Cahaya matahari pagi menyengat area luar Stadion Gelora Bung Karno. Cyril berlari dengan ritme stabil, meski pikirannya masih tertambat pada pertengkaran hebat semalam. Langkah kakinya melambat saat ia mendekati salah satu kafe di area komplek olahraga tersebut.
Tepat di area luar kafe, langkah Cyril terhenti.
Dian keluar dari sana bersama seorang pria bertubuh atletis. Gelak tawa kecil terdengar dari arah mereka, lengkap dengan interaksi kasual yang menyirat keakraban—tampak seperti dua orang yang baru saja menyelesaikan kencan pagi yang menyenangkan. Dari kejauhan, Dian menyadari keberadaan Cyril. Tanpa beban, wanita itu mengangkat tangannya perlahan, memberikan gestur sapaan yang tampak datar namun disengaja.
Cyril menghampiri mereka dengan napas yang masih terengah tipis bekas berlari. Pria asing di samping Dian tersenyum ramah ke arah Cyril.
“Siapa?” tanya Cyril singkat, tatapannya tertuju lurus pada Dian dengan raut wajah yang sukar ditebak.
Dian menatap Cyril sebentar, lalu beralih menyentuh lengan pria di sebelahnya dengan santai. “Cyril, kenalin. Ini Steve.”
Steve mengulurkan tangannya pada Cyril, menyapa dengan Bahasa Inggris yang lugas. “Hey man. Dian’s been telling me about her running sessions around here. Honestly, she’s drop-dead gorgeous, so I’m not surprised if she gets a lot of attention.”
Cyril menerima uluran tangan itu sekilas. Pandangannya sempat mengendap pada cara Steve menatap Dian, sebelum akhirnya kembali menatap mata Dian yang berpura-pura tenang.
“Yeah. You’re right,” jawab Cyril singkat dalam Bahasa Inggris, mengiyakan ucapan Steve tanpa keraguan sedikit pun.
Ia lalu mengangguk sopan pada Steve dan menatap Dian sekilas. “Lanjutkan saja acara kalian. Aku masih harus lanjut lari.”
Tanpa menunggu tanggapan lebih jauh atau memberikan ruang di antara mereka, Cyril membalikkan badan dan kembali memasang ritme larinya, meninggalkan Dian dan Steve yang berdiri menatap punggungnya yang menjauh.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!