Rangga diam tidak bergeming. Ia hanya memperhatikan dari bayangan kaca rias, bagaimana bulu mata Nina menangkap pendar samar cahaya lilin, dan ketenangan pada posturnya yang baru tercipta setelah pertautan pertama mereka malam ini—sebuah ketenangan yang hanya muncul saat perempuan itu merasa sepenuhnya aman dan dimiliki.
Bagi orang lain, Nina hanya sedang duduk tenang mengenakan jubah tipisnya, merapikan rambut di seberang ruangan. Namun bagi Rangga, setiap tarikan napas Nina yang masih menyisakan sisa kehangatan seolah menarik sesuatu yang berat dan menghujam jauh di dalam dadanya. Ia telah bertahun-tahun belajar cara bertahan melewati jarak, penderitaan, dan kesunyian, namun duduk sedekat ini setelah akhirnya benar-benar menyatu dengan Nina membuat momen paling hening sekalipun terasa begitu intim dan intens. Ia tidak memerlukan kata-kata puitis atau gestur berlebihan; fakta bahwa Nina ada di dekatnya, sepenuhnya miliknya, sudah menjadi sebongkah kebahagiaan yang dengan senang hati ia pikul.
Nina menengadah, menangkap pantulan tatapan Rangga di cermin sebelum lelaki itu sempat berpaling. Ia merona sedikit, mengingat jejak-jejak sentuhan yang baru saja mereka bagi, lalu sejenak mengalihkan pandang. Ada sebuah kehangatan lembut yang perlahan melunakkan raut wajahnya—sebuah kepasrahan samar dari seorang wanita yang baru saja menyerahkan seluruh dirinya tanpa keraguan. Ia benar-benar terbuai dan mabuk dalam kepastian tenang yang ditawarkan Rangga.
Di dekat lelaki itu, keriuhan dunia perlahan sirna menjadi kesunyian di latar belakang. Nina memutar tubuhnya, bersandar pada bantalan kursi. Ia menopang dagu dengan telapak tangannya, menyusuri garis rahang Rangga yang tegas dan familier hanya lewat tatapan matanya.
“Kamu ngelihatin aku lagi,” bisiknya pelan, suara itu sedikit serak, sarat akan kehangatan akrab. “Nanti makin GR, stop lihat-lihat!” katanya dengan nada manja yang menggemaskan.
Sudut bibir Rangga terangkat tipis—hampir tak terlihat, tetapi seutuhnya milik Nina. Tatapannya terkunci pada jejak cinta yang kini terukir jelas di antara mereka.
“Cantik banget sih. I’m a lucky bastard.”
Nina tersenyum kembali, senyuman tenang yang penuh dengan kasih dan rasa memiliki, membiarkan keheningan pasca-keintiman itu mengendap di antara mereka bagai rahasia terindah yang baru saja mereka buat bersama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!