ANCAMAN MANIS

1 dibaca

A

Keesokan harinya di rumah Shabira dengan kesibukan pagi yang seperti biasanya. Ramai dan penuh drama. Bahkan Shabira berulang kali berpikir untuk indekost atau kontrak saja karena ia seringkali sudah migrain setiap pagi melihat adik kecilnya Shabiru dan Ana, sang ibunda ratu yang kerap kali terlibat adegan-adegan drama yang membuatnya sakit kepala.

“ Ruruuuu, jangan main di kamar mandi, cepet udah siang.”

“ Makanan jangan dibuang-buang, mubazir.”

“ Kaos kakinya sebelah lagi mana? Ya ampun ini anak ya, Raaa coba bantuin adikmu Ra,” tuh kan akhirnya Rara juga yang kena.

“ Pake yang lain aja,” tukas Shabira cepat. Tak mau repot tepatnya.

“ Shabira…. “ Hemm mode singa ibunya hampir muncul ini. Shabira gegas turun dari kursi makannya dan ikut pura-pura mencari sebelah kaos kaki yang raib itu.

“ Kak Rara nggak bener nyarinya bu?” Celetuk Shabiru yang kemudian ditutup mulutnya oleh Shabira.

“ Mau jajan nggak? Tapi sekarang pake yang lain dulu ya kaos kakinya, biar cepet,” bujuk Shabira dengan berbisik pelan pada adiknya.

Shabiru lantas menganggukkan kepalanya. Ternyata iming-iming jajan tadi berhasil membuat lelaki kecil itu mau menurut. Shabira tersenyum senang.

“Ibu, Ruru pake yang lain aja bu nggak apa-apa kok,” seru Shabiru santai. Ibu sampai mengernyitkan dahinya melihat kekaleman si bungsu yang biasanya ngenyelan ini. Ia menatap Shabira yang pura-pura tak tahu.

“ Udah berang sekarang yuk, “ ajak Shabira kemudian.

Tapi Shabira seketika gadis yang kali ini sudah cantik dengan pakaian formal bernuansa abu hitam itu mematung.

“ Waduh motor kakak nggak ada bensinnya Ru!” Seru Shabira.

“ Yaaah Ruru gimana dong kak?” Keluh Ruru. Karena ibu tak mungkin untuk mengantarkan Shabiru karena harus sudah berangkat ke sekolah yang berlawanan arah dengan sekolah Shabiru.

“Kakak pesen taksi online aja deh, anterin kamu dulu!” Ujar Shabira dengan lemas. Masalahnya ini akhir bulan dengan budget bulanannya yang sudah kembang kempis. Tapi mau bagaimana lagi, naik transportasi umum yang lain malah bikin harinya makin ambyar dengan segala kemacetannya nanti.

Shabira merutuki kecerobohannya sendiri yang tak sadar bensinnya habis.

Shabiru masih ngomel-ngomel sementara ibu sudah berangkat lebih dul dengan mobil peninggalan ayahnya. Ibu memang guru SMP yang tak ingin didahului muridnya untuk sampai di sekolah katanya.

“ Coba masih ada ayah ya kak, “ Shabiru tiba-tiba berkata yang membuat Shabira mencelos hatinya. Seketika langsung teringat almarhum ayahnya yang telah meninggalkan mereka selama-lamanya tiga tahun lalu saat Shabiru masih sangat kecil.

Shabira tak menjawab. Ia sedang kesal dengan taksi online yang dipesannya kembali membatalkan pesanannya. Shabira sudah di di teras depan rumahnya bersama Shabiru yang juga sudah siap dengan seragam TK dan tas gendongnya.

“ Kak jajan sekarang aja,” pinta Shabiru pada Shabira.

Shabira melihat jam tangan Seiko di pergelangan tangannya. Masih ada waktu. Gadis itu mengangguk lalu memberikan uang pecahan 10 ribu pada adiknya itu.

“ Jangan dijajanin semuanya, sisain buat nanti juga,” ujar Shabira setengah berteriak karena adiknya itu sudah melesat berlari menuju warung yang terletak di ujung komplek.

Tak lama Shabiru malah kembali dengan menumpang sebuah mobil yang sudah Shabira hafal hanya dari suaranya saja. Mobilnya Gerhana.

“ Kak, Ruru ketemu sama Kak Gerhana, katanya sekalian bareng aja sama Tirta juga,” Shabiru yang duduk di kursi belakang bersama Tirta tampak tertawa-tawa dan berceloteh riang.

Shabira menghela nafas. Antara malu dengan perkataan adiknya yang jelas-jelas mengumbar aibnya bahwa motornya habis bensi dengan debaran di dadanya yang kerap hadir setiap kali lelaki itu berada di dekatnya. Netranya seolah tak mau berpaling dari sosok tegap berambut pendek yang turun dari arah kemudi dan berjalan menuju Shabira itu.

“ Dasar ceroboh,” lagi-lagi kata menusuk itu yang didapat Shabira dari Gerhana. Shabira bingung dengan perasaannya sendiri. Ia jelas kesal dengan ucapan Gerhana yang tanpa filter itu tapi ia juga tak bisa menampik pesona lelaki berbadan jangkung itu. Bahkan sejak dulu.

Shabira memasang tembok judesnya. Ia melotot tajam ke arah Gerhana yang memandangnya dengan tatapan yang lebih lembut sari biasanya.

“ Apa sih, duluan aja sana,” usir Shabira yang jelas bertentangan dengan kehendak hatinya. Inginnya sih ia diajak bareng kalau tak mau terlambat sampai di kantornya. Shabira akhirnya hanya bisa merutuki taksi online yang tak bisa ia dapatkan saat itu.

Gerhana mencebik. Lelaki itu tak berkata apa-apa hanya membukakan pintu penumpang dan mengedikkan sedikit kepalanya mengkode Shabira untuk segera masuk.

Gengsi Shabira yang masih tinggi masih belum juga luluh. Gerhana kembali berdecak pelan. Ia melangkah mendekati Shabira yang masih tak mau bergeming dadi tempatnya.

Gerhana yang pagi ini begitu terlihat maskulin dengan setelan celana hitam dan kemeja hitamnya membuat Shabira menahan nafasnya. Terlebih kedekatan mereka yang hanya berjarak beberapa centi itu membuat pertahanan Shabira hampir runtuh.

“ Shabira Almahyra, masuk ke mobil kalau nggak mau aku cium aku disini sekarang juga, di depan adik kamu, “ bisik Gerhana penuh penekanan dan dominasi yang membuat Shabira membelalakkan matanya. Hah?? Maksudnya apa??

Shabira sejenak linglung setelah mendengar kalimat absurd Gerhana yang barusan masuk ke indera pendengarnya. Ia masih normal. Tidak budeg ataupun tuli.

Gerhana tersenyum sinis.

“ Shabira, beneran mau dicium ya kamu.. “ Gerhana semakin mendekatkan tubuhnya dan wajahnya ke arah Shabira yang pipinya sudah memerah. Dominasi Gerhana pada akhirnya meluluhlantakkan pertahanan yang Shabira ciptakan sendiri.

Shabira menahan dada Gerhana dengan tangannya saat Gerhana semakin merangsek mendekatinya.

“ I-iyaaa, gu- eh aku masuk sekarang, “ Shabira yang biasanya berkata jutek kali ini melemah dengan suara yang hampir tak terdengar. Gadis itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil yang sudah teebuka sejak tadi.

Gerhana tersenyum miring dan berlanjut dengan terkekeh ringan tanpa diketahui Shabira. Senyum kemenangan tersungging samar di bibir lelaki berparfum maskulin itu.

Shabira tak mau melihat ke arah Gerhana yang tadi menatapnya tajam saat ia masuk ke dalam mobil. Gadis itu mengeratkan genggamannya pada tas kerja di pangkuannya. Membuang pandang ke arah jendela mobil.

Sementara itu di belakang, Shabiru dan Tirta sama sekali tak mempedulikan ketegangan yang terjadi di antara kakak-kakaknya itu. Mereka sibuk tertawa, bercanda satu sama lain.

Shabira sadar, perjalanannya kali ini ke kantor akan terasa berbeda dan akan terasa lebih lama dari seharusnya. Shabira memejamkan matanya. Berharap perasaannya membaik setelahnya.

Tapi Shabira salah besar, karena suasana hatinya menjadi kembali tak karuan saat suara berat Gerhana menyapu telinganya.

“ Nanti sore pulang kerja aku jemput ya Ra, nggak ada tapi, nggak ada bantahan!” Nada suara Gerhana yang tak mau menerima penolakan itu jelas membuat Shabira menoleh cepat dan membolakan matanya sempurna.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk