Kamu sedang membaca sebagai tamu. Masuk untuk memberi vote, menyukai, menyimpan, dan berkomentar.
MasukRenata Maharani tidak pernah datang pelan-pelan. Ia datang dengan sepatu hak, senyum berbahaya, dan kemampuan membuat satu lantai kantor pura-pura sibuk hanya karena ia berhenti di meja seorang staf finance baru. Bagi Renata, ketertarikan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan terlalu lama. Kalau ia memilih, ia maju. Kalau ia menginginkan sesuatu, ia akan mengetuk pintunya—atau menendang sopan kalau pintunya terlalu lama ditutup. Satria Mahendra tidak siap untuk perempuan seperti itu. Hidupnya sudah cukup penuh dengan angka, tanggung jawab keluarga, probation, dan harga diri yang ia jaga mati-matian agar tidak terlihat retak. Ia hanya ingin bekerja rapi, pulang tepat waktu, dan tidak menjadi bahan gosip kantor. Sayangnya, Renata punya cara sendiri untuk merusak ketenangan itu: lewat kopi, roti minimarket, pesan kurang ajar, tatapan terang-terangan, dan kalimat-kalimat yang membuat Satria ingin menghilang sekaligus tetap tinggal. Di antara jabatan yang timpang, kantor yang mudah bicara, keluarga yang terlalu pandai menilai, dan dua orang yang sama-sama keras kepala, Renata dan Satria belajar bahwa rasa suka tidak selalu datang dengan cara manis. Kadang ia datang seperti kekacauan berpakaian rapi. Kadang ia membuat seseorang jengah setengah mati. Dan kadang, justru dari semua kegilaan itu, ada satu orang yang akhirnya memilih tidak lari.


Belum ada komentar. Jadi yang pertama!