Setelah keputusan di ambil dan disetujui oleh Gus Sa’id dan Gus kahfa.
Akhirnya,di hari Jum’at ini, tepatnya setelah ashar, semua santri dikumpulkan di lapangan pesantren.
Guna memberi tahu bahwa ada salah seorang santri yang melanggar peraturan pesantren dan akan dihukum saat itu juga.
Liyah, gadis itu dengan tenang duduk di salah satu sudut ruangan.
Sedangkan mbak Lina dan Ana sedang sibuk untuk menghubungi orang tua Liyah, tapi nihil. Tak ada jawaban panggilan.
“Gimana ini Mbak? Orang tua nya gak bisa di hubungi?” tanya Ana.
“Liyah, apa kamu tidak punya nomor hp keluarga yang lain, paman, bibi?” tanya Mbak Lina.
“Gak ada,” jawab Liyah jutek.
Mbak Lina terdiam.
“Kalo kamu gak dijemput, kamu gak bisa pulang nanti!”
“Yaelah Mbak, aku itu udah besar, bisa pulang sendiri, gak usah pakek acara jemput jemput Segala, palingan mereka baru punya urat malu kalo sebenarnya punya anak kayak aku,” penjelasan Liyah benar-benar menutup hidupnya di pesantren ini.
Mbak Lina, selaku ketua pengurus pesantren Putri segera menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk menghukum Liyah.
Seperti kerudung merah cabai dan kertas bertuliskan.
“SAYA MELAKUKAN PELANGGARAN AJNABY/PACARAN!”
setelah memakai kan Liyah kerudung merah cabai dan memakai kertas yang di kalungkan di leher nya dengan tali rafiyah.
Mbak Lina langsung menggiring Liyah ke lapangan pesantren, tempat pen-takziran (tempat menjalankan hukuman).
Suasana yang asalnya ramai dengan kehebohan para santri, langsung hening seketika kala Mbak Lina bersama Ana datang menggiring Liyah dari kantor menuju lapangan pesantren.
Mbak Lina mengintruksikan Liyah agar berdiri di tengah lapangan.
Setelah nya mbak Lina mengambil alih mikrofon yang telah disiapkan oleh salah satu pengurus.
Mbak Lina berdiri di samping Liyah yang dengan wajah santai nyari tengah kerumunan para santri.
“Hari ini ... salah seorang santri putri yang bernama Ainun Awwaliyah, asal kota Jakarta, telah melakukan pelanggaran pesantren. Pasal dua ayat delapan, yakni dilarangnya hubungan ajnaby dengan sanksi dijemur di lapangan dan dikeluarkan secara tidak terhormat!”
“Semoga dengan adanya pentakziran ini, kalian para santri sadar, bahwa sepandai apapun kalian melanggar peraturan pesantren dan menyembunyikan nya, maka akan segera mendapatkan balasan yang sepadan dengan apa yang di langgar!” Dengan suara lantang nya mbak Lina menyeru.
Setelah nya, dia membawa Liyah menuju gerbang hijau utama.
Dia hanya membawa tas ransel dan uang yang dulu dititipkan mamanya pada Mbak Lina.
Semua barang sekoper nya ia tinggal, ia sama sekali tidak merasa membutuhkan nya.
Bahkan,ia berkata pada mbak Lina, “Kalo nggak ada yang mau, ya buang aja. Aku males pulang bawa banyak barang!”
Di gerbang hijau sudah ada kang Asman dan beberapa kang penjaga pos lainnya.
Kebanyakan dari mereka berasal dari devisi keamanan putra.
Dengan santai nya, Liyah segera melangkah ke luar dari pesantren.
Dia menghirup dalam-dalam udara segar yang menyambut nya.
Beberapa waktu kemudian, gerbang hijau langsung di tutup oleh kang Asman.
Liyah tersenyum.
Akhirnya-batinnya.
Liyah segera melangkah menjauh dari area pesantren.
Menuju jalan raya.
Sebelum nya dia mampir ke salah satu toko handphone dipinggir jalan.
Dia membeli sebuah ponsel keluaran terbaru tahun ini, harganya 4,5 juta.
Tapi bagi nya harga ponsel ini sama halnya dengan membeli barang second.
Tapi tak apalah.
Yang penting, setidaknya ponsel itu bisa ia gunakan untuk memesan taksi online.
Setelah mengaktifkan ponselnya, dia langsung mendownload aplikasi, lalu memesan taksi online.
Cukup lama dia menunggu di depan mini market Sampai taksi online yang dia pesan datang.
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Liyah segera menaiki mobil itu.
Di dalam mobil.
“Ke bandara Juanda ya kan mbak?” tanya si supir.
“Iya.” Liyah menjawab singkat.
Setelah nya mobil langsung melaju di jalan raya bersama dengan kendaraan yang lainnya.
Liyah merasa kegerahan padahal AC mobil menyala.
Ah, ternyata dia masih memakai jilbab sedari tadi.
Segera dilepasnya agar rambut nya yang panjang ini bisa bernafas lega.
Dia melirik si supir yang memperhatikan nya dari kaca spion tengah.
“Nggak usah pakek acara ngintip segala deh, kalo masih pengen hidup,” ketus ku.
Si supir langsung berdeham dan mengalihkan pandangannya dari kaca spion.
Bandara Juanda, Surabaya.
Liyah segera membayar tagihan taksi online dan langsung menuju loby bandara.
Tadi saat dia di mobil, dia sudah memesan tiket penerbangan hari ini.
Nanti pukul 23.00 wib,masih 4 jam lagi.
Liyah duduk di ruang tunggu, menatap layar ponsel yang menunjukkan icon merk nya.
Sesekali dia memandang ke sekitar, walau hari mulai petang, tetapi tetap saja bandara masih berpenghuni.
Entah itu orang orang-orang berkepentingan, orang sibuk atau turis ... atau mungkin hanya petugas yang pada sift nya.
Masih banyak orang berlalu lalang.
Kebanyakan adalah orang pemakai Jaz licin ... para penggila kerja.
Sama seperti mama dan papanya, gila kerja, gila uang.
Dia menghela nafas, tanpa disadari waktu sudah berlelu cepat.
15 menit lagi pesawat ku take on, jadi dia segera beranjak dan langsung berlalu ke tempat penerbangan.
Beruntung nya Liyah mendapat kursi di sebelah jendela, bersama dengan seorang wanita tua berjilbab.
Liyah segera duduk, tanpa merespon senyum yang dilontarkan wanita tua pada Liyah.
Dia yakin perempuan tua itu tersenyum pada nya, tapi Liyah mengabaikannya.
Liyah segera memejamkan mata, ingin mengistirahatkan otak nya sejenak.
Beberapa waktu kemudian.
Sesuatu menyenggol pergelangan tangan nya, membuat perempuan itu terbangun dari tidur sejenak.
Liyah membuka mata, menoleh ke samping.
Wanita tua tersenyum pada ku lagi.
“Sebentar lagi pesawat nya take of nak!”
Liyah mengangguk, lalu berterima kasih sekedarnya.
Dia kembali memesan taksi online.
Tujuan nya adalah rumah, yang dia yakini sekarang sedang sepi tanpa penghuni. Karna di tanggal tua seperti ini biasanya mama dan papa punya banyak jadwal keluar negeri untuk rapat tender.
Tengah malam, Liyah baru sampai rumah. Dugaan nya benar. Rumah ini sepi tanpa penghuni.
Dia segera membuka gerbang rumah dan menuju pintu utama ... terkunci.
“Kunci cadangan di taruh mana yah?” gumamnya.
Liyah mencoba mencari nya di sekitar dan di balik pot bunga yang berjajar di samping pintu utama.
“Brak...”
Liyah tak sengaja menyenggol salah satu pot bunga yang terbuat dari gerabah,pot bunga tersebut pecah berserakan di lantai beserta tanahnya.
“Ih ... pakek pecah segala,” gerutu Liyah.
Sebenarnya Liyah sudah sangat mengantuk, ia sangat tidak sabar ingin segera menjatuhkan badannya ke kasur queen size miliknya.
Tapi pintu tetap terkunci.
Akhirnya, Liyah terpaksa lewat jalan pintas, jendela.
Dengan susah payah mencongkel engsel dengan palu yang ia ambil di pojok halaman.
Berhasil.
Jendela terbuka.
Saat Liyah hendak masuk, suara berat menginterupsi nya, dia menoleh.
Ada seorang lelaki berbadan kekar berseragam satpam.
“Mau apa kamu? Mau maling ya?”
“Enak aja. Siapa juga yang mau maling di rumah sendiri,” balas Liyah.
Si satpam tertawa ... Liyah heran di buatnya.
“Kok mau masuk lewat jendela? Pasti maling yah!”
“Eh kalo ngomong di pikir dulu yah, kalo situ masih mau kerja disini!” ancam Liyah.
“Loh emang kenapa? Orang majikan saya bukan kamu kok!”
“Gue itu anak majikan elo, dengerin tuh!”
Si satpam kembali tertawa, bahkan lebih kencang.
“Mbak ini gak usah berkhayal yang aneh aneh deh! Orang majikan saya baru menikah 2 Minggu yang lalu kok, masak iya udah punya anak Segede ini ... udah ya mbak, kalo emang mbak ini bukan maling ... mending sekarang mbak pergi aja dari sini, mumpung saya lagi baik hati,” jelas pak satpam.
“Nggak mau, ini itu rumah gue, emang siapa sih majikan elo?” tantang Liyah.
“Mbak nya ini kok kepala batu banget sih ... yaudah ya nih, saya telponin majikan saya ... biar cepat kelar,” balas pak satpam.
Liyah terdiam.
Kenapa jadi begini?
Pak satpam langsung menghubungi seseorang, dia melaporkan perihal tentang ada nya seorang gadis yang hendak masuk lewat jendela.
“Oh iya pak, baik ... akan saya bawa ke pintu depan.”
“Ayo mbak ... ikut saya ke pintu depan,” ajak pak satpam.
“Eh mau ngapain?”
“Katanya tadi pengen ngerti siapa majikan saya?”
Akhirnya Liyah menurut.
Saat pintu depan terbuka, seorang lelaki berpiyama panjang sambil menguap, memperhatikan 2 orang di depan nya.
“Ini pak, orang nya!”
“Oh!” Lelaki itu hanya merespon santai.
“Elo siapa? Ngapain di rumah gue?” Tuding Liyah.
Lelaki itu tersenyum tipis
“Ini rumah saya!”
“Enggak, pemilik rumah ini itu papa gue, Panji,” balas Liyah.
Lelaki itu kembali tersenyum
“Oh ya saya baru ingat, memang rumah ini milik pak panji. Tapi itu dulu ... sebelum dia bangkrut dan meninggal bersama istrinya ... jadi sekarang rumah ini milik saya karna saya telah membelinya sekaligus menjadi ganti hutang pak Panji pada bank milik saya,” jelas lelaki itu.
“Nggak mungkin, elo pasti bohong, iya kan?”
“Maaf, saya tidak berbohong, kamu percaya dengan ucapan saya atau tidak, terserah! Yang penting rumah ini sudah jadi milik saya!”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!