Redup Prasangka

1 dibaca

A

Rangga bergerak mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Nina. Tatapan mereka saling mengunci melalui pantulan kaca rias. Jemari Rangga yang hangat turun perlahan, menyibak sisa helai rambut di bahu Nina sebelum mendaratkan ciuman lembut di puncak kepalanya.

“Na...” panggil Rangga pelan, menatap bayangan Nina di cermin. “Aku boleh tanya sesuatu?”

Nina memiringkan kepalanya sedikit, menikmati usapan lembut jemari Rangga di bahunya. “Tanya apa, Ga?”

“Mantan-mantan kamu dulu,” ujar Rangga dengan suara bariton yang santai. “Siapa?”

Nina menyunggingkan senyum tipis, lalu menggeleng pelan sambil menatap balik mata Rangga di cermin. “Sorry, engga bisa jawab karena aku enggak punya mantan, Ga.”

Rangga tidak langsung menjawab. Ia terkekeh samar, menganggap jawaban itu hanya kelakar manis. “Masa sih? Cewek secantik kamu enggak pernah punya mantan sama sekali? Enggak percaya, ah. Tapi ya udah, it’s okay kalau kamu belum mau cerita.”

Dada Nina mendadak terasa sesak mendengar nada ringan Rangga yang menyimpan keraguan. Ia memutar tubuhnya di atas kursi rias, berhadapan langsung dengan Rangga. Tatapannya mendadak serius, menatap lurus ke manik mata lelaki itu.

“Kenapa kamu enggak percaya kalau aku enggak punya mantan, Ga?” tanya Nina pelan, suaranya bergetar tipis. “Kenapa kamu pikir aku harus bohong soal itu?”

Ruang kamar itu mendadak hening. Hembusan angin malam dari balik jendela terasa dingin, namun tak sedingin jarak tak kasat mata yang sempat tercipta di antara mereka.

Rangga menatap Nina yang berdiri mematung dengan mata marahnya. Penyesalan perlahan merayap dan meremukkan ego di dadanya. Ia berlutut di hadapan Nina yang masih terduduk kaku di tepi kursi rias. Rangga meraih kedua tangan Nina yang dingin dan gemetar, menggenggamnya erat di dalam tangannya yang hangat.

“Maaf...” suara Rangga terdengar amat dalam, penuh rasa bersalah yang tak tertutupi. “Maafkan aku, Na. Aku sampai-sampai meragukan ketulusan yang baru saja kamu serahkan sepenuhnya semalam.”

Nina tidak menarik tangannya, tapi ia mengalihkan pandangannya ke samping, menahan air mata agar tidak menetes.

Rangga membawa kedua tangan Nina ke bibirnya, mencium punggung tangan itu satu per satu dengan ketakziman yang jujur. Ia mendongak, menatap lurus ke manik mata Nina sampai wanita itu bersedia menatapnya kembali.

“Aku bersyukur bisa jadi yang pertama” ujar Rangga pelan namun mantap. “...aku enggak akan pernah meragukan kamu lagi. Maafin ya”

Setetes air mata akhirnya lolos di pipi Nina, namun raut wajahnya melunak. Kehangatan yang sempat hilang perlahan kembali mengalir. Nina membalas genggaman tangan Rangga, menyapu air matanya sendiri dengan sebelah tangan sebelum menyentuh rahang tegas Rangga yang selalu membuatnya merasa aman.

“Aku juga janji, Ga,” bisik Nina, suaranya serak namun sarat akan kepastian. “Jangan pernah ada asumsi yang kita simpan sendiri.”

Rangga tersenyum tipis—sebuah senyuman lega yang terbit dari dasar hatinya. Ia berdiri, menarik Nina perlahan ke dalam pelukannya. Nina menyandarkan kepalanya di dada Rangga, mendengarkan detak jantung lelaki itu yang teratur dan menenangkan.

“Janji ya?” gumam Nina pelan di balik dada Rangga.

“Janji,” balas Rangga sambil mengusap lembut punggung Nina, membiarkan janji itu mengendap dan mengikat hati mereka lebih erat dari sebelumnya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk