Observasi Ruang duka

1 dibaca

A
Di rumah duka, semua suara terdengar keras, kecuali yang paling jujur. —Catatan Sofie, halaman 1


Ruang tamu rumah duka itu pengap oleh aroma hio dan sesaji. Suara isak tangis merambat di dinding-dinding, memunculkan derau frekuensi rendah yang mengganggu konsentrasi.

Sofie duduk di kursi plastik paling sudut, mencatat sesuatu di buku kecilnya. Ia menghitung detik jeda antara setiap helaan napas ibunya dan durasi optimal untuk berpamitan.

“Ibu, efisiensi waktu upacara ini berkurang karena tangisan yang berlebihan,” ucap Sofie datar.

Suaranya tidak lebih keras dari gesekan daun pintu. Ia menutup buku catatannya dengan jeda presisi, tanpa peduli pada kerumunan yang menengok ke arahnya.

Baginya, emosi adalah variabel yang merusak struktur sebuah prosesi.

Bu Fyfi hanya menghela napas. Bahunya sedikit merosot saat merapikan kain penutup peti.

“Sudahlah, Sofie. Ini bukan soal efisiensi,” jawab ibunya pelan.

Wanita itu mencoba mengabaikan nada suara Sofie yang tidak memiliki intonasi empati. Bagi Bu Fyfi, anaknya itu seperti mesin yang salah pasang kabel perasa.

Sofie berdiri. Matanya mengunci pada kerumunan orang yang kehilangan arah karena duka. Ia memperhatikan bagaimana air mata memicu pembengkakan kelopak mata dan hidung meler.

Ini hanya respon biologis terhadap kehilangan sosial. Ia tidak merasakan sedih, hanya melihat proses biologis dan fungsi kelenjar yang sedang terjadi di depan matanya.

Baginya, kematian hanyalah akhir dari sebuah fungsi. Sebuah sistem yang berhenti beroperasi.

Namun, saat seorang teman sekolahnya datang melayat, pandangan Sofie tertuju padanya. Teman itu berjalan canggung, membawa rangkaian bunga yang terlalu besar untuk ruang sempit ini. Sofie menyadari ada variabel baru yang tidak bisa ia hitung dengan mudah.

Ada sesuatu dalam tatapan teman itu yang tidak sesuai dengan rumus kesedihan standar. Ia tidak menangis, tapi jemarinya gemetar saat menyentuh pundak Bu Ratna.

Sofie mengerutkan kening. Ini bukan empati biasa. Ini adalah ketegangan yang tersembunyi di balik senyum palsu. Kehadirannya di sini bukanlah sebuah kebetulan logis dalam daftar tamu yang sudah ia susun.

Sofie memilih untuk diam. Ia mundur selangkah, membiarkan dirinya tercium oleh bayang-bayang di serambi. Jantungnya berdetak dengan ritme yang sama seperti sepuluh menit yang lalu.

Tidak ada perubahan fisiologis pada dirinya, tapi otaknya mulai memproses data baru. Mengapa orang ini datang? Apa yang sebenarnya ia cari di tengah tumpukan peti dan kepedihan ini?

Ia menyipitkan mata, mengamati setiap gerakan teman sekolahnya itu. Setiap langkah kaki, setiap kedipan mata. Sofie sedang membangun algoritma baru di kepalanya, namun data yang masuk terlalu acak.

Ini adalah anomali. Ketika teman itu menoleh dan hampir menangkap perhatiannya, Sofie buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan jahitan kain di lengan jaketnya.

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa lebih berat. Bukan karena panas lilin, tapi karena kecurigaan yang mulai mengental. Sofie merasakan adanya ancaman terhadap keteraturan logikanya.

Ia harus memastikan variabel ini tidak merusak integritas pemakaman ini. Ia menunggu, menahan napas, siap untuk menginterogasi ketidaksesuaian ini dengan cara yang hanya bisa ia lakukan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk