“Yeah!” Terdengar seseorang berteriak di atas batu-batu berwarna dan menyala. Mata biru itu menerangi gelapnya malam. Bebatuan ini terlihat seperti bukit, tetapi lebih rendah. Di ujung bukit itu berdiri beberapa pohon-pohon tak berdaun dan hanya berbuah emas lebat yang baru saja sukses dihancurkan lewat sengatan halilintar biru yang menyala dan menembus hingga ke langit oleh seekor burung sejenis garuda berwarna putih bergaris emas, berekor panjang seperti layaknya permadani berkilauan. Tiap ujung ekornya membentuk senjata tajam yang amat runcing. “Itu adalah part yang paling kusuka!” puji pria itu kala burung itu hinggap di lengannya. “Element halilintarmu semakin mahir. Mungkin petir milik Zeus akan kalah denganmu, benar begitu, Creac?”
“Creac, creac!” Suara burung tersebut.
“Baik, sekarang teknik Half Bloody Thunder. Are you ready?”
“Creac! Creac! Creac!” Creac kembali bersuara, kali ini lebih bersemangat.
Pria itu terkekeh lantas melemparkan Creac ke udara, kemudian berlari dan melompat tepat di ujung bebatuan yang membukit, siap menerjang musuh-musuhnya. Creac segera menukik dan melepaskan kedua sayapnya hingga menempel di betis kanan pria itu. Setelahnya mengubah kepala dan badannya menjadi sebuah 999 Geartreax Minigun yang amat menawan. Dengan satu tekanan tangan kirinya, puluhan peluru melesat dari udara. Menancap di beberapa titik pepohonan emas dan berlian di bawahnya. Dengan gaya seperti Half-Moon kakinya siap mengguncang daratan. Tepat ketika kakinya mendarat, ratusan peluru itu meledakkan halilintar yang ikut menyatu dengan gelapnya langit diiringi dengan guncangan gempa yang amat dahsyat. Membelah tiap dataran, semua pohon emas di hadapannya hancur lebur menjadi debu tersengat percikan halilintar tersebut. Tak berhenti di sana, pria itu spontan bangun dengan melakukan roll art styles ke belakang, seperti yang biasa dilakukan karakter Liu Kang di Mortal Kombat Shaolin Monks dan memutar minigun-nya seperti kunai. Selayak diberi komando, kedua sayap Creac kembali menyatu ke tubuhnya, mengubah minigun menjadi sebuah bumerang dengan delapan batang tongkat yang tiap ujungnya memiliki mata pisau berbentuk anak panah. “Take This!” teriak pria itu sambil melemparkannya sekuat tenaga, menggiling tiap puncak pohon yang tak ikut tersambar akan serangan utama.
Tepat ketika bumerang itu hendak menyabet bebatuan, tangan seseorang keluar dari kabut, menangkap salah satu ujung batangnya. Menghentikan serangan mematikan tersebut.
“Begitu bersemangatnya kau sehingga tak mendengar kedatanganku, Aibek?”
Aibek tersenyum. “Maaf, Jenderal Abu.”
Jenderal Abu menggeleng. Dia lantas melemparkan bumerang itu ke arah Aibek sehingga otomatis, menciut menjadi sebuah lencana berbentuk garuda berwarna putih. Sebuah lencana hasil upayanya dalam menjaga kedamaian bulan selama lebih dari seumur hidupnya.
“Terima kasih atas kesempatan berlatihnya, Creac.” Dia mengusap lencana itu hingga otomatis menempel di dada kanannya yang membidang, lantas kembali menatap Jenderal Abu. “Jadi ada misi memata-matai lagi? Hari ini daerah mana yang ingin kita perluas? Jupitereac? Marcus? Plutera?”
“Tidak ketiganya.”
“Tapi?”
“Earth.”
Aibek terdiam untuk beberapa saat. Bukan karena berpikir bahwa dia kesal karena hari liburnya terganggu, tetapi karena khawatir bahwa hal mengerikan akan terjadi. Terlebih ketika Bumi memang menjadi tempat yang paling berharga bagi kehidupan Neoma.
“Jadi kapan aku harus berangkat?” tanyanya sedikit tegas. Rahang kotaknya agak mengeras.
“Aku tidak akan memaksa jika kau meminta waktu untuk menghabiskan jatah istirahatmu terlebih dahulu sebelum melaksanakan misi in--.”
“Tidak, tidak.” Aibek memotong. “Anda terlalu hiperbolis Jenderal.”
“Maksudmu?”
“Tolong siapkan pesawat Mooners untukku secepatnya.”
NEOMA KINGDOM.
22:22
“Ke mana semua penduduk desa dan ... Apa yang terjadi?” tanya Aibek terkejut ketika melintas perbatasan gerbang Neoma. Terdapat banyak retakan yang entah dari mana asalnya. Ditambah rumah para penduduk sebagian hancur. Biasanya, walaupun malam suara anak-anak masih terdengar, seperti lagu-lagu dongeng para Gorgon, atau suara trompet ajaib untuk memanggil sang Titan Cronos.
“Serangan angin,” balas Jenderal Abu sambil terus berjalan. “King Manama berniat menginvasi bumi.” Dia menyambung serasa berbisik. Suaranya pelan sekali, kebengisannya hilang 50 derajat Celcius.
“Ini serius?”
“Iyap. Tetapi jangan khawatir, para Medicitarmoon (para dokter bulan) tengah berusaha menyembuhkan dengan ilmu medis Moonteaquero. Jadi jangan khawatir.”
“Syukurlah.” Aibek menghela napas lega. Salah satu kelemahannya memang ia selalu takut orang-orang yang ia cintai dalam bahaya. “Huh! Hampir saja jantungku copot, kalau saja Anda tak menjelaskan bisa saja aku mengurung diri karena memilih berlibur dan sama sekali tidak tahu akan berita mencengangkan ini.”
Jenderal Abu terkekeh lantas menggeleng. “Dan ya, mari masuk!” Jenderal Abu menutup obrolannya dengan ucapan selamat datang kala kakinya menginjak gerbang istana Neoma.
“Mr. Aibek?”
Keduanya menoleh kala seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri.
“Ya?” Alis Aibek bertaut heran.
“Saya diperintahkan King Marama untuk memeriksa kesehatan Anda sebelum berangkat.” Di akhir kalimatnya, pelayan pria itu menatap ke arah Jenderal Abu, sekadar meminta izin.
“Dan ya ... Kurasa itu ide yang bagus.” Jenderal Abu mengangguk setuju. “Kutunggu kau di lantai N2-O atas,” imbuhnya pada Aibek.
Aibek memgangguk lantas berjalan mengikuti pelayan tadi menuju ruang sektor V2N-Moon. Pelayan itu dengan cekatan membaringkan Aibek di atas ranjang yang terbuat dari kaca setipis 0,5 Mill. Selayak lembaran buku namun lebih tipis dan mulai menyuntikkan beberapa imun pada lengannya. “Tidak usah khawatir, Morpin akan bekerja lebih cepat sebelum Anda mengatur kemudi di pesawat Mooners, juga heroin jenis ini tidak membahayakan. Hanya mengimbangi bagian bius sebagai alternatif untuk memompa darah ke jantung,” jelas pelayan itu.
“Ya, aku tahu. Dalam buku The Medicitarmoon tahap reguler jilid 1 juga dijelaskan, ‘kan?”
Pelayan itu tersenyum “Anda memang sangat cerdas. Anda bahkan dapat mengingat buku-buku anak Academy. Sungguh, otak yang diciptakan untuk krisis.” Pelayan itu menjelaskan sambil bereksperimen. Tinggal satu suntikan di kepala maka semuanya selesai.
“Apa yang terjadi? Mengapa berhenti?” heran Aibek kala melihat bahwa jarum itu berhenti sebelum menyentuh kepalanya.
“I know you are a brave man. Mata-mata paling hebat yang selalu melindungi kami. Namun, tetaplah hati-hati dalam misi ini. Karena kali ini Anda akan terjun langsung ke dalam kejahatan yang paling mematikan, yaitu bumi. Dan An ....”
“Aibek bisa melakukan ini,” tegur Jenderal Abu yang entah sejak kapan memasuki ruangan tersebut. “Jadi jangan menakut-nakutinya atau kau akan berurusan denganku.” Kebengisan tercipta di antara tatapan tajamnya.
“I’m sorry.” Pelayan itu menunduk.
Jenderal Abu mendengkus, pria itu tanpa aba-aba, spontan menarik Aibek dari atas ranjang dan membawanya keluar tanpa sekalipun mengucapkan ‘terima kasih’ atau pun kalimat lainnya.
“Jenderal tunggu! Suntikan keenam belum saya lakukan!”
“Masukan saja ke otakmu!” geram Jenderal abu sambil terus berjalan keluar ruangan. “He just wanna destroy your bravery!” imbuhnya kesal seraya terus menarik lengan Aibek menuju ruang N2-O. Aibek hanya pasrah ketika lengan yang baru saja terkena lima suntikan diremas pria kejam itu. Rasanya ingin berteriak. Namun, tertahan, sehingga ia hanya bersuara.
“Saya bukan cacing.”
Jenderal Abu menatapnya heran, lantas menggeleng. Dia sama sekali tidak ada minat untuk tertawa. Pria itu menarik masuk tubuh Aibek dan merebut seragam yang tengah dipegang oleh tim sains lainnya—Mereka bahkan heran akan kehadiran Jenderal Abu yang benar-benar spontan mengintimidasi—memakaikannya ke Aibek seperti anak TK.
“Saya—“
“Just shut up!” potongnya. “Aku tak ingin mendengar celotehmu lagi soal marmut!”
“Koreksi, tadi cacing.”
“Bentuknya sama.”
“Eh ....” Aibek menarik kepalanya, berusaha menahan diri agar tak tertawa.
Setelahnya, dia diminta masuk ke dalam pesawat Mooners. Dilepas dengan beberapa upacara keberangkatan supaya selamat sampai tujuan. Pesawat pun siap digunakan.
“Are you ready?” tanya Jenderal Aibek. Tubuhnya sedikit membungkuk. Kebengisannya kembali menurun. Wajahnya terbias lewat kaca pintu pesawat yang memang langsung terhubung ke kursi pilot.
“Always ready.” Aibek balas meyakinkan.
Jenderal Aibek menarik tubuhnya. “Luncurkan!” teriaknya. Tim sains segera membuka jalan. Pesawat Mooners pun melesat seperti kilat.
Tidak seperti keberangkatannya yang telah lalu, hari ini Aibek merasa sedikit gelisah. Dia masih memikirkan kata-kata pelayan medis tadi. “Whatever!” Aibek menggeleng. Dia mengencangkan sabuk pengaman, menatap lurus ke depan. Menerjang bintang-bintang. Matanya menyapa setiap planet yang ia temui hingga bulatan hijau yang dipadu biru itu mulai menyambut kedatangannya. “Alright, Aibek. Welcome to the Earth!”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!