Keheningan di antara mereka berdetak begitu lambat, bermuatan gairah dan ancaman yang saling mengikat. Pernyataan cinta yang meluncur dari bibir Felix Vincenzo sejenak melumpuhkan seluruh pertahanan Anya Valerie. Di dalam rongga dadanya, detak jantungnya bergemuruh hebat, beradu dengan napasnya yang tertahan di udara dingin.
Apakah ini nyata? Bisakah ia berharap pada pria ini sekali saja?
Namun, kehangatan semu itu menguap secepat kilat ketika mata gelap Felix memancarkan kejamnya kenyataan. Rahang pria itu terangkat sedikit, mengukir senyum tipis—sebuah kurva di bibirnya yang bukannya memancarkan kelembutan, melainkan cemoohan yang tajam dan tak berdosa.
“Kau tidak mungkin benar-benar berharap aku mengatakan hal itu, bukan?” bisik Felix, suaranya mengalun seperti beludru racun tepat di atas permukaan bibir Anya.
Itu adalah kali pertama Anya melihat Felix tersenyum begitu lebar di hadapannya, namun senyuman itu terasa lebih dingin daripada es di Kutub Utara. Pria itu menikmati ketidakberdayaan Anya, merayakan momen di mana harapan yang baru saja mekarnya ia remukkan dengan tangannya sendiri.
Dada Anya bergetar hebat. Rasa hangat yang sempat menyusup ke pembuluh darahnya kini berganti menjadi rasa sakit yang menjalar dan membakar.
“Anda sesenang itu mempermainkan saya?” tanya Anya, suara seraknya tertahan di antara napas mereka yang tumpang tindih. Ia menatap iris gelap Felix, mencari sisa kemanusiaan di sana. “Ternyata, selama ini Anda benar-benar tidak pernah menerima saya sebagai seorang istri...”
Felix tidak mundur. Justru, pria itu makin memangkas jarak yang tersisa hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan—tak lebih dari sepuluh sentimeter. Kehangatan napas Felix yang pekat akan aroma wiski dan sandalwood menerpa kulit wajah Anya, bercampur dengan helaian napas Anya yang memburu dan sarat akan kegugupan. Intimasi ini terasa begitu provokatif, begitu dekat secara fisik namun begitu hampa secara emosional.
“Benar. Aku sangat senang mempermainkanmu,” bisik Felix dengan nada yang makin merendah, kelam dan sarat intimidasi. Ibu jarinya yang tadi menyapu rahang Anya kini berpindah, menekan lembut bibir bawah Anya yang bergetar, sebuah gerakan dominan yang terkesan seduktif sekaligus menghancurkan.
“Wanita dingin sepertimu... sangat pantas dipermainkan,” lanjut Felix, tatapannya menyapu setiap garis wajah Anya dengan ketajaman yang menelanjangi. “Anya Valerie, kau mau tahu apa yang paling kubenci darimu? Kau tampak begitu suci dan tak terjangkau di luar, namun di mataku, kau tak lebih dari wanita murahan yang pandai menyembunyikan kemunafikan di balik topeng ketegasanmu.”
Sentuhan ibu jari Felix di bibirnya terasa membakar, berlawanan dengan kata-katanya yang menguliti harga diri Anya hingga ke tulang.
“Aku bisa membedakan wanita yang benar-benar murni dan yang bersandiwara,” lanjut Felix dengan senyum sinis yang tak kunjung pudar. “Dan bagiku, kau adalah benteng kepura-puraan yang paling menjijikkan.”
Satu usapan lagi di bibir Anya sebelum Felix menarik tangannya perlahan. Setiap kata yang terucap menetes seperti asam cair yang merusak rongga dada Anya. Sesak. Begitu menghimpit hingga seolah tak ada tersisa oksigen untuk dihirup.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, meluncur dalam satu garis hangat melewati pipinya yang pucat. Namun yang membuat suasana di ruangan itu kian mencekam adalah ekspresi wajah Anya; meski linangan air mata terus membasahi pipinya, raut wajahnya tetap datar, kaku, dan mematu. Ia menangis tanpa suara, tanpa ratapan, hanya siraman keputusasaan yang sunyi.
Felix tertegun sejenak. Manik matanya berkilat liar saat menyaksikan bulir air mata itu jatuh dari iris cokelat Anya yang tetap menatapnya tanpa kedipan. Keheningan ekspresi wanita itu di tengah lelehan air mata menghantam kesadaran Felix dengan cara yang asing dan mengganggu.
“Tolong... jangan ceraikan saya,” pangkas Anya, suaranya kini meluruh menjadi bisikan pelan yang bergetar. Benteng keangkuhan yang ia bangun selama tiga tahun akhirnya hancur sepenuhnya. “Masih ada dua tahun tersisa. Anda tidak perlu menganggap saya sebagai istri. Anda tidak perlu pulang ke rumah ini... Anda bahkan bebas memiliki wanita lain di luar sana jika itu yang Anda inginkan. Tapi tolong, biarkan pernikahan ini bertahan sampai kontraknya usai.”
Anya menarik napas dalam-dalam, membiarkan kerentanan batinnya terpapar sepenuhnya di hadapan pria yang paling ia cintai sekaligus paling ia takuti.
“Saya memulai pernikahan ini dengan perasaan dan keseriusan,” bisik Anya, matanya berembun rapat. “Saya tidak pernah bermain-main dengan ikatan ini... Tolong, jangan ceraikan saya.”
Felix terkekeh, suara tawanya kering dan dipenuhi ketidakpercayaan yang membara.
“Lalu bagaimana denganku?” bentak Felix pelan, rahangnya mengeras. “Kau pikir aku bisa terus hidup dalam sarang kepura-puraan ini bersama wanita yang hanya memikirkan dirinya sendiri? Kau memohon seperti ini hanya karena kau takut kehilangan jaminan finansialmu, bukan? Kau takut dinasti keluargamu hancur jika aku menarik investasiku!”
Pria itu melangkah mundur satu tapak, memutus kontak fisik di antara mereka, meninggalkan sensasi dingin yang tiba-tiba menusuk kulit Anya.
“Wanita bisnis sepertimu hanya mengukur segala sesuatu dengan harta dan kerugian,” cecar Felix, nadanya sarat akan kekecewaan yang mendalam. “Besok, surat perceraian itu akan berada di mejamu. Tanda tangani, dan biarkan aku bebas dari wanita ular sepertimu!”
Tanpa menunggu balasan lagi, Felix berbalik dan melangkah pergi. Langkah kakinya bergema tegas di atas marmer, meninggalkan Anya sendirian di tengah ruang makan yang lengang.
Ketika pintu depan terdengar tertutup rapat, keheningan kembali menguasai penthouse itu. Anya merosot perlahan di atas kursinya. Bahunya yang biasanya tegap kini berguncang hebat. Tangisnya pecah tanpa penahanan lagi—sebuah ratapan pilu yang terlepas setelah tiga tahun tertahan di balik senyum tipis dan sikap dinginnya.
Ia menatap hidangan makan malam di atas meja yang telah dingin sepenuhnya. Lilin-lilin telah padam, meninggalkan bau jelak yang tebal. Begitu menyakitkan ketika seluruh usaha, perhatian, dan rasa cinta yang disiapkannya dengan ketulusan murni hanya dianggap sebagai manipulasi berdarah dingin.
Sementara itu, di lantai atas, di balkon luas yang menyatu dengan kamar utamanya, Felix berdiri mencengkeram pagar besi tempa dengan erat. Ujung-ujung jarinya memutih akibat tekanan yang luar biasa. Tatapannya tertuju pada garis langit kota yang dipenuhi lampu-lampu metropolis, namun benaknya kacau balau.
Ada amarah yang membakar dadanya, sebuah ketidaktenangan yang membingungkan. Wajah datar Anya saat air matanya menetes terus membayang di pelupuk matanya, mengusik ketenangan yang selama ini ia banggakan.
Selama tiga tahun pernikahan kontrak ini, mereka tidak pernah berbagi tempat tidur. Kamar ini adalah batas suci yang sengaja Felix bangun—sebuah benteng jarak fisik yang tak pernah coba dilintasi oleh Anya. Felix ingat betul bagaimana setiap kali menjelang perayaan anniversary mereka, ia selalu sengaja mengatur perjalanan bisnis ke luar negeri hanya untuk menghindari kebersamaan yang terpaksa. Hari ini adalah kali pertama ia tidak pergi, dan ia justru dihadapkan pada makan malam penuangan gairah dan harapan yang tak pernah ia duga.
Kenapa dadanya terasa sesak saat kata ‘cerai’ itu akhirnya terucap? Kenapa ada bagian dari dirinya yang menolak keputusan rasional yang telah ia rencanakan sejak lama?
Tidak, batin Felix mencoba menolak gejolak itu. ‘Ini hanya karena harga diriku terus terusik oleh keangkuhannya. Dia tidak pernah memintaku, tidak pernah mendatangi kamarku... dia tidak pernah menginginkanku sebagai seorang pria.’
Sebagai CEO Evangeline Beauty, Felix selalu dikelilingi oleh wanita-wanita paling jelita di industri kosmetik dunia. Wanita-wanita yang dengan senang hati menyodorkan diri, menawarkan kehangatan satu malam tanpa perlu diminta. Namun Anya berbeda. Wanita itu tetap berjarak, menjaga kesucian dinginnya di bawah atap yang sama, hingga Felix meyakini bahwa Anya adalah sosok yang tak memiliki gairah, wanita bermuka dua yang menikahinya hanya demi menyedot kekayaannya.
“Memulai pernikahan ini dengan perasaan dan keseriusan?” gumam Felix sinis, suaranya tertelan angin malam yang bertiup kencang. “Lalu kenapa selama tiga tahun kau tak pernah sekalipun menjalankan tugasmu sebagai seorang istri? Kau bahkan tak pernah melangkah masuk ke kamar ini untuk melayaniku! Apa kau pikir aku akan percaya pada kebohongan semurah itu?”
Suara daun pintu yang berderit memotong pusaran prasangka di kepala Felix.
Pintu utama kamarnya yang selalu terkunci rapat malam itu terbuka lebar. Dari balik kegelapan lorong, sebuah siluet melangkah masuk dengan perlahan. Langkah kakinya nyaris tak bersuara, terbungkus dalam gaun malam tipis berdada rendah yang memperlihatkan lekuk tubuh secara terang-terangan di bawah pendar lampu temaram.
Felix menoleh, matanya memicing tajam saat sosok itu terus berjalan mendekatinya tanpa ragu.
BERSAMBUNG ....














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!