Seekor ayam jantan sudah berulang kali berkokok sampai bosan. Sementara orang yang berusaha dibangunkan itu masih saja tertidur. Hingga unggas satu ini kesal dan cakarnya menendang batu kecil.
“Taaakk!”
Batu itu menghantam dinding luar kamar seorang pemuda. Namun tetap saja orang yang tidur disana tak segera bangun. Masih tersenyum sambil memeluk selimutnya. Sementara sinar matahari perlahan berusaha menembus celah jendelanya.
“Dok, dok, dok!”
Ketukan di pintu sudah begitu keras. Bahkan para pelayan yang ada sampai takut jika nanti roboh. Namun apalah daya mereka. Membangunkan pemuda bernama Li Wenhao memang sangat sulit. Dan kini dialami sendiri oleh ayahnya Li Guangde.
“Li Wenhao, mau sampai kapan kau tidur!”
Baru pemuda itu terbangun setengah sadar. Dia berjalan menuju ke pintu dan melepas balok kayu penguncinya. Rambutnya masih acak-acakan bahkan sempat menguap di depan ayahnya sendiri. Para pelayan ada yang sudah siap membawa seember air untuk membasuh tubuh tuan muda itu. Tetapi siapa sangka kalau pengusaha kaya itu mengambil dan menyiramkan tepat ke muka anak laki-lakinya sendiri.
“Byuuur!”
“Aufh! Arrgh! Ada apa ini?”
“Masih saja bertanya? Kau sudah terlambat untuk berangkat ke akademi!”
Mendengar itu, pemuda tadi baru panik. Dia berlarian tak tentu arah di kamarnya. Sementara pelayan lain ada yang bergegas masuk untuk membantunya menyiapkan pakaian seragamnya. Li Guangde malah memarahinya.
“Untuk apa kau bantu dia? Hah! Li Wenhao itu sudah bisa menyiapkan untuk dirinya sendiri.”
“Tapi tuan besar kasihan nanti tuan muda kalau….”
“Ah, susah memang kalian ya! Terserah kalau begitu aku tidak mau lagi menutupinya dengan alasan apapun kalau dia terlambat lagi.”
Pelayan yang tadi akhirnya bisa mendapatkan seragamnya. Lengkap dengan kain ikat rambut dan sepatu serta tas kain yang biasa dibawa oleh para pelajar di akademi. Sementara tuan muda itu masih panik sampai ia berhasil ditangkap oleh pelayan tadi. Pelayan yang sempat bawa ember sudah mengisi dengan air lagi dan langsung menutup pintu kamar.
“Apa? Jangan memandikanku disini!”
“Maaf tuan muda tapi ini harus kita lakukan daripada nyonya besar marah pada kami.”
Sekuat apa Li Wenhao menahan diri tetap saja kedua pelayan tadi memaksa. Hingga terlepas seluruh pakaian tuan muda itu. Tentu saja kedua pelayan ini sama laki-lakinya. Menggosok badan tuan muda itu dengan cepat. Lalu bergegas mengeringkannya. Pekerjaan mereka memang tak pernah berubah dari sejak pemuda itu masih jadi anak-anak hingga sekarang.
“Sudah selesai, tuan muda. Ah, aku ada yang lupa!”
“Tidak masalah aku bisa perbaiki sendiri.”
Ternyata belum diikat betul kain pada bagian pinggang. Tapi ini mudah bagi Li Wenhao dan ia bisa lakukan dengan cepat sambil berlari ke ruang makan. Disana masih ada ibu dan adik perempuannya. Namun pemuda itu tak sempat duduk. Dia hanya meraih dua Baozi berisi cacahan daging babi cincang yang masih hangat.
“Hei, kakak tidak sopan! Kalau makan itu ya sambil duduk dulu.”
“Anakku, makanlah dengan cara yang baik. Ibu tidak pernah mengajarimu seperti itu.”
“Maaf adikku yang cantik, aku sedang terburu-buru. Ibu, aku sudah terlambat untuk datang ke akademi.”
Diciumnya pipi Nyonya Wei Lian alias ibunya itu. Dan tak lupa pemuda tadi menjitak pelan kepala adiknya. Sampai protes adik perempuannya itu dengan bahasa yang tak dimengerti. Li Wenhao pun bergegas lari ke kandang kuda. Tapi pengasuh kuda berkata kalau baru saja tuan besar Li Guangde memakainya untuk pergi ke kota.
“Tidak ada kuda lain ya?”
“Kuda di sini hanya ada dua ekor, tuan muda. Apa anda lupa?”
Kesal Li Wenhao tak mendapat jatah kuda. Rupanya dua kuda yang ada telah dipakai untuk menarik kereta kuda. Ia sangat yakin ayahnya itu menaikinya untuk urusan bisnis di kota. Sementara berlari ke akademi tentu melelahkan baginya. Mau menumpang kereta kuda lain sayangnya tidak ada. Sampai dia melihat sungai dekat kediaman keluarga Li. Baru pemuda itu tersadar satu hal.
“Benar juga ya! Sungai ini arahnya menuju ke akademi dan kalau aku bisa menyebranginya pasti cepat sampai.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!