Bab 1

3 dibaca

A

Siang ini, sepasang suami istri berusia 40 tahunan. Ber stelan rapi melangkah di koridor sekolah menengah atas dengan agak tergesa-gesah. Lelaki yang tua sudah berada di depan pintu yang bertuliskan ‘KANTOR KEPALA SEKOLAH’ sebelumnya lelaki itu mengetuk pintu terdahulu.




“Masuk.” Suara itu menginterupsi seseorang yang mengetuk pintu.




“Siang.”




“Siang. Silahkan masuk Pak Panji.”




Sepasang Suami Istri itu memasuki ruangan kepala sekolah.




Di sana sudah ada seorang gadis berseragam SMA yg duduk di depan sang Kepala Sekolah.




“Em ... ada masalah apa lagi ya pak?” Sang Ibu bertanya.




“Begini Bu, anak Ibu ... Liyah berbuat ulah lagi.”




“Berbuat ulah gimana lagi ya?”




“Liyah kepergok sedang merokok di halaman belakang sekolah.”




HENING!




sang Ibu menatap anak gadis satu satunya yang tengah duduk anteng di sofa yang tersedia di ruangan pak kepala sekolah.




Liyah, gadis itu tampak acuh dengan apa yang di adukan sang kepala sekolah pada kedua orang tua nya.




Tatapan sang Ibu sangat nanar, mendengar kabar bahwa putrinya kepergok merokok? Apa? Merokok?




Dia wanita, masih gadis?




Apa yang membuatnya jadi seperti ini?




Sang Ibu beralih ke kepala sekolah.




“Jadi mohon maaf Pak Panji yabg terhormat, putri anda Ainun Awwaliyah harus dikeluarkan dari sekolah, karena dia sudah banyak melanggar peraturan sekolah,” ucap pak Joko selaku kepala sekolah.




“Apa tidak ada solusi yang lain, pak? selain di keluarkan?” Panji, sang Ayah mencoba untuk negosiasi.




“Saya mohon maaf pak, jangan keluarkan Liyah dari sekolah dulu. Saya mohon, beri anak saya satu kesempatan lagi!” Afifah, sang Ibu mengibah, meminta kesempatan lagi.




Pak Joko terdiam sejenak.




“Pak tolong pertimbangkan lagi keputusan anda. Saya rasa Liyah tidak mencemarkan nama baik sekolah, jadi tolong Jangan keluarkan Liyah dari sekolah!” Panji berucap.




“Iya pak! Liyah juga sudah memberikan beberapa prestasi nya, walaupun hanya dalam bidang non-akademik!” Afifah menambahi.




Pak Joko masih diam berpikir.




Liyah, gadis itu masih memainkan jemari kukunya.




Pak Joko berdeham, lalu sekilas menoleh ke arah Liyah. Mata tua pak Joko kembali menatap kedua wali dari muridnya.




“Baik. Akan saya beri satu kesempatan lagi! tapi maaf, dua Minggu ini Liyah harus menjalani masa skors dan saya harap bapak dan ibu selaku orang tua memberikan beberapa wejangan pada Liyah agar bisa menjadi yang lebih baik dari sebelumnya,” Tegas pak Joko.




“Terimakasih pak! terimakasih banyak pak!” Panji menyalami pak Joko.




Keluarga kecil itu sudah berlalu dari sekolah.






*




“pyaar ... .” Panji membanting vas bunga yang berada di ruang tamu.




“Pa ... .” Afifah menginterupsi, ia tahu bahwa suaminya itu akan melepas kontrol emosi nya pada putri semata wayangnya, Liyah.




“Berapa usia mu, Liyah?” tanya Panji dengan nada tegas.




“Yaelah pa ... gak perhatian banget sih sama anak sendiri!” Liyah menggerutu.




“Jawab!” lebih tegas.




“18 pa,” jawab Liyah.




“Bagus, jadi selama 18 tahun ini papa biayain kamu hanya untuk mencoreng nama baik keluarga! gak guna, punya satu anak yang sukanya cuma bikin onar aja!” Panji meluapkan amarahnya.




“Yaudah papa bikin anak lagi aja sama wanita lain,” jawab Liyah enteng.




Gadis itu melupakan satu hal.




Satu hal yang membuat mamanya meneteskan air mata.




“Dasar kamu ... anak gak guna,” amarah Panji benar benar sudah di ujung tanduk.




“Sudah pa ... sudah ... .” Afifah mencoba menengahi.




“Anak itu sudah tidak bisa di kasihani lagi ma!”




“Sudah pa ... lebih baik papa istirahat aja, jangan banyak marah marah,” ajak Afifah, suaranya serak bersamaan dengan isak tangisnya.




“Ayo! papa gak tahan, lama lama punya anak kayak dia,” ujar Panji mengiyakan ajakan istri nya untuk ke kamar.








Liyah menghela nafas.


‘Apa aku salah telah mengatakan nya? Kenapa mama menangis? Bukankah lebih baik jujur dan menyakitkan dari pada harus berbohong?’ batin Liyah.




‘Aku tahu, sejak lama rahim mama sudah di angkat, karena penyakit kista dan keguguran secara bersamaan.’ pikir nya.




Tapi mereka tidak pernah memberi tahu apapun pada Liyah. Seakan akan Liyah bukan siapa siapa bagi mereka. Itulah yang dipikirkan Liyah lebih dulu.






Liyah menghempaskan badannya di kasur queen size yang berada di kamar nya.




Kamar bernuansa putih ini selalu memberinya ketenangan, lebih tenang dan nyaman dari pada pelukan orang tua nya.




Orang tua yang gila kerja, hanya uang, uang dan uang.




Seberapa pentingkah lembaran kertas itu?




Liyah memang selalu menerima uang bulanan nya dengan tepat waktu. Sengaja, walau sebenarnya dia mempertanyakan seberapa pentingnya lembaran kertas itu!




Dia hanya berharap dan berusaha menghabiskan uang uang itu, berharap agar papa nya bangkrut dan uang uang sialan itu segera pergi dari keluarga nya.




Tapi apakah keluarga nya bisa hidup tanpa uang?




‘Aku bosan hidup seperti ini. Hidup yang hampa.’ Liyah menjerit dalam benak nya.




*






Pukul 20.00 wib.




Malam menyapa, begitu juga bulan dan bintang yang selalu bersama, menemani sunyinya malam yang gulita.




Liyah sedang mematut diri di depan cermin, sambil memoleskan sedikit lipt tin di bibir mungilnya. Lalu meraih tas Selempang miliknya.




Dia bergegas keluar dari kamar, melewati ruang tengah yang sepi.




Rumah besar ini benar benar sunyi, tak pandang siang atau malam, sepi seperti kuburan.




Liyah melangkah Santai keluar rumah, malam ini ia akan bertemu dengan pacarnya.




Maklum malam ini adalah malam Minggu, bahkan di malam malam lainnya ia selalu pergi bersama pacarnya.




“Brum ... brumm ... .” Motor Ninja berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang rumah Liyah.




Tanpa turun untuk menyapa, si lelaki pengendara motor hanya melempar senyum pada Liyah.




“Ayo langsung jalan yang!” ajak Liyah yang sudah berada di boncengan.




Tanpa menjawab, si lelaki langsung menyalakan kembali mesin motornya dan berlalu.




Dalam perjalanan menuju cafe favorit, keduanya hanya diam.




Tak ada yang memulai perbincangan sama sekali, hanya tangan Liyah saja yang semakin erat merangkul tubuh pacarnya, sambil menyandarkan kepalanya di punggung si lelaki.




CAFE.




sepasang kekasih yang baru saja memasuki cafe Shreema langsung menuju ke tempat yang biasa mereka gunakan, agak menjorok ke pojokan.




“Kamu mau apa?” tanya si pacar.




“Mau kamu aja,” jawab Liyah dengan senyum manisnya.




Si pacar menghela nafas. “Gombal mulu!”




“Gak papa dong, kan sama pacar sendiri!”




“Iya iya sayang nya aku!”




“Lemon tea aja yang,” ujar Liyah kemudian.




“Oke sayang, aku pesenin dulu!”




Iqbal, laki laki yang telah 3 tahun menjalin kasih dengan Liyah.




Satu satunya laki laki yang mampu memahami Liyah luar dalam.




Sosok yang baru Liyah temukan pada diri laki laki yang ia kenal, sifat pengertian.




Juga satu satunya laki laki yang tau masalah keluarga Liyah.




Sosok Iqbal adalah penenang bagi Liyah.




“Ini sayang, pesanan sepesial buat kamu,” ucap Iqbal sembari duduk berhadapan dengan Liyah.




“Makasih sayangku!” Sikap manja Liyah hanya muncul ketika bersama dengan Iqbal. Untuk orang lain, Liyah memasang tampang garang, karena dia tahu, satu satunya orang yang tulus menyayangi dan menemaninya hanyalah Iqbal.




Teman sekolahnya atau yang lain, semua nya sama seperti orangtuanya, hanya peduli dengan uang.




Liyah bahkan tahu dengan jelas mana teman yang benar benar menjadi teman atau hanya orang yang numpang hidup padanya.




Hanya ada satu orang yang benar benar menjadi teman bagi Liyah setelah Iqbal, dia Acha.




Tanpa di sadari, tangan besar Iqbal menggenggam tangan mungil Liyah, sedikit meremas jemari kecil sang kekasih.




“Kata Acha, tadi kamu ngelanggar peraturan lagi ya?” tanya Iqbal.




“Heum ... .” Sambil menganggukkan kepalanya.




“Apa hukumannya?”




“Aslinya tadi aku udah mau kena sanksi sama pak Joko, buat di keluarin dari sekolah, tapi tadi mama sama papa mohon mohon sama pak Joko! Jadi aku cuma di skors selama 2 Minggu,” Jawab Liyah antusias.




“Emang kamu buat ulah apa lagi? Kok bisa sampai kena sanksi bakal di keluarin dari sekolah?” Iqbal bertanya santai, seakan segala ancaman dari pihak sekolah hanya hal lumrah di dapat oleh sang kekasih.




“Aku ... ngerokok!” Liyah menjawab dengan senyum.




“Uhuk ... uhuk ... apa? Kamu ngerokok?” Iqbal sampai terbatuk karena mendengar pelanggaran yang dilakukan oleh pacarnya tadi siang di sekolah.




Iqbal memang tidak satu sekolah dengan Liyah. Usianya saja terpaut 3 tahun, jadi Sekarang Iqbal sudah kuliah 6 semester. Tapi mereka berpacaran sejak Liyah kelas 3 SMP dan Iqbal kelas 3 SMA.




“Iya ... padahal aku berharap banget buat di keluarin dari sekolah!” ujar Liyah polos.




Iqbal menghela nafas.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk