Bab 01

BAB 1 — PATRICK

1 dibaca

A

Malam itu, Patrick duduk di bangku kayu di depan sebuah warung kecil, menatap gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah berdinding papan. Cahaya bulan menggantung di antara awan, sementara lampu jalan yang redup hanya menerangi sebagian jalan berlumpur. Bau sampah bercampur dengan asap rokok dan aroma makanan dari warung yang hampir tutup. Di seberang jalan, seorang pemulung mendorong gerobak yang penuh barang bekas, melewati dua anak kecil yang masih berlarian meski hari sudah larut.

Kawasan itu tidak pernah benar-benar tidur. Selalu ada orang yang baru pulang bekerja, pengamen yang mencari sisa uang, atau seseorang yang duduk di sudut gang dengan tatapan kosong. Beberapa rumah menampung keluarga besar dalam ruangan sempit. Anak-anak tumbuh di antara suara pertengkaran, utang yang menumpuk, dan janji orang tua bahwa keadaan akan membaik suatu hari nanti.

Patrick sudah terbiasa melihat semuanya. Dia bahkan tidak lagi tertarik menebak berapa banyak orang di kawasan itu yang belum makan malam. Baginya, tempat seperti ini memiliki satu kelebihan yang sulit ditemukan di tempat lain: selalu ada orang yang membutuhkan uang, dan kebutuhan itu membuat mereka lebih mudah menerima tawaran yang tidak akan dipertimbangkan orang lain.

Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok, lalu menyelipkan sebatang di antara bibir. Korek api menyala sebentar, menerangi wajahnya yang tampak lelah. Dia mengisap rokok itu sebelum mengembuskan asap ke udara malam.

Patrick membenci pekerjaannya.

Dia tidak suka harus menghabiskan waktu di tempat seperti ini, berbicara dengan orang-orang yang hidupnya berantakan, lalu meyakinkan mereka bahwa pekerjaan yang ditawarkannya adalah kesempatan bagus. Namun, rasa tidak suka itu tidak pernah cukup kuat untuk membuatnya berhenti. Uang yang diterimanya terlalu besar dibandingkan dengan apa yang bisa dia hasilkan melalui pekerjaan biasa.

Lagi pula, dia tidak pernah merasa bertanggung jawab atas keputusan orang lain. Dia hanya menawarkan pekerjaan. Mereka yang datang sendiri, mendengarkan penjelasannya, lalu menerima tawaran tersebut. Setidaknya, begitulah cara Patrick membenarkan dirinya setiap kali rasa bersalah muncul tanpa diundang.

Malam ini, dia menunggu empat anak yang telah dijanjikan akan datang bersama. Informasi mengenai mereka sudah diterimanya beberapa hari lalu. Usia mereka masih muda, tidak semuanya bersekolah, dan keluarga mereka membutuhkan uang. Patrick tidak perlu mengetahui cerita hidup mereka secara terperinci. Dia hanya perlu memastikan mereka bersedia bekerja dan tidak berubah pikiran setelah mendengar jumlah gaji yang ditawarkan.

Seorang lelaki tua yang mengenakan kaus kusam melewati bangku tempat Patrick duduk. Di punggungnya tergantung karung besar berisi botol plastik dan kardus. Lelaki itu berhenti sejenak untuk mengatur posisi karungnya sebelum melanjutkan perjalanan.

Patrick memperhatikannya sekilas, lalu kembali menatap jalan.

Beberapa menit kemudian, empat sosok muncul dari ujung gang.

Mereka berjalan beriringan sambil membawa tas kecil. Pakaian mereka tampak lusuh, dan sandal yang dikenakan salah satu dari mereka sudah hampir putus. Anak yang berjalan paling depan sesekali menoleh untuk memastikan ketiga temannya masih mengikuti. Mereka berhenti ketika melihat Patrick, lalu saling berbisik sebelum akhirnya mendekat.

“Pak Patrick?”

Patrick membuang abu rokoknya ke tanah dan berdiri. “Iya. Kalian yang mau kerja di kapal?”

Keempat anak itu mengangguk.

“Nama kalian siapa?”

“Rangga, Pak,” jawab anak yang berdiri paling depan.

“Dimas.”

“Jula.”

“Opi.”

Patrick memperhatikan mereka satu per satu. Tidak ada yang terlihat lebih tua dari lima belas tahun. Tubuh mereka masih kurus, wajah mereka masih menyimpan sisa kepolosan anak-anak, tetapi kebutuhan hidup telah memaksa mereka mencari pekerjaan yang seharusnya belum perlu mereka pikirkan.

“Umur kalian berapa?”

“Lima belas semua, Pak,” jawab Rangga.

“Benar?”

Mereka kembali mengangguk.

Patrick memasukkan rokoknya ke dalam bungkus, lalu mengambil sebuah map tipis dari tas yang diletakkan di samping bangku. “Kalian sudah dijelaskan soal pekerjaannya?”

“Katanya kerja di kapal cumi, Pak,” jawab Dimas. “Nanti menangkap cumi, terus bantu awak kapal.”

“Betul. Kalian akan ikut berlayar. Kerjanya memang berat, tetapi gajinya lumayan. Makan juga disediakan selama bekerja.”

Opi yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah. “Kalau sudah selesai, kami langsung boleh pulang, Pak?”

Patrick menatapnya sebentar. “Kalau masa kerja kalian selesai, tentu saja. Semua ada aturannya.”

Jawaban itu terdengar cukup masuk akal bagi anak-anak yang belum pernah bekerja di kapal. Mereka tidak tahu aturan seperti apa yang dimaksud Patrick, dan tidak ada yang terpikir untuk menanyakan lebih jauh. Bagi mereka, kesempatan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tetap sudah lebih dari cukup.

Rangga melirik teman-temannya. Dia melihat Dimas mulai tersenyum, sementara Jula masih memperhatikan map di tangan Patrick. Opi tampak sedikit gugup, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Besok kalian berangkat ke pelabuhan,” kata Patrick. “Pastikan barang bawaan tidak terlalu banyak. Bawa pakaian secukupnya. Kalian tidak perlu membawa macam-macam.”

“Kalau ponsel boleh dibawa, Pak?” tanya Dimas.

“Boleh. Tapi jangan sampai hilang.”

Dimas mengangguk puas. Dia memang memiliki ponsel lama dengan layar retak yang dibelinya dari seorang tetangga. Ponsel itu satu-satunya barang berharga yang dia miliki, selain beberapa pakaian dan sandal yang dipakainya setiap hari.

Patrick kemudian memberikan selembar kertas kepada Rangga. Di sana tertulis waktu dan tempat mereka harus berkumpul, disertai beberapa petunjuk singkat tentang keberangkatan.

“Jangan terlambat. Ada orang yang akan menjemput kalian di sana.”

“Baik, Pak,” jawab Rangga.

Patrick mengangguk, lalu meraih tasnya. Urusannya dengan keempat anak itu selesai untuk malam ini. Dia tidak perlu berbicara panjang lebar atau menjelaskan terlalu banyak. Tawaran pekerjaan dan janji gaji sudah cukup untuk membuat mereka datang.

Sebelum beranjak pergi, dia sempat menoleh sekali lagi. “Kalian harus saling membantu selama bekerja. Di kapal, jangan membuat masalah. Dengarkan arahan orang yang lebih tua.”

Keempat anak itu mengiyakan.

Patrick berjalan meninggalkan warung, melewati gang yang sama, lalu menghilang di antara rumah-rumah yang berhimpitan. Dia tidak menoleh lagi. Dalam pikirannya, malam itu hanyalah satu urusan kecil yang telah selesai. Masih ada beberapa anak lain yang harus dia temui, beberapa nama yang harus dia catat, dan sejumlah uang yang harus dia terima setelah semuanya beres.

Sementara itu, Rangga dan teman-temannya tetap berdiri di depan warung.

“Jadi, besok kita benar-benar berangkat?” tanya Opi.

“Iya,” jawab Rangga sambil melihat kertas di tangannya. “Katanya gajinya lumayan.”

Dimas langsung menyeringai. “Kalau aku sudah dapat gaji pertama, aku mau beli motor bekas. Biar nggak perlu jalan kaki terus.”

“Motor bekas juga mahal,” kata Jula.

“Ya, makanya kerja dulu. Masa baru mulai sudah dilarang bermimpi?”

Rangga tertawa kecil. Opi ikut tersenyum, Jula hanya menggeleng melihat tingkah Dimas.

Mereka kemudian berjalan pulang bersama, melewati gang-gang sempit yang sudah mereka kenal sejak kecil. Malam masih terasa seperti malam biasa. Di beberapa rumah, televisi masih menyala. Dari sebuah warung terdengar suara orang bercakap-cakap, sementara seorang ibu memanggil anaknya agar segera masuk.

Tidak ada yang tampak berbeda. Namun, bagi keempat anak itu, besok adalah awal dari sesuatu yang baru. Mereka membayangkan laut yang luas, pekerjaan yang mungkin melelahkan, dan uang yang bisa dibawa pulang setelah masa kerja selesai. Mereka belum tahu bagaimana rasanya hidup jauh dari keluarga, apalagi menghadapi orang-orang yang belum pernah mereka kenal.

Malam itu, mereka tidur dengan harapan sederhana bahwa pekerjaan tersebut akan mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Di tempat lain, Patrick sudah tiba di sebuah kamar sewaan. Dia meletakkan tasnya di atas meja, membuka map, lalu memeriksa daftar nama yang tersimpan di dalamnya. Empat nama telah diberi tanda. Di bawahnya masih ada beberapa nama lain yang menunggu giliran.

Patrick menutup map itu dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Besok, mereka akan berkumpul di pelabuhan dan kapal akan berangkat sesuai jadwal.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk