Pemuda itu mencari sesuatu. Tapi tidak menemukan benda apa yang bisa dipakainya untuk menyeberangi sungai tanpa membuat pakaiannya basah. Sampai ia dengar suara dan ternyata ada seorang lelaki tua sedang memotong bambu. Tak perlu waktu lama Li Wen Hao mendekatinya.
“Kakek Dao, ah kebetulan sekali ada disini!”
“Li Wenhao, bukannya kau seharusnya sudah berangkat ke akademi? Kereta ayahmu sudah jalan tadi.”
“Itu benar sekali! Tapi aku tadi ada urusan jadi tidak bisa berangkat bersama ayahku.”
“Haaah….anak muda sepertimu memang apa urusannya selain belajar, makan, tidur dan bermain. Lalu kau mau apa?”
Li Wenhao mau meminjam sebatang bambu yang sudah dipotong oleh Kakek Dao. Lelaki tua itu mengerutkan keningnya. Untuk apa pemuda itu memakai bambu utuh yang baru dibersihkan dari ranting serta daunnya.
“Ini bisa aku pakai untuk menyebrangi sungai.”
Baru Kakek Dao tersadar kalau salah satu bambunya sudah diambil bahkan dicemplungkan ke sungai. Tentu saja langsung mengambang. Baru pria tua itu mendekat ke arah Li Wenhao. Belum sempat dia berkata jangan, pemuda itu sudah naik ke atas bambu. Bahkan dia telah siap dengan satu batang bambu panjang lainnya yang lebih kecil sebagai dayungnya. Lalu menaikinya dengan santai dan menggunakan itu sebagai rakit daruratnya.
“Li Wenhao, hei kembalikan bambu itu!”
“Kakek Dao, aku pinjam saja nanti ku kembalikan. Tenang saja ya!”
“Tapi itu bahaya sekali! Ah, sudahlah percuma saja memberitahu anak muda itu. Dia tak akan mendengarkanku.”
Sungai ini begitu tenang aliran airnya, wajar Li Wenhao amatlah santai. Lagipula dia memang pernah melakukan hal semacam ini semasa kecil. Dia tak pernah takut jatuh hanya karena menaiki satu batang bambu ini saja. Sebab batang bambu itu berongga dan selama sepatunya tidak basah, dia bisa aman berdiri diatasnya tanpa terpeleset sedikit pun.
“Hahaaaa…! Sebentar lagi aku sampai. Eh, apa itu Guru Zhao?”
Matanya memicing untuk lebih memastikan bahwa apa yang dilihatnya itu memang benar Guru Zhao. Dia langsung melompat saat bambunya mulai mendekati bibir sungai. Pemuda itu sampai tanpa basah sama sekali bajunya.
“Nah, bambu kau disitu saja ya nanti aku kembalikan ke Kakek Dao.”
Bambu tadi jelas tak akan menanggapinya. Tapi dia perlakuan seperti hewan tunggangan. Menepuknya pelan baru dia masuk ke dalam akademi. Santai saja pemuda itu berjalan di belakang gurunya. Saat Zhao Guo Fei memasuki ruangan tempat para pelajar berada, ia sudah tahu bangku milik siapa yang kosong.
“Terulang lagi dan ini sudah ketiga kalinya ya!”
“Guru, apa maksud anda Li Wenhao?”
“Ya, siapa lagi kalau bukan dia. Aku sudah kesal memberitahunya. Sudah saatnya dia untuk di….”
“Hukum ya guru? Tapi aku hanya terlambat satu langkah darimu.”
Semua murid pun terkejut mendengar suara itu. Siapa yang menyangka kalau Li Wenhao benar-benar tepat di belakang gurunya. Bahkan jika diukur memang kakinya itu hanya selangkah saja. Termasuk Guru Zhao yang langsung melotot ketika tahu muridnya itu sedari tadi ada di belakangnya.
“Matahari saja tak pernah terlambat untuk terbit dari timur. Tapi kau sebagai pelajar justru suka mempermainkan waktu.”
“Kalau aku mampu mempermainkan waktu, pasti hari ini masih saja gelap. Sementara Matahari saja sudah berani muncul sekarang ini.”
Salah satu murid membela Li Wenhao. Dia tak bisa disebut terlambat hanya karena berada di belakang gurunya. Sebab kata terlambat bermakna bahwa seorang pelajar datang saat halaman kitab mulai dibuka. Guru Zhao hanya menghela napas panjang saja. Memang benar apa yang dikatakan muridnya. Dia akhirnya menyuruh pemuda itu duduk di tempatnya.
“Chen Bao, kau sudah menyelamatkan ku hari ini.”
Li Wenhao langsung berbisik pada sahabatnya itu. Ia tahu pemuda gendut ini akan terus membelanya. Karena dulu pun sering dirinya dibela oleh anak laki-laki dari keluarga Li itu.
“Tidak masalah kawan, aku tahu bagaimana cara mengakali Guru Zhao.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!