Zona 2

1 dibaca

A

Kabut tipis pagi masih menggantung rendah di atas lintasan atletik berwarna merah sintetis itu. Dian baru saja menyelesaikan peregangan pendinginan setelah lari pagi 2 km yang segar—rutinitas yang selalu ia jaga agar daya tahan tubuhnya seimbang dengan sesi Pilates di sore hari.

​Saat mengusap dahinya dengan handuk kecil, ia menangkap sosok tinggi dan ramping yang sedang berjalan pelan di lintasan luar. Itu Cyril.

​Cyril mengenakan perlengkapan lari lengkap, rambutnya basah oleh keringat, dan napasnya teratur setelah menyelesaikan serangkaian stride. Seingatnya Cyril yang ngajakin lari kemarin memancarkan karisma cool runner bule. Tapi hari ini, dia sepertinya tidak biasa, cenderung banyak diam.

​Cyril menyadari keberadaan Dian di dekat tribun, lalu memelankan langkahnya menjadi jalan kaki. Bukannya memberikan senyum jahil yang biasa, Cyril hanya mengangguk pelan dengan sedikit canggung.

​Bayangan mimpi semalam mendadak berputar kembali di kepalanya. Di dalam tidur lelapnya, Cyril terbangun di bawah remang lampu jalanan yang basah oleh hujan lebat. Dian berdiri begitu dekat dengannya, jemari halusnya terangkat mengusap sisa air hujan di rahang Cyril. Tatapan mata gelap Dian terasa begitu intens, menyebarkan sengatan hangat yang menjalar cepat ke dadanya. Sebelum Cyril sempat berkata apa pun, Dian mendekat dan membisikkan kata “Merci” tepat di bibirnya, disusul sentuhan lembut yang membuat napas Cyril tertahan hingga ia tersentak bangun dengan jantung berdebar kencang.

​Ingatan sensual yang begitu nyata itu membuat Cyril merasa sangat canggung dan serba salah di dekat Dian pagi ini. Ditambah lagi, aroma harum tubuh Dian yang menyerbak pelan di udara benar-benar mengalihkan dunianya.

​Dian langsung menyadari perubahan itu. Ia menyampirkan botol minumnya ke dalam tas, lalu melangkah mendekati tepi lintasan.

​”Udah selesai ya?” tanya Dian, suaranya tenang dan pelan seperti biasa.

​Cyril menyapu keringat di dahi dengan lengan bawahnya, lalu melempar senyum tipis yang agak tertahan. “bisa diatur hehe, kamu gimana? .”

​”Aku udahan juga,” gumam Dian. Mata gelapnya menatap wajah Cyril dengan rasa penasaran yang samar. “Ini kemarin kirain ngajakin lari mo barengan gitu. Is everything okay?”

​”Ah... iya ajakin ketemuan lebih tepatnya yah,” jawab Cyril sambil berdeham pelan. “Cuma... Ya udahlah ya”

​Dian berdiri sebentar di sana sambil membetulkan tali tasnya. Ia biasanya bukan tipe orang yang suka mengajak duluan, tapi mengingat Cyril pernah membantunya mengganti ban mobil di tengah hujan deras—dan ingin mencairkan kecanggungan aneh di antara mereka—Dian menghela napas pelan.

​”Aku mau beli bubur ayam di pojokan situ sih,” kata Dian sambil menatapnya. “Mau bareng?”

​Cyril blinked, jelas terkejut. Kehangatan yang tulus mendadak menggeser sikap canggungnya. “Mau banget,” jawabnya tanpa ragu.

​Sepuluh menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di meja plastik sederhana di bawah tenda terpal biru. Dua mangkuk bubur ayam hangat tersaji di antara mereka, diiringi riuh hiruk-pikuk komuter Jakarta di pagi hari.

​Obrolan mereka dimulai dengan kecanggungan yang justru terasa menggemaskan.

​”Jadi... kamu biasanya makan bubur diaduk atau gak diaduk?” tanya Cyril sambil mengarahkan sendoknya agak bingung ke arah mangkuk. “Katanya di sini ini perdebatan serius banget ya?”

​Dian tidak bisa menahan tawa pelannya, lalu menggeleng. “Gak diaduk. Kalau diaduk teksturnya rusak. Kalau kamu aduk, aku pulang nih.”

​Cyril mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah, cengiran khasnya mendadak terbit. “Oke, gak diaduk! Gak berani ambil risiko aku.”

​Cyril berhati-hati menyuap bubur, mencoba mengondisikan kerupuk dan daun seledri dengan sendoknya. Melihat usahanya yang sungguh-sungguh untuk beradaptasi dengan suasana warung lokal, Dian menyembunyikan senyum di balik tisu.

​”Kamu disiplin banget ya kalau soal lari,” ujar Dian pelan setelah jeda sejenak, memecah keheningan.

​”Bikin pikiran adem aja sih,” jawab Cyril halus. Mata birunya menatap Dian sedikit lebih lama dari biasanya. “Tapi... kadang gak begitu mempan juga sih.”

​Dian menangkap nada bicara Cyril yang terasa begitu intens, lalu menunduk menatap teh hangatnya. Rona merah tipis terbit di pipinya. Ia meminum tehnya pelan untuk menjaga sikap tenang, tapi ujung bibirnya tidak bisa berhenti tertarik ke atas.

​”Terus bahasa Prancis kamu?” tambah Cyril, suaranya berubah jadi nada menggoda yang ringan. “Dapat dari mana kata merci?”

​Dian sempat tertegun sejenak, jarinya mengencang di cangkir. “Semua orang juga tahu beberapa kata asing kali,” jawabnya lancar, berusaha menjaga nadanya tetap lempeng meski pipinya terasa makin hangat. “Merci, bonjour, oh la la.”

​Cyril terkekeh pelan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi plastik. “Ahh oui.”

​Mereka kembali diam dalam suasana yang nyaman sambil menyesap minuman hangat masing-masing. Setiap kali mata mereka saling bertatap di atas meja kayu sederhana itu, rasa malu yang membayang kembali hadir, memaksa keduanya untuk saling melempar pandang ke arah lain—meski begitu, senyum tipis yang tak tertahankan tetap terkembang di wajah mereka berdua.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk