Bab 10 (Tamat)

0 dibaca

A

“Ckckck…seperti itu cara kalian. Eh, tadi aku belum tahu kalian mau apa?”


“Apa kurang jelas kalau tadi aku berkata mau merampok? Hah!”


“Tidak, kau tadi tidak mengatakan begitu. Tapi mau mengambil hartaku.”


“Itu sama saja TOLOL!”


“Jelas saja itu beda! Meminta itu dengan cara halus. Kalau merampok dengan cara kasar.”


“Uuh, kau mau mempermainkan ku ya!”


“Kita habisi saja dia, ketua!”


Salah satu anak buah perampok pun maju. Dia semangat sekali hendak menghabisi nyawa Li Wenhao. Tapi pemuda itu bergerak cepat menghindar. Siapa sangka pedangnya akan menancap kuat pada pohon.


“Eergh! Pedangku tidak bisa dicabut.”


“Sebaiknya kita habisi bersama saja ayooo…!”


“Tunggu, kalian semua memang tolol! Untuk apa menyerang satu orang bersama-sama. Biarkan dia bicara.”


“Nah, begitu kita bisa bicara baik-baik. Omong-omong kalian belum perkenalan diri.”


“Mana ada perampok memperkenalkan diri? Dasar kau gila!”


“Eits, jangan salah perkenalan diri ini penting. Supaya kalian bisa dikenal sebagai perampok elegan.”


“Seharusnya kalian semua tahu kalau kami ini adalah perampok bukit.”


“Perampok bukit? Tapi kita tidak sedang di bukit. Ini Hutan Pinus Muda.”


Baru para anak buah perampok saling berbisik. Memang diakui kalau ketua mereka bodoh. Sudah tahu ini area Hutan Pinus Muda. Mengapa malah memberi nama kelompok perampok bukit. Ketua tadi pun tahu dan semakin marah. Karena dia sebagai pemimpin merasa dilecehkan.


“Sudah, tidak usah dibahas. Seharusnya kau segera serahkan hartamu padaku!”


“Kau apa tidak lihat kami ini rombongan apa?”


“Hei, mataku tidak buta ya! Kalian ini rombongan pelajar.”


“Ya sudah berarti kalian tahu kita tidak bawa harta.”


Baru anak buah perampok itu tersadar. Mereka salah sasaran. Ketua perampok itu awalnya marah-marah. Tapi diperhatikan betul memang mereka ini terlihat tidak bawa apapun selain kebutuhan untuk di perjalanan.


“Benar kan apa kataku, Ketua Hu?”


“Huh! Kau benar juga. Tapi tidak mungkin kalau mereka hanya bawa kitab dan….”


Terdengar suara aneh yang sepertinya itu bukan dari mulut. Setelah disadari rupanya itu suara dari perut ketua perampok. Beberapa anak buahnya juga mengeluhkan mereka lapar belum makan. Tapi malah merampok kelompok pelajar yang jelas tak bawa apapun selain kebutuhan untuk belajar dan di perjalanan.


“Ketua Hu, kami benar-benar lapar.”


“Iya, Ketua Hu. Apa kita harus menahan lapar lagi kali ini.”


Akhirnya ketua perampok ini bingung. Mereka memang belum makan dari kemarin hanya minum air saja. Para pelajar jadi bingung semua. Kesempatan itu dipakai oleh Chen Bao untuk muncul perlahan. Lalu dibantu oleh dua murid perempuan termasuk Wang Xue. Mencoba mengobati San Bao dan Liu Ming. Sementara Li Wenhao terus saja mengalihkan perhatian para perampok.


“Kalau begitu untuk apa kalian merampok harta?”


“Iya, benar ketua. Kita ini lapar dan butuh makan.”


“Memangnya mau cari makan dimana? Hah!”


“Kita punya makanan banyak betul kan, Chen Bao?”


“Mana aku bawa itu, Li Wenhao. Kalau sekedar sayur dan bahan kering bumbu lainnya aku bawa.”


Salah satu murid mencoba menawarkan makanan yang dibawanya. Tapi langsung dilemparkan begitu saja. Membuatnya jadi gemetar lagi. Dikiranya kelompok perampok ini sudah jinak.


“Mana cukup kami makan segitu, kami mau makanan yang banyak!”


Teriakan ketua perampok itu disambut oleh para anggotanya. Guru Zhao jadi makin bingung karena apa yang dilakukan Li Wenhao malah mengalihkan saja. Dari yang tadinya ingin merebut harta jadi ingin makanan. Kini ketua perampok merebut pedang milik anak buahnya. Lalu mengacungkan pada Li Wenhao. Anehnya pemuda itu tetap saja santai.


“Kalian punya senjata, tadi kulihat ada yang punya tombak. Apa ada yang punya panah?”


“Tidak ada yang pakai panah disini.”


“Ada di markas kita, Ketua Hu. Biar aku ambil saja dulu.”


Ternyata salah satu anggota perampok itu mengakuinya. Dia langsung berlari dan tak lama kembali dengan panah lengkap dengan anak panahnya. Ternyata Li Wenhao meminta mereka untuk berburu. Ketua perampok itu marah lagi.


“Kalau kamu bisa berburu untuk apa merampok? Hah!”


Begitu marahnya sampai dilempar pedang tadi sembarangan. Beruntung tidak kena siapapun. Tapi tiba-tiba terdengar suara erangan hewan. Ternyata pedang tadi menancap persis pada badan babi hutan. Segera mereka kejar ramai-ramai. Dapatlah satu ekor babi hutan.


“Ketua Hu, kau hebat sekali!”


“Hah! Kau baru mengakui kehebatanku sekarang?”


Ternyata anggota perampok lain ada yang berhasil mengejar babi hutan lainnya. Meski awalnya dapat perlawanan, mereka bisa bawa pulang hewan itu. Belum satu orang lainnya yang bawa dua ekor kelinci putih. Li Wenhao pun bertepuk tangan. Sementara Guru Zhao hanya melongo saja.


“Lihat, kalian pandai juga berburu.”


“Tapi kamu tidak bisa memasaknya. Ah, percuma saja kalau begini!”


Mendengar itu, Chen Bao yang awalnya sibuk mengobati temannya langsung beranjak. Dia merasa terpanggil dengan kalimat keluhan itu.


“Serahkan padaku saja! Aku sudah biasa memasak babi jenis apapun. Tinggal kalian pilih mau jenis masakan apa?”


“Kami cuma mau matang saja!”


Chen Bao langsung menangani babi itu. Malah dia dibantu oleh beberapa anggota perampok untuk dapatkan air bersih. Supaya tetap terjaga kebersihannya saat dimasak. Andai San Bao tidak luka dia juga bisa masak sebenarnya. Tapi melihat kepiawaian Chen Bao saja sudah cukup bagi para perampok itu ngiler.


“Aromanya terasa lezat sekali!”


Sementara itu, murid lain malah saling bantu. Kebetulan ada yang bawa beras karena khawatir tidak bertemu dengan kedai makan. Sampai akhirnya mereka masak dadakan dan membuat Guru Zhao makin melongo. Ketika sudah jadi, Chen Bao hanya minta alas daun saja untuk disajikan. Bahkan murid akademi Bambu Kuning juga bisa makan karena dua babi hutan itu porsinya banyak. Sementara kelinci tadi cukup ditumis saja dengan rempah herbal yang kuat. Membuat aromanya lebih harum daripada sekedar dibakar biasa.


“Ini enak sekaliii…!”


Li Wenhao sampai menawarkan gurunya. Tapi karena gengsi Guru Zhao pun menolak. Dia masih rasa tak percaya bahwa seorang murid mampu meredakan kelompok perampok.


“Aku tidak makan babi!”


“Baiklah, kalau daging kelinci mungkin guru suka.”


