Chapter 1

10 dibaca

A

“Tidak ada yang ganjil dalam kasus ini. Kau akan melihat bahwa dengan alasan inilah, misteri ini dianggap mudah, padahal seharusnya dianggap sulit untuk mencari solusinya.”

C, Auguste Dupin.

Ada publikasi utama dalam sebuah komunitas atau konteks keistimewaan. Di dalam sebuah mahkota selayak liriodenron tuliferium, sebuah kristal muda paling megah seabad wajah buku dunia. Di antara tangan-tangan ukiran mikroskop yang amat peka akan detail sobekan oksigen di antara kilauan mata Mermaidian. Tiap kegelapan dinobatkan sebagai wajah Zeus, menganga dan berakhir dalam kenistaan mulut berbisa milik Hades. Tiap genang air mata Poseidon mengalir di antara sunyinya suara Scylla. Tentu saja, diiringi alunan piawai para Shiren. Di tiap runcingnya jejeran tombak, dibekam kuat akan batu-batu bertuah sahabat Atlas yang selalu terang selayak bagaskharanya Helios, lalu disatu padu dalam julukan sederhana, Neoma’s Palace.

“Buku yang bagus!” tukas Queen Quila memandang damai seorang pria cerdas di sampingnya. Kedua lesung pipitnya tercipta begitu natural. Kiasan cerah wajahnya menapak kuat akan legenda Ratu Peri Peneluvarc.

“Tentu. Auguste Dupin sangat memukau,” jawab pria itu, wajahnya begitu teduh, tetapi sense kecerdasannya selalu terpancar di tiap lapisan iris matanya.

“Sepertinya kau sangat menyukai buku itu, Marama?”

“Kau tahu kan, bahwa aku senang membaca buku? Banyak hal yang dapat kupetik. Juga ....“ King Marama tak melanjutkan, tatapannya berubah sesak, wajahnya menyala-nyala dalam bias remang pelukan sang Bulan yang diinjaknya. Pertama hitam, lalu ungu, dan sekarang merah. “Kenapa kualitasnya jadi kasar begini?”

“Ada apa?”

“Ketebalan bukunya lebih tipis dari setitik air yang mengalir lewat serum 0,5 mill. Ditambah, tingkat gravitasi seolah hilang dalam kasus hipoksia.”

“Kau bercanda?” Queen Quila tak terlalu panik. Tentu saja, karena ia tak mengerti ke mana logika Marama berlabuh.

“Kuharap ini tak benar,” balas King Marama sambil menggesekkan jemari dan jempolnya. Butiran kertas rapuh berterbangan di udara, lebih hancur dari debu. Pria itu menutup buku setebal tangannya lantas berlalu pergi tanpa sepatah kata pun. Namun, helain rambut panjang sepinggangnya seolah melambaikan tangan sebagai isyarat selamat malam.

Queen Quila terdiam untuk beberapa saat memandang mayat-mayat debu kertas itu, hatinya tiba-tiba gundah. Dia menarik debu itu ke atas telapak tangannya yang bercahaya. “Titik gravitasinya melambat?” Suara Queen Quila begitu pelan, tetapi terdengar menampar semesta. King Marama yang hendak keluar menuruni Menara terdiam beberapa detik.

Groo! Alih-alih, terdengar suara angin yang begitu kencang, jauh di ujung Menara. Lalu, seperti diterjang musuh, rambut panjang miliknya menapar gravitasi. Dia dengan spontan menoleh, melihat Queen Quila membeku di tempat, badannya seolah bergetar, helai rambutnya yang sepanjang mata kaki itu tampak melambai meminta tolong.

“Ini tidak ….”

Karena merasa khawatir, King Marama berlari kilat menghampiri Queen Quila. Matanya sempat melihat cairan bening di ujung mata birunya yang sejernih kecupan Athena.

“What’s the matter?”

“The Moon.” Queen Quila menjawab dengan bibir bergetar, bahkan dagu lancipnya ikut bergerak. Tatapannya lurus dan polos.

King Marama ikut memandang, matanya membulat demi melihat bahwa cahaya bulan di hadapannya terlihat retak, seolah akan terbelah.

“King Marama!” Suara bising seseorang menginterupsi keheningan, keduanya menoleh dan melihat pria tinggi besar berotot berdiri di ujung tangga dengan napas tak beraturan.

“Ada apa, Jenderal Abu?”

“Ini gawat! Anda sebaiknya lihat ini!”

King Marama, Queen Quila dan Jenderal Abu berlari menuju luar istana. Queen Quila spontan menutup mulutnya, sementara King Marama terbelalak. Nyaris separuh rumah penduduk Kerajaan Neoma hancur. Darah berceceran.

“It’s Hurt!”

“Help!

“My Son!”

“Oh My Leg!”

“The Wind, He destroyed everything!”

Angin kencang itu bukan hanya datang untuk bertamu, tetapi juga ikut meluluh-lantakkan segalanya. Semuanya; bahan makanan, pohon, pagar-pagar istana dan apa pun itu.

Suara riuh tangis dan jeritan di mana-mana tak urung membuat Queen Quila menangis. Bahkan, wanita berambut panjang itu refleks berlari untuk ikut membantu prajurit lain dalam menyelamatkan penduduk Neoma yang masih selamat. Dia menumpahkan segala tenaga ke tangan kurusnya guna mengangkat setiap jenis benda reruntuhan yang menimpa para warga. “Just hang on, I will … help you!” ucapnya seraya terus meneteskan air mata, setelahnya dia mengecupi anak penduduk Neoma yang baru saja berhasil diselamatkannya. King Marama juga ikut melibatkan diri untuk menolong yang lainnya.

Sambil memeluk anak tak berdaya itu, tatapan Queen Quila banyak mendapati ratapan tak berdaya. Bahkan, mungkin banyak yang telah kehilangan nyawa.

“Ini tidak mungkin terjadi.” Dia memeluk anak kecil itu semakin erat. “Please take care of him! Bawa dia ke rumah sakit secepat mungkin.”

“Baik, Yang Mulia.” Prajurit di depannya mengangguk, lantas mengambil alih gendongan anak kecil itu.

“Dan kalian berdua,” imbuh Queen Quila, “ikut aku!’

Kedua prajurit lainnya mengangguk.

Dengan tergesa, Queen Quila berbalik masuk istana dengan dikawal dua prajurit serta empat pelayan istana. Dia berlari menaiki anak tangga, lalu tiba di ruang berbentuk segitiga terbuka. Di dalamnya terlihat sebuah patung Atlas yang menopang suatu cahaya raksasa seperti mikroskop. Selain menjadi ratu yang bijaksana. Queen Quila juga bertugas mengatur keseimbangan garis antara bumi dan bulan. Tentu saja, tidak bisa digunakan oleh orang sembarangan, karena hanya satu-satunya yang bisa menggunakan alat tersebut hanyalah Queen Quila sendiri.

Tak perlu berlama-lama, Queen Quila menyipitkan pandang dan mencari letak masalahnya melalui Mikroskop. Perlahan, tidak ada yang ganjil, tetapi tak lama dia merasakan keanehan yang begitu erat untuk menamparnya. Posisi bumi tidak lagi miring. Kedua kutubnya bergerak menciptakan garis yang nyaris tegak lurus.

Queen Quila menarik wajahnya, tidak bicara.

Raja Marama yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya perlahan bertanya tentang apa yang terjadi.

It’s true, Marama.” Queen Quila berucap gemetar, air matanya ingin meleleh lagi. “Lembar buku milikmu tidak mungkin berbohong. The Earth … will holding by Insidious!

Semua orang, terkejut. “Kita harus menginvasi bumi secepatnya,” balas King Marama tegas. Siapkan prajurit untuk berkumpul di Aula.

“Yang Mulia.” Jenderal Abu mengangkat tangannya. Kontan saja semua pasang mata tertuju padanya.

“Ada yang ingin kau katakan Abu?”

Jenderal Abu mengangguk. “Saya ingin mengusulkan, bagaimana jikalau kita mengutus mata-mata terlebih dahulu sebelum Raja memutuskan untuk melakukan hal berisiko seperti ini.”

King Marama terdiam untuk beberapa detik. Berpikir, menurutnya, Jenderal Abu ada benar nya juga. Ia terlalu ceroboh dalam mengambil keputusan. “Lalu, jika itu saranmu, siapakah orang yang akan kita utus untuk memata-matai bumi?”

Jenderal Abu tak menjawab, dia hanya tersenyum.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk