Keheningan di dalam penthouse itu tidak pernah terasa begitu pekat, seolah-olah udara sendiri telah membeku menjadi kristal-kristal kaca yang siap pecah kapan saja. Suhu pendingin udara bertiup menusuk, merayap dingin menembus gaun malam sutra yang membungkus tubuh Anya Valerie, mengetuk tulang-tulangnya dengan kepedihan yang lambat.
Di atas meja kayu mahoni, lilin-lilin aromaterapi meredup, menyapukan aroma sandalwood dan mawar yang kini berjelas pualam. Dua piring makan malam mewah yang disiapkan Anya dengan jemari bergetar tadi sore kini mendingin, menjadi saksi bisu atas sebuah perayaan yang tak pernah diharapkan.
“Mari bercerai.”
Dua kata itu meluncur perlahan dari bibir Felix Vincenzo. Bukan dengan teriakan, bukan pula dengan amarah yang bergelora, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Suara baritonnya yang berat, basah, dan dalam—suara yang selama tiga tahun ini hanya Anya dengar secara teredam dari balik pintu kamar utama yang selalu terkunci rapat—kini memotong malam dengan ketajaman pisau bedah.
Tanpa kedipan. Tanpa keraguan. Dan yang paling menguliti ketabahan Anya: tanpa sepicing pun rasa bersalah di mata pria itu.
Anya terpaku di kursinya, jemarinya terkepal erat di atas pangkuan hingga kuku-kukunya memutih. Mata cokelat mewahnya menatap iris gelap Felix yang dingin, memantulkan keheningan tanpa tepi. Tiga tahun telah berlalu sejak Anya mengorbankan seluruh hidup, impian, dan kebebasannya demi menyelamatkan dinasti bisnis keluarganya yang berada di jurang kebangkrutan. Lewat kencan buta yang diatur paksa, ia diserahkan kepada Felix—CEO termuda berdarah dingin berusia 26 tahun yang memimpin Evangeline Beauty, raksasa kosmetik global.
Felix adalah definisi kesempurnaan yang mengancam. Tampan, atletis, dengan rahang tegas dan tatapan misterius yang sanggup melumpuhkan siapa saja. Namun di balik keindahan itu, Felix adalah benteng tanpa pintu masuk; pria kaku yang mengukur dunia hanya lewat lembaran saham dan kalkulasi keuntungan. Pernikahan mereka hanyalah hitam di atas putih, transaksi bisnis murni. No love, no strings attached.
Tiga tahun hidup di bawah atap yang sama sebagai dua asing yang berbagi nama belakang, tanpa pernah sekalipun menyentuh atau dilintasi batas fisik.
Namun, di balik citranya sebagai wanita bisnis yang tegas, kaku, dan cuek, Anya menyimpan rahasia terbesar yang menyiksa jiwanya: ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebuah kesalahan fatal.
Anya berusaha menelan rasa pahit yang membakar kerongkongannya. Air mata berdesakan di sudut matanya, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Membiarkan air mata menetes di hadapan pria ini sama saja dengan menelanjangi sisa-sisa harga dirinya.
“Aku akan memberikanmu surat cerainya besok untuk segera ditandatangani,” lanjut Felix, memecah kesunyian yang mencekam. Kalimat itu diucapkannya begitu kasual, seolah-olah ia sedang membahas laporan keuangan bulanan.
Anya menarik napas tipis yang bergetar. Sebuah senyum kecut menari di bibirnya—sebuah tawa getir untuk meratapi kebodohannya sendiri. Ia mendongak, menyatukan tatapannya dengan wajah rupawan pria yang tak pernah bisa ia jangkau itu.
“Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ketiga, Felix,” bisik Anya. Suaranya datar, membeku dalam pembelaan diri, namun tatapannya sarat akan kerentanan yang berusaha ia sembunyikan.
Untuk sefraksi detik, pupil mata Felix melebar. Ada riak terkejut yang melintas cepat di iris kelamnya sebelum kembali tertutup rapat oleh topeng keangkuhannya.
“Heh,” Felix terkekeh dingin, suara tawanya lebih menyerupai helatan napas yang mencemooh. “Apa kau sedang sakit, Anya? Ini sungguh mengejutkan. Kau merayakan anniversary ini padahal hubungan kita hanyalah sebuah paksaan?”
Felix menegakkan tubuhnya, melangkah pelan memutari meja. Setiap gesekan sepatu kulitnya di atas lantai marmer bergaung seperti dentang lonceng kematian bagi pernikahan mereka.
“Apa kau lupa tujuan awalmu menikah denganku? Atau kau mulai lupa diri?” Felix mendekat, melipat kedua tangannya di dada. “Mau aku ingatkan kembali posisi itu? Kau adalah istri seorang pengusaha di atas kertas. Kontrak lima tahun. Kita sama-sama diuntungkan. Kau hanya perlu berpura-pura menjadi istri baik yang kucintai di depan publik, dan aku menyuntikkan dana segar untuk menyelamatkan keluargamu yang bangkrut. Bukankah ini transaksi yang sangat jelas?”
Anya menatap lurus ke dada tegap Felix yang terbungkus kemeja hitam yang terpotong rapi. Jarak di antara mereka menipis, menembus batas kenyamanan yang biasanya dipelihara.
“Kau tidak perlu melewati batas dan menganggap pernikahan ini nyata,” tekan Felix, suaranya mengalun seperti bisikan berbahaya di dekat wajah Anya. “Kau hanyalah bayangan yang berada di sampingku untuk menjalani kepura-puraan, tidak lebih dari itu. Dan aku rasa... tiga tahun sudah cukup untuk kepura-puraan ini.”
Felix berbalik hendak melangkah pergi, menyapu aroma sandalwood dan wiski mahal yang membuat dada Anya makin sesak.
“Kenapa Anda ingin mengakhirinya sekarang?” potong Anya cepat, suaranya serak namun tertahan. “Masih ada dua tahun tersisa di dalam kontrak. Saya tidak peduli jika Anda memiliki wanita lain di luar sana... tapi setidaknya, bertahanlah sampai kontrak ini habis.”
Langkah Felix terhenti seketika. Ia berbalik, menatap Anya seolah wanita itu baru saja mengutarakan kegilaan terbesar.
“Sungguh menakjubkan,” ujar Felix dengan tawa getir. Ia melangkah maju, memangkas habis jarak di antara mereka hingga sosok tinggi besarnya membayangi Anya sepenuhnya. “Kau tahu, Anya? Kau adalah orang pertama yang cukup memberiku kesan lambung. Apa yang kuberikan selama tiga tahun ini belum cukup? Atau kau ingin aku bertahan hanya agar aku tetap menjadi ATM berjalanmu?”
“Saya tidak butuh uang Anda!” tangkas Anya, akhirnya berdiri dari kursinya. Tubuhnya bergetar hebat, matanya menatap tepat ke dalam iris Felix dengan keberanian yang tersisa. “Saya tidak mau bercerai!”
“Sejak kapan kau yang menentukan jalan cerita ini?” tembak Felix, rahangnya mengetat, menampilkan kilat emosi yang jarang sekali ia perlihatkan. “Aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan dalam pernikahan palsu ini!”
“Ini bukan pernikahan palsu!” tegas Anya, napasnya mulai tersengal oleh gairah dan rasa sakit yang menyatu. “Kita benar-benar menikah di hadapan hukum dan Tuhan! Anda tidak bisa menyangkal fakta itu. Jika sejak awal Anda merasa terpaksa, kenapa Anda tidak menolaknya?”
“Jadi sekarang kau berusaha melimpahkan kesalahannya padaku?” Felix menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya yang pekat menyapu kulit pipi Anya.
Anya tertegun. Kehangatan tubuh Felix yang memancar begitu dekat mengirimkan gelombang getaran provokatif ke seluruh syarafnya. Ketegangan di antara mereka bukan lagi sekadar perdebatan verbal, melainkan tarikan magnetis yang pekat, intim, dan membakar—sebuah gairah yang terendam selama tiga tahun penolakan, rasa lapar akan kasih sayang yang tak pernah terpuaskan.
“Tolong...” suara Anya meluncur lirih, menyusut menjadi bisikan keputusasaan yang telanjang di udara yang dingin. “Tolong jangan ceraikan saya...”
Felix menatap dalam-dalam ke iris cokelat Anya yang jernih. Tidak ada air mata yang jatuh di sana, hanya ada badai emosional yang meluap dan kerentanan murni yang akhirnya tak sanggup lagi wanita itu tutupi di balik topeng dinginnya. Dinding pertahanan yang built-in selama tiga tahun runtuh seketika di hadapan Felix.
“Aku sudah bilang,” bisik Felix, suaranya berubah menjadi bariton yang sangat rendah, bergetar oleh sesuatu yang tak terjelaskan. Tangannya terangkat, berhenti hanya milimeter dari leher halus Anya—tidak menyentuh, namun memancarkan radiasi panas yang membuat bulu kuduk Anya meremang. “Aku tidak punya alasan untuk bertahan.”
Anya merespons jarak yang mematikan itu dengan kepekaan yang telanjang. Napasnya tertahan di kerongkongan, jiwanya tertawan oleh intimasi yang menekan ini.
“Segitunya Anda ingin pergi?” tanya Anya dengan nada suara yang pecah oleh rasa sesak di dadanya. “Apa selama tiga tahun hidup di bawah atap yang sama... Anda sama sekali tidak memiliki rasa untuk saya? Bahkan sedikit saja?”
Suasana di dalam ruangan itu mendingin hingga ke titik beku. Felix terdiam. Iris gelapnya menelusuri tiap inci wajah Anya—dari keningnya yang berkerut lembut, merayap turun ke mata berbinar pasrah, hingga berhenti di bibir Anya yang sedikit terbuka dan bergetar.
Jemari Felix akhirnya menyentuh kulit. Hanya ibu jarinya, mengusap pelan garis rahang Anya dengan tekanan yang sangat halus namun dominan. Sentuhan yang tak pernah terjadi selama tiga tahun itu terasa ribuan kali lebih eksplisit dan membakar daripada jamahan fisik mana pun. Itu adalah klaim tanpa suara. Sebuah kepemilikan yang menyiksa.
Felix memiringkan kepalanya, memotong sisa jarak yang ada hingga bibirnya hampir menyentuh sudut bibir Anya. Hembusan napas hangatnya membasahi kulit Anya yang bergetar hebat.
“Aku mencintaimu, Anya,” bisik Felix lirih di atas bibir wanita itu.
Kata-kata itu diucapkannya dengan wajah datar, dingin, dan tatapan mata yang gelap tak teraba—sebuah pernyataan cinta yang terdengar seperti vonis hukuman mati.
BERSAMBUNG ....














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!