”AKU hamil, Sal,” ucap seorang wanita yang mengenakan dress brukat hitam selutut, setelah menyodorkan sebuah alat tes kehamilan. Jeda sejenak, lantas melanjutkan, “Anak Prabu.”
Senyum yang tadinya mengembang pada raut calon pengantin wanita mendadak lenyap. Wajahnya yang sudah dipoles oleh berbagai macam alat makeup sama sekali tidak bisa menutupi ekspresi keterkejutannya. Bahkan, matanya yang kini telah terpasang lensa abu-abu mulai tampak berkaca-kaca.
Meski jantungnya mulai berdegup tidak beraturan, meski kedua tangannya mulai tremor, meski tubuhnya mulai gemetar, ia tetap berusaha mencoba berpikir jernih. Tidak mungkin, nama yang dimaksud sahabatnya ini, nama yang tertera dalam undangan pernikahannya, kan?
“M-m-maksud kamu?” tanya Salwa. Suaranya mulai bergetar. Bibirnya yang berusaha sekuat mungkin untuk ditariknya ke atas tampak berkedut. Jelas sekali dirinya hendak menangis setelah mendengar kabar yang dibawa Giselle ini. Namun, ia tidak ingin berprasangka buruk lebih dulu. Bisa jadi, Prabu yang dimaksudnya, bukan Prabu sang calon suami.
Tapi, nama Prabu bukanlah nama yang umum.
“Prabu Guntur Yudistira. Benar. Ini anaknya, Sal.”
Runtuh sudah pertahanan yang berusaha Salwa bendung. Air mata kini telah menganak sungai di pipinya. Ia menatap nanar Giselle, sosok sahabat yang sudah menemaninya semenjak duduk di bangku SMP itu. Tidak. Setelah apa yang terjadi, apakah wanita itu masih bisa disebut sebagai sahabat?
“Bohong,” desis Salwa.
Giselle menggeleng. Ia juga menatap Salwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sesaat kemudian, wanita berambut lurus sepinggang yang dibiarkan tergerai itu bersimpuh. Tangannya menggenggam erat tangan Salwa yang sudah penuh dengan hiasan hena.
“Maafin aku, Salwa. Kami berdua khilaf waktu itu.”
Suara Giselle terisak. Sepertinya, ia juga menangis. Bahkan, punggungnya tampak naik turun.
Salwa tidak tahu harus berbuat apa. Ia membiarkan tangannya terus digenggam erat tanpa berusaha untuk menarik diri. Hatinya hancur lebur. Luluh lantak. Pedih. Perih.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ia akan mengalami tragedi semacam ini. Sahabat dan sang calon suami, mengkhianati dirinya seperti ini.
Wanita itu menangis tanpa suara hingga dadanya terasa sesak. Kamarnya yang telah disulap sebagai tempat rias kini seakan disulap kembali menjadi medan adu tangis. Tangis antara dirinya dan Giselle.
Pintu berayun membuka. Salwa menoleh, lantas mendapati sang ibu tengah mematung di tempat. Sebelah tangannya memegang ponsel. Dari ekspresi syok wanita paruh baya itu, Salwa menduga, pasti beliau juga membawa kabar yang tidak diharapkan. Mungkin, ada hubungannya dengan masalah Giselle.
Wanita berhijab lebar mustard itu melangkah masuk. Matanya juga tampak hampir menangis.
Oh, ayolah. Ini seharusnya jadi hari bahagiaku, kan? Kenapa semuanya menangis seperti ini? batin Salwa pilu.
“Salwa ...,” panggil Bu Ayu, ibu Salwa.
Wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Giselle yang masih meringkuk di hadapan Salwa, lantas kembali menatap putri sulungnya.
“Ada apa ini?” tanyanya. “Giselle kenapa?”
Saking lamanya hubungan persahabatan mereka, Bu Ayu sampai menganggap Giselle sebagai putrinya juga. Bahkan, Salwa sering cemburu karena ibunya terkadang tampak lebih peduli kepada Giselle daripada dirinya. Namun, entah. Setelah kejadian seperti ini, masihkah ibunya akan memperlakukan Giselle seperti sediakala?
Salwa menyeka air matanya. Tidak peduli lunturan maskara dan eyeliner yang ia pakai mulai merembes ke sekitar pipi dan hidungnya.
“Ada apa, Bu?” Wanita yang pada kepalanya sudah terpasang hijab putih dan siger lengkap dengan bunga melati itu mencoba mengalihkan pembicaraan. Meskipun hatinya begitu sakit, ia tidak ingin ibunya tahu masalah Giselle. Bukan karena dirinya melindungi Giselle. Bukan. Ia hanya tidak ingin ibunya merasa hancur juga seperti dirinya. Kecewa atas segala perbuatan oleh seseorang yang telah dianggapnya putri sendiri.
Ada yang pernah bilang, ’Pisau yang tertancap di punggungmu tidak akan membunuhmu. Justru yang membuatmu terbunuh adalah ketika dirimu berbalik arah dan melihat siapa yang menancapkan pisau itu’.
Biar sajalah ibunya tidak tahu. Begitu lebih baik daripada terluka.
“Ibu ... baru saja mendapat telepon dari Bu Sena,” jawab Bu Ayu gamang. “Beliau bilang ....”
Jantung Salwa sudah tidak karuan lagi dentumannya. Mungkinkah keluarga Prabu juga sudah tahu masalah ini, sehingga Bu Sena, ibu Prabu, menelepon ibunya?
“Mereka tidak bisa melanjutkan acara pernikahan ini,” lanjut Bu Ayu. Wajah wanita berkebaya senada dengan hijab mustard-nya itu menegang. “Ada apa, Nduk? Ada masalah apa? Kenapa sampai seperti ini? Kenapa mereka membatalkan acara tepat satu jam sebelum akad? Kenapa nggak jauh-jauh hari? Kamu tahu sesuatu?”
Salwa memejamkan mata, berusaha menekan air matanya agar tidak keluar. Setelah yakin dirinya tidak akan menangis lagi di hadapan sang ibu, ia mulai membuka mata, lantas menatap wajah ibunya.
Dengan sekuat tenaga, ia mencoba tersenyum.
“Mungkin Prabu bukan jodohku, Bu,” ucap Salwa.
Bu Ayu segera menghambur ke arah wanita berkebaya putih pengantin itu dan memeluknya erat.
Dalam keadaan seperti ini, mustahil Salwa bisa menahan air matanya lagi. Ia menyambut pelukan sang ibu diiringi dengan tangis yang mulai terdengar memilukan. Salwa tidak peduli lagi dengan Giselle yang masih terduduk di lantai. Ia juga tidak peduli betapa banyaknya orang yang mengintip dari luar pintu, yang saling berkasak-kusuk mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Wanita berlesung pipi itu hanya ingin menumpahkan seluruh emosinya sekarang. Kepada sang ibu, wanita yang melahirkannya 28 tahun lalu.
Tiba-tiba, dari arah kerumunan di balik pintu kamar itu, seorang pria menyeruak masuk. Pria yang mengenakan setelan jas hitam itu memandang lurus ke arah mata Salwa yang juga tidak sengaja menatapnya.
Menyadari dirinya sedang ditatap seperti itu, Salwa menghentikan isak tangisnya.
“Bu Ayu,” panggil pria berkulit putih itu.
Ibu Salwa mulai merenggangkan pelukan, lantas menoleh ke asal suara.
“Barack,” lirih Bu Ayu. “Maaf, Ibu nggak tahu kamu datang.”
Wanita itu menoleh ke arah Salwa yang tampak bingung. “Ibu mengundang keluarga Pak Handi, tetangga lama kita dulu. Berhubung semuanya lagi ada di Jakarta, dan cuma Barack yang ada di Jawa Timur, jadi Barack yang mewakili keluarganya datang.”
Salwa mengangguk-angguk mengerti.
“Maaf, sepertinya Ibu membuang waktu kamu, Barack,” ucap Bu Ayu seraya menghampiri pria jangkung berkulit terang itu. “Pernikahan ini ... sepertinya ....”
“Izinkan saya menikahi Salwa,” sela pria itu, membuat Salwa menahan napasnya seketika.
Bahkan, Bu Ayu juga tampak tidak bisa berkata-kata.
“Izinkan saya,” ulangnya lagi. Suaranya terdengar serius. “Menggantikan posisi calon mempelai pria yang tidak hadir hari ini, Bu Ayu.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!