“Nanti sore pulang kerja aku jemput ya, Ra. Nggak ada tapi, nggak ada bantahan!” Ujar Gerhana tenang namun tegas dan dominan.
Shabira menoleh cepat. Matanya membulat sempurna.
“Apaan?” Gadis itu memandang Gerhana kesal. Lelaki itu selalu memaksakan kehendaknya tanpa ampun.
Gerhana tetap fokus pada jalan. Seolah kalimat barusan bukan sesuatu yang baru saja membuat jantung seseorang di sampingnya berhenti bekerja selama beberapa detik.
“Aku bilang nanti sore aku jemput, Shabira” ulangnya datar. Penuh penekanan dengan menyebutkan namanya. Tanpa mengindahkan tatapan Shabira yang semakin tajam.
“Kenapa?” tanya Shabira dingin.
“Karena motor kamu nggak ada bensin,” Gerhana berkata menahan geli.
Shabira terdiam. Setengah malu. Wajahnya merona. Benar juga.
“Tapi aku bisa naik kendaraan umum,” elak Shabira. Mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.
“Bisa.” Gerhana tetap gigih.
“Bisa pesan ojek online.” Tukas Shabira
“Bagus, ” lelaki bermata hitam itu masih menjawab datar.
“Terus kenapa harus kamu yang jemput?” Shabira akhirnya menoleh ke arah Gerhana. Terpaksa.
Gerhana akhirnya melirik sekilas. Mata hitam Gerhana dan manik hitam hazel milik Shabira beradu tatap. Ada desiran yang sulit dijelaskan pada keduanya. Shabira membuang muka. Tak ingin Gerhana tahu perasaannya.
“Karena aku mau.” Gerhana pun sudah memalingkan wajahnya ke arah depan. Namun perasannya yang kini tertinggal pada gadis cantik itu.
Jawaban sesederhana itu justru membuat Shabira kehilangan kata-kata. Ia kembali menatap keluar jendela.
“Geer.” Shabira kini menunduk.
“Apa?” Gerhana pura-pura tak mendengar.
“Siapa juga yang bilang aku mau dijemput kamu?” Shabira tetap menahan gengsinya yang tinggi.
“Makanya aku nggak nanya.” Gerhana mengulum senyum
Shabira mendengkus. Dasar menyebalkan. Gerhana memang selalu begitu. Selalu punya jawaban untuk setiap bantahannya.
Padahal sejak dulu lelaki itu memang seperti itu. Tidak banyak bicara. Tidak terlalu suka menjelaskan. Tetapi selalu melakukan sesuatu tanpa diminta. Justru itu yang paling membuat Shabira kesal.
Karena semakin Gerhana memperlakukannya seperti seseorang yang penting, semakin sulit bagi Shabira untuk mempertahankan tembok yang selama ini ia bangun.
“Kak Gerhana,” suara Shabiru dari kursi belakang membuat keduanya menoleh.
“Apa?” hampir serempak Shabira dan Gerhana menjawab. Padahal yang ditanya adalah Shabira.
“Nanti kalau Kak Gerhana jemput Kak Shabira, Ruru ikut ya?”
“Boleh.” Gerhana tersenyum
“Yeay!” seru Shabiru girang
“Eh, nggak boleh!” potong Shabira cepat. Shabiru langsung cemberut.
“Kenapa?” Shabiru terlihat kecewa. Ia mendesah kecil. Mukanya merengut lucu.
“Karena Kakak mau pulang sendiri.” Shabira tetap pada pendiriannya.
“Katanya Kak Gerhana jemput, “ Rajuk Shabiru membuat Gerhana tersenyum penuh kemenangan.
“Ya, tapi.. “ Shabira bingung dengan kalimat penolakannya yang pastinya akan dipatahkan oleh Gerhana.
“Berarti Kakak sama Kak Gerhana pacaran?” Shabira hampir tersedak udara. Tirta, adik Gerhana tertawa menyebalkan.
“Tirta!” seru Shabira jelas kesal. Lain halnya dengan Gerhana sendiri yang hanya tersenyum tipis.
“Belum, “ jawab Gerhana kalem. Seketika itu juga Shabira menoleh tajam.
“Belum apanya?” Shabira bertanya dengan nada kesal tapi deg-degan. Gerhana mengangkat sebelah alis.
“Belum pacaran,” ulangnya dengan menahan senyum.
“GERHANA!” Shabira menoleh. Tatapannya tajam. Tanpa senyum. Matanya berkilat dengan kemarahan yang terpendam. Raut wajahnya menegang.
“Apa?” Gerhana menjawab tenang dan lembut. Sama sekali tidak terpengaruh akan Shabira yang mendelik tajam.
“ Jangan ngomong sembarangan, aku nggak suka,” ancam Shabira. Gerhana terdiam. Ada sekilas kekecewaan tersirat di netra hitamnya. Lelaki yang kali ini tampak maskulin dengan pakaian kerjanya ini menghela nafas.
“Aku tahu, maaf, tapi Ra jangan pergi sama orang lain,” Gerhana berkata tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
Belum sempat Shabira menjawab Gerhana telah menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah TK Shabiru dan Tirta. Shabira terpaksa menunda keinginannya untuk kembali berdebat dengan Gerhana. Gadis berhijab dusty pink itu sibuk membenahi kedua bocah itu bergantian dan member petuah sebelum kedua anak itu masuk ke dalam sekolah setelah salim pada kedua kakaknya dan melambaikan tangannya.
Gerhana diam saja. Ia tepekur dengan kejadian beberapa menit sebelumnya.
“ Kak Gege,” bisik Shabiru perlahan saat lelaki kecil menyalimi tangan Gerhana.
“ Heum.. “ Sahut Gerhana juga setengah berbisik.
“ Jangan berantem terus ya sama kak Rara, nanti nangis, kak Rara suka nangis kalo abis berantem sama kak Gege loh,” bisik Shabiru yang membuat Gerhana terhenyak. Matanya memandang Shabira yang tengah sibuk mengobrol dengan Tirta, adiknya.
“ Kakak janji nggak akan buat Kak Shabira nangis lagi,” Gerhana tersenyum sementara tangan kokohnya mengusap kepala.Shabiru lembut.
Shabiru mengangguk dan bergabung dengan Tirta untuk segera melangkahkan kaki mereka ke sekolah. Shabira mengerutkan dahi saat melihat Gerhana diam saja.
“Kenapa?” tanyanya setelah kembali berada di dalam mobil Gerhana.
“Aku tetap jemput kamu Ra, “ kembali Gerhana menegaskan. Shabira mencibir kesal.
“Kalau aku mau pulang sama teman?” tanya Shabira.
Gerhana menatapnya beberapa detik.
“ Shabira Almahyra…” Gerhana melemparkan tatapan dominan penuh kharisma yang membuat Shabira sedikit terkejut.
“ Maksa,” ujar Shabira menekuk wajahnya.
Gerhana tersenyum miring. Senyum kemenangan.
“Karena aku tahu kamu akhirnya tetap akan menungguku.”
Setelah mengatakan itu, mobil melaju meninggalkan halaman kantor. Shabira berdiri terpaku. Mereka sudah sampai di gedung 7 lantai tempat Shabira bekerja sebagai salah satu Marketing Staff di Advertising Company.
“Nyebelin.” Shabira merengut. Ia bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih pada lelaki yang kerap membuat hatinya bak rollercoaster ini.
Sementara itu Gerhana melajukan mobilnya sangat lambat seolah enggan meninggalkan gadis tetangganya selama belasan tahun itu. Wajah ayu yang sejak ia pertama mengenalnya perlahan memenuhi hampir seluruh sudut hatinya.
Senyum tertahan tersungging di bibirnya. Masih dilihatnya gadis cantik itu berdiri di depan gedung kantornya. Wajah ayunya tampak sedikit merengut.
Gerhana meraba dadanya. Debaran kencang di dadanya selalu berusaha ia tepis keras dengan menekankan bahwa Shabira hanyalah gadis tetangga yang tak mungkin ia miliki.
Namun semakin keras Gerhana menepis rasa itu semakin kuat pula hatinya tertambat pada gadis ayu yang terkenal jutek dan tidak ramah itu.
Berkali pula Gerhana mencoba menyakiti gadis itu dengan membuatnya kecewa, marah hanya karena ia ingin Shabira membencinya.
Tapi kali ini, sejak almarhum ayah Shabira berwasiat padanya. Ah bukan, bukan karena almarhum ayahnya yang menitipkan Shabira padanya, jauh sejak lama perasaannya tak bisa lagi ia dustakan.
Kali ini Gerhana ingin jujur pada perasaannya sendiri bahwa ia tak ingin kehilangan Shabira. Ia tak mau lagi menyakiti hati gadis ayu itu.
“ Shabira.. “ gumam Gerhana dengan tangan yang menggenggam kotak itu lebih erat. Seolah menyalurkan segala perasaannya ke dalam kotak itu. Perasaan yang telah lama ada. Perlahan namun pasti Gerhana tak ingin menampiknya lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!