyeberang justru karena tahu — bukan karena tidak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk