Bab 11

0 dibaca

A

Sebelum bercerita Asfa lebih dulu mengambil sebuah buku dalam lemari bajunya, buku yang agak lusuh itu pun dibuka. Menampilkan sederet foto orang orang yang pakaiannya sama persis dengan KH. Husein, memakai pakaian serba panjang dan tertutup, baik perempuan maupun laki-laki.




“Pertama, Kyai Husein itu asli orang Semarang, orang tua beliau juga merupakan keluarga dari pesantren yang terkenal yakni Pondok pesantren Dar Al-Faruq. Kemudian beliau di jodoh kan dengan Bu nyai Halimah. Nah Abah nya Ning Halimah ini adalah pendiri pesantren Almunawwar, sedang kan kyai Husein sebagai menantu pertama menjadi penerus pengasuh pesantren ini.” Sambil menunjuk beberapa foto dalam bukunya, ada foto-foto orang tua bersorban.




“Nah, dari pernikahan ini, Alhamdulillah beliau di karuniai empat anak, tiga laki-laki dan seorang perempuan.




Putra pertama, bernama Agus Muhammad Sa’id Murtadho.










Beliau lulusan S2 Kayro Mesir dan sudah menikah dengan Ning Lailatul Mustanfiroh, akrab dipanggil Ning Ila, beliau itu blasteran Palestina dan Indonesia.




Beliau beliau ini sudah di karuniai dua orang anak, yakni Agus Muhammad Syifa’ dan Ning Rowiyah, mereka kembar loh, lucu imut-imut gimana gitu.”




“Eh ... kok semua namanya Agus sih?”




“Oh ... itu bukan nama Liyah, itu kayak sebuah panggilan gitu loh ... semua anak kyai, nama depan nya itu di beri panggilan Agus dan Ning. Itu bukan nama asli, hanya sekedar panggilan aja, biar beda!” Ucapan Asfa di akhiri dengan tawaan kecil.




“Oh gitu ... .”




“Oke lanjut, putra ke-2 kyai Husein adalah Agus Muhammad Kahfa Alil Mafakhir. Beliau ini putra yang paling hebat di antara semua putra kyai Husein, karena apa? Karena ... pertama, di usia nya yang baru 26 tahun beliau sudah menamatkan pendidikan kuliah jurusan tarbiyah, tafsir, dan kedokteran, semua nya di lakukan dengan jalur Excel/unggulan secara 2 tahun 2 tahun!”




















“Masak sih? Kok pinter banget?” gumam Liyah.




“Beneran Li, beliau aja ambil jurusan kedokteran sampai dapat gelar doktor dan profesor!” Asfa bercerita menggebu-gebu, tatapan matanya menatap memuja pada foto yang ditunjuk nya tadi.




“Udah gitu beliau itu kerja sebagai dokter spesialis juga seorang dosen di universitas Indonesia, hebat kan?”




“Lah kok sekarang di sini? bukannya dokter spesialis itu super sibuk yah?” tanya Liyah heran.




“Em ... katanya sih beliau udah berhenti jadi dokter!”




“Kenapa?”




“Di suruh Abah yai, karena di pesantren kekurangan guru untuk mengajar,” jelas Asfa.




“Oh ... .”




“Tapi beliau masih jadi dosen di Universitas Indonesia, aktif juga di berbagai organisasi baik di dalam atau di luar pesantren, pokoknya beliau itu paling keren, dan satu satunya putra kyai Husein yang kuliah kayro-Belanda, itu aja perminggu bolak balik kayro-Belanda buat ngebut kelulusan wisuda!”




“Dia udah nikah belum?”




“Belum sih ... tapi nih ya, jangan bilang siapa-siapa yach ?”




Liyah mengangguk pasti.




“Katanya beliau mau dijodohin sama Ning Elyah dari Banjaran Kediri, yang merupakan teman beliau waktu kecil!” Asfa berbicara pelan pelan.






















Liyah tersenyum tipis.




“Berapa usia nya sekarang?”




“Siapa?”




“Ih ... yang tadi ... Gus kahfa!”




“Oh ... kalau gak salah sih, usia 29 on the way 30 tahun kayak nya.”




“Owh ... udah tua ya ... .” Liyah bergumam.




“Emang, tapi beliau ganteng kan?”




Liyah mengangguk. “Eh tapi beneran, usia nya otw 30 tahun nan?”




Asfa mengangguk.




“Tapi kok kelihatan kayak masih 24 tahun nan yah?”




“Kebanyakan nih ya, para Gus dan Ning itu itu kalau tambah tua pasti tambah ganteng dan cantik!”




“Kok bisa? Perawatan yach?”




“Ih gak kali, mereka mah mana tau perawatan? Kadang aja mereka gak sempet pakek bedak kok!”




“Mereka itu rahasia awet muda nya itu karena sering wudhu, selalu menetapi kesucian,” jelas asf6a.




“Oh ... yaudah, terusin cerita lagi tentang Gus kahfa!” pinta Liyah.




“Kamu kok kepo banget sih sama Gus kahfa? Suka ya?” tuduh Asfa.




Liyah langsung menggeleng tegas.




“Enggak! Aku kan cuma pengen tau doang!”




“Iya iya ... tapi hati-hati yah ... fangrils nya Gus kahfa itu banyak loh ... bahkan orang luar aja banyak yang ngefans beliau.”




“Masak sih, Sampek segitu nya? Kok Sampek ngalahin aktor Korea?”




“Iya ... pernah tuh, tahun kemarin waktu beliau ulang tahun yang ke 28 tahun, banyak teman dan mahasiswa nya yang datang kemari cuma mau sowan Bu nyai dan ketemu Gus kahfa terus ngucapin selamat ulang tahun Sama ngasih hadiah!”




“Banyak?”




“Atuh yang datang itu naik tiga bus pariwisata kok, ya rame gitu pesantren nya, kayak ada acara haul tahunan, itu aja yang datang kebanyakan perempuan, kalo laki-laki paling cuma Ustadz.Hasan, kang Izwar, dan kak Agus!”




“Mereka itu teman karib nya Gus kahfa yang paling sering ke sini.”




“Kamu kok tau banget sih?” Liyah curiga.




“He ... he ... aku di ceritain sama mbak mbak khadimah nya Bu nyai, maklum aku juga salah satu fans nya beliau ... he ... he ... he ... .” Asfa nyengir.




Pantes aja dia paling semangat bercerita tentang Gus kahfa.




“Udah ya cerita Gus kahfa nya? Lanjut nggak nih?”




“Kenapa?”




Asfa mendengus. “Belum update!”




Liyah mengangguk.




“Oke, lanjut ke putri ke-3 kyai Husein, yakni Ning Inayah Wahidah Indah, beliau adalah satu satunya anak perempuan kyai Husein.




Kalau di asrama putri, beliau di juluki Syahrini ke-2, soalnya beliau sejak kecil itu centil banget, sok kecantikan pula, eh ... tapi emang dia cantik kok, usianya sebaya sama kita, 18 tahun. Tapi udah lulus Aliyah tahun lalu, katanya sih bentar lagi beliau mau di kirim ke pesantren Kudus buat hafalan Alquran!”




Liyah tidak terlalu merespon cerita Asfa tentang Ning Naya.








“Pokoknya beliau itu ngerasa paling


cantik karena satu satunya anak perempuan di keluarga nya, manja banget sama siapa pun. Semua keinginan nya harus di turuti, dia juga suka banget ngadu sama Aby dan kakak-kakak nya, makanya sebagian dari santri-santri gak terlalu suka sama Ning Inayah. Ada apa-apa dikit ngadu, ada santri ini santri itu ngadu, kan ngeselin ... tapi kalau hal sepele ... inn syaa Allah Aby gak bakal nanggepin seriusan kok,” jelas Asfa.




“Lanjut nih yang terakhir, namanya Agus Muhammad Salman Alfaruq, panggilan nya Gus Faruq paling imut kayak marmut, eh ... he ... hehe ... pokoknya paling cakep banget loh!”






“Yang mana sih?” tanya Liyah agak antusias.




Karena Asfa sama sekali tidak menunjukkan foto anak kecil di buku, mungkin belum punya.




“Beliau itu jarang main ke asrama putri, kan udah besar, jadi mainan nya di asrama putra!”




“Kapan-kapan aku tunjukkin yah?”




“Inn syaa Allah, kalau kita kebagian jatah masak di Ndalem,” ucap Asfa.








Hari sudah larut malam, semua santri sudah bersiap untuk tidur.




Semua aktivitas sudah selesai, saatnya istirahat.




Pukul 22.00 wib tepat, lonceng jam tua dari musholla berdentang kencang sebanyak sepuluh kali.




Liyah tidur di samping Asfa, mereka satu karpet berdua.




Semua lampu sudah di matikan, Hanya gulita yang menemani.




Asfa sudah mendengkur.




Kebanyakan santri sudah tidur.




Tapi Mbak-Mbak pengurus masih berkeliling dengan membawa tongkat untuk menyeru santri yang bandel tidur.




Yang sukanya ngobrol saja, entah apa yang diobrolkan.




Seperti tiga anak yang tidur bersebrangan dengan Liyah.




Berbicara dari sebelum lampu dimatikan sampai sekarang.




Berulang kali Mbak pengurus naik ke asrama, tapi mereka bertiga langsung memejamkan mata, berpura-pura tidur.




Setelah Mbak pengurus pergi dari asrama, mereka kembali mengobrol lagi.




Liyah mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, menatap langit-langit yang penuh bintang, ia memang tidur di luar kamar.




Bertatapan langsung dengan sang rembulan.




Sunyi.




Melihat bintang di langit, membuat nya teringat akan Iqbal, malam dimana permintaan Iqbal terucap.




Permintaan yang membuat ia dan Iqbal harus terpisah oleh jarak.




Hanya kerinduan yang menyapa, tanpa peluk dan senyum.




Kerinduan yang di peluk oleh malam dan terpaan angin.




Liyah meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri.




Rindu.




Hanya itu.




Apa kabar Iqbal?




Kamu sekarang dimana?




Lagi ngapain?




Kamu masih ingat aku nggak?




Aku kangen kamu?




Aku kangen cerewet nya kamu.




Aku kangen cubitan kamu.




Aku kangen pelukan kamu.




Aku kangen video call an sama kamu sampai tengah malam.




Aku kangen hang uot sama kamu.




Aku kangen muncak sama kamu.




Aku kangen ngafe sama kamu, pasti sekarang tempat favorit kita udah di tempati orang lain.




Pokoknya aku kangen kamu, iqbal.




Aku pengen kuliah di Paris bareng kamu.




Aku pengen kita di wisuda bareng, jadi lulusan terbaik.




Aku nyesel, andai aku gak males belajar.






Andai aku dengerin nasehat kamu buat belajar, pasti kita udah di Paris, foto foto di menara Eiffel.




Foto kamu emang banyak di ponsel aku, tapi sekarang ponsel nya udah gak tau kemana, hilang mungkin.




Aku rindu kamu Iqbal.




Semua isi hati Liyah tercurah bersamaan dengan tetesan bening dari kelopak matanya, ia semakin erat memeluk tubuhnya.




Malam semakin larut, begitu juga dengan kerinduan Liyah akan Iqbal yang semakin mengakar dalam, sedalam-dalamnya.




Liyah terhenyak.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk