Sofie tidak merasa takut, setidaknya bukan dalam pengertian biologis yang biasanya diasosiasikan dengan ancaman. Baginya, ketakutan adalah kegagalan sistem dalam memproses data secara rasional. Namun, ada anomali dalam rutinitas ayahnya, Pak Surya, yang mulai mengganggu kalkulasi keamanan domestiknya.
Pria itu mulai membawa map berwarna cokelat yang gak pernah taruhnya di meja makan, hanya di dalam tas kulit tua yang dikunci resletingnya setiap saat. Sofie mencatat perubahan ini dalam buku kecilnya, mengobservasi bahwa ritme napas ayahnya menjadi lebih pendek dan tajam setiap kali telepon rumah berdering lebih dari tiga kali.
Suara denting garpu yang jatuh ke lantai marmer memecah keheningan ruang makan malam itu. Sofie gak nunduk buat mengambilnya; matanya terpaku pada layar ponsel Pak Surya yang menyala di samping piring nasi. Sebuah pesan masuk singkat, tanpa nama pengirim, hanya berisi koordinat angka dan kode wilayah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pak Surya mendengus pelan, tangannya bergerak cepat menutup layar itu sebelum Sofie sempat membaca lebih jauh. Pria itu menatap putrinya, mencoba menyunggingkan senyum yang terasa kaku dan dipaksakan.
“Lanjut makan, Sofie. Jangan pedulikan bunyi-bunyi kecil itu,” kata Pak Surya, nadanya terlalu cepat, terlalu defensif.
Sofie cuma mengangguk pelan, mengunyah pelan sesuai timer yang ia pasang di kepalanya. Namun, otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal. Dia butuh bukti emosional; dia butuh data. Malam itu juga, saat jam dinding menunjukkan pukul 02.17, dia bangun dari tempat tidurnya. Rumah dalam keadaan hening, kecuali suara dengkuran halus dari kamar ibunya dan mesin pendingin ruangan yang berdengung stabil. Ia merangkak menuju ruang kerja ayahnya, melewati lantai kayu yang berpotensi berderit dengan langkah presisi yang telah ia hitung sebelumnya.
Komputer ayahnya masih tergeletak di meja, dalam mode sleep. Sofie menekan tombol *space bar*, berharap ayahnya terlalu lelah untuk melakukan penguncian ganda. Layar menyala, menampilkan wallpaper kantor resmi, tapi Sofie tahu tempat-tempat tersembunyi di dalam sistem operasi. Ia menggunakan flash drive kecil yang berisi script sederhana untuk mem-bypass kata sandi standar. Dalam waktu tiga menit, dia masuk ke dalam direktori pengguna. Isinya rapi, terlalu rapi, seperti sebuah panggung yang sengaja dibersihkan.
Ia mulai membuka folder-folder yang gak punya label deskriptif. Folder bernama “Proyek Taman” ternyata berisi dokumen tentang jadwal patroli di Pelabuhan Tanjung Priok. Di situlah Sofie menemukan sebuah file PDF yang tertanda “Sangat Rahasia”. Jantungnya tidak berdegup kencang, tapi pupil matanya melebar saat ia membaca identitas di balik nama Pak Surya. Ayahnya bukan sekadar pegawai kementerian biasa; ia adalah agen Badan Intelijen Negara yang sedang menyusup ke jaringan penyelundupan narkotika internasional.
Informasi itu dingin, dingin seperti logam gagang pintu di musim hujan. Sofie menarik napas panjang, menyeimbangkan oksigen dan karbon dioksida dalam darahnya agar tetap tenang. Ia menyadari kalau rumah ini bukan lagi tempat yang aman. Kalau sindikat itu tahu lokasi agen yang menghancurkan rantai distribusi mereka, ibunya akan jadi target empuk. Pak Surya terlalu sibuk sama logikanya sendiri buat bisa lihat bahaya yang sedang mengintai di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Apa yang dia lakuin di sini?” pikir Sofie, menatap foto seorang pria bertato di dokumen tersebut.
Pria itu pernah dia lihat beli rokok di warung depan rumahnya dua hari lalu. Sofie menutup file itu, menghapus jejaknya dari log sistem komputer. Dia harus melakukan sesuatu sebelum ayahnya melakukan kesalahan fatal dengan membawa pekerjaan kotor itu ke dalam zona privat mereka.
Ia kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang, dan mulai menyusun matriks keputusan di atas kertas kosong. Dia gak bisa mengandalkan emosi atau insting keibuan; itu semua gak efisien. Dia membutuhkan rencana yang logis, taktis, dan gak terdeteksi. Kalau dia kasih tahu ayahnya, sindikat itu mungkin akan curiga kalau keamanan mereka telah bocor. Kalau dia biarin aja, probabilitas ibunya mengalami kecelakaan “tidak sengaja” sangat mungkin terjadi.
Sofie memutuskan untuk mengambil alih kendali atas keamanan ibunya tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia mulai memetakan rute pulang ibunya dari klinik, mencari celah di mana mobil hitam yang dia curigai sebagai penghubung sindikat itu bisa bersembunyi. Logikanya sederhana: dia harus mengamankan aset paling berharga di dalam hidupnya—ibunya—dengan cara yang paling tidak logis menurut orang normal, yaitu dengan memanipulasi lingkungan sekitar supaya keliatan kayak gak terjadi apa-apa. Namun, buat bisa melakukan semua itu, dia butuh bantuan dari luar.
Dia butuh orang yang bisa bergerak di luar radius pengawasannya sendiri, seseorang yang gak gak ada hubungan langsung sama Pak Surya atau sindikat tersebut. Matanya menatap ke arah jendela kamar yang sedikit basah oleh embun. Ada satu variabel yang bisa dia pakai, satu orang yang memiliki banyak waktu luang dan rasa ingin tahu yang cukup besar buat gk bertanya terlalu banyak kalau dikasih instruksi yang tepat. Rencananya mulai mengkristal, satu langkah lagi sebelum dia melakukan kontak pertama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!