Seorang gadis cantik berpakaian formal khas korporat melangkahkan kakinya dengan lemas, make upnya minimalisnya sudah luntur berganti dengan peluh dan debu yang ia serap hasil perjalanannya dengan motor matic kesayangannya.
Hijabnya sedikit berantakan karena tertiup angin akibat perjalanan pulang kerjanya yang cukup menguras tenaga.
“ Ra, Si Ruru belum pulang, bisa jemput di lapangan nggak? Tadi katanya mau main layangan, udah mau maghrib, “ ini lagi suara fantastis sang Ibunda Ratu merepet tanpa henti mengusik indra pendengaran Shabira yang kemudian naik ke kepalanya.
Shabira tambah pusing. Mau membantah tapi Rara alias Shabira ini takut dosa sama emaknya.
Jadilah ia misuh-misuh sendiri kembali ke motor maticnya yang tadi sudah masuk garasinya. Damn. Sialnya lagi si mamat alias motor matic nya malah tak bisa dinyalakan.
Shabira melihat indikator bensin. Whaaattt?? Kosong? Gadis itu mencebik kesal. Huhu, lengkap banget hari ini ya Alloh.
Tapi diam-diam masih bersyukur habis bensinnya pas sampai di rumah. Bayangkan seandainya tadi di tengah jalan, harus dorong, cari SPBU atau bensin eceran, duh apa nggak lemas tuh lutut.
“ Bu, motornya abis bensin!!” Seru Shabira. Ibu yang sedang membawa spatula dari arah dapur menghampiri Rara dengan wajah tak mau tahunya. Ibu mendengus.
“ Terus?” Ibu ratu malah melihat Shabira dengan pandangan kejam. Ya Alloh dosa nggak sih kesal sama emaknya sendiri yang super jutek kayak gini. Shabira menghela nafas panjang.
“ Yaaa palingan pulang sendiri bu, biasanya juga kan, biarin aja lah“ Ucapan Shabira langsung terhenti saat ibunya memandanginya dengan tatapan laser yang menusuk pertahanan Shabira. Gadis itu mengkeret. Mode Singa emaknya udah on ini.
“ Adik kamu itu navigasinya eror Ra, dari lapangan nanti malah kemana-mana, liat tuh langit udah mulai gelap gimana kalo nyasar lagian kamu punya kaki dipake atuh Rara, cenah mau langsing, mau body goals tapi kamana-mana pake motor. Sok atuh sekarang tah itung-itung olahraga Ra,“ Ibunda Ratu kalau sudah campur-campur gini bahasanya berarti bakal tambah panjang pidatonya.
Shabira memijat pelipisnya yang mendadak berat karen kepusingannya kian bertambah. Punya adik satu kok bikin repot banget ya.
Sepanjang jalan Shabira ngedumel-dumel tak jelas. Ia tak sadar dari arah belakang sejak tadi ada seseorang yang diam-diam ikut berjalan mengikutinya.
Seorang cowok tinggi bertampang cool yang sedari tadi memperhatikan nya.. Shabira yang tak sadar diikuti berjalan dengan cepat. Sampai sneakernya tiba-tiba menginjak kerikil yang cukup besar.
Gadis itu beristighfar keras. Shabira hampir saja terjatuh. Tubuhnya oleng ke samping dan hampir saja terjerembab jatuh kalau saja sebuah tangan tak sigap menangkapnya. Menahannya sehingga Shabira tak jadi menyentuh tanah. Shabira mengucap syukur. Namun ia lantas terkesiap kaget. Terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Lebih terkejut lagi dengan tangan yang tadi sudah menangkapnya.
Pemilik dari tangan yang menyelamatkannya itu menatapnya dingin. Shabira menahan gemuruh di dadanya yang tiba-tiba datang.
“ Dasar ceroboh,” ucap si laki-laki si pemilik tangan kekar yang masih berada di lengan Shabira. Tatapannya tajam. Menghunjam langsung ke dada Shabira.
Gadis itu meradang. Alih-alih ingin berterimakasih Shabira terlanjur kesal dengan kehadiran lelaki itu. Atau lebih tepatnya dengan wajah lelaki yang sudah berusaha ia hilangkan sejak lama. Namun tak pernah berhasil.
“ Nggak usah nolong kalo nggak tulus!” Shabira menepis tangan Gerhana, lelaki yang ada di sampingnya itu sedikit kasar.
“ Attitude Shabira zonk ya, masih sama kayak dulu,” lelaki itu malah menahan langkah Shabira yang hendak lanjut berjalan. Shabira sontak menghentikan langkahnya.
“ Maksudnya?” Shabira melipat tangannya ke depan dadanya. Menatap tajam ke arah wajah dingin di sampingnya.
“Nggak bisa bilang makasih,” ujar Gerhana datar. Shabira mendengus. Antara kesal dan sibuk menahan debar jantungnya yang tak selaras dengan apa yang terjadi saat ini.
Mestinya Shabira marah bukan malah seperti menahan rindu seperti ini. Gadis itu menghela nafas sejenak sebelum menjawab.
“ Fine, makasih,” ucap Shabira datar. Terkesan dingin. Shabira memasang wajah juteknya saat ia kemudian berjalan mendahului Gerhana yang ternyata malah seperti mengikutinya. Atau seperti mengawalnya.
Shabira mendelik kesal. Ia menghentikan langkahnya. “Apa sih Ge, duluan gih,” sembur Shabira galak. Bukannya menciut Gerhana malah ikut berhenti dan menatap tajam Shabira dengan mata elangnya nan tajam.
Tak ada satupun kata terucap. Shabira kesal sendiri. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal sebelum kemudian berjalan cepat meninggalkan Gerhana yang sepertinya sengaja menyamai langkahnya.
Shabira yang tak mau ambil pusing dengan keberadaan Gerhana tetap berjalan walaupun ia cukup kesulitan untuk menenangkan debaran jantungnya yang benar-benar tak aman.
Gadis yang masih memakai stelan kerja itu sibuk mengedarkan pandangan matanya ke arah lapangan bola yang luas itu untuk mencari-cari keberadaan adiknya di sana.
Sampai ia tak sadar ia berjalan agak ke tengah jalan dimana sebuah sepeda motor dari arah belakang tiba-tiba melintas dengan cepat dan hampir saja menyerempet Shabira yang lengah. Sreeet.
Lagi-lagi tangan kekar dari pemiliknya yang berbadan tinggi tegap itu menahan badan Shabira agar tak jatuh. Posisinya mengakibatkan Gerhana seperti tengah memeluk Shabira. Jarak mereka cukup dekat untuk saling bertatapan sepersekian detik.
Namun cukup singkat untuk membuat debaran jantung keduanya sama-sama berdetak lebih cepat. Rona merah semburat di pipi Shabira.
Gerhana tak langsung melepaskan pegangannya atau lebih tepatnya dekapannya dari Shabira. Lelaki 25 tahun itu menatap lekat wajah Shabira dengan pandangan yang sulit diartikan. Shabira menahan nafas. Aroma maskulin dari tubuh Gerhana membuatnya hilang fokus sesaat. Ia pun malah menatap Gerhana. Mereka pun saling bertatapan dalam diam.
Namun ada rasa yang semakin tak bisa mereka bendung. Gerhana semakin lekat menatap Shabira yang tampak cantik meski riasannya sudah luntur sejak tadi. Justru kecantikan alaminya membuat Gerhana tak bisa memalingkan wajahnya lagi. Posisi mereka yang bisa membuat orang salah paham itu bertahan beberapa saat.
Sampai Shabira yang melihat adiknya sedang berlarian membuat gadis cantik itu melepaskan tangan Gerhana. Entahlah sepertinya Gerhana nampak sedikit kecewa saat Shabira melepaskan tangannya.
“ Makasih Ge,” ucap Shabira perlahan tanpa berani memandang wajah Gerhana seperti tadi. Shabira memusatkan perhatiannya dalam mencari adiknya.
Shabiru, sang adik terlihat sedang berlarian dengan Tirta, adik Gerhana. Sepertinya laki-laki itu juga sedang mencari adiknya. Tak lama kedua bocah itu melihat kakak-kakak mereka di pinggir lapangan.
Mereka kemudian berlari ke arah Gerhana dan Shabira. Namun tujuan mereka ternyata cuma satu orang. Gerhana. Dimana lelaki itu menyambut Shabiru dan Tirta dalam satu pelukan dengan senyum hangat. Senyum yang sedari tadi tak didapat oleh Shabira. Shabira mendengus kesal. Bisa-bisanya adiknya mengabaikannya hanya karena ada Gerhana di situ.
Tapi diam-diam Shabira merasa hatinya menghangat tatkala melihat Shabiru dan Tirta begitu nyaman di pelukan Gerhana. Masing-masing di sebelah kanan dan kiri lelaki itu.
“ Dicariin ibu, pulang yuk,” ajak Shabira kemudian. Setelah pelukan kedua bocah pada Gerhana itu terlepas. “ Ruru mau sama kak Gege, sama Tirta juga,” ucap Shabiru membuat Shabira mencebik kesal.
Shabira menatap Gerhana yang diam saja. Tapi bibirnya menahan senyum melihat kekesalan Shabira. Dasar si jutek.
“ Kita pulang bareng aja, mau mampir beli es krim dulu nggak?” Tawar Gerhana yang mendapat pekikan girang dari kedua bocah 6 tahun itu.
Mereka lantas berlomba lari untuk sampai di minimarket yang terletak di ujung lapangan bola itu. Shabira yang melihat kelakuan adiknya merasa semakin pusing saja, ia lantas memijat pelipisnya yang berdenyut dengan tangan kiri.
Akan tetapi gadis berhijab navy itu kaget saat tangan kanannya tiba-tiba diambil oleh Gerhana. Ditariknya ke genggamannya.
“ Ayo Ra,” Gerhana menarik Shabira untuk mengikuti kedua bocah tadi. Shabira membeku sesaat karena kaget tak bisa mengelak atau menolak.
Entah mengapa ia menurut saja saat Gerhana menggandengnya.














Navigasi eror? Sama dong kaya saya 🤣