“Though this be madness, yet there is method in’t.”
- William Shakespeare, Hamlet
Suara langkah kaki Aris menghilang di ujung lorong, menyisakan keheningan yang kental di dalam kamar Sofie. Dia menarik kembali kursi di depan meja kerjanya dan duduk tanpa suara. Pikiran gadis itu masih terpaku pada satu pertanyaan Aris sebelum dia pulang tadi.
”Apakah kamu tidak pernah merasa sedih?” Pertanyaan itu terasa asing, seperti sebuah variabel yang gk punya rumus pasti dalam pikiran Sofie.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menuliskan analisisnya. Bagi Sofie, kesedihan adalah sebuah kecacatan dalam sistem pemrosesan data manusia. Jika seseorang kehilangan objek berharga, otak mereka memproses kerugian tersebut dengan memproduksi hormon stres yang tidak efisien. Ia memandangi coretan di kertas itu, lalu mematikannya. Baginya, membedah emosi tidak membutuhkan perasaan, hanya logika murni.
Tiba-tiba, sebuah bunyi dentuman kusam terdengar dari arah ruang bawah tanah. Sofie menoleh ke arah ventilasi lantai. Itu bukan suara ibunya. Ayahnya, Pak Surya, seharusnya baru pulang besok pagi dari perjalanan dinasnya. Namun, pintu rahasia di balik rak buku besar itu terbuka sedikit, mengeluarkan hembusan udara dingin dan bau logam yang tajam.
Pak Surya melangkah keluar dari ruang gelap itu dengan tubuh membungkuk. Kemeja putihnya yang biasanya selalu rapi kini kusut dan sobek di bagian lengan kanan. Ada noda merah gelap di saku bajunya. Ia menghela napas panjang, mencoba merapikan rambutnya yang acak-acak. Ia tidak menyadari Sofie duduk di kursi sudut kamar yang gelap, hanya beberapa meter darinya.
Sofie tidak bergerak. Ia hanya mengamati setiap detail dengan mata terbuka lebar. Jam dinding menunjukkan pukul 23:40. Ayahnya seharusnya tiba pukul 20:00 jika mengikuti jadwal kereta terakhir. Keterlambatan tiga jam empat puluh menit ini tidak masuk akal, terutama dengan kondisi fisiknya yang tampak seperti baru saja menghadapi benturan keras.
Pak Surya mendekat ke meja kerja, meski ia sebenarnya tidak melihat ke arah gadis itu. Ia meletakkan sebuah kunci besi di atas meja.
“Sofie, kunci ini jangan sampai dilihat ibumu,” bisiknya parau.
Suaranya serak, berbeda dari nada otoritas yang biasa ia pakai saat bekerja di kantornya. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuh bahu Sofie.
Sofie menatap kunci itu, lalu menatap ayahnya.
“Ayah pulang lebih awal tiga jam, dan baju Ayah robek,” kata Sofie datar.
Tidak ada nada kekhawatiran dalam suaranya, hanya pengamatan objektif.
“Apa yang terjadi di sana? Ibu menyuruhku nunggu di sini sampai Ayah pulang agar dia tahu Ayah baik-baik saja.”
Wajah Pak Surya berubah tegang. Ia menarik kembali tangannya dan menegakkan tubuhnya, mencoba mengumpulkan sisa harga dirinya.
“Ini bukan urusanmu, Sofie. Yang penting adalah kamu simpan kunci ini dan jangan bilang apa-apa ke ibumu. Bilang aja aku kelelahan dan langsung istirahat. Itu perintah,” ujarnya dengan nada yang mulai meninggi.
Sofie merasakan sesuatu yang tidak beres. Dalam logikanya, sebuah perintah tanpa penjelasan yang masuk akal adalah bentuk manipulasi atau penyembunyian kegagalan. Ia melihat ke arah ibunya yang sedang membaca di ruang tengah, yang tidak sadar bahwa suaminya sudah berada di dalam rumah dalam kondisi mengenaskan. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan, namun ayahnya justru memintanya untuk merusak fondasi itu.
“Jika aku berbohong pada Ibu, maka data yang diterima Ibu akan cacat,” pikir Sofie.
Namun, ia tahu jika ia menolak, ayahnya akan melakukan sesuatu yang lebih ekstrem. Ini adalah sebuah kebuntuan logis. Ia harus memilih antara mematuhi otoritas ayahnya atau mempertahankan integritas informasi di dalam rumah tangga mereka.
Sofie akhirnya mengangguk pelan, matanya tidak berkedip sedikit pun.
“Baik, Ayah. Aku gak akan bilang apa-apa,” jawabnya.
Pak Surya tampak lega, meski matanya masih gelisah. Ia segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum istrinya curiga. Sofie melihat punggung ayahnya yang memar di bagian leher, sebuah detail yang tidak akan ia lupakan malam ini.
Setelah ayahnya hilang di balik pintu kamar mandi, Sofie mengambil kunci besi itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia tidak akan menyimpannya di tempat yang aman. Sebaliknya, ia mulai merencanakan sebuah pengamatan lebih lanjut. Jika ayahnya menyembunyikan sesuatu yang membahayakan, maka logika menuntut agar kebenaran itu dibongkar, bukan ditutupi dengan kedustaan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!