Bab 6

0 dibaca

A

45 menit berlalu.




Kini keluarga kecil itu sudah berada di dalam mobil Pajero, melanjutkan perjalanan menuju pesantren tujuan utama.




Liyah diam saja sedari tadi di samping Afifah.




Tak ada hiburan untuk Liyah, tak ada ponsel atau gadget yang biasanya selalu bersama nya.




Panji sudah menyita semua fasilitas yang ia berikan pada Liyah.




Tak kabar apapun yang ia terima dari luar, teman sekolahnya, ataupun dari Acha sahabat nya.




Juga tak ada kabar tentang Iqbal secuil pun.




Tak lama, mobil yang di tumpangi terparkir manis di sebuah halaman luas yang penuh dengan rerumputan hijau yang segar.




“Akhirnya, Sampek juga. Ayo turun.” ucap Panji, semua turun dari mobil, kecuali Liyah.




“Liyah, ayo turun nak!” ajak Afifah.




Tak ada jawaban, Liyah turun dari mobil dengan terpaksa, jangan lupakan wajah cemberut nya.




Gerbang berwarna hijau yang terbuat dari besi, selebar 3 meter dengan panjang 4 meter menyambut kedatangan keluarga kecil itu.




Panji mendekat ke arah gerbang hijau itu terlebih dahulu. Kemudian menekan bel yang berada di samping gerbang tersebut.




TENG NONG TENG NONG




Setelah nya, gerbang tersebut terbuka dari dalam oleh seorang laki-laki bertubuh gempal , berkulit hitam, dengan menggunakan stelan kaos lengan pendek dan sarung kotak kotak.




“Assalamualaikum!” Panji berucap




“Waalaikumsalam, ada yang bisa di bantu pak!” lelaki bertubuh gempal itu bertanya.




“Saya mau sowan ke kyai Husein sekaligus mau memasukkan putri saya ke pesantren ini.” jelas Panji.




“Oh ... iya baik pak, mari masuk pak, buk dan mbaknya!” Semua nya masuk, kecuali supir Panji.




Panji dan laki laki berbadan gempal itu melewati pintu berwarna putih, sedangkan Afifah dan Liyah masuk lewat pintu kayu tanpa warna, di temani seorang wanita dewasa yang tadi sempat di panggil oleh laki laki berbadan gempal tadi sebelum melewati pintu yang berbeda.




Lina,nama wanita dewasa yang menjadi petunjuk jalan Afifah dan Liyah.




Dia juga menjawab sekenanya apapun yang di tanyakan Afifah.




Liyah, mengikuti dari belakang.




Mereka bertiga berjalan melewati lorong yang sepi lalu tampak lah gedung gedung asrama beberapa detik kemudian.




Beberapa gedung ada yang sepi dan beberapa ada yang ramai dengan bincang dan gelak tawa anak anak.




Mereka terus berjalan menyusuri taman kecil yang memanjang, sekitar 10 meter.




Lalu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua yang lebih kecil dari gedung gedung yang lain.




“Ayo bu, silahkan masuk dulu!” ucap Lina.




Afifah dan Liyah mengikuti arahan Lina.




Mereka masuk lewat pintu bertirai bambu ,lalu di arahkan Lina masuk ke ruang tamu.




Di sana sudah ada Panji.




Lina izin pamit pada para tamu untuk menunggu di luar rumah.




Tak lama, terdengar suara batuk yang tertahan, dari balik lorong, seorang laki-laki paruh baya muncul.




Dia berkopyah hitam, memakai baju yang panjang nya sampai mata kaki.




“Assalamualaikum!”




Panji dan Afifah langsung berdiri, menyambut dan menjawab salam lelaki tersebut.




Tanpa Liyah, dia tetap duduk di tempatnya.




“Liyah, berdiri dan beri salam!” tegur Panji pelan, Liyah menatap sekilas papanya, kemudian beralih menatap lelaki tua yang masih berdiri di ujung lorong dengan masih tersenyum tulus.




“Mau daun salam berapa sih emang? langsung ke penjual nya aja kali, biar gak ngerepotin orang pa.” gerutu Liyah, masih tetap duduk di tempatnya.




“Liyah!” tegur Panji.




“Sudah, gak papa pak.” ucap kyai Husein sembari duduk berhadapan dengan Panji.




“Ayo ... silahkan duduk lagi!” pinta kyai Husein.




“Loh ... belum di buatin teh toh ?” Panji hanya tersenyum dengan celetuk kan kyai Husein.




“Sarah ... Nduk, buatkan teh untuk tamu, tiga cangkir!” kyai Husein agak berteriak.




Beberapa menit kemudian seorang perempuan, mungkin usia nya sebaya atau lebih mudah dari Liyah, dia membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat ke meja tamu.




“Ayo di minum teh nya!” pinta kyai Husein setelah perempuan yang memakai baju sama sekali dengan Lina kembali ke belakang.




Panji dan Afifah langsung menegak teh hangat nya, tidak sampai habis, belum.




Afifah menyenggol lengan Liyah.




“Minum teh nya sayang!” Liyah menolak dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.




“Ayo minum dulu, Nak! yang sopan sama pak kyai!” ucap Afifah lagi.




Kyai Husein yang melihat interaksi ketiga orang di depan nya. Hanya tersenyum tipis.




Wajah Panji memerah, entah karena menahan marah atau malu atas kelakuan Liyah yang tak ada sopan santun nya sama sekali di depan kyai Husein.




Sampai sampai Panji tidak berani menatap wajah kyai Husein lagi.




“Sudah, Ndak apa! Gak usah di paksakan.” pinta kyai Husein.




“Oh ... ya, pak Panji ini datang dari Jakarta ya? Ya Allah, sejauh ini mampir kesini pasti ada niat baik kan?” Beliau memulai perbincangan.




Panji hanya mengangguk.




“Iya kyai, kami ke sini mau menitipkan anak perempuan kami, agar rohani dan jasmani nya di didik menjadi yang lebih baik!” terang Panji.




“Ngomong ngomong, punya berapa anak nih?”




“Hanya satu saja, kyai!”




“Oh ... pantes, anak nya masih manja sama orang tua nya ... terlalu kebanyakan kasih sayang dari orang tua nya ... makanya kok gak terlalu semangat, karena takut di tinggalin Mama Papanya!” Panji Hanya tersenyum sekilas.




“Semoga aja betah ya Nduk di pesantren ini, kalo kamu kangen mama papa kamu, di sini menyediakan wartel kok Nduk!” tutur kyai Husein.








Liyah hampir saja tertawa lepas, kalau saja dia tidak ingat kalau sedang mode ngambek.




‘Kebanyakan kasih sayang dari Hongkong?’ batin Liyah.




Sejak Liyah di lahir kan sampai saat ini, yang mengasuh nya adalah bik Minah, baby sister yang merangkap jadi art di rumah.




Obrolan selesai.




Semua kembali ke halaman rumah bertingkat 2 ini.




Ada Mbak Lina yang ikut menunggu.




“Mari Bu, ikut saya ke kantor pesantren.” ajak Lina.




Liyah dan Mama nya mengikuti langkah Mbak Lina menuju salah satu gedung.




Hanya berdua, karna Papa nya sudah melewati jalan lain seperti tadi.




Mereka memasuki gedung bercat putih, dengan sebuah papan kecil di atas pintu masuk nya, dengan tulisan




“Kantor Al IDAROTIL ‘AMMAH MA’HAD ALMUNAWWAR LIL BANAT”




Liyah tidak tahu arti tulisan itu, menurut nya aneh.




Intinya, gedung ini adalah kantor, mungkin semacam kantor kepala sekolah.




Ada sofa di sana, Mbak Lina menyuruh Liyah dan Mama nya untuk duduk di sofa terlebih dahulu.




Dalam ruangan ini terdapat beberapa bagian yang di sekat.




Liyah melihat mbak Lina yang berjalan ke arah seorang yang berpakaian sejenis dengan mbak Lina, seorang tersebut tengah sibuk dengan komputer yang ada di depan nya.




“An ... tolong ambilkan formulir pendaftaran santri baru satu.”




“Iya mbak.”




Mbak Lina kembali menemani sepasang Ibu dan anak.




“Silahkan di isi dulu formulir nya Bu!”






Afifah yang mengisi formulir pendaftaran putri nya.




Sedangkan Liyah hanya memusatkan pandangan nya ke balik kaca jendela kantor pesantren, melihat keadaan sekitar pesantren.




Tak butuh waktu lama bagi Afifah untuk mengisi formulir pendaftaran.




Detik berikutnya, Lina menyimpan kembali kertas itu di dalam map biru.




Lalu mengajak ibu dan anak gadis yang menjadi tamu, berkeliling pesantren.




Lina mengajak tamunya ke salah satu gedung ber cat coklat mudah, naik ke lantai dua lalu berhenti di depan salah satu kamar.




“Asfa, sini ... .” panggil Lina pada seorang perempuan yang usianya sebaya dengan Liyah.




“Ada apa mbak Lin?”




“Nah, buk ... Liyah ... kenalkan ini Asfa , usia nya sepantaran dengan Liyah, karena kalian sepantaran, jadi mbak Lina titipin Liyah ke Asfa, kalian satu kamar.” jelas Lina




“Oh ... orang mana nak Asfa?” Afifah bertanya.




“Saya orang Bojonegoro buk.” Asfa menjawab sopan.




“Masih ada lemari yang kosong kan, Fa?” tanya Lina.




“Em ... kayak nya ada deh mbak, lemari bekasnya si Eni yang baru boyong Minggu lalu,” ucap Asfa.




Kini mereka berada di dalam kamar dengan ukuran lebar 20 meter×panjang 17 meter.




Kamar ini sudah bisa di bilang kamar paling VVIP setelah kamar asatid dan pengurus.




Tapi Liyah masih memandang jijik keadaan kamar yang ia anggap kumuh, bahkan lebih kumuh dari kamar pembantu nya di rumah.




Asfa sudah membereskan lemari kecil yang akan di tempati oleh Liyah.




Di dalam kamar itu bukan hanya ada Afifah, Liyah, mbak Lina dan Asfa, melainkan juga ada beberapa santri yang ikut duduk melingkar, entah karena hormat pada mbak Lina, selaku ketua pengurus pesantren, atau hanya sekedar ingin tahu latar belakang anak baru yang akan menjadi salah satu penghuni kamar ini, ini kebiasaan tukang kepo.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk