Konsekuensi Dari Logika

0 dibaca

A
“Wer mit Ungeheuern kämpft, mag zusehen, dass er nicht dabei zum Ungeheuer wird.”
“He who fights with monsters should be careful lest he thereby become a monster.”
— Friedrich Nietzsche, Jenseits von Gut und Böse


Suara denting sendok yang menyentuh pinggiran mangkuk semur hanya sekali, ritme mekanis yang biasa Sofie gunakan untuk mengukur kecepatan makannya. Di seberang meja, Pak Surya menyesap kopinya, uap panas menari di antara mereka sebelum hilang ditelan lampu gantung yang terlalu terang. Ia menggeser piringnya sedikit ke kiri, mengoreksi posisi yang menurutnya tidak simetris dengan sudut meja.

“Proyek di pabrik kemarin memang agak berantakan,” ucap Pak Surya tiba-tiba, suaranya mencoba terdengar ringan, meski jari-jarinya terlalu keras menggenggam gagang cangkir.

“Sisa-sisa dokumen itu cuma sampah kantor yang kebetulan masuk ke tas. Besok akan kubuang.”

Sofie tidak mengangkat kepalanya. Ia menghitung durasi jeda antara kata pertama dan kata terakhir ayahnya, lalu membandingkannya dengan ritme bicara normal pria itu saat tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Selisihnya empat detik. Itu bukan sisa proyek, atau setidaknya bukan proyek yang dijelaskan secara transparan.

Bu Fyfi yang sedang menyendok nasi tiba-tiba berhenti, tangannya membeku di udara untuk sesaat sebelum perlahan meletakkan centong kembali ke wadah nasi. Ia melirik suaminya, lalu beralih ke Sofie, seolah sedang mencoba membaca kode yang tidak tertulis di antara keduanya.

“Kok bisa sampai tercampur di tas kerja?” tanya Bu Fyfi, nadanya datar, namun Sofie menangkap sedikit getaran pada ujung kalimat ibunya itu.

“Aku tadi sempat lihat di meja kerja, kertasnya tebal sekali. Gak keliatan kayak kertas buangan.”

Pak Surya meletakkan cangkirnya dengan bunyi berisik yang cukup keras, cairan kopi sedikit tumpah ke atas taplak meja bersih.

“Sudah kubilang, itu urusan kantor. Gak perlu dipikirIn lagi sampai ke detail kertasnya,” sahutnya cepat, bahunya sedikit mengeras.

Sofie akhirnya mengangkat wajah, menatap lurus ke arah ayahnya.


“Variabel ‘sampah kantor’ gak konsisten sama bobot kertas dan tinta cetak yang kulihat tadi. Kalau ini adalah proyek rahasia, akan lebih efisien jika langsung dikatakan dari awal daripada menyusun alibi yang mudah runtuh, Ayah”

Keheningan langsung menyergap ruang makan. Bu Fyfi menarik napas panjang, lalu berdiri sambil merapikan bajunya.

“Makan malam sudah dingin. Saya bersihkan dapur dulu,” katanya cepat, bergegas meninggalkan meja tanpa menoleh.

Ia tahu pertengkaran ini tidak akan berakhir dengan pelukan.

Sofie mendengarkan langkah kaki ibunya memudar di koridor, menyisakan suara mesin pencuci piring yang baru dinyalakan di kejauhan. Ketegangan itu nyata, terasa seperti tekanan udara yang tiba-tiba ngedrop di dalam ruangan ber-AC tersebut. Sofie merasakan sedikit kepuasan; integritas ayahnya baru saja melewati uji cobanya.

“Kau puas sekarang?” Pak Surya mendekat, kursinya diseret kasar di atas lantai keramik.

“Berhasil membuat ibumu cemas dan membuat diriku terlihat seperti pembohong di rumah sendiri. Apa ini yang kamu cari?”

Sofie membalas tatapan ayahnya tanpa kedip.

“Kebenaran adalah satu-satunya variabel yang stabil sebagai dasar komunikasi. Kalau data yang masuk rusak, kesimpulan yang dihasilkan akan cacat. Aku hanya sedang mengkalibrasi input.”

Wajah Pak Surya memerah, urat lehernya mulai menonjol. Ia berdiri mendadak, kursinya jatuh ke belakang dengan suara keras yang bergema di dinding.

“Dunia tidak selalu butuh kalibrasi, Sofie! Ada hal-hal yang tidak perlu kau pahami, apalagi kau ganggu!”

Tiba-tiba saja, Pak Surya melangkah maju dan mencengkeram lengan baju Sofie, menariknya keluar dari ruang makan ke sudut gelap dekat lemari buku. Cengkeramannya kuat, jauh lebih kasar dari sentuhan ayah yang biasanya dingin dan terjaga jaraknya.

“Dengar baik-baik,” bisik Pak Surya, napasnya memburu dan tercium sedikit aroma kopi yang masam.

“Jangan sekali-kali kau ikut campur dalam urusan pekerjaanku. Apa yang kulakukan di luar sana adalah demi keselamatan keluarga ini, meskipun kamu gak paham logikanya.”

Sofie tidak melawan. Ia hanya menatap jemari ayahnya yang gemetar, mencatat tekanan pada lengannya dalam satuan newton.

“Ancaman fisik gak akan mengubah validitas fakta. Kalau ada risiko keselamatan, itu seharusnya dibagi secara transparan supaya bisa dimitigasi bersama.”

Mendengar ketenangan Sofie yang seperti batu itu, kemarahan Pak Surya meledak. Ia melepaskan cengkeramannya dan malah menepis tumpukan buku di rak sampingnya, membuat beberapa jilid tebal jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang memecah kesunyian malam.

“Kau pikir kau sangat pintar?” bentak Pak Surya, suaranya parau dan penuh amarah yang mendalam.

“Kau pikir logikamu bisa menembus segala hal? Aku sudah muak dengan logikamu! Mulai hari ini, aksesmu ke ruang kerjaku kututup. Semua data penelitian pribadiku, kunci, sandi, semuanya gak akan bisa kau sentuh lagi!”

Sofie sedikit memiringkan kepala, mencerna ancaman tersebut sebagai sebuah perubahan parameter dalam eksperimennya.

“Membatasi akses data adalah tindakan defensif yang menunjukkan adanya informasi kritis yang disembunyikan. Itu hanya akan memperkuat hipotesisku bahwa kau menyimpan sesuatu yang berbahaya.”

Wajah Pak Surya memucat, keringat dingin mengumpul di pelipisnya. Ia mundur selangkah, menyesali kata-katanya sendiri namun terlanjur melempar kartu as itu.

“Pergi ke kamarmu. Sekarang juga. Jangan coba-coba mendekati mejaku lagi, Sofie. Aku serius.”

Sofie menatap ayahnya untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. Ia melangkah keluar dari sudut gelap itu, melewati piring-piring kotor di meja makan yang kini terasa seperti sisa medan perang yang ditinggalkan. Di kepalanya, diagram koneksi antara Pak Surya dan kertas misterius itu mulai berubah warna menjadi merah pekat.

Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Di dalam kamar, Sofie mengunci pintu dan duduk di depan meja belajarnya yang kosong. Keheningan malam itu terasa berbeda; kali ini ada derit kayu di langit-langit yang sebelumnya tak pernah ia pedulikan, seolah rumah tua itu sedang menahan napas.

Ia menyadari bahwa peringatan ayahnya bukan sekadar kata-kata kosong. Membatasi akses berarti semua jalur masuk legal telah ditutup. Jika ia ingin menemukan kebenaran di balik proyek pabrik yang sebenarnya, atau identitas orang-orang yang berkunjung tadi malam, ia harus mencari jalan masuk yang tidak terdaftar dalam prosedur rumah tangga mereka.

Sofie menatap jendela kamarnya yang gelap. Bayangan pohon jati di halaman bergerak tertiup angin, menciptakan pola-pola abstrak di dinding. Ia mulai membedah ancaman ayahnya bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai indikator lokasi data yang paling berharga. Jika ayahnya melindungi sesuatu di ruang kerja, maka di situlah letak jawabannya.

Lampu kamar dimatikan, tapi Sofie tetap terduduk di kursi. Ia mendengarkan suara langkah kaki ayahnya yang mondar-mandir di ruang tengah, sebuah kegelisahan yang tidak biasa dari pria yang biasanya tidur tepat pada pukul sepuluh malam. Ini adalah malam yang panjang, dan semua variabel telah berubah.

Ia meraih ponselnya, menyalakan layar dengan cahaya redup. Jam digital menunjukkan pukul sembilan empat puluh lima malam. Ia perlu menunggu hingga rumah benar-benar tertidur, hingga irama napas penghuninya seragam dan tak ada lagi cahaya yang menyala di balik celah pintu mana pun.

Sofie memejamkan mata, tidak untuk tidur, melainkan untuk memetakan denah ruang kerja ayahnya di kegelapan. Ia membayangkan komputer utama, laci yang mungkin terkunci, dan jam biometrik di pintu ruangan itu. Sebuah rencana mulai disusun dengan presisi tinggi, sebuah algoritma tindakan yang hanya bisa dieksekusi dalam kegelapan total ketika logika emosional sang ayah tertidur lelap.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk