”Data! data! data! I can’t make bricks without clay.”
- Arthur Conan Doyle, The Adventure of the Copper Beeches
Suara denting sendok yang menyentuh pinggiran mangkuk semur hanya sekali, ritme mekanis yang biasa Sofie gunakan untuk mengukur kecepatan makannya. Di seberang meja, Pak Surya menyesap kopinya, uap panas menari di antara mereka sebelum hilang ditelan lampu gantung yang terlalu terang. Jam dinding berdetak dengan presisi yang menyakitkan, menandai setiap detik keheningan yang menurut Sofie, sangat tidak efisien.
Gadis itu meletakkan sendoknya, tidak dengan keras, tapi dengan posisi yang presisi di atas taplak meja. Matanya tidak beralih dari leher kemeja ayahnya yang sedikit tertutup kerah santai.
Ada sesuatu yang gak sesuai sama pola hariannya. Sofie merekonstruksi memori visualnya sejak ayahnya pulang tadi; ada butiran abu halus yang menempel di rambutnya, namun yang paling menarik perhatian adalah bau aneh yang menempel di kain kemeja itu.
“Ayah,” suara Sofie datar, tanpa intonasi yang menandakan rasa ingin tahu atau tuduhan, hanya murni transmisi informasi.
“Kenapa kemejamu ada residu bubuk mesiu di bagian kerah?”
Pak Surya tersedak. Cairan kopi hitam pekat tumpah ke meja, mengotori taplak bersih yang biasanya rapi. Ia berdehem beberapa kali, wajahnya memerah karena batuk yang tertahan, sementara tangannya panik mencari serbet.
Di sampingnya, Bu Fyfi menoleh dengan bingung, alisnya berkerut menatap suaminya, lalu beralih ke Sofie yang tetap diam saja menatap kejadian itu.
“Apa yang kamu katakan, Sofie? Mesiu? Jangan bicara gak karuan waktu makan,” sahut Pak Surya, suaranya parau namun mencoba mengambil kembali kendali atas nada bicaranya.
Dia merapikan kerah kemejanya dengan gerakan cepat, seolah-olah debu itu akan menghilang hanya dengan usapan telapak tangan yang gugup.
Sofie tidak bergeming. Dia cuma mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, matanya mengunci pandangan pada area leher kemeja ayahnya yang kini sedikit kusut karena usapan tadi.
“Komposisi kimia pada noda itu konsisten dengan sisa pembakaran propelan senjata api atau bahan peledak industri ringan. Aroma belerangnya juga samar, tapi terdeteksi oleh indra penciuman standar manusia. Penjelasan alternatif selain mesiu, apa?”
Bu Fyfi meletakkan garpu dengan pelan. “Surya, apa maksud anak ini? Kamu main ke gudang lama lagi? Itu kan bahaya, penuh debu dan bahan kimia bekas pabrik.”
Wanita itu mencoba mencari alasan logis yang bisa diterima akal sehat, namun nadanya mulai naik, menunjukkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan lagi.
“Enggak, enggak,” bantah Pak Surya cepat. Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak teratur.
“Itu cuma... sisa kembang api kemarin. Aris bawa beberapa bungkus, aku bantu bakar sisa-sisanya di belakang bengkel supaya gak meledak sendiri. Debu itu pasti beterbangan ke baju waktu aku buang abunya.”
Sofie mengerutkan kening tipis. Baginya, penjelasan itu memiliki tingkat varians kesalahan yang tinggi.
“Kembang api menghasilkan residu potassium nitrate dan sulfur, tapi tekstur di kerah baju ayah lebih kasar. Ini mengandung unsur logam seperti antimony atau barium yang biasa ada pada detonator profesional. Aris gak akan pernah mainin kembang api jenis itu. Dia alergi asapnya.”
Suasana yang tadinya hanya canggung kini mengeras menjadi es. Pak Surya menatap Sofie tajam, pupil matanya mengecil, mencoba memberikan sinyal ‘berhenti’ yang biasanya efektif pada orang dewasa lain.
Namun di mata Sofie, tatapan itu hanyalah manifestasi dari tekanan darah sistolik yang meningkat akibat kebohongan yang terancam terbongkar.
“Sofie, cukup. Makan malam harusnya gak dipake untuk eksperimen kimia imajiner. Ayahmu lelah,” potong Bu Fyfi
suaranya sedikit gemetar, seolah ia sedang mencoba menahan keretakan yang lebih besar agar tidak pecah di meja makan itu. Dia menatap suaminya, meminta konfirmasi lewat mata, namun Pak Surya hanya menunduk menatap cangkir kopinya yang sudah dingin.
Sofie mengabaikan permintaan ibunya. Baginya, kebenaran tidak memiliki jadwal makan malam.
“Kalau itu sisa pembakaran kembang api, Kenapa gak ada residu di rambutmu yang lebih tinggi, ayah? Asap akan naik. Tapi noda ini terpusat di kerah, area yang dekat dengan leher. Itu menandakan paparan lateral, mungkin saat ayah membungkuk di atas sesuatu yang baru saja meledak atau saat ayah sedang berada di dekat ledakan dengan jarak dekat.”
Pak Surya meneguk ludah yang terasa kering. Tangannya mengepal di bawah meja, memeras serbet kain hingga keringat di telapak tangannya terserap. Dia tahu persis apa yang dilihat anaknya. Pabrik lama di pinggiran kota itu memang menyimpan stok bahan peledak bekas proyek tambang yang dibiarkan terbakar semalam. Dia ada di sana untuk mengamankan surat-surat sebelum pemadam datang, tapi dia tidak bisa mengatakan itu.
“Sofie, ayah tahu kamu pintar,” desis Pak Surya pelan, nadanya melunak namun ada tepi kasar di sana.
“Tapi gak semua hal di dunia ini butuh diurai sampai ke molekul penyusunnya. Beberapa hal lebih baik dibiarkan menjadi abu, secara harfiah maupun kiasan. Sekarang, makan. Makananmu sudah dingin.”
Sofie melihat bagaimana otot rahang ayahnya mengeras. Dia melihat bagaimana ibunya menghela napas panjang dan memilih untuk diam, menatap piring makanannya seolah ada jawaban di sana. Ini adalah pola perilaku penghindaran (avoidance pattern) yang klasik. Mereka berdua memilih untuk menjaga status quo daripada menghadapi anomali yang ia temukan.
Dia memutuskan untuk mengubah taktik.
“Kalau Ayah gak bisa memberikan penjelasan logis yang konsisten, maka aku akan mengasumsikan bahwa ayah berada di lokasi ledakan besar kemarin sore di kawasan industri. Berdasarkan arah angin dan jejak ban mobilmu yang berubah dari rute biasa, probabilitasnya adalah 88 persen.”
Bu Fyfi tersentak, kursinya berderit keras.
“Surya! Apa maksud dia? Kawasan industri? Itu kan dekat dengan pabrik Pak Harto yang terbakar? Katakan padaku kamu tidak menyeret kita ke dalam masalah hukum lagi!” Suara ibunya kini pecah, menunjukkan bahwa dinding pertahanan yang dibangun ayahnya mulai retak karena presisi informasi yang dimiliki Sofie.
Pak Surya merosot di kursinya. Penyangkalan tidak akan berhasil, setidaknya tidak dengan Sofie yang melihatnya dengan mata yang tidak pernah berkedip untuk detail kecil. Ia menatap putri tunggalnya itu, melihat bayangan dirinya sendiri di masa muda, namun tanpa beban moral yang ia miliki sekarang.
“Sofie, ada hal-hal berbahaya yang terjadi di luar sana. Hal-hal yang logikamu belum bisa jangkau karena kamu belum mengerti dunia nyata.”
“Dunia nyata diatur oleh hukum sebab-akibat yang bisa dihitung,” balas Sofie tenang.
“Kalau ayah ada di sana, ada risiko paparan toksin atau ancaman hukum jika surat-surat di pabrik itu tidak sah. Aku hanya sedang melakukan manajemen risiko untuk keluarga ini. Kenapa ayah menolak untuk berkolaborasi dalam analisis data ini?”
Ada jeda panjang. Pak Surya menatap cangkir kopinya yang mulai dingin, warna cokelat di dasar cangkir itu mengingatkannya pada lumpur di tepi sungai dekat pabrik tadi. Dia tahu Sofie gak akan berhenti mengejar kebenaran, namun rahasia kelam di pabrik itu terlalu berbahaya untuk diungkap. Ada nyawa yang dipertaruhkan, bukan sekadar persamaan kimia.
Dia menarik napas dalam, lalu menatap Sofie dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat lelah.
“Tidurlah, Sofie. Besok pagi, ayah akan menjelaskan semuanya. Tapi malam ini, biarkan aku menikmati kopiku yang sudah dingin ini dalam damai. Beberapa kebenaran tidak akan lari jika ditunda semalam.”
Sofie tidak menjawab. Ia mengangguk sekali, gerakan singkat yang biasa ia lakukan saat menerima input yang belum valid, namun ia simpan dulu di memori jangka pendek.
Dia bangkit dari kursi, menyusun piring makanannya dengan rapi, dan berjalan keluar ruang makan tanpa menoleh ke arah orang tuanya yang masih terpaku dalam keheningan yang menyesakkan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!