Sofie menarik napas pendek. Aroma bunga sedap malam mengendap di langit-langit, bercampur dengan wangi hio dan parfum kembang kantil yang terlalu menyengat.
Ini bukan bau yang aneh baginya. Sejak kecil, ruang tamu rumahnya selalu dipenuhi karangan bunga.
Ruangan itu luas, berlantai ubin abu-abu, dan sekarang difungsikan sebagai ruang duka sementara. Sofie bergerak sedikit di kursinya, menyesuaikan posisi agar punggungnya tidak perlu bersandar pada dinding yang dingin.
Di depannya, Ibunya sibuk. Bu Fyfi berdiri di dekat peti mati yang masih tertutup kain beludru merah. Tangannya melayani para pelayat yang ingin tahu tentang detail ukiran kayu jati di peti itu.
Ibunya mencatat sesuatu di buku kecil, sesekali menunjuk ke arah daftar harga yang tergantung di dinding. Suara bisikan ibunya terdengar lancar, menjelaskan pilihan bunga dan jadwal pemakaman besok pagi. Sofie mengamati gerakan rahang ibunya yang tegas setiap kali menyebutkan angka biaya.
Ayahnya sudah tidak ada di sana. Pak Surya bergegas keluar tadi pagi, memegang tas kantor yang sisinya tampak menggembung. Sofie melihat ayahnya tidak memegang gagang tas itu seperti biasanya.
Bahunya terkulai sedikit ke kiri, menahan beban yang tidak hanya ada di dalam koper. Suara knalpot mobil ayahnya masih samar terdengar dari luar pagar, sebuah tanda bahwa ia pergi lebih cepat dari jadwal kerjanya yang biasa.
Sofie menunduk pada buku catatan di pangkuannya. Halaman itu kosong, hanya ada garis-garis tipis yang biasanya ia gunakan untuk rumus.
Sekarang, ia menekan ujung pensilnya ke kertas. Matanya beralih ke barisan pelayat yang duduk di kursi plastik putih. Ada seorang wanita paruh baya yang terus meratap.
Sofie menatap pelan pada kerongkongan wanita itu, menghitung detak detak tangisnya. Ia mencoba menghitung berapa tetes air mata yang jatuh per menit.
Ia perlu data. Logika menuntut variabel yang konstan. Namun tangis pelayat itu tidak bisa diprediksi. Suara wanita itu pecah, lalu hening, lalu pecah lagi.
Sofie mengernyit.
Perhitungannya terganggu oleh suara isak yang terlalu keras dari arah pintu masuk. Ia melihat seorang pria menepuk punggung wanita yang menangis tadi.
Interaksi itu tidak logis. Kenapa menepuk punggung bisa menghentikan produksi air mata? Sofie mencatat pertanyaan itu di sudut buku, meski ia tahu itu bukan rumus matematika.
Suasana ruangan terasa panas. Kipas angin di sudut berputar pelan, seolah kelelahan mengusir udara lembap. Sofie merasakan keringat kecil di pelipisnya. Ia melihat ke arah peti mati.
Foto almarhum di sampingnya menunjukkan pria dengan wajah yang tidak ia kenal. Tapi ibunya bilang itu kerabat jauh. Bagi Sofie, kematian adalah penghentian fungsi biologis.
Namun, melihat orang-orang di ruangan ini, ia melihat kematian adalah penambah variabel emosional yang tidak perlu.
Ia menutup buku catatannya dengan pelan. Ia terus memikirkan Tas kantor ayahnya yang tadi tampak berat sekali. Mengapa ayah membawa banyak dokumen ke kantor pada hari seperti ini?
Biasanya, ayah hanya membawa satu map merah. Sofie memandangi pintu depan yang tertutup. Ruang tamu ini terlalu penuh dengan orang asing.
Ia butuh ruang kosong untuk memikirkan tas ayahnya, tapi bau bunga sedap malam terus saja menginterupsi konsentrasinya. Ia mulai menghitung detak jam dinding, menunggu kapan kerumunan ini akan pergi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!