Pada akhirnya diambil juga oleh Guru Zhao meski sambil memalingkan muka. Dia tetap masih tidak terima. Sudah begitu rasa masakan Chen Bao ini ternyata memang beda. Selama ini sudah terlalu banyak dirinya merasakan masakan yang hambar. Tetapi untuk kali ini lidahnya seperti dimanjakan.


“Kau belajar ini semua dari ayahmu, Chen Bao.”


“Tidak juga, Guru Zhao. Kadang aku hanya perhatikan saja. Betul kan San Bao?”


Sepupunya itu hanya mengangguk saja karena dia masih melayani para perampok yang minta tambah. Hingga akhirnya sesi makan pun berakhir. Para perampok tidak jadi melakukan aksi mereka. Malah kini berbalik ingin belajar seperti para murid akademi. Sebenarnya yang mereka harapkan adalah bisa hidup tenang dan makan. Tanpa perlu susah merampok lagi.


“Aku ingin belajar darimu. Tolong, terima aku jadi muridmu!”


Guru Zhao sampai bingung melihatnya. Mana mungkin akademi mau menerima murid dari para perampok. Sementara untuk belajar di Akademi Bambu Kuning juga butuh uang. Tidak gratis begitu saja. Li Wenhao pun langsung bicara lagi bahwa yang dibutuhkan saat ini bukan murid baru. Tapi pengawalan menuju ke kuil Awan Timur.


“Kalau soal itu tenang saja. Kami yang akan mengawal kalian sampai kesana.”




“Untuk pertama kalinya aku mengadakan perjalan ini bersama murid-muridku, Tuan Gu.”


Memang kuil Awan Timur menyimpan banyak kitab. Bahkan yang tak pernah disebarluarkan. Namun banyak menyimpan pembelajaran berharga. Termasuk saat mereka bersama para biksu disana. Tuan Gu Wenqing hanya tersenyum saja.


“Tapi kami benar-benar tidak mengira jika akan dicegat oleh para perampok itu.”


Tuan Gu malah tertawa keras. Ternyata dia sudah tahu kalau jalur yang ada di peta itu rawan sekali. Bahkan perampoknya aslinya tidak hanya satu kelompok itu saja. Mungkin karena sudah tak banyak yang pergi melalui jalur cepat itu, makanya mereka berpindah ke tempat lain. Sementara yang kata pemilik kedai makan itu butuh waktu lama, justru tidak disukai oleh para perampok. Sebab di sana masih banyak warga yang tinggal.


“Jadi maksud anda itu hanya untuk mengujiku saja?”


Guru Zhao pun jadi malu. Ternyata ada maksud tersembunyi dari kenapa Tuan Gu Wenqing menugaskan itu pada dia dan murid-muridnya.


“Lebih tepatnya begitu, Guru Zhao. Tapi aku tidak mengira jika kau punya murid seperti Li Wenhao.”


Para perampok itu ternyata diizinkan tinggal di akademi. Mereka ada sepuluh orang. Tuan Gu Wenqing sendiri yang memberinya izin saat melihat rombongan Guru Zhao pulang diikuti oleh mereka. Bahkan beliau sendiri yang menunjuk Li Wenhao sebagai pengawas mereka. Ternyata para perampok yang awalnya dipimpin oleh ketua bernama Hu Da itu lebih menurut pada Li Wenhao.


“Hei, ayo sapu halaman lebih bersih lagi! Hei, kau ya ambil buah yang berjatuhan itu. Ini keranjangnya ya!”


“Baik, baik, laksanakan ketua!”


Bahkan Guru Zhao sendiri yang melihatnya. Bagaimana Li Wenhao yang awalnya dianggap payah. Malah mampu menangani kelompok perampok. Bahkan mereka mau saja disuruh. Tuan Gu Wenqing sekali lagi tertawa sambil menggerakkan kipasnya.


“Setidaknya, kita tidak perlu menggaji mereka dengan uang a

tau garam. Cukup kita beri tempat dan makanan yang enak. Benar kan, Guru Zhao?”


“Anda benar, Tuan Gu. Ah, aku tidak terpikir sampai sini.”




Tamat

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk