BAB 2 — TAMU TANPA WAJAH
Keesokan harinya, Nara terbangun dengan tubuh yang masih terasa lelah. Tidurnya tidak nyenyak setelah suara yang didengarnya semalam. Ia masih mengingat suara Sarai yang memanggil namanya dari arah pantai, begitu jelas hingga sulit dipercaya jika ia menganggap bahwa itu hanya permainan pikirannya sendiri, karena ia sangat kelelahan.
Ketukan di pintu membuatnya beranjak dari tempat tidur. Ketika dibuka, Zabdiel berdiri di teras dengan kaus gelap dan celana panjang yang sedikit basah di bagian bawah.
“Sudah bangun?” tanyanya.
Nara mengangguk. “Kau datang pagi-pagi sekali.”
“Kita perlu ke makam nenekmu. Setelah itu, aku akan mengantarmu menemui Pak Sutarma. Kau harus melaporkan kepulanganmu.”
“Tunggu sebentar,” kata Nara sambil buru-buru berlari ke belakang. Mandi kilat alias mandi capung.
Nara mengambil tas kecil dan mengunci pintu sebelum mengikuti Zabdiel. Mereka berjalan menyusuri jalan desa yang masih sepi. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma laut dan aroma geosmin dari kebun-kebun di sepanjang jalan.
Makam neneknya berada di pemakaman kecil di atas bukit, tidak jauh dari permukiman. Zabdiel berjalan di depan, melewati beberapa nisan yang dinaungi pohon kamboja. Nara berhenti di depan makam yang masih tampak baru. Tanahnya sudah mulai mengeras, bunga-bunga yang diletakkan keluarga dan warga desa masih tersisa di atasnya.
Ia berjongkok, membersihkan beberapa daun kering dari permukaan makam, lalu terdiam cukup lama. Nara tidak sempat melihat neneknya untuk terakhir kali. Sebelas tahun meninggalkan desa membuatnya kehilangan banyak hal, dan kini ia bahkan terlambat untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Maaf aku baru pulang,” bisiknya.
Zabdiel berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberi Nara waktu untuk berdoa dan menangis di makam neneknya. Setelah beberapa saat, mereka meninggalkan pemakaman tanpa banyak bicara.
Menjelang siang, Zabdiel mengajaknya melewati jalan utama desa menuju rumah kepala desa. Dari sana, Nara bisa melihat kembali keindahan Wanasagara yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya. Desa itu berada di salah satu pulau kecil di Kepulauan Hinako, Nias, dengan garis pantai berpasir putih yang membentang di antara pepohonan kelapa. Air lautnya jernih, memperlihatkan hamparan terumbu karang di perairan dangkal. Di kejauhan, pulau-pulau kecil tampak mengapung di bawah langit biru, dan ombak Samudra Hindia bergulung menuju pantai.
Perahu-perahu nelayan berlabuh di tepi pantai. Beberapa warga sedang memperbaiki jaring di bawah naungan pohon, anak-anak berlarian di jalan berpasir dengan tawa yang sesekali terdengar hingga ke halaman rumah. Angin laut membawa aroma asin yang akrab bagi Nara, mengingatkannya pada masa kecil ketika ia masih berlari di sepanjang pantai bersama teman-temannya.
“Masih sama seperti dulu,” gumamnya.
Zabdiel meliriknya. “Tidak semuanya.”
Nara menoleh, tetapi Zabdiel sudah kembali memandang jalan. Ia tidak bertanya lebih jauh.
Rumah kepala desa berada tidak jauh dari balai pertemuan. Sutarma menyambut mereka di teras. Usianya sudah lima puluh empat tahun, dengan rambut yang mulai memutih di pelipis. Ia mengenali Nara begitu melihat wajahnya.
“Nara Maru. Akhirnya kau pulang juga.”
Nara menyalami pria itu. “Maaf baru sempat datang, Pak. Saya ingin melaporkan kepulangan saya.”
“Tidak perlu meminta maaf. Kami tahu kau datang untuk pemakaman nenekmu.” Sutarma mempersilakan mereka masuk. “Bagaimana perjalananmu?”
“Lancar, Pak.”
Sutarma menanyakan berapa lama Nara akan tinggal dan apakah ia berencana kembali ke kota dalam waktu dekat. Nara menjawab bahwa ia belum menentukan kapan akan pergi. Ia masih harus membereskan rumah neneknya dan mengurus beberapa hal yang tertinggal.
Percakapan mereka berjalan wajar hingga Nara menyebut nama ibunya.
“Pak, saya juga ingin bertanya tentang Ibu. Apa ada sesuatu yang berubah sejak beliau menghilang?”
Sutarma terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sudah lama sekali, Nara. Tidak banyak yang bisa kami lakukan saat itu.”
Jawaban itu membuat Nara mengernyit. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi Sutarma segera mengalihkan pembicaraan pada urusan rumah neneknya. Zabdiel yang sejak tadi duduk di sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa.
Setelah urusan kepulangan selesai, mereka berpamitan. Nara dan Zabdiel berjalan kembali melewati jalan desa. Matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan di atas laut. Pemandangan itu seharusnya membuat Nara merasa tenang, tetapi jawaban Sutarma terus terngiang di kepalanya.
Menjelang petang, Zabdiel mengantarnya sampai ke rumah neneknya. “Jangan keluar malam ini,” katanya sebelum pergi.
Nara mengangkat alis. “Kenapa?”
“Sudah kebiasaan di sini. Kau tahu itu. Jangan karena dari kota kau berani berpantang.” Kalimat yang terlontar itu bernada memperingati dari mulut Zabdiel.
Nara tahu. Ia tumbuh dengan tujuh pantangan yang diwariskan turun-temurun. Namun, setelah sebelas tahun pergi, ia tidak pernah membayangkan bahwa aturan-aturan itu akan kembali terasa begitu penting.
“Aku tahu,” jawabnya.
Zabdiel mengangguk. “Aku akan ke sini lagi besok menjemputmu. Ibu ingin kau makan di rumah.” Lalu ia berjalan menjauh.
Malam turun perlahan. Seperti yang diingat Nara, lonceng desa berbunyi ketika langit mulai gelap. Satu per satu pintu rumah ditutup. Suara warga yang sebelumnya terdengar dari kejauhan menghilang, menyisakan desir angin dan debur ombak.
Nara sedang merapikan barang-barang di ruang tengah ketika terdengar tiga ketukan dari arah pantai. Pintu belakang rumah.
Tok. Tok. Tok.
Ia berhenti bergerak.
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini berasal dari depan rumah. Nara berjalan mendekati pintu, mengingat pantangan yang sejak kecil selalu diperingatkan kepadanya. Ia tidak langsung membukanya. Setelah beberapa saat, ia mengintip melalui celah jendela.
Tidak ada siapa pun di teras.
Nara membuka pintu sedikit dan menatap halaman yang gelap. Angin laut berembus melewati pagar. Jalan di depan rumah kosong, tanpa seorang pun yang terlihat.
Ia hendak menutup pintu ketika suara itu terdengar dari kejauhan.
“Nara.”
Tubuhnya menegang.
Suara perempuan itu datang dari arah pantai, lembut dan akrab. Suara yang sama yang didengarnya semalam.
“Nara, Nak. Kamu sudah pulang?”
Nara mencengkeram tepi pintu. Ia tahu suara itu. Ia mengenal setiap nada dan jeda di dalamnya.
Itu suara Sarai dan suara itu terdengar lebih dekat di telinganya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!