BAB 1 — DESA YANG MENUTUP PINTU
Matahari sudah berwarna orange saat kapal kayu yang ditumpangi Nara Maru merapat di dermaga kecil. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma garam dan ikan yang sudah akrab sejak ia kecil. Di hadapannya, pasir putih membentang di sepanjang pesisir, berpadu dengan air biru jernih yang memantulkan cahaya keemasan senja. Di kejauhan, pulau-pulau kecil di gugusan Kepulauan Hinako tampak samar di bawah langit yang mulai memerah, ombak Samudra Hindia bergulung menuju pantai.
Nara berdiri sejenak di atas geladak, memandangi pemandangan yang sebelas tahun tidak ia lihat secara langsung. Ia masih ingat bagaimana dulu ia berlari di pantai tanpa alas kaki, mengumpulkan kerang bersama anak-anak lain, lalu pulang ketika suara lonceng desa terdengar. Wanasagara tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Hanya saja, selama bertahun-tahun, ia berusaha tidak terlalu sering memikirkan tempat itu.
“Dek! barangnya,” panggil awak kapal.
Nara tersadar dan mengambil tas ransel serta koper kecilnya. Setelah turun ke dermaga, ia mengucapkan terima kasih kepada awak kapal yang membantunya mengangkat koper. Kapal itu akan kembali ke pulau utama setelah menurunkan beberapa barang, sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk berdiri di sana.
Ia baru saja menarik kopernya saat ia mendengar namanya dipanggil oleh seorang lelaki tua yang sedang memperbaiki jaring menoleh.
“Nara Maru?”
Nara berhenti dan tersenyum tipis. “Iya, Pak.”
Lelaki itu meletakkan jaringnya. Wajahnya tampak lebih tua daripada yang Nara ingat, tetapi ia masih mengenali lelaki yang dulu sering menjual ikan di dekat dermaga. “Sudah besar kau sekarang. Sebelas tahun, ya, tidak pulang?”
“Hampir sebelas tahun.”
“Pulang untuk pemakaman nenekmu?”
Nara mengangguk. “Iya, Pak.”
Lelaki itu menghela napas. “Semoga beliau tenang di sana. Sampaikan salamku kepada keluargamu.”
“Terima kasih.”
Nara melanjutkan perjalanan menyusuri jalan desa. Beberapa warga yang sedang duduk di teras menoleh ketika melihatnya. Seorang perempuan paruh baya bahkan memanggil namanya dari halaman rumah.
“Nara! Kau sudah pulang?”
Nara berhenti sebentar. “Iya, Tante.”
“Turut berduka cita, ya, Nak. Nenekmu orang baik.”
“Terima kasih, Tante.”
Perempuan itu tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi urung. Tatapannya sempat beralih ke laut sebelum ia kembali masuk ke rumah.
Nara memperhatikan gerak-geriknya, lalu meneruskan langkah. Ia sudah menduga kepulangannya akan mengundang perhatian. Di desa sekecil Wanasagara, kabar tentang siapa pun yang datang dan pergi tidak pernah bertahan lama sebagai rahasia. Apalagi dirinya, anak Sarai yang menghilang sebelas tahun lalu. Nama ibunya masih menjadi sesuatu yang sulit dibicarakan oleh sebagian warga.
Nara berusia empat belas tahun ketika Sarai menghilang. Ia masih ingat malam itu dengan jelas: suara orang-orang yang berteriak di pantai, lampu-lampu minyak yang dibawa menyusuri pesisir, dan neneknya yang memeluknya erat ketika pencarian tidak membuahkan hasil. Setelah beberapa hari, pencarian dihentikan. Tidak ada jasad atau barang yang ditemukan, dan tidak seorang pun bisa menjelaskan ke mana ibunya pergi.
Sejak saat itu, Nara tinggal bersama neneknya hingga akhirnya meninggalkan desa untuk melanjutkan hidup di tempat lain. Ia jarang pulang, bahkan ketika masih memiliki kesempatan. Setiap kali memikirkan Wanasagara, ingatannya selalu kembali pada malam ketika Sarai menghilang. Nara menarik napas panjang dan menepis kenangan itu.
Saat melewati balai desa, suara lonceng berdentang. Ia spontan menoleh ke arah bangunan kayu di tengah desa. Suara itu sudah sangat dikenalnya. Sejak kecil, ia tahu lonceng tersebut bukan sekadar penanda waktu. Ketika bulan purnama mendekat, warga akan menutup pintu dan jendela sebelum malam tiba. Anak-anak dilarang bermain di luar, para nelayan harus memastikan perahu mereka telah ditambatkan jauh dari pantai.
Tujuh pantangan Wanasagara bukan sesuatu yang asing baginya. Ia tumbuh dengan mendengar larangan-larangan itu, meskipun tidak pernah benar-benar memahami alasan di balik semuanya.
Namun, sore itu ada sesuatu yang terasa berbeda. Begitu lonceng berbunyi, seorang perempuan yang sedang menyapu halaman segera memanggil anaknya masuk. Seorang lelaki buru-buru mengangkat jemuran, dua anak kecil yang bermain di dekat pohon kelapa berlari menuju rumah. Pintu-pintu ditutup satu demi satu, lebih cepat daripada yang Nara ingat.
Ia melirik langit. Matahari masih belum sepenuhnya tenggelam. “Sudah hampir purnama,” gumamnya.
Seorang Bapak yang berjalan di belakangnya menyapanya. “Kau ingat juga rupanya.”
Nara tersenyum kecil. “Mana mungkin lupa, Pak?”
Lelaki itu mengangguk, tetapi tatapannya beralih ke laut. “Kalau sudah sampai rumah, jangan keluar lagi malam ini.”
Nara mengerutkan kening. “Memangnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Hanya lebih baik kau di rumah.”
Ia tidak bertanya lagi. Peringatan seperti itu sudah biasa ia dengar sejak kecil, tetapi cara lelaki itu mengatakannya membuat Nara merasa ada sesuatu yang tidak beres, atmosfer yang berbeda dari yang ia ingat. Wajahnya tampak tegang, ada hal yang ingin disampaikan tetapi tidak berani diucapkan.
Nara kembali menarik kopernya, berusaha untuk pura-pura tidak penasaran.
Di sepanjang jalan, ia melewati rumah-rumah kayu yang berdiri di bawah pepohonan kelapa. Perahu nelayan ditambatkan di dekat pesisir, jaring-jaring ikan dijemur di halaman. Laut yang membentang di sisi desa masih tampak indah seperti dulu. Airnya biru jernih, dengan ombak kecil yang memecah di atas pasir putih. Dari kejauhan, suara burung laut terdengar samar, berpadu dengan desau angin yang melewati dedaunan.
Pemandangan itu membangkitkan kenangan tentang masa kecilnya bersama Sarai. Ibunya sering mengajaknya berjalan di sepanjang pantai ketika sore tiba. Mereka akan duduk di atas pasir, memandangi matahari tenggelam, lalu pulang ketika lonceng desa berbunyi.
Nara masih ingat bagaimana Sarai selalu menggenggam tangannya ketika mereka melewati jalan dekat pantai. Ia mempercepat langkah.
Rumah neneknya berdiri di ujung jalan, agak terpisah dari rumah-rumah lain. Bangunan kayu itu tampak lebih tua daripada yang ia ingat. Beberapa bagian dindingnya mulai menghitam karena cuaca, halaman depannya dipenuhi daun kering. Pagar kayunya masih terpasang, meski salah satu engselnya tampak longgar.
Nara membuka pagar dan menarik koper ke teras. Ia mengetuk pintu dua kali, lalu terdiam ketika menyadari tidak akan ada yang membukakannya. Neneknya telah meninggal tiga hari lalu.
Ia mengeluarkan kunci dari saku jaket, membuka pintu, lalu masuk. Bau kayu tua dan minyak kayu putih menyambutnya. Ruang tengah masih tertata seperti terakhir kali ia datang, dengan kursi rotan di dekat jendela dan lemari kecil yang menyimpan foto-foto keluarga. Sebuah kain putih terlipat di atas meja, mungkin sisa perlengkapan pemakaman yang belum sempat dibereskan.
Nara meletakkan tasnya dan berjalan menuju kamar. Ia belum sempat mengganti pakaian ketika matanya menangkap selembar kertas yang terselip di bawah pintu kamar neneknya. Kertas itu dilipat dua. Tidak ada nama pengirim.
Ia membukanya, tulisan tangan yang tampak tergesa-gesa memenuhi satu baris.
Jika suatu hari kamu pulang dan mendengar suara dari laut, jangan pernah menjawabnya.
Nara membaca kalimat itu sekali lagi. Ia tidak tahu siapa yang menulisnya atau kapan kertas itu diselipkan di sana. Ia membaliknya, berharap menemukan tanda atau nama, tetapi bagian belakangnya kosong.
“Siapa yang menulis ini?” gumamnya.
Ia meletakkan kertas itu di atas meja, lalu membuka jendela untuk membiarkan udara masuk. Dari sana, laut terlihat di antara pepohonan. Permukaannya mulai menggelap, bulan yang hampir bulat menggantung pucat di atas cakrawala.
Nara menutup jendela kembali. Ia tidak ingin memikirkan peringatan aneh itu. Perjalanan panjang membuat tubuhnya lelah, dan ia masih harus mengurus beberapa hal sebelum malam semakin larut.
Namun, saat sedang membongkar isi koper, terdengar suara dari luar rumah.
“Nara.”
Tangannya berhenti di atas pakaian yang baru saja ia keluarkan.
Suara itu pelan, nyaris tertelan angin. Ia menoleh ke arah pintu depan, menunggu suara itu muncul lagi. Mungkin salah seorang warga datang untuk menyampaikan sesuatu tentang pemakaman neneknya.
“Nara.”
Kali ini suara itu terdengar lebih jelas. Nara berdiri perlahan. Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat dadanya terasa sesak. Ia mengenalnya, meski sebelas tahun telah berlalu.
Suara Sarai.
Ia melangkah ke ruang tengah. Pintu depan masih tertutup. Nara mendekat, lalu menempelkan telapak tangannya pada permukaan kayu yang dingin.
“Ibu?” bisiknya.
Nara menarik tangannya. Ia merasa bodoh karena baru saja memanggil seseorang yang telah hilang selama sebelas tahun. Mungkin itu hanya suara orang lain yang kebetulan terdengar mirip. Mungkin kelelahan membuatnya salah dengar.
Tiga ketukan terdengar dari pintu.
Tok. Tok. Tok.
Nara tersentak. Ia menatap pintu tanpa bergerak.
“Nara, buka pintunya.”
Suara itu membuat tenggorokannya tercekat. Ia mengenal cara ibunya menyebut namanya, lembut dengan penekanan kecil pada suku kata terakhir. Tidak ada orang lain yang pernah memanggilnya dengan cara seperti itu.
Ia mendekat, tetapi tangannya berhenti sebelum menyentuh gagang pintu. Peringatan pada secarik kertas kembali terlintas di benaknya.
Jika suatu hari kamu pulang dan mendengar suara dari laut, jangan pernah menjawabnya.
Nara menelan ludah. Ia tidak tahu mengapa peringatan itu terasa begitu penting, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak membuka pintu.
“Nara,” panggil suara itu lagi. “Ibu di sini.”
Nara mundur selangkah.
Di luar, suara itu berubah menjadi nyanyian pelan. Itu adalah lagu pengantar tidur yang sudah lama tidak ia dengar, tetapi masih tersimpan utuh dalam ingatannya. Lagu yang biasa dinyanyikan Sarai setiap kali ia sulit tidur.
Nara menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya mulai menggenang, nyanyian itu terus mengalun dari balik pintu.
Lalu, tiba-tiba, semuanya berhenti. Ia berdiri lama di ruang tengah, mendengarkan keheningan yang menyusul. Tidak ada langkah kaki atau suara orang menjauh. Hanya angin yang sesekali menyentuh dinding rumah.
Nara akhirnya mengambil ponselnya dan menyalakan senter. Ia mendekati jendela samping, mengintip melalui celah tirai, tetapi halaman depan kosong. Pagar masih tertutup. Jalan desa di luar rumah tampak lengang. Ia tidak melihat siapa pun.
Dari kejauhan, lonceng desa berdentang sekali lagi. Nara mematikan senter dan menatap laut yang terlihat samar di antara pepohonan. Bulan purnama telah naik sepenuhnya, menerangi permukaan air yang tenang. Pantai yang tadi sore tampak begitu indah kini diselimuti bayangan. Buih ombak memutih sesaat sebelum menghilang di pasir, garis cakrawala melebur dengan langit malam.
Ia kembali ke ruang tengah, mengambil secarik kertas tadi, lalu membacanya sekali lagi. Kali ini, tangannya gemetar. Di luar rumah, dari arah pantai, nyanyian itu kembali terdengar dan suara ibunya memanggil namanya sekali lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!