Prolog

3 dibaca

A

SEBUAH rumah minimalis dengan pagar putih tulang berongga, kini telah berada tepat di hadapan. Genggaman wanita bergamis ungu corak bunga-bunga itu makin mengerat pada handle koper yang diseretnya. Dengan menggigit bibir, ia mendongak, memperhatikan seluruh sisi bangunan bercat kuning gading yang terletak di dalam area perumahan itu. Mulai hari ini, inikah yang akan menjadi tempat tinggalnya?

Tidak. Bukan.

Lebih tepatnya, inikah kehidupan yang akan ia jalani mulai sekarang?

Takdir benar-benar mempermainkan hidupnya. Tidak puas menghadapkannya dengan sebuah fakta menjijikkan, kini ia juga dijejali dengan sebuah kenyataan yang sama sekali tidak pernah diprediksinya.

Tiba-tiba sebuah tangan lain mengambil alih handle koper dari genggamannya, membuat wanita berhijab putih itu mengalihkan perhatian.

“Ayo masuk. Jangan sungkan,” ucap pria itu. Pria, yang tanpa seizinnya, kini menyandang status suami. Benar. Suaminya.

Sosok jangkung berkemeja hitam slimfit dengan celana krem itu mulai berjalan masuk melalui pintu pagar sambil menyeret dua koper. Melihat punggungnya yang menjauh, membuat pelupuk mata wanita itu kian menghangat, hingga meluncurkan bulir bening ke pipinya.

Begitu banyak keraguan yang melintas di benak, membuat kakinya enggan mengikuti langkah pri--bukan--suaminya itu.

Wanita itu beristigfar pelan.

Bahkan, untuk menyematkan kata ‘suami’ kepada pria itu saja rasanya canggung! Lantas, akankah ia bisa menjalani kehidupan pernikahan yang tidak diinginkannya ini? Pernikahan tanpa ada dasar cinta ini?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk