Sore itu, hujan deras mengguyur area parkir sebuah kafe di Jakarta Pusat—tempat Dian dan Cyril sepakat untuk melangsungkan first date mereka setelah match di Bumble beberapa hari sebelumnya.
Di aplikasi, profil Cyril cukup mencolok: seorang bule asal Prancis penyuka lari dengan foto-foto yang memancarkan aura santai. Sementara Dian, dengan bio singkat mengaku gadih Minang asal Padang kota, menarik perhatian Cyril karena cute gitu fresh graduate baru lulus kuliah. Setelah bertukar pesan singkat yang agak garing, Cyril mengajak Dian bertemu untuk minum es kopi.
Namun, kencan pertama itu hampir berantakan sebelum dimulai.
Saat Dian hendak parkir, ban belakang kendaraannya menghantam lubang tajam di area parkir kafe yang tergenang air hingga kempis. Dian berdiri di bawah kanopi kafe, menghela napas menatap bannya. Ia bingung harus bagaimana tanpa mengotori pakaian rapinya di tengah hujan lebat.
Cyril, yang sudah datang lebih awal dan melihat mobil Dian dari dalam kafe, langsung keluar menghampiri. Dengan senyum ramah yang spontan, Cyril melepas jaketnya tanpa ragu dan berlutut di atas aspal basah untuk memasangkan dongkrak dan mengganti ban Dian. Dian sempat merasa sangat tidak enak, tapi Cyril hanya terkekeh santai dalam bahasa Inggris, “Consider this my warm-up before our coffee.”
Dian terpukau melihat betapa cekatan dan santainya Cyril penolongnya itu. Begitu ban cadangan terpasang rapi dan Cyril mengelap tangannya yang ternoda oli, Dian menatap mata biru Cyril yang berbinar dan berbisik pelan sambil tersenyum malu-malu:
“Merci.”
Cyril tertawa hangat, sedikit terkejut mendengar kata Prancis pertama keluar dari mulut cewek lokal yang begitu anggun di depannya. Momen di bawah guyuran hujan dan kata merci sederhana itulah yang langsung mengunci perhatian Cyril sejak detik pertama mereka bertemu.
Setelah Cyril membersihkan tangannya di toilet kafe, mereka akhirnya duduk berhadapan di sudut kafe yang hangat. Dua cangkir kopi panas dan beberapa potong pastry tersaji di meja kayu di antara mereka, memecah dinginnya sisa hujan di luar.
Kecanggungan awal usai insiden ban kempis perlahan mencair, tergantikan oleh obrolan santai tentang keseharian dan hobi masing-masing.
“Jadi, hobi kamu apa lagi?” goda Dian halus sambil menyesap latte-nya.
Cyril tertawa pelan, menyandarkan punggung ke kursi. “Jujur, sebagian besar waktu luangku habis di lintasan lari. I’m completely obsessed with running,” akunya terang-terangan dengan mata biru yang berbinar penuh antusias. “Setiap pagi kalau gak lari, rasanya ada yang kurang. Ada kepuasan tersendiri pas ngejar pace atau cuma sekadar easy run sambil ngumpulin pikiran.”
Cyril menatap Dian langsung, lalu tersenyum tipis. “Lain kali, aku mau banget ajak kamu olahraga bareng. Gimana? Mau coba lari pagi sama aku?”
Dian terkekeh pelan, menatap Cyril dengan pandangan jenaka. “Lari pagi? Wah, kayaknya kamu bakal bosan nemenin aku. Aku emang suka olahraga, tapi ritmeku beda banget sama kamu.”
“Oh ya? Kamu biasanya olahraga apa?” tanya Cyril penasaran.
“Aku lebih ke Pilates. It’s all about control, flexibility, and breathing,” jelas Dian tenang. “Tapi aku juga suka jogging santai kok, paling cuma 2 kilometer buat warm-up sebelum sesi Pilates sore.”
Mendengar itu, senyum Cyril makin lebar. “Dua kilometer itu awal yang bagus! Gak usah khawatir soal pace, aku bisa banget menyesuaikan. Kita bisa lari santai di GBK atau track atletik pagi-pagi, habis itu aku yang traktir sarapan. Deal?”
Dian menatap mata Cyril yang warnanya biru. Rona tipis kembali hadir di pipinya, namun ia tersenyum dan mengangguk pelan.
“Boleh... Deal.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!