Bab 2

0 dibaca

A

“Jangan dong,” ucap Iqbal.


“Tapi aku udah bosen di sekolah, aku tuh gak pinter pelajaran pelajaran kayak gitu ... em kayak fisika, biologi. Aku tuh cuma suka ngelukis doang,” jelas Liyah.


“Emang kamu nggak mau kuliah ngelukis di Paris?” Iqbal bertanya.


“Ya pengen lah yang! kan itu impian aku!”


“Tapi di Paris itu cuma nerima siswa yang berprestasi,” ujar Iqbal sarkas, membuat Liyah mengerucut kan bibirnya.


Kesal dengan ucapan pacarnya.


“Loh aku jujur itu, negara maju kayak Paris itu gak nerima siswa yang gak lulus SMA!”


“Ih ... Jahat banget sih sama pacar sendiri!” Gerutu Liyah.


“Makanya ... Kamu jangan males kalo di suruh belajar!”


“Aku kan gak suka!” Elak Liyah.


“Entar gak bisa kuliah bareng aku loh!”


“Biarin wleehh ... .”


“Eh ... mau nih LDRan sama aku? Entar kalo kangen, mentok juga cuma bisa VC doang! Kagak bisa peluk peluk kayak gini loh!” Iqbal merangkul bahu Liyah.


“Auh ah gelap!”


“Yah ngambek nih” Iqbal menoel pipi Liyah.


“Ih ... apaan sih? Noel noel pipi segala?” Liyah menggerutu.


“Yah, ngambek beneran! Gak papa deh yang penting masih jadi pacar.” Sekilas Iqbal mengecup pipi Liyah.


“Ih ... kenapa di cium sih?”


“Pengen aja!”


“Dasar cowok!”


“Ih ... emang kamu sukanya sama cewek? Pantes kalo aku cium cium selalu marah marah.” Iqbal tertawa geli.


“Ish ... nyebelin banget sih, aku mau cabut aja lah!”


“Kemana?”


“Tempat biasanya.”


“Aku anterin!”


“Gak usah, aku naik taksi aja!”


“Gak, pokoknya aku anterin! Gak bakal aman kalo kamu pergi sendirian!” Iqbal menggenggam erat tangan Liyah.


“Yaudah ayok buruan ish ... .”


Keduanya berjalan ke area parkir cafe.


*


tempat remang ini sudah penuh dengan halayak manusia dari berbagai usia dan kasta.


Termasuk Liyah dan Iqbal.


Club, salah satu tempat Liyah melepas penat nya.


Liyah sudah asyik menari di dance floor dengan semangat, sedang Iqbal mengawasi nya dari mini bar.


Ruangan ini benar-benar membuat kepala Iqbal pening, jika bukan karena ia ingin menjaga kekasih nya, pasti ia tak kan pernah masuk ke tempat laknat ini.


“Ayo kesana yang!” Liyah baru saja menghampiri Iqbal.


“Enggak, udah di sini aja kamu!” Tolak Iqbal.


Liyah menurut. “Minuman gue mana Jack?” Liyah bertanya kepada pelayan bar tender.


Seorang laki-laki yang di tanyai Liyah langsung menyodorkan segelas wine pada Liyah.


Gadis itu menerima segelas kecil berisi cairan yang berwarna dan berbau pekat itu, lalu dengan sekali tegakan, minuman itu tandas.


Iqbal menatap sayu kekasih nya.


Bagaimana ia bisa merubah sikap Liyah yang urakan menjadi yang lebih baik?


“kamu mau minum?” Liyah menawari Iqbal.


“Gak usah!” Tolak iqbal.


“Udah, jangan minum lagi!” Iqbal menghentikan Liyah yang berniat untuk memesan minuman beralkohol itu lagi.


“Tapi aku pengen ... .”


“Gak baik buat kesehatan kamu kalo banyak banyak minum alkohol.”


Liyah tersenyum karena Iqbal mencegahnya untuk terus minum, dia senang ternyata masih ada orang yang perhatian padanya.


“Tapi kan masih 2 gelas yang!”


Iqbal menghela nafas.


“3 gelas lagi yach, please! Kalo segitu pasti aku udah mabuk kok, yach?” Liyah memohon.


“Enggak sayang, udah ya ... Ayo pulang aja!” ajak Iqbal.


“Yaudah kamu pulang aja dulu!” ucap Liyah enteng.


Iqbal menghela nafas berat, ia kalah lagi dengan Liyah.


Liyah tersenyum penuh kemenangan,


akhirnya Iqbal mau menuruti keinginan nya.


Laki laki itu benar benar mencintai dan ingin menjaga Liyah.


“Oke fine! Tapi kamu gak usah turun ke dance floor lagi! Di sini aja, entar kalo kamu udah mabuk kita langsung pulang!” tegas Iqbal.


“Syiapp ... sayang!” Liyah mengecup pipi Iqbal cepat.


Iqbal terperanjat kaget atas perlakuan Liyah yang tiba tiba, ini kali pertama nya Liyah mengecup pipi Iqbal setelah 3 tahun lamanya berpacaran dengan Liyah.


‘ah ini efek mabuk!’ batin Iqbal.


Liyah kembali menegak wine yang di berikan oleh jack. Tubuhnya sedikit limbung ke pangkuan Iqbal, tapi Iqbal langsung menarik pinggang Liyah ke pangkuan nya dan merangkul pinggang liyah dengan erat, memeluk nya, menghirup aroma tubuh kekasihnya dalam dalam.


“Pulang ya?” bisik Iqbal dan segera memapah tubuh Liyah keluar dari club.


Saat iqbal menaikkan tubuh Liyah ke atas jok motor nya, Liyah memeluk erat leher Iqbal.


“Aku pulang ke apartemen kamu aja yach!”


Iqbal diam sejenak kemudian mengiyakan.


Perjalanan ke apartemen Iqbal di isi dengan keheningan, hanya terpaan keras angin malam yang menyapa, kedua tangan Liyah memeluk erat tubuh Iqbal, matanya mulai tertutup, kesadaran atas jiwanya perlahan mulai menghilang.


*


APARTEMEN.


Iqbal menggendong Liyah ala bridal style dengan cepat ke kamar nya.


Di apartemen ini hanya ada satu kamar, dengan segera Iqbal membaringkan tubuh Liyah ke kasur miliknya, lalu menyelimutinya sampai dada.


“Malam sayank, selalu jadi yang terbaik ya!” Iqbal mengecup kening Liyah.


PAGI


Liyah mengerjap-ngerjapkan kelopak mata nya, menyesuaikan cahaya yang masuk melalui gorden kamar.


‘Ini bukan kamar gue!’ batin Liyah.


Liyah baru sadar kalau kamar yang ia tempati adalah kamar milik Iqbal.


Liyah beranjak dari tempat tidur, berlalu menuju ruang tengah.


“Udah bangun?” Iqbal bertanya dari arah dapur.


Liyah menghampiri Iqbal dan langsung duduk di meja makan yang berbentuk persegi.


“Udah mandi?”


“Males!”


“Dasar jorok!”


“Biarin, jorok jorok begini juga kamu masih mau cium cium aku aja!”


“PD banget!”


“Emang! seorang Liyah itu harus PD !”


“Iyain aja deh,udah yuk sarapan dulu, habis itu aku anterin kamu pulang!”


Liyah segera melahap roti bakar yang di sodorkan Iqbal pada nya.


“Emang kamu nggak kuliah?”


“Kuliah lah, tapi nganterin kamu dulu!”


“Aku di sini dulu aja deh!”


Iqbal mengerutkan keningnya.


“Ya jangan lah, nanti papa mama kamu nyariin gimana?”


“Ngapain mereka nyariin aku?”


“Ya kamu kan anaknya, pokoknya habis ini aku langsung anterin kamu pulang ke rumah!” tegas Iqbal.


“Entar sore aja deh, habis kamu pulang kuliah aja yach?” Iqbal diam, tak menghiraukan permintaan Liyah, ia tetap melanjutkan makan paginya.


“Ayolah yang. Lagian aku kan gak sekolah, entar aku gabut di rumah sendiri an, lagian kalo jam segini rumah masih sepi, kamu tega?” Liyah menunjukkan pupy eyes nya.


“Janji, pokoknya cuma Sampek sore ya!” Iqbal menatap tajam liyah.


“Iya yang suwer!”


“Ya udah aku tinggal ke kampus gak papa ya?”


“Iya.”


“Jangan keluyuran jauh jauh!”


“Oke deh.”


*


SORE


sesuai perjanjian Iqbal mengantarkan Liyah pulang ke rumah nya setelah selesai kuliah.


Sampai di rumah Liyah, Iqbal ikut turun.


“Kamu ngapain ikut turun?” tanya Liyah,


saat melihat Iqbal ikut turun dari motor juga.


“Nganterin kamu sampai depan pintu, sekalian mau ketemu calon mertua kalo ada.” Iqbal langsung menarik tangan Liyah masuk ke halaman rumah nya.


Liyah agak linglung ketika Iqbal menarik tangan nya.


Sebelum sepasang kekasih itu sampai di depan pintu rumah, pintu berwarna putih besar itu sudah terbuka lebih dahulu, menampilkan sosok pria paruh baya berwajah tegas tanpa senyum dengan alis tebal yang saling bertautan.


Iqbal ikut menampilkan senyum ramah nya.


“Sore om, kenalkan saya Iqbal!” Sapa Iqbal masih dengan senyum ramah.


Tak ada jawaban, hanya tatapan tajam menusuk yg berkata.


“Saya kesini mau nganterin Liyah, kemaren dia nginep di tempat saya!”


“Kemana saja kamu Liyah?” Panji mulai dengan pertanyaan tajam.


“Kepo banget sih pa!” jawab Liyah cuek, pandangan nya masih pada Iqbal.


“Siapa?”


“Dia pacar aku pa!”


“Sejak kapan?”


“Udah lama!” Liyah bertambah ketus.


Sedangkan Iqbal menahan nafas melihat interaksi anak dan bapak yang berada di ambang kemarahan.


Iqbal gusar dengan sikap Liyah yang menjawab terlalu lancang pertanyaan papa nya.


“Udah sayang!” bisik Iqbal pada Liyah.


“Sini kamu!” Panji menarik lengan putri nya mendekat ke arah nya.


Liyah tersentak kaget akibat perlakuan sang papa, Indra penciuman Panji menangkap aroma yang aneh, aroma alkohol, minuman keras.


Panji menatap tajam Iqbal.


“Oh jadi kamu yang suka bawa anak saya keluar malam dan nongkrong di tempat kamu? Berapa banyak kamu mencekoki anak saya dengan minuman keras, Hah?” Panji berucap dengan nada tinggi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk