Berulang kali Liyah mengirim surat ke Gus Kahfa.
Tapi tak ada respon yang berarti.
Tak ada amarah atau teguran lah ... tidak ada.
Rencananya yang ini juga gagal total, Gus kahfa tidak merespon apapun.
Padahal jelas-jelas Liyah menulis nama lengkapnya.
Tentu nya agar ia cepat ditegur dan di keluarkan dari pesantren ini.
Tapi semua nya Gatot.
Liyah kembali berfikir ...
Kahfa benar-benar target yang salah.
Membuang waktu Liyah dengan percuma.
Kiranya siapa yang pantas menjadi target selanjutnya.
“Ah ... Bangke ... apa-apaan ini?” batin Liyah.
“Lebih baik aku keluar saja dari pesantren ini, masalah target itu gampang. Hari Jum’at, besok aku akan keluar hari Jum’at.” Pikir Liyah.
Saat penjaga pos melaksanakan sholat Jum’at di masjid desa setempat.
Wak wau...
Waktu nya tiba.
Tengah hari, waktu istirahat santri sebelum sholat dhuhur berjamaah.
Liyah segera bersiap, Asfa dan yang lain telah tidur nyenyak.
Dengan hati-hati dia melangkah ke luar kamar.
Halaman pesantren sepi, hanya ada beberapa anak yang duduk di pendopo atau teras asrama.
Dengan santai ia berjalan kearah pintu gerbang depan.
Yang menyalurkan halaman pesantren Putri dengan gerbang hijau utama.
Sepi, tak ada yang menjaga pos sama sekali.
Tapi gerbang besi itu masih tertutup rapat.
Liyah mendekat, melongok ke dalam pos.
Ternyata ada yang menjaga, salah seorang pengurus perempuan.
Dia adalah teman Mbak Lina.
Tapi dia tengah tertidur pulas.
Keberuntungan berpihak pada Liyah kali ini.
Dia langsung meraih kunci yang tergantung di dinding dalam pos, yang Liyah yakini bahwa kunci tersebut adalah kunci gerbang.
“Ah ... Dewi Fortuna benar benar berpihak pada ku hari ini, ternyata gerbang nya tidak di kunci. Dan di pos luar juga kosong, tak ada yang menjaga.” Hati kecil Liyah bersorak riang penuh kemenangan.
Dia segera keluar, ini benar-benar mudah sekali.
Kenapa tidak terpikirkan dari kemaren kemaren aja?
Liyah bernafas lega, kembali merasakan udara segar menyapa.
Segera menuju tempat yang yang telah dia persiapkan sebagai tempat persembunyian.
Dan menunggu di sana sebentar, sebelum menjalankan rencana berikut.
Tak lama, dua orang laki-laki sedang berjalan berdampingan, keduanya sama sama memakai kemeja lengan panjang yang berwarna putih, jangan lupa kan sarungnya.
Mungkin mereka tidak punya celana kali yah- pikir Liyah.
Liyah memperhatikan, keduanya saling berbincang sambil sesekali bergurau.
Nah ... mereka berdua sudah duduk di pos dekat tempat persembunyiannya, dia segera melancarkan rencana berikut nya, sebelum nya perempuan itu memilih ... kiranya siapa yang akan menjadi target?
Liyah memperhatikan sosok laki-laki yang duduk di sebelah kanan.
Liyah tahu laki-laki itu ...
Dia yang waktu itu menemukan nya saat rencana kabur nya dulu.
Kalau laki-laki yang satunya, Liyah tidak tahu.
Wajahnya asing, seperti nya dia bukan bagian dari kang-kang penjaga pos.
Liyah segera keluar dari tempat persembunyian, lalu mendekat ke arah pos.
Langsung duduk di samping orang yang menjadi target nya.
Terlihat keduanya syok.
Tapi Liyah mengabaikannya.
Liyah segera merangkul leher nya agar mendekat ke arah nya, dan cup.
Liyah mencium pipinya singkat, lalu berkata, “Aku kangen kamu sayang, kamu kemana aja sih?”
“Astaghfirullah!”
Itu bukan suara dari target Liyah, maupun temannya yang duduk menghadap ke arah nya.
Suara itu dari arah belakang.
Liyah sontak memutar kepala, dia ...
Laki-laki yang benar-benar mengerti watak asli Liyah.
Kang Asman, Si ketua keamanan.
Laki-laki yang menjadi target Liyah pun segera melepas rangkulan Liyah dan menjauh.
Liyah menatap ke arah kang Asman.
Lalu tersenyum sinis.
Dia melotot, bahkan wajah nya telah memerah menahan amarahnya.
*
“Sebenarnya bagaimana sih kronologi kejadian nya?” tanya mbak Lina.
Kini Liyah, Mbak Lina, kang Asman dan kang Izwar berada di aula kantor pesantren yang biasanya digunakan untuk rapat atau sidang penting.
“Tanya kan pada kang Izwar saja Lin, dia kok yang ngalamin, saya mah cuma penonton,” ucap kang Asman dengan nada sinis.
Mbak Lina menatap kang Izwar yang terus menunduk.
Hanya sekilas, ia takut kalau berlama-lama hati nya akan benar-benar hancur saat itu juga.
Terdakwa Liyah, hanya duduk dengan tenang, sambil menyaksikan perdebatan antar pengurus.
Sambil bersidekap kedua tangan nya di dada.
“Di sana juga ada Gus Wafa, mungkin beliau bisa menilai apa yang sebenarnya terjadi,” ucap kang Izwar tenang.
“Gus Wafa sedang bersama Gus Sa’id dan Gus kahfa,” ucap Lina.
“Yaudah sekalian aja kita laporkan masalah ini ke beliau, kan sekarang Aby dan ummy sedang tindak ke luar kota,” ucap kang Asman.
“Bentar kang, jangan gegabah dulu,” ucap Lina.
“Mau nunggu apa lagi Lin?” tanya kang Asman.
“Kamu udah, jangan belain dia Mulu ... anak itu bawa penyakit Lin, gak baik kalau berbaur dengan santri santri lain terlalu lama, kalo ketularan gimana? Ini bukan lagi pelanggaran pesantren Lin, tapi pelanggaran syariat agama Allah, masih juga kamu belain! Ngurus satu yang kayak gini aja bikin kepala mau pecah, apalagi kalo satu asrama yang kayak gini, bisa-bisa kamu nggak jadi nikah sama Izwar,” ucapan kang Asman benar-benar meruntuhkan pertahanan mbak Lina .
Kang Izwar menoleh ke arah kang Asman, tak suka dengan ucapan yang mengarah ke masalah pribadi.
“Iya kang ... iya!”
“Ya udah ayo berangkat,” ajak kang Asman.
“Kalian duluan aja kang, nanti saya nyusul lewat asrama putri,” ucap mbak Lina.
*
Sampai di depan Ndalem Gus Sa’id.
Mereka berkumpul di halaman begian belakang.
Menunggu, sampai para Gus keluar untuk mengantarkan Gus Wafa pulang.
Saat Gus Sa’id tahu ada yang menunggu nya.
“Loh ada apa kang, Mbak kok kesini nya ramai ramai?” Gus Sa’id yang mengawali.
Di samping nya ada Gus Wafa dan Gus kahfa.
“Kami semua mau menyowankan santri yang melanggar peraturan pesantren Gus,” jawab kang Asman.
“Ekhm ... melanggar peraturan apa?” Gus Sa’id masih tenang.
“Ini santri yang bernama Ainun Awwaliyah, dia melakukan pelanggaran ajnaby!”
“Orang mana?”
“Jakarta Gus!”
“Pelanggaran ajnaby nya sama siapa kang?”
“Untuk itu kami belum bisa memastikan, karena Gus Wafa lah yang menjadi satu satunya saksi di tempat kejadian, sedangkan saya hanya mengetahui di akhir kronologi kejadian, jadi kalau di izinkan, kami juga ingin tahu apa yang di saksikan dan yang disimpulkan oleh Gus Wafa atas kejadian tadi siang,” jelas kang Asman.
Gus Sa’id menoleh ke arah Gus Wafa, dia seorang tamu disini.
Tapi kenapa harus dia yang menjadi saksi?
Atas perilaku salah seorang santri yang sembrono.
Benar-benar memalukan nama baik pesantren.
Gus Sa’id menghela nafas, sambil memijat Pangkal hidungnya.
“Saya bisa menjelaskan apa yang terjadi tadi ... .” Gus Wafa menyelah.
Akhirnya Gus Wafa menceritakan semua kejadian yang menimpa temannya, Izwar Irhami.
Dan beliau menyimpulkan terdakwa saudari Liyah yang bersalah dan di putuskan bahwa dia akan di keluarkan dari pesantren secara tidak terhormat.
Sedangkan kang Izwar menjadi korban yang namanya akan segera di bersihkan dari fitnah keji yang menimpanya.
Kahfa sendiri merasa ada yang janggal saat ini.
“Ada yang aneh dari matanya. Tak ada binar rasa malu, ataupun menyesal. Yang ada, hanya senyum tipis dan binar penuh kemenangan. Ada apa sebenarnya dengan santri muda ini? Kemaren kemaren dia tidur bersama Faruq, mengirim puluhan surat bucin pada saya.
Lalu sekarang, terlibat sekandal dengan Izwar. Seakan akan ini telah di rencanakan. Apa itu benar? Tapi untuk apa ia berbuat hal semacam ini?
Bahkan dengan berani mencemarkan nama baik pesantren dan dirinya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!