Hari ini sangat cerah.
Awan sedang bersahabat dengan matahari.
Tak ada sedikitpun cercah hitam di langit biru.
Pagi ini, Asfa mendapatkan jatah gelombang memasak di Ndalem Bu nyai.
Bersama beberapa santri seangkatan dan segelombang dengan nya, pagi-pagi sekali dia menuju dapur Ndalem.
Bahkan ketika fajar belum muncul.
Masak gelombangan begini memang hanya di Peruntukan bagi siswi Aliyah.
Hampir semua makanan yang ada di pesantren, baik di koperasi juga adalah hasil produksi sendiri.
Di buat oleh Bu nyai sendiri, dan di bantu oleh para santri.
Palingan juga cuma di suruh ambil ini, ambil itu, di suruh beli ini ... itu ... atau nggak ya kupasin bawang.
Begitu pun dengan sarapan pagi dan makan siang.
Makan malam tidak ada, karena makan malam diganti dengan beberapa cemilan sederhana, seperti ubi rebus, pisang rebus, ketela rebus, atau ketan putih.
Semua makanan di pesantren ini terjaga, higienis, dan yang pasti nya juga halal.
Jarang ada santri yang sakit, paling juga sakit gatal gatal, sakit gak betah di sini, maklum anak baru. Pengennya pulang aja.
Asrama.
Liyah duduk di teras kamar sendirian, bersandar kan pagar besi yang di cat warna hijau.
Ia sendirian, karena Asfa masih di Ndalem.
Hari ini, hari Jum’at, sekolah di pesantren libur.
Para santri menghabiskan paginya dengan kerja bakti membersihkan kamar mandi pesantren, pendopo musholla, halaman dll.
“Hey Liyah ... .” Liyah menoleh.
“Udah ambil sarapan belum?” tanya Asfa.
Liyah menggeleng.
“Sarapan yuk, udah aku ambilin,” ajak Asfa .
Liyah Menurut.
Mereka makan bersama, diiringi suara gelak tawa santri lain yang sedang asyik bermain bulu tangkis, kejar-kejaran dan voli.
Maklum, hari Jum’at adalah hari libur di pesantren.
Juga hari penuh barokah dan kegembiraan bermain, seperti pagi ini.
“Habis dari mana sih?” tanya Liyah setelah keduanya selesai menghabiskan sarapan masing-masing.
Asfa mendongak.
“Dari Ndalem nya Bu nyai, kenapa?”
“Oh ... emang habis ngapain?”
“Masak buat anak-anak santri!”
“Hari ini doang?”
“Iya, gelombangan!”
“Emang kamu bisa masak apa aja?”
“Masak air ... he ... he ... he ... .” jawab Asfa asal.
“Yaelah.”
“Bukan aku sih yang masak, tapi Bu nyai Halimah yang masak, kita mah bantu bantu aja.”
“Oh ... .” Liyah mengangguk paham.
“Aku boleh ikut gak?” tanya Liyah.
Asfa menatap Liyah. “Boleh kok, ayo nanti sore aku ajak.”
“Beneran?”
“Iyalah! Emang kapan aku bohong?”
Liyah tersenyum, senyum penuh arti.
Liyah sedang sibuk bersama buku tulisnya.
“Liyah ayo ... keburu adzan ashar nanti!” Panggil Asfa dari dalam kamar.
Liyah langsung bangkit dari tengkurap nya.
Menoleh ke arah Asfa yang sudah siap berangkat ke Ndalem, Liyah bergegas membenahi rambut yang ingin keluar dari kerudung yang ia pakai.
“Ayo,” ajak Asfa.
Liyah langsung mengikuti langkah Asfa menuju Ndalem.
Keduanya lewat pintu belakang bertirai bambu.
Pintu yang sama saat Liyah pertama kali datang ke pesantren ini bersama dengan Mama dan papanya untuk sowan pada kyai Husein beberapa Minggu lalu.
Yach, Liyah memang sudah 4 Minggu di sini.
Di dapur sudah ada beberapa santri yang mulai menyiapkan bahan bahan untuk memasak.
Liyah dan Asfa masuk sambil agak menunduk, karena di sudut kanan sudah ada Bu nyai yang sedang memotong cabai merah besar.
Asfa sendiri segera ambil tempat di antara para santri yang duduk melingkar di lantai dapur, ikut mengupas bawang putih dan bawang merah.
Asfa mengintruksi Liyah untuk duduk di sebelah nya, menyodorkan sebilah pisau kecil pada Liyah.
Liyah tidak segera mengambil pisau yang di sodorkan Asfa.
Pisau, biasanya Liyah menggunakan pisau kecil itu untuk merobek ban mobil bodyguard papanya, agar mereka tidak bisa mengikuti Liyah yang pergi ke mana-mana.
Tapi kali ini, ia menggunakan pisau kecil itu untuk mengupas bawang putih dan bawang merah.
“Ayo Li, coba dulu, biar tau!”
Barulah Liyah menerima pisau yang di sodorkan Asfa.
Agak ragu ragu untuk mengambil satu siung bawang putih.
“Gini nih, dari pangkalnya dulu, pelan-pelan,” ucap Asfa mengajari Liyah.
“Hati-hati aja, awas kena jari kamu!” Asfa memperingati.
Liyah menurut.
Hati-hati sekali, sampai sampai para santri yang lain sudah dapat lima siung perorangan, Liyah malah baru mendapat satu siung saja.
Para santri memaklumi Liyah, dan itu berlanjut sampai semua bawang habis terkupas.
Beberapa waktu kemudian.
Semua berjalan tanpa hambatan apapun.
Asfa dan santri lain, yang lebih banyak bergerak.
Sedangkan Liyah hanya membantu saat Asfa mengajak saja.
Saat semua selesai, Bu nyai memindahkan makanan yang matang ke wadah box besar.
Lalu menyuruh beberapa santri membawa nya ke kantin.
Kini giliran Liyah yang di panggil Bu nyai, dengan panggilan, “Nak!”
Awalnya Liyah ragu mendekat, tapi saat Bu nyai melambaikan tangan ke arah nya dan tersenyum.
Barulah Liyah berani mendekat.
Ibu nyai menyodorkan nampan besar yang berisi beberapa macam makanan ke Liyah dan dua santri yang tadi juga di panggil Bu nyai.
“Ini ... bawa ke Gus A’ab dan Gus Sa’id yach nak.”
Pesan Bu nyai.
Ke tiga santri termasuk Liyah sudah mengundurkan diri dari tempat Bu nyai duduk, langsung ke luar dari dapur.
Aini, salah satu dari tiga santri tersenyum tersenyum ke arah Liyah.
“Bawa nya hati-hati yah Liyah, jangan sampai tumpah,” ucapnya.
Liyah mengangguk, tak ada Asfa kali ini.
“Ikutin kita yah Liyah,” ucap Aini lagi.
Lagi-lagi Liyah menganggukkan kepalanya, tanpa ada protes.
Ke tiga nya mulai berjalan melewati beberapa lorong berpagar coklat.
Liyah mengikuti langkah dua santri di depannya.
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah yang sederhana, berpagar hitam besi .
Mbak Aini yang membuka pagar tersebut, lalu masuk menuju pintu belakang yang terbuat dari kayu, dia mengetuk pelan.
Seorang wanita yang berpakaian serupa dengan Aini lah yang yang membuka pintu.
“Oh dari Ning Halimah yah?” Seru wanita itu, Aini mengangguk.
Wanita Tersebut mengambil alih nampan yang di bawa Aini.
“Bentar yah.” Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah.
Hanya beberapa menit, wanita tersebut kembali dengan nampan yang kosong, lalu menyerahkan nampan tersebut pada Aini.
Aini dan yang lainnya pamit keluar dari halaman rumah.
Lalu berjalan meneruskan tujuan.
Liyah tetap mengikuti Aini dari belakang, sambil menatap seksama jalan yang ia lewati.
Sampai di ujung lorong, Aini membuka pagar kecil, jalan itu menghubungkan sampai daerah luar pesantren.
Lumayan dekat dengan lokasi gerbang hijau utama, mereka berjalan ke sebuah rumah gubuk yang di dalamnya terdapat beberapa orang laki-laki.
“Sini Liyah, nampan nya taruh disana.” Aini mengintruksi Liyah, agar nampan yang di bawa Liyah di taruh di gubuk ini.
“Ini kang nasinya.” itu ucapan Aini.
Liyah sudah beringsut mundur.
“Eh ... iya mbak, matur suwun,” balas salah satu penghuni gubuk.
Mereka lanjut ke tujuan akhir, kali ini tujuannya lebih jauh dari area pesantren, ke sebuah rumah dekat jalan raya, rumah nya cukup megah, tapi tanpa pagar, halaman depannya dipenuhi rerumputan hijau.
Lagi lagi mereka lewat pintu belakang, sama seperti yang sebelumnya, seorang khadimah yang menerimanya, lalu langsung di ganti ke tempat lain dan mengembalikan nampan yang kosong.
Dan.....
Selesai lah tugas antar mengantar makanan ke Gus Sa’id dan Gus A’ab, adik Ning Halimah.
Dengan cepat mereka bertiga undur diri dan bergegas kembali ke pesantren sebelum jama’ah sholat ashar di mulai.
Pulangnya mereka melewati gerbang hijau utama.
Baru saat melangkah ke dalam, seseorang mengintruksi.
“Kok cuma berdua mbak? Yang satunya tadi kemana? Ketinggalan?” Kang penjaga pos berniat menggoda.
Aini mengerutkan keningnya,
berdua?
Aini menoleh kesamping, temannya ada.
Lalu kepalanya menoleh ke belakang, tak ada siapapun.
Liyah ... kemana dia?
“Ya Allah,” ucap Aini kaget.
“Loh ... kenapa mbak?” tanya salah satu kang penjaga pos.
“Liyah hilang,” ucap Aini panik.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!