Bab 7

0 dibaca

A

Selepas bercakap ria dengan penghuni kamar, Afifah langsung berpamitan pulang.




“Liyah boleh kok Bu, ikut mengantar ibu sampai gerbang hijau, sekalian berpamitan dengan papa nya,” jelas Lina.




Afifah mengiyakan, Asfa juga ikut mengantar, agar nantinya saat kembali kembali ke asrama, ada yang menemani Liyah.




Gerbang hijau.




Panji bersandar pada kap mobil.




Ketika melihat istri dan putrinya berjalan menuju ke arah gerbang, Panji segera berdiri tegap, lalu menghampiri nya.




“Sudah selesai pendaftaran nya?” tanya Panji.




“Sudah, uangnya juga udah Mama titipin ke mbak Lina, beserta kartu ATM nya juga!”




“Liyah, pegang uang?”




“Enggak,” jawab Liyah cuek.




“Ini, papa kasih kamu pegangan uang. Nanti kalau habis, kamu minta aja ke Mbak Lina,” ucap Panji seraya menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke putri nya.




Liyah menerima nya seperti biasa.




“Yaudah, kalo gitu kami pamit ya nak Lina, Nak Asfa, tolong jagain Liyah ya. Kalo dia nakal, hukum aja gak papa kok!” ucap Afifah.




“Iya Bu ... pak ... hati hati di jalan!” ucap Lina.




Liyah menggerutu mendengar penuturan Mama nya.




“Papa dan Mama pulang dulu ya Liyah, kamu baik baik di sini!” ujar Afifah.




Lina memandang heran interaksi keluarga kecil di hadapan nya ini, Panji dan Afifah sudah masuk ke dalam mobil, sedang kan Liyah hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil memandang jenuh pada mobil yang di naiki kedua orang tua nya.




Tak ada pelukan perpisahan atau sekedar mengecup punggung tangan kedua orang tua nya.




Liyah bertingkah acuh, sangat acuh, sungguh.




“Ayo masuk Liyah!” ajak mbak Lina pada Asfa dan Liyah.




Gerbang hijau itu kembali di tutup oleh pria bertubuh gempal yang memang tugasnya adalah menjaga gerbang tersebut.




Liyah mengikuti langkah dua perempuan itu dengan malas.




Sampai di depan kantor, mbak Lina berpisah dengan Asfa dan Liyah yang langsung menuju asrama mereka.




Mbak Lina segera masuk ke kantor dan langsung duduk di sofa sambil memeriksa kembali data pendaftaran Liyah tadi.




“Tadi anak mana sih mbak Lin?” Ana bertanya, dia mengambil duduk di samping mbak Lina sambil membawa Snack yang ia beli di koperasi.




“Namanya ... Ainun awwaliyah, orang Jakarta,” jawab mbak Lina, matanya masih memeriksa data data Liyah.




“Pantesan!”




“Apanya yang pantesan?” tanya mbak Lina.




“Tingkahnya mbak. Orang kota banget!” jawab Ana.




“Ada ada aja kamu, An!”




“Kayak nya ya nih mbak, itu anak bakal masuk daftar hitam pos keamanan deh!” celetuk Ana.




“Kok bisa?”




“Yach ... kelihatan nya aja mbak, dari cara dia Mandang mbak Lina sama Asfa aja kayak gak ada sopan santunnya banget, gak ada akhlak!” ucap Ana.




“Husst ... kamu gak boleh ngomong gitu Ana, gak baik jaga lisan mu!” tegur mbak Lina.




“Iya iya ... mbak, maaf deh ... aku udah keterlaluan kalo ngomong,” ucap Ana menyesal.








“Sandal nya di bawa naik sekalian ya Liyah!”ucapan Asfa membuat Liyah bingung.




“Iya ... sandal nya di simpen di kamar aja, biar gak hilang di ghoshob santri lain!” ucap Asfa lagi.




Meski bingung, Liyah mencoba mengikuti kemauan Asfa.




Keduanya langsung menaiki tangga sampai lantai dua, kamar mereka.




Di kamar.




Asfa mengajak Liyah untuk menata lemari dan membongkar isi koper milik Liyah.




Saat koper Liyah di buka, Asfa melongo.




Tak ada baju satu pun, hanya ada gamis, kaos lengan panjang dan beberapa rok plisket.




“Kok gak ada baju nya sih?” gumam Asfa.




Liyah hanya diam tak acuh, membiarkan Asfa yang membongkar isi koper nya dan kemudian sibuk berkomentar ini dan itu.




“Kamu juga gak bawa bantal sama selimut ... Hem ... gimana yach?”




Liyah hanya diam tak menanggapi celotehan Asfa.




“Ya udah entar malem pakek punya aku dulu yah ... kebetulan aku punya dua, baru deh besoknya aku titip in ke mbak Lina kalo dia keluar pesantren!”




“Hemm ... sekalian beli baju buat kamu yach. kamu maunya beli baju di koperasi atau mau di beliin ke pasar?” tanya Asfa.




“Emang di sini gak ada mall apa?” Liyah balik bertanya.




“Emm ... ada sih, tapi kalo dari pesantren ke mall sih jauh banget! Kan mall nya ada di pusat kota.” terang Asfa.




“Berarti sekarang gue ada di desa gitu?”




“Yach .. bisa di bilang gitu sih, eh tapi gak ndeso-ndeso banget kok, masih ndeso-an kampung ku kok, Deket hutan malah!”




“OMG ... no ... no... .” Liyah bertanya lagi. “emang berapa jam sih dari sini ke kota?”




“Em ... sekitar empat jam-an lah, itu kalo gak macet!” Liyah terdiam, sedikit berpikir.




“Emang kenapa?” tanya Asfa.




“Gak papa, cuma tanya aja!” jawab Liyah sekenanya.




Kring ... kring ...




Bel yang di pasang pada setiap lantai gedung asrama berbunyi bersamaan.




Membuat bunyi dengungan yang lumayan keras.




“Ayo wudlu ... udah kring persiapan jama’ah sholat ashar!” Asfa sudah berdiri.




Tapi Liyah belum beranjak sama sekali, dia menguap.




“Apa? Jama’ah sholat ashar? Tapi aku ngantuk, pengen tidur!” ucap Liyah santai dan malah merebahkan badannya di dinginnya lantai keramik kamar.




“Hey ... jangan tidur Liyah, ini itu waktunya jama’ah sholat ashar, terus kalo udah adzan ashar itu gak boleh tidur!” ucap Asfa.




“Emang kenapa? Padahal aku ngantuk banget ... sumpah!”




“Ih ... gak boleh, kalo kamu tidur di waktu ashar, apalagi kamu ngelakuin nya Sampek 40 hari, kamu bisa kehilangan akal dan gak baik juga buat kesehatan kamu!” tutur Asfa.




Liyah cengo mendengar penuturan Asfa, sama sekali tidak paham akan apa yang di ucapkan Asfa.




“Udah ... ayo wudlu Liyah!” Asfa menarik tangan Liyah agar berdiri.




Dengan terpaksa Liyah mengikuti ajakan Asfa.




Dia tetap menurut, entah karena apa?




Kemana Liyah yang pemberontak?




Kemana Liyah yang bad girl?




Kemana Liyah yang gak suka di atur orang lain?




Kemana?




Apa dia berubah demi Iqbal?




Apa?




Mungkin saja!








Kamar mandi.




Liyah berjalan dengan kaki berjinjit.


Ia sungguh jijik berada di kamar mandi saat ini.




Baginya ini bukan kamar mandi, melainkan lebih mirip kandang sapi.




Itu persepsi Liyah saat menjejakkan kaki telanjang nya di lantai kamar mandi.




Hanya beberapa tempat yang di pasang lantai keramik, selainnya berdasarkan batu paving atau hanya plesteran semen.




Asfa mengajak liyah ke WC.




“Ayo, kamu masuk duluan. Aku tungguin di depan ya!” ucap Asfa menyuruh Liyah untuk masuk ke WC jongkok yang panjang lebar nya hanya sekitar 1×2 meter.




Liyah menatap ragu-ragu tempat yang kecil itu.




“Ayo masuk Liyah, kasian banyak yang ngantri!” Asfa mengulang perintah nya.




“Beneran? Di sini pipisnya?” tanya Liyah.




“Iya ... udah ayo buruan masuk!” ucap Asfa sembari sedikit mendorong tubuh Liyah agar masuk ke WC segera.




Liyah masuk, lalu berjongkok, setelah hajat nya selesai, ia menyiramnya dengan air, ragu ragu juga menyentuh kemaluan nya.




Dia sama sekali tidak pernah langsung menyentuh dengan kulit tangan nya, biasa nya dia hanya menggunakan tisu basah atau tisu toilet.




Hal ini benar benar yang pertama kali bagi Liyah, aneh, dan menggelikan.




“Sudah belum, Li?” Terdengar suara Asfa dari luar.




Sontak kepala Liyah mendongak, dan mendapati beberapa kepala yang muncul dari arah pintu bilik WC.




“Oh ... no, apa apa an mereka pakai acara Ngintip ngintip begitu!” gerutu Liyah yang kemudian langsung berdiri dari jongkok nya dan menatap satu persatu orang yang berada di depan WC.




“Udah Li? Kalo udah, ayok buruan keluar!” ajak Asfa.




Liyah langsung keluar dan sekarang gantian Asfa yang masuk WC.




Sebelum berjongkok, dia berkata.




“Jangan kemana mana Liyah! Tungguin aku di situ!” Lebih mirip ancaman, dan lagi lagi Liyah menurut.




Beberapa waktu kemudian.




Kini Liyah dan Asfa berhadapan dengan sebuah kulah persegi panjang yang air nya meluber sampai ke lantai.




Liyah masih diam.




Sedangkan Asfa sudah mulai berkumur kumur dan menyedot air ke hidung.




Asfa merasa janggal, lalu ia menoleh ke arah Liyah.




“Kok belum wudhu?” tanya Asfa.




“Em ... Aku nggak bisa kayak gitu!” Asfa bingung, mengerutkan keningnya.




“Yah ... itu ... apa namanya tadi? Wudhu? Iya wudhu, aku gak tau!” jujur Liyah.




Hening.




Asfa menatap Liyah dengan rasa tidak percaya.




Bagaimana?




Bagaimana mungkin remaja usia 18 tahun tidak bisa tata cara berwudhu? Yaaa, emangnya liyah itu anak kecil yang polos banget ya? Sampai wudhu aja dia ga tau?




“Oh tidak ... jangan jangan dia juga gak tau caranya sholat?” batin Asfa.




“Tapi kamu bisa sholat kan?” Asfa mencoba meyakinkan.




Dan sekali lagi Liyah menggeleng kan kepala nya tegas.




Tuh kan ...




Yang di pikirkan asfa benar.




Lalu bagaimana?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk