Heartbreak Run

0 dibaca

A

Napas Cyril memburu, bukan lagi karena sisa kilometer yang harus ia tempuh, melainkan karena gejolak emosi yang mendesak dadanya hingga terasa sesak. Pesan suara dari Arienda tadi pagi terngiang jelas di kepalanya: “Kalau lagi kalut gara-gara Dian, jangan didiemin di kamar. Pakai sepatu lari lu, lari sejauh-jauhnya sampai capek. Biar kaki lu yang nanggung sakitnya, bukan dada lu.”

​Sialnya, nasihat itu terbukti benar sekaligus menyebalkan.

​Kini, sengatan matahari pagi Jakarta terasa semakin membakar kulitnya, menyatu dengan keringat yang mengalir deras di pelipis. Setiap hantaman sepatu ke atas aspal terasa seperti pelampiasan atas rasa cemburu dan harga diri yang mendadak runtuh. Bayangan tawa Dian bersama Steve terus berkelebat di kepalanya, memprovokasi ritme larinya agar semakin cepat. Cyril mempercepat langkahnya, meninggalkan kawasan Senayan, menyusuri trotoar yang mulai padat oleh pejalan kaki, tanpa peduli ke mana arah kakinya membimbing.

​Di balik ketenangannya yang dingin tadi, isi kepala Cyril berkecamuk hebat. Siapa sebenarnya Steve? Sejak kapan Dian akrab dengan pria asing seperti itu?

​Pertengkaran semalam—yang berakar dari kecurigaan-kecurigaan kecil yang kian menumpuk—kini terasa seperti ramalan yang menjadi kenyataan. Dian tidak sedang berusaha memperbaiki keadaan; wanita itu justru melangkah maju ke tempat lain, meninggalkannya dalam kebingungan yang memuakkan.

​Cyril merogoh saku celana olahraganya, mencabut ponsel yang bergetar karena notifikasi pesan masuk. Layar menyala menampilkan nama Arienda.

​Lu di mana? Masih hidup? Jangan bilang lu pingsan di pinggir jalan tol.

​Cyril mendengus pelan di tengah deru napasnya yang tersengal. Ia mengurangi kecepatan larinya menjadi jogging ringan, lalu menepi di dekat sebuah taman kecil untuk meredakan detak jantungnya yang menggila. Jemarinya yang basah oleh keringat dengan cepat membalas pesan tersebut.

​Masih hidup. Sialnya.

​Ia mengetik lagi dengan ibu jari yang sedikit bergetar.

​Lu bener, Ri. Heartbreak run ternyata emang bikin capek. Tapi kepala gua malah makin berisik.

​Beberapa detik kemudian, balasan Arienda masuk, singkat namun cukup menohok kesadarannya.

​Baguslah kalau berisik, tandanya lu sadar kalau lu lagi ditinggal. Sekarang balik ke apartemen, atau gua seret lu buat minum kopi pahit bareng.

​Cyril menatap layar ponselnya sejenak, lalu mendongak menatap langit Jakarta yang terik. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kering. Ia menghela napas panjang, merenggangkan otot-otot kakinya yang mulai kaku, lalu berbalik arah.

​Langkahnya kini tidak lagi berlari penuh amarah, melainkan berjalan pulang dengan tekad baru yang perlahan mengeras di dadanya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk