Aris menahan napas sejak kaki kirinya melangkah melewati ambang pintu belakang yang tak pernah dia lewatin sebelumnya. Bau menyengat menyambar hidungnya, aroma asap, kapur, dan sesuatu yang getir yang tidak dia paham asalnya. Ia berdiri kaku, jarinya mencengkeram ritsleting jaketnya, sementara matanya gak berani menatap lurus ke arah ruang tengah yang setengah gelap.
Sofie keluar dari dapur kecil dengan membawa sebuah nampan plastik yang berisi dua botol air mineral dingin. Dia taruh nampan itu di atas meja kayu yang berbekas dan melintang di ruang tamu. Tanpa mengubah posisi wajahnya yang datar, Sofie duduk di kursi plastik dan buka tutup botolnya.
“Duduk,” kata Sofie.
Aris menggeleng cepat, langkah kakinya mundur selangkah.
“Ini... bau apa, Sof?”
“Penyepuhan,” jawab Sofie tanpa menatap Aris.
“Kapur sirih dan asap pembakaran. Ibu lagi nyelesaiin pesenan sarung keris buat acara nikahan ,minggu depan.”
Aris nelen ludahnya yang terasa kering. Matanya melirik ke sudut ruangan, di mana sebuah peti kayu jati yang tinggi dan gelap berdiri diam. Di atas peti itu, ada kain mori putih yang sedikit ternoda warna kuning pucat. Aris menunjuk ke arah peti itu dengan tangan yang gemetar.
“Apa itu?” tanya Aris, suaranya parau.
“Peti penyimpanan peralatan,” jawab Sofie datar. “Ibu tidak suka kalau alat-alatnya berdebu. Logam perlu perawatan konstan agar tidak berkarat.”
Aris tidak berkata apa-apa. Ia menatap Sofie yang sedang meminum air mineralnya dengan tenang. Bagi Aris, rumah ini terasa seperti sebuah ruang hampa yang terjebak di antara dunia orang hidup dan sesuatu yang lain. Namun, Sofie tampak begitu santai, seolah-olah mereka hanya sedang mengerjakan tugas kelompok di perpustakaan sekolah.
“Sofie, aku tidak tahu ibumu menjalankan bisnis ini,” kata Aris pelan, matanya terus melekat pada garis-garis ukiran di peti kayu itu.
Sofie meletakkan botolnya. Ia menatap Aris, memperhatikan bagaimana pupil mata teman sekolahnya itu melebar karena cemas, dan bagaimana otot rahang Aris mengeras menahan keinginan untuk lari keluar.
“Ini bisnis yang stabil karena permintaan selalu ada,” jawab Sofie dingin. “Orang meninggal setiap hari. Upacara adat tidak pernah berhenti. Logikanya sederhana: selama ada kematian, kami akan bekerja.”
Aris mendengus kaget. “Kau bicara soal kematian seperti bicara soal stok barang di supermarket.”
“Karena itu memang angka dan probabilitas,” sahut Sofie. “Tidak ada gunanya menambah variabel emosi ke dalam persamaan yang sudah pasti. Ibuku butuh uang untuk membayar listrik dan makan. Peti ini menjual solusi untuk masalah keluarga yang ditinggalkan.”
Ia tidak mengerti mengapa Aris tampak begitu tidak nyaman. Bagi Sofie, rumah ini hanyalah tempat kerja, persis seperti pabrik atau kantor notaris. Meja kerja ibunya tergeletak di sudut, penuh dengan kertas ukuran dan catatan pesanan. Ini adalah sistem yang efisien.
Aris melangkah maju, namun berhenti lagi ketika ia melihat sebuah gergaji kecil tergantung di dinding, berdampingan dengan paku-paku perunggu yang mengkilap. “Kau pernah... bantu ibumu?”
“Ya. Memotong kayu butuh presisi. Aku yang menghitung sudut kemiringan tutup peti agar tutupnya tidak meleset saat dipaku.”
Aris menatap Sofie dengan ekspresi yang campur aduk antara ngeri dan iba. “Tapi Sof, kau tinggal di sini. Di antara... barang-barang untuk orang mati. Tidakkah kau takut?”
Sofie mengerutkan kening sedikit. “Ketakutan adalah respon biologis terhadap ancaman fisik yang nyata. Peti kayu tidak memiliki kemampuan untuk menyerang. Hantu adalah konstruksi pikiran yang tidak memiliki basis materi. Tidak ada alasan logis untuk takut.”
Udara di ruangan itu terasa semakin panas, namun Sofie merasa justru ada ketegangan yang berbeda yang membuat ruangan ini pengap. Ia ingin Aris segera pergi. Kehadiran Aris mengganggu konsentrasinya untuk menghitung biaya bahan baku yang naik minggu ini. Sofie ingin kembali ke perhitungan logikanya, namun Aris tidak bergerak.
Aris mendekat, suaranya lebih pelan lagi, seolah-olah takut jika ada yang mendengar dari dalam dinding. “Sofie, aku pernah lihat kakak kelas kita, Rina, menangis selama sebulan setelah ayahnya meninggal. Setiap hari dia melihat foto ayahnya, dia menangis.”
Sofie menatap botol air di tangannya. “Respon emosional yang berlebihan akan menghabiskan energi dan tidak mengubah keadaan. Rina sebaiknya minum air putih dan tidur yang cukup agar sistem korteks prefrontalnya berfungsi normal kembali.”
“Tapi itu manusiawi!” sela Aris, nadanya sedikit meninggi.
“Itu tidak efisien,” balas Sofie.
Aris menghela napas panjang. Ia menatap langsung ke mata Sofie, mencoba mencari celah, mencari sedikit tanda bahwa di balik ketenangan dingin itu ada seorang gadis kecil yang merindukan kehangatan. “Sof, alasan aku datang ke sini bukan cuma karena PR matematika. Aku khawatir denganmu.”
Sofie tidak membalas. Ia hanya menunggu Aris selesai bicara agar ia bisa menutup pintu dan kembali bekerja.
“Kenapa kau tidak pernah terlihat sedih?” tanya Aris akhirnya. Pertanyaan itu meluncur keluar dengan berat, seolah-olah ia baru saja menjatuhkan sebuah batu ke dasar sumur yang dalam.
Sofie terdiam sejenak. Tangan kanannya mengusap permukaan meja yang kasar. “Sedih adalah variabel yang tidak diperlukan dalam operasi harian rumah tangga ini.”
“Bukan soal operasi, Sof. Soal perasaan,” kata Aris. “Kau tidak pernah bicara soal ayahmu. Kau tidak pernah bicara soal teman. Kau hanya bicara soal angka dan kayu.”
Sofie mendongak menatap wajah Aris. Untuk pertama kalinya, Sofie menyadari bahwa kehadiran Aris bukan sekadar gangguan, tapi sebuah ancaman terhadap sistem tertutup yang telah ia bangun. Jika Aris terus bertanya, Sofie harus membuang energi untuk menjelaskan hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal.
“Jika aku sedih, siapa yang akan menghitung margin keuntungan?” tanya Sofie balik, suaranya tetap datar. “Jika aku menangis, siapa yang akan memotong kayu jati agar ukurannya pas untuk klien yang membayar lebih mahal?”
Aris terdiam. Ia melihat sesuatu di mata Sofie, bukan ketiadaan perasaan, tapi sebuah benteng yang terlalu tinggi untuk dipanjat. Namun, sebelum Aris bisa membuka mulut untuk membalas, telinga Sofie menangkap sebuah suara.
Langkah kaki berat dan lambat mulai terdengar dari arah tangga yang menuju ruang bawah tanah. Suara itu khas, langkah ayahnya yang menggunakan sandal jepit besar dan selalu menggesekkan kaki di lantai beton setiap kali ia lelah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!