Guru Zhao hanya bisa pasrah. Ia terus memohon agar murid laki-lakinya tidak dipukuli. Sementara Liu Ming sudah tak berdaya dengan luka di banyak bagian tubuhnya. San Bao yang ikut melawan juga tak ada bedanya. Melihat itu, Chen Bao jadi makin takut. Dia pilih bersembunyi saja.
“Li Wenhao, Kita jangan keluar lebih baik sembunyi terus disini saja.”
“Aah, terus mau sampai kapan disini? Rasanya Gatal sekali!”
“Kau alergi dengan rumput ya?”
“Bukan begitu, Chen Bao. Tidak enak tahu kulit ini bergesekan dengan rumput.”
Mereka berdua begitu berisik hingga mengundang rasa curiga pada salah satu orang yang sedang menahan perjalanan para pelajar itu. Li Wenhao tahu situasinya sulit. Tapi tidak mungkin bersembunyi terus seperti ini.
“Hei, kalian menyembunyikan sesuatu?”
“Tidak, tidak, kami tidak sembunyikan apapun. Tolong jangan sakiti kamiii...!”
Salah satu murid perempuan menangis sambil menjawab pertanyaan itu. Rupanya mereka sedang dihadang oleh para perampok bersenjata pedang dan golok. Tentu saja yang diinginkan apalagi kalau bukan harta. Namun mereka hanya rombongan para pelajar. Bukan saudagar atau para pelancong yang lewat.
“Sepertinya ada orang lain yang datang, ketua.”
“Kita jangan gegabah! Bisa jadi itu hanya hewan liar.”
Para perampok tadi makin curiga karena suaranya cukup keras. Guru Zhao pun mendengar tapi dia mungkin lupa kalau sempat meninggalkan kedua muridnya sebelum sampai sini. Sementara sang kusir sudah diikat agar tak berusaha lari atau melawan dengan membawa kereta barang itu.
“Chen Bao, aku yang akan jadi pancingan. Sekarang kau harus menuruti perkataanku.”
“I-iya, tapi apa yang mau kau lakukan?”
Salah satu perampok itu mendekat ke arah keduanya. Tetapi tiba-tiba ada pergerakan yang lebih cepat. Anggota lainnya langsung mengawasi kemana arahnya. Tiba-tiba Li Wenhao jalan dengan santai sambil memanggul cangkulnya. Seolah tak terjadi apapun sama sekali. Dia bahkan masih bisa bersiul.
“I-itu Li Wenhao…gawat! Untuk apa dia datang kemari?”
Salah satu murid langsung menunjuk ke arah Li Wenhao. Membuat yang lainnya ikut melihat. Para perampok langsung menghadangnya. Mereka tampak beringas tapi entah kenapa langkahnya terhenti. Pemimpin mereka yang awalnya ikutan lari jadi menabrak salah satu anak buahnya.
“Kenapa malah berhenti? Hah!”
“Ketua, lihatlah orang itu santai saja sambil bawa cangkul. Berarti dia punya senjata juga.”
“Lalu kau bawa golok juga. Untuk apa takut padanya dasar bodoh!”
“Ketua tidak lihat? Gayanya santai begitu pasti dia pandai bela diri.”
“Sepertinya tidak sama sekali, dia malah tampak bodoh bagiku. Hei! Kau pasti bagian dari rombongan ini ya?”
Li Wenhao lalu berhenti sambil menurunkan cangkulnya. Dikira anak buah perampok itu ia akan menunjukkan aksinya. Tapi malah mengorek kotoran hidungnya dengan santai.
“Mereka siapa aku tidak kenal!”
Ketua perampok itu lalu maju saat Li Wenhao berbalik aah. Dia kini yang menghadangnya sendirian sambil mengacungkan pedangnya. Tapi pemuda itu tidak takut sama sekali. Masih ia memegang cangkulnya.
“Kau jangan bohong ya! Pakaianmu sama dengan mereka.”
“Benarkah? Tapi pakaian seperti ini bisa dibeli di pasar.”
“Li Wenhao, berhati-hatilah mereka itu para perampok!”
“Hei, Pak tua! Kau diam saja disini jangan teriak-teriak ya!”
Kaki Guru Zhao langsung ditendang oleh anak buah perampok tadi hingga terjatuh. Li Wenhao pun melihatnya dan dia berpura-pura kalau ternyata dia kenal dengan gurunya itu. Lalu berusaha mendekatinya tapi dihalangi oleh ketua perampok.
“Hah! Sudah cukup kau berpura-pura ya. Sekarang serahkan hartamu padaku!”
“Harta? Apa kau buta ya! Aku tidak bawa apapun selain cangkul ini. Kenapa malah kalian paksa aku ini keluarkan hartaku disini?”
Sang ketua yang kesal langsung mengayunkan pedangnya. Tapi cepat ditangkis bahkan sekuat apa dia tidak mampu mematahkan gagang cangkul yang dipakai untuk menepis serangannya tadi.
“Uh, kau kuat juga ya!”
“Wah, terima kasih ya atas pujianmu. Aku memang orang yang kuat.”
Malah Li Wenhao bangga sambil berusaha memamerkan ototnya. Tentu saja tak terlihat karena lengan pakaiannya saja sudah panjang. Belum lagi memang ototnya tidak seperti para pendekar. Murid lainnya yang awalnya dalam kondisi takut malah jadi kesal melihatnya.
“AKU TIDAK SEDANG MEMUJIMU BODOH!”
“Traang!”
Kali ini pedang sang perampok menghantam bagian besi dari cangkul Li Wenhao. Sementara pemuda itu masih santai saja. Guru Zhao menatapnya heran. Sebab caranya menangkis seolah sudah tahu betul pergerakan si ketua perampok ini.
“Caramu melawan payah sekali. Apa aku tidak salah dengar kau dipanggil ketua tadi?”
“Bedebah kau ya!”
Untuk kali ini Li Wenhao memakai cangkulnya hingga benar-benar membuat pedang sang perampok terbang entah kemana. Kesal dia merasa dikalahkan begitu. Tapi pemuda itu masih santai saja. Sementara perampok lainnya sudah bersiap menghajarnya ramai-ramai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!