BAB 13 — PERINGATAN DI BALIK KASET

0 dibaca

A

BAB 13 — PERINGATAN DI BALIK KASET

Mereka menghabiskan waktu lebih lama di rumah Ina Jose. Perbincangan kemudian beralih pada masa kecil Nara, kebiasaan Sarai, dan berbagai kenangan keluarga yang masih diingat bibinya. Ina Jose bercerita bahwa Sarai sering menyanyikan lagu yang sama ketika menidurkan Nara, tetapi ia tidak pernah tahu dari mana ibunya mendapatkan melodi tersebut. Sesekali Nara tertawa mendengar cerita-cerita kecil itu, meskipun pikirannya tetap tertuju pada rekaman yang kini tergeletak di atas meja.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke desa, ia mendengar sesuatu tentang ibunya yang bukan sekadar kehilangan atau misteri. Sarai pernah menjadi seorang perempuan yang gemar bernyanyi, menyimpan kenangan, dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Namun, di balik kehidupan sederhana itu, tampaknya ada sesuatu yang telah lama ia coba pahami.

Ketika mereka akhirnya berpamitan, Ina Jose menyerahkan kotak kecil beserta seluruh rekaman di dalamnya kepada Nara.

“Simpan baik-baik,” katanya. “Aku sudah menjaganya selama bertahun-tahun, tetapi aku rasa sekarang sudah waktunya kau yang menyimpannya.”

Nara memeluk bibinya sebelum memasukkan kotak itu ke dalam tas. “Terima kasih, Bibi. Aku akan menjaganya.”

“Dan Nara,” panggil Ina Jose ketika mereka hampir mencapai pintu. “Kalau suatu hari kau menemukan sesuatu tentang ibumu, jangan langsung menghadapinya sendirian. Ada hal-hal yang mungkin tidak sanggup kita pahami hanya dengan melihatnya dari satu sisi.”

Nara menoleh dan mengangguk. Ia tidak berjanji akan menceritakan semua yang ditemukannya, tetapi ia menghargai perhatian bibinya.

Dalam perjalanan pulang, Zabdiel berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara. Kotak berisi rekaman Sarai terasa lebih berat daripada ukurannya. Nara tahu penyelidikan mereka belum selesai, tetapi untuk hari itu ia tidak ingin kembali mengejar keluarga-keluarga yang kehilangan anggota mereka. Ia perlu mendengarkan rekaman tersebut sekali lagi dan mencatat setiap bagian yang mungkin berkaitan dengan catatan ibunya.

“Besok kita periksa lagi nama-nama yang ada di daftar Sarai,” kata Nara ketika mereka melewati jalan menuju pelabuhan. “Aku ingin melihat apakah ada hubungan antara orang-orang yang hilang dan lirik yang baru kita dengar.”

Zabdiel mengangguk. “Baik. Tapi malam ini, jangan memaksakan diri. Kau sudah terlihat seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari.”

Nara meliriknya. “Kau selalu punya cara yang pas untuk menghibur orang.”

“Aku sedang berusaha.”

Keduanya tertawa kecil, lalu melanjutkan perjalanan.

Namun, sesampainya di rumah, Nara tidak langsung menyimpan kotak itu bersama barang-barangnya. Ia mengeluarkan kaset yang baru diputar, lalu menatap label tulisan tangan Sarai sekali lagi. Di bagian belakangnya, terdapat goresan kecil yang sebelumnya tidak ia perhatikan karena tertutup debu dan noda.

Ia mendekatkan label itu ke cahaya.

Di bawah tulisan Lagu Malam, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta yang lebih pudar.

Jangan nyanyikan bagian terakhir di dekat laut.

Nara membaca kalimat itu berulang kali. Ia tidak tahu kapan Sarai menuliskannya atau mengapa peringatan tersebut ditujukan pada bagian terakhir lagu. Namun, kini ia mulai memahami bahwa rekaman itu bukan sekadar kenang-kenangan yang disimpan bibinya selama bertahun-tahun.

Sarai sengaja meninggalkan sesuatu di dalamnya, mungkin saja bagian yang paling penting belum mereka dengar.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